LOGINTanda tangan. Dan sepuluh miliar ini—jadi milikmu.” Elena tak pernah percaya pada uang tanpa syarat. Apalagi dari pria sedingin Kenan Adityawan. Tawaran itu sederhana sekaligus gila: menjadi istri kontrak Naras Adityawan selama lima tahun. Namun uang bukan satu-satunya umpan. Sebuah foto masa kecil mengungkap identitas yang selama ini terkubur—Elena Maheswari, pewaris Maheswara Group yang hilang. Demi kebenaran tentang keluarganya, Elena menerima kesepakatan berbahaya itu dengan satu syarat: Kenan tak boleh ikut campur. Masalahnya, pria bernama Naras Adityawan bukan sekadar suami kontrak. Dan beberapa keputusan… tak pernah bisa dibatalkan.
View MoreSetelah hampir seharian berada di udara, jet pribadi akhirnya mulai menurunkan ketinggian. Elena langsung menempelkan wajahnya ke jendela. Matanya membesar. Di bawah sana terbentang hamparan putih tanpa ujung. Pegunungan berselimut salju berdiri megah di bawah langit biru. Puncak-puncaknya menjulang tinggi menembus awan. Begitu indah,dingin dan putih hanya dengan melihatnya. "Kita benar-benar datang ke sini..." gumam Elena. Naras tersenyum tipis. "Selamat datang di Pegunungan Alpen." Tak lama kemudian jet mendarat di sebuah bandara kecil khusus wisatawan. Begitu pintu terbuka, angin dingin langsung menerpa. "WAAAAH!" Elena refleks menutupi wajahnya. Ia sudah mengenakan jaket tebal, syal, sarung tangan, dan penutup telinga berbulu putih. Tetap saja udara dingin itu berhasil membuat hidungnya memerah. Disampingnya, Naras justru terlihat tenang. Seolah suhu di bawah nol derajat bukan masalah besar. Saat Elena turun dari tangga pesawat, Naras bahkan tidak melepaskan tata
Bilah baling-baling helikopter berputar kencang membelah udara.Dari balik kaca, Elena menempelkan wajahnya sambil melihat pemandangan di bawah.Di bawah sana, hamparan kebun anggur milik keluarga Adityawan membentang luas.Barisan tanaman hijau terlihat seperti garis-garis rapi yang memotong bukit.Semakin lama, villa tempat mereka menghabiskan beberapa hari terakhir semakin mengecil lalu menghilang.Pemandangan berganti menjadi perbukitan, sungai kecil dan beberapa desa yang tampak tenang dari kejauhan.Elena menempelkan dagunya ke kaca lalu bertanya tanpa menoleh. "Kita mau ke mana sebenarnya?" Naras yang duduk santai di kursinya hanya tersenyum tipis. "Sebentar lagi kau tahu." "Hmph." Elena mendengus. Pria itu memang hobi membuat kejutan.Setelah hampir satu jam penerbangan, pemandangan di bawah kembali berubah.Kali ini bukan kota. Bukan pula pegunungan hijau.Melainkan sebuah lapangan tandus yang luas.Di tengah area itu berdiri sebuah jet pribadi berwarna putih dengan garis
Pagi hari datang bersama sinar matahari hangat yang menyelinap masuk melalui celah tirai villa.Elena membuka mata perlahan.Beberapa detik ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.Dan saat ingatan itu mulai kembali, wajahnya langsung memerah."Ya Tuhan..."Refleks ia menarik selimut hingga menutupi wajah.Tubuhnya masih terasa lemas. Setiap kali mengingat bagaimana Naras menyentuhnya semalam, jantungnya kembali berdebar tidak karuan.Namun beberapa saat kemudian Elena menyadari sesuatu.Kamar ini terlalu sunyi.Ia menoleh ke sisi ranjang.Kosong.Bantal di sebelahnya pun sudah rapi.Seolah pemiliknya telah pergi sejak lama."Naras?"Tidak ada jawaban.Elena duduk perlahan lalu memandang sekeliling kamar.Tetap tidak ada siapa pun.Di atas nakas hanya terdapat secarik kertas kecil.Ia meraihnya dan sebuah tulisan tangan yang sangat dikenalnya langsung menyambut pandangannya."Ada urusan mendadak. Istirahatlah. Aku akan kem
Elena membuka satu demi satu kancing kemeja Naras.Penampilan otot dada Naras yang menyembul dari balik kemeja membuat Elena menelan ludahnya.Dia menyentuh kedua otot dada itu, yang ternyata kenyal seperti miliknya."Eits! Hati-hati." ucap Naras saat Elena menekan dadanya terlalu keras.Elena tersenyum jahil lalu mengambil es batu yang diletak di atas troli untuk mendinginkan minuman lalu menggenggamnya erat diatas tubuh Naras.Naras bereaksi saat es itu menetes dan mengenai permukaan kulitnya.Dia menyipitkan matanya tapi Elena malah terkikik geli."Suka yah menyiksaku?" tanya Naras dengan suara rendah.Elena masih terkikik geli." Sangat." ucapnya sembari meletakkan es batu itu diatas tubuh Naras."Ah!" Naras mendesah keras.Jantungnya berdebar keras seakan hendak keluar dari tubuhnya."Bisa kah kau sudahi hukumannya sekarang?" tanya Naras berusaha menawar.Elena menggelengkan kepala."Hukumanmu baru saja dimulai." ucapnya sembari membuka tshirt yang dikenakannya dari kemarin."Kau ha


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews