Mag-log in😳😳😳😳 bab-bab selanjutnya, kita akan mulai melihat terkuaknya sesuatu 😁
“Laki ... laki?”Katie mengangguk, membenarkan Brianna yang rahangnya menegang.Brianna mendorong napas, menyentuh garis dagunya yang terasa nyeri. Baru saja ia lakukan itu, mendadak tangannya ditarik oleh Katie.Brianna nyaris kehilangan keseimbangan saat temannya itu menatap cincin yang ada di jari manisnya dengan kedua mata yang melebar.“Woah … ini cantik sekali, Brie,” pujinya.“Benarkah?”Katie mengangguk, “Iya. Harganya pasti mahal. Di mana kamu membelinya?”Brianna mengerjap beberapa kali, menyusun kalimat kebohongan untuk menutupi kebenaran dari siapa cincin itu berasal.“A-akan aku antar kamu tempatnya nanti kalau mau beli.”“Hm … mungkin aku baru bisa membelinya setelah karirku berjalan sepanjang karirmu, Brie.”Brianna tertawa, mencubit pipinya.“Kalau begitu ayo kita bekerja lebih keras. Aku ada project baru dengan RNE.”“Serius?”Brianna mengangguk, “Iya.”“Project apa?”“Nanti kita baca, sekarang makan dulu bagaimana?”Katie mendengus, tak bersemangat, “Aku penasaran de
Brianna sudah merencanakan ini, ia akan kembali setelah memastikan Katie tidak di rumah. Temannya itu sebelumnya mengatakan ia sedang berada di apartemen milik salah satu bawahannya yang bernama Mia.Sehingga sebelum akhir pekan benar-benar usai, Brianna sudah tiba di depan rumahnya.Sedan milik Leon berhenti sekitar pukul lima sore hari, pria itu membawakan barangnya masuk dan meletakkannya di sofa ruang tamu.“Terima kasih,” kata Brianna, menghampiri Leon setelah meletakkan makanan yang ia bawa ke ruang makan.Leon mengangguk tak keberatan sebelum bertanya, “Jam berapa Katie akan datang?” “Katanya sebentar lagi.”Leon mengedarkan pandangannya sejenak sebelum melangkah pergi dan Brianna mengantarnya hingga ke teras.Pria itu berhenti, menatap lurus ke rumah seberang jalan.“Kamu benar-benar belum pernah melihat siapa yang tinggal di sana?” tanya Leon.“Belum. Aku dan Katie sudah menunggunya beberapa kali sampai malam. Tapi dia tidak pernah datang.”Helaan napas Leon terdengar dalam
Brianna merapatkan luaran yang ia kenakan saat berjalan memasuki ruang makan. Langkahnya terasa berat sebab ia harus menahan keram yang ada di area femininnya. Meski Brianna tak akan menampik bagaimana rasa nikmatnya, tapi selalu seperti ini setiap kali selesai dengan Leon. Padahal percintaan mereka sudah usai beberapa saat yang lalu dan keduanya tertidur lelap hingga sore hari. Saat membuka mata, Brianna tak menjumpai Leon di sampingnya. Ia memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu dan turun ke lantai satu. Di sanalah pria itu akhirnya terlihat. Duduk di ruang makan dan menoleh pada kedatangannya dengan seulas senyumnya sebagai sambutan. “Sudah bangun?” sapanya. “I-iya.” “Lapar?” Brianna mengangguk karena Leon memang benar. Pergumulan berjam-jam di atas ranjang telah merenggut sebagian besar energinya. “Makanan yang tadi kamu bawa sudah aku habiskan,” kata Leon, menunjuk pada beberapa piring kosong yang ada di atas meja. “Jadi aku minta pelayan untuk membuatkan makanan lai
Wajah Brianna merah padam, untuk sesaat bibirnya hanya terkatup. Jari tangannya yang tengah menyusuri garis dagu Leon mendadak kebas. Leon mengendus lehernya, kakinya yang terlipat di atas kaki Brianna memenjara agar ia tak ke mana-mana. “Kalau aku jawab tidak, kamu juga akan tetap melakukannya, ‘kan?” Leon tersenyum samar, jemarinya yang sempat terhenti saat menarik panties brokat Brianna kembali bergerak. Ia membawa kain kecil itu turun, keluar dari kaki. Brianna menahan sejenak napas saat kancing di dadanya teruraikan satu demi satu. Dress itu meninggalkan dirinya, menyisakan kain penutup di tubuh depannya yang tak benar-benar dapat menutupi. Semudah menjentikkan jari, kain itupun kini tersisih. Pandangan Leon mengedar liar, senyumnya tipis menggoda kala ia menunduk dan menjatuhkan bibirnya. Dalam terpejamnya mata, Brianna dapat merasakan sentuhan Leon yang menyinggahi celah di antara kakinya yang mengenali siapa yang sedang bersinggungan dengannya sekarang ini. Ia tergeliti
“T-tidak di sini, Leon,” cegah Brianna dengan cepat. Ia menjauhkan kepalanya agar Leon tak terus memberi ciuman. Bagaimanapun, mereka sedang ada di luar ruangan sekarang. “Jadi?” Brianna menoleh ke belakang. Hanya sepersekian milimeter yang membuat hidung mereka nyaris bersinggungan. “A-ada yang ingin aku tanyakan,” kata Brianna, menahan diri agar tak tenggelam dalam pesona iris biru Leon yang tampak sangat berkilauan. “Apa?” “Sejak malam itu, kamu masih belum menjawab pertanyaanku soal siapa Fiona, dan kenapa kamu bilang kalau dia bukan selingkuhanmu dulu?” Harusnya Leon ingat, sejak di hotel, kemudian pada pertemuan mereka di depan rumahnya malam itu, Leon masih belum memberinya kejelasan. “Bisakah sekarang kamu hanya memikirkan kita berdua saja? Aku membawamu sejauh ini tidak untuk membicarakan orang lain, Brie ....” Bibir Leon mendarat ringan di pipi Brianna. Tangannya berpindah ke sekitar pinggul, dan sedikit memberi dorongan saat berujar, “Ayo keluar dulu, kamu kedingina
Brianna meremas kimono yang ia kenakan saat mendengar itu. Sementara Leon kembali ke dalam kolam renang, menunggunya di dekat tangga turun yang ada di dalam air.“Tidak mau?” tanya Leon, kedua alisnya terangkat untuk beberapa detik.Serupa godaan yang merayu Brianna untuk segera menyusulnya.Brianna tak menjawab. Ia perlahan menguraikan ikatan yang ada di pinggangnya, membukanya dan meletakkannya di kursi malas sebelum melangkahkan kakinya dengan hati-hati pada anak tangga.Ia berpegangan pada tangan Leon yang terulur ke depan, seakan memastikan Brianna akan aman bersamanya.Air kolam yang sejuk menyapa. Dari sebatas pergelangan kaki, memenuhi betis hingga ke lututnya. Leon menangkap pinggangnya dengan cepat, memastikan Brianna tetap berada di permukaan sehingga ia bisa bernapas dengan leluasa.“Jangan panik,” kata Leon.Mengisyaratkan pada Brianna agar ia tetap rileks dan mengatur napasnya.Brianna menurutinya. Ia menghela dan membuang napasnya secara teratur. Tangannya yang semula m







