INICIAR SESIÓNTanda tangan. Dan sepuluh miliar ini—jadi milikmu.” Elena tak pernah percaya pada uang tanpa syarat. Apalagi dari pria sedingin Kenan Adityawan. Tawaran itu sederhana sekaligus gila: menjadi istri kontrak Naras Adityawan selama lima tahun. Namun uang bukan satu-satunya umpan. Sebuah foto masa kecil mengungkap identitas yang selama ini terkubur—Elena Maheswari, pewaris Maheswara Group yang hilang. Demi kebenaran tentang keluarganya, Elena menerima kesepakatan berbahaya itu dengan satu syarat: Kenan tak boleh ikut campur. Masalahnya, pria bernama Naras Adityawan bukan sekadar suami kontrak. Dan beberapa keputusan… tak pernah bisa dibatalkan.
Ver másTanda tangan. Dan sepuluh miliar ini—”
Kenan mengeluarkan kartu hitam dari saku jasnya. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Ia meletakkannya tepat di tengah meja bundar, seolah tahu tidak ada yang akan menggesernya. “—jadi milikmu.” Elena tidak langsung menyentuhnya. Di bawah cahaya lampu gantung kristal, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Rahangnya mengeras, tulang pipinya menonjol—tipikal wajah perempuan yang terlatih untuk menghadapi kerasnya dunia. Rambut hitamnya diikat rendah, sedikit berantakan, menyisakan jejak kekacauan sore tadi. Angka di kontrak itu lebih dari cukup untuk menghapus seluruh kecemasannya: utang pendidikan, biaya hidup, dan masa depan yang selama ini terasa seperti lorong gelap tanpa pintu keluar. Namun tetap saja, pena itu tidak bergerak. “Tidak ada orang waras,” ucap Elena datar, “yang memberi uang sebanyak ini tanpa menginginkan sesuatu sebagai balasan.” Kenan menyandarkan punggung ke kursi. Posturnya santai, tapi penuh kontrol. Bahu lebarnya terbalut jas hitam abu-abu yang jatuh sempurna di tubuh atletisnya. Wajahnya keras, dingin—wajah pria yang terbiasa memberi perintah dan tidak pernah menerima penolakan. “Kamu cepat menangkap situasi,” katanya. “Itu kelebihanmu.” “Dan kekuranganku?” “Kamu terlalu berani.” Elena menyunggingkan senyum tipis. “Lanjutkan.” “Aku butuh kamu menjalankan satu peran.” “Peran apa?” “Istri.” Satu kata. Pendek. Tapi menghantam. Elena menatapnya, lalu terkekeh pelan. “Istrimu?” “Bukan,” koreksi Kenan tanpa ekspresi. “Istri Naras Adityawan. Adikku.” Ia menjeda, memastikan setiap kata jatuh tepat sasaran. “Pernikahan kontrak selama lima tahun. Kamu tinggal bersamanya. Menjaganya tetap stabil. Tidak kabur. Tidak membuat kekacauan.” Elena menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan kaki. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam. “Dan kamu pikir aku orang yang tepat?” Tatapan Kenan menyapu Elena dari ujung rambut sampai ujung sepatu—penilaian dingin, objektif. “Kamu masuk ke tempat yang salah dan sadar sebelum terlambat. Kamu tahu kapan harus kabur. Dan kamu tidak pingsan ketika terpojok.” Elena terkekeh. “Itu standar minimum untuk bertahan hidup.” Kenan tersenyum miring mendengarnya.Wanita yang duduk didepannya itu memang sangat pemberani. Ia menggeser pandangannya sedikit. “Studio itu tidak akan mengganggumu lagi.” Nada suaranya datar. Pasti. Ingatan Elena kembali ke sore tadi: ruangan foto yang remang, pintu terkunci, pakaian yang jelas bukan bagian dari kontrak, kamera tersembunyi di balik cermin. “Hampir saja aku dipaksa,” katanya pelan. “Kalau kamu tidak datang tepat waktu.." “Kamu tidak akan berada di sini,” potong Kenan. “Dan mereka akan mencari korban lain.” Bagi Kenan, itu fakta. Bukan ancaman. Bukan empati. Elena tidak tahu—belum tahu—bahwa pertemuan itu bukan kebetulan. Bahwa Kenan sudah mengamatinya selama beberapa hari karena nama Elena berada diantara belasan kandidat calon pasangan Naras,adiknya. Hening turun di antara mereka. “Selain uang,aku yakin kamu akan menyukai yang satu ini,” ujar Kenan kemudian. Ia memberi isyarat singkat. Sebuah foto diletakkan di meja. Darah Elena seolah berhenti mengalir. Foto itu menampilkan seorang anak perempuan —dirinya—duduk di antara dua orang dewasa. Rambut pendek. Senyum polos. Foto yang seharusnya tidak pernah ia lihat lagi. “Bagaimana kamu—” “Elena Maheswari,” potong Kenan perlahan. “Itu namamu sebelum panti asuhan menggantinya menjadi Selena.” Sebuah map tebal menyusul: sertifikat kelahiran, potongan koran lama, laporan kecelakaan. “Dari mana kamu dapat semua ini?” suara Elena nyaris pecah. “Dari masa lalu yang sengaja dihapus,” jawab Kenan. “Ayahmu Ardiansyah Maheswara. Pendiri Maheswara Group. Kamu pewarisnya—jika saja kelahiranmu tercatat secara sah.” Ruangan terasa berputar. Kilasan ingatan menghantamnya: suara rem, benturan, gelap. Setelah itu—panti asuhan. Nama baru. Hidup baru. “Apa… aku masih punya keluarga?” tanyanya lirih. Kenan mengangguk. “Pamanmu. Jason Maheswara. Orang yang kini memimpin perusahaan Ayahmu." Elena menutup map itu dengan gerakan tegas. Tangannya gemetar, tapi kepalanya tetap tegak. "Kapan aku bisa bertemu dengan adikmu?" tanyanya sembari menatap lurus kedepan. "Segera." Elena membuka halaman terakhir kontrak. Foto Naras terpampang jelas. Tatapan gelap. Rahang keras. Wajah pria yang tampak berbahaya. “Aku punya satu syarat.” “Katakan.” “Aku tidak mau kamu ikut campur,” ucap Elena tajam. “Apa pun yang terjadi antara aku dan Naras, itu urusan kami. Bukan milikmu.” Kenan menyipitkan mata. Udara di ruangan itu mengeras. “Kamu berani sekali menawar.” “Kamu tidak punya banyak pilihan,” balas Elena. “Dan kamu tahu itu.” Hening. Lama. Lalu Kenan mengangguk kecil. “Setuju.” Elena mengambil pena. Menandatangani kontrak itu tanpa ragu. Ia berdiri, menyelipkan kartu hitam ke dalam tasnya. “Aku tidak berutang padamu,” katanya dingin. Elena keluar dari ruangan itu dengan langkah tenang. Tapi begitu pintu tertutup, telapak tangannya basah oleh keringat. Ia menatap kontrak di dalam tasnya. Lima tahun. Pernikahan kontrak. Dan satu nama yang belum ia kenal— Naras Adityawan. Entah kenapa, nalurinya berbisik: keputusan ini tidak akan bisa ia batalkan.Pagi itu, Elena terbangun karena merasakan sesuatu menyentuh pergelangan tangannya.Ia membuka mata perlahan.Naras duduk di sisi ranjang, menunduk dengan wajah serius. Di antara jemarinya terdapat sebuah gelang cantik dengan rantai tipis berwarna keemasan. Sebuah bandul kristal ungu berbentuk tetesan air tergantung di tengahnya.Klik.Gelang itu terpasang sempurna.Elena mengangkat tangannya dan memperhatikan benda tersebut yang berkilauan diterpa cahaya matahari."Kupikir itu cantik," ucap Naras.Elena menoleh."Aku?"Naras terdiam sesaat."Atau gelangnya?" tanya Elena lagi, sengaja menggoda.Naras menggigit bibirnya seakan gemas."Kamu cantik."Ia mengangkat tangan Elena sedikit lebih tinggi."Pakai gelang ini tambah cantik."Elena tersenyum."Jawabanmu semakin lama semakin pintar.""Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."Elena bangkit dari ranjang. Rambutnya yang berantakan diikat asal menggunakan ikat rambut yang berada di atas nakas."Aku mau mandi.""Aku ikut."Elena langsung m
Untuk terakhir kalinya, Naras berusaha menahan diri. Sungguh. Ia sudah mencoba. Pria asing itu masih berdiri di depan mereka dengan senyum santai yang semakin lama semakin mengganggu. "Kalau kau sudah memastikan istriku baik-baik saja, kurasa pembicaraan kita selesai." ucap Naras dengan nada masih sopan. Setidaknya dia masih berusaha sopan. Pria pirang itu hanya mengangkat bahu."Sayang sekali. Aku baru saja ingin berkenalan."Naras melangkah maju memperingatkan."Jangan melewati batas."Pria asing itu menggelengkan kepala."Belum. Aku bahkan belum tahu siapa namanya."Elena bisa merasakan otot rahang Naras mulai menegang.Bahaya. Sangat berbahaya.Pria itu malah mengulurkan tangan."Namaku Adrian Laurent."Senyumnya semakin lebar. "Senang bertemu denganmu." Detik berikutnya— BUGH!Kepalan tangan Naras menghantam wajah Adrian.Pria itu langsung terhuyung beberapa langkah hingga jatuh di atas salju. "Astaga!" Elena menjerit kaget. Beberapa wisatawan ikut menoleh. Suasana menda
"Aku tidak kuat lagi. Pinggangku rasanya mau copot." keluh Elena sambil menarik selimut hingga sebatas bahu.Rambut panjangnya berantakan. Wajahnya masih menyisakan semburat merah yang belum sepenuhnya hilang.Kemarin mereka sama sekali tidak keluar kamar. Tidak melihat pemandangan ataupun ke mana-mana.Bahkan makan siang dan makan malam diantar langsung ke kamar.Dan sekarang Elena merasa seluruh tulang bergeser dari tempatnya.Pintu kamar mandi terbuka.Naras keluar dengan handuk melilit pinggangnya.Rambut hitamnya masih basah menyisakan tetesan air yang mengalir di leher hingga dada bidangnya.Pria itu bahkan sedang bersiul pelan.Sangat menyebalkan.Terutama bagi seseorang yang membuat Elena tidak bisa bangun dari tempat tidur."Ayo bangun, Tuan Putri."Elena memelototinya."Apa kamu pikir aku masih punya cukup energi untuk bangun?"Naras berpikir sejenak."Seharusnya iya." jawabnya asal.Bantal langsung melayang ke wajahnya.Namun Naras menangkapnya dengan mudah."Mulai berani,h
Pagi itu, desa kecil di kaki Pegunungan Alpen tampak seperti lukisan yang hidup.Atap-atap rumah kayu tertutup salju putih tebal. Cerobong asap mengepulkan uap hangat ke udara dingin. Lampu-lampu gantung menghiasi jalan utama, membuat seluruh desa terlihat seperti lokasi syuting film Natal.Begitu turun dari mobil, Elena langsung memutar tubuhnya perlahan.Matanya berbinar terang "Cantik sekali..."ucapnya sedikit terengah- engah karena saat menghirup udara, napasnya membentuk kabut putih di udara.Di sampingnya, Naras merapikan syal yang sedikit melorot dari leher Elena."Kau juga mengatakan hal yang sama sepuluh menit lalu.""Memang kamu tidak setuju?"Naras menatap wajah Elena yang memerah karena dingin.Kemudian berkata santai dekat telinga Elena."Daripada disini,aku lebih suka saat kita dikamar."Elena langsung memalingkan wajahnya yang merah seperti tomat dan pura-pura tidak mendengar.Mereka mulai berjalan menyusuri jalan utama desa.Toko-toko kecil berjajar rapi di kedua sisi
Pagi di rumah keluarga Kenan selalu sunyi seperti ruang sidang di pengadilan. Meja makan panjang sudah tertata sempurna. Diatas sebuah piring datar, roti panggang hangat, telur setengah matang, potongan buah segar tersusun simetris. Sendok dan pisau bergerak teratur. Tidak ada suara lain. Tidak a
Ballroom hotel di malam itu terlihat sangat mewah. Langit-langitnya tinggi dengan kubah berlapis emas pucat. Lampu gantung kristal bertingkat memantulkan ribuan kilau kecil ke lantai marmer hitam mengilap. Meja-meja bundar tertata rapih, dilapisi kain satin gading dan dihiasi anggrek putih serta ma
Ketukan pintu memecah pagi. Elena membuka mata dengan jengkel. Siapa yang ganggu pagi buta begini? Ketukan itu datang lagi. Semakin keras. Ia membuka pintu dengan rambut masih berantakan. Lima pria bersetelan hitam berdiri di depan apartemennya. “Selamat pagi, Nona Elena. Kami datang menjem
Sebuah mobil hitam meluncur pelan membelah malam. Sisa hujan menggantung di udara, membuat lampu-lampu kota memantul di aspal seperti pecahan kaca. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan di dada. Tubuhnya terlihat santai, tapi sorot matanya tajam, terpaku pada bayangan dirinya di jendela. Di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás