Se connecterTanda tangan. Dan sepuluh miliar ini—jadi milikmu.” Elena tak pernah percaya pada uang tanpa syarat. Apalagi dari pria sedingin Kenan Adityawan. Tawaran itu sederhana sekaligus gila: menjadi istri kontrak Naras Adityawan selama lima tahun. Namun uang bukan satu-satunya umpan. Sebuah foto masa kecil mengungkap identitas yang selama ini terkubur—Elena Maheswari, pewaris Maheswara Group yang hilang. Demi kebenaran tentang keluarganya, Elena menerima kesepakatan berbahaya itu dengan satu syarat: Kenan tak boleh ikut campur. Masalahnya, pria bernama Naras Adityawan bukan sekadar suami kontrak. Dan beberapa keputusan… tak pernah bisa dibatalkan.
Voir plusPagi itu, Elena terbangun karena merasakan sesuatu menyentuh pergelangan tangannya.Ia membuka mata perlahan.Naras duduk di sisi ranjang, menunduk dengan wajah serius. Di antara jemarinya terdapat sebuah gelang cantik dengan rantai tipis berwarna keemasan. Sebuah bandul kristal ungu berbentuk tetesan air tergantung di tengahnya.Klik.Gelang itu terpasang sempurna.Elena mengangkat tangannya dan memperhatikan benda tersebut yang berkilauan diterpa cahaya matahari."Kupikir itu cantik," ucap Naras.Elena menoleh."Aku?"Naras terdiam sesaat."Atau gelangnya?" tanya Elena lagi, sengaja menggoda.Naras menggigit bibirnya seakan gemas."Kamu cantik."Ia mengangkat tangan Elena sedikit lebih tinggi."Pakai gelang ini tambah cantik."Elena tersenyum."Jawabanmu semakin lama semakin pintar.""Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."Elena bangkit dari ranjang. Rambutnya yang berantakan diikat asal menggunakan ikat rambut yang berada di atas nakas."Aku mau mandi.""Aku ikut."Elena langsung m
Untuk terakhir kalinya, Naras berusaha menahan diri. Sungguh. Ia sudah mencoba. Pria asing itu masih berdiri di depan mereka dengan senyum santai yang semakin lama semakin mengganggu. "Kalau kau sudah memastikan istriku baik-baik saja, kurasa pembicaraan kita selesai." ucap Naras dengan nada masih sopan. Setidaknya dia masih berusaha sopan. Pria pirang itu hanya mengangkat bahu."Sayang sekali. Aku baru saja ingin berkenalan."Naras melangkah maju memperingatkan."Jangan melewati batas."Pria asing itu menggelengkan kepala."Belum. Aku bahkan belum tahu siapa namanya."Elena bisa merasakan otot rahang Naras mulai menegang.Bahaya. Sangat berbahaya.Pria itu malah mengulurkan tangan."Namaku Adrian Laurent."Senyumnya semakin lebar. "Senang bertemu denganmu." Detik berikutnya— BUGH!Kepalan tangan Naras menghantam wajah Adrian.Pria itu langsung terhuyung beberapa langkah hingga jatuh di atas salju. "Astaga!" Elena menjerit kaget. Beberapa wisatawan ikut menoleh. Suasana menda
"Aku tidak kuat lagi. Pinggangku rasanya mau copot." keluh Elena sambil menarik selimut hingga sebatas bahu.Rambut panjangnya berantakan. Wajahnya masih menyisakan semburat merah yang belum sepenuhnya hilang.Kemarin mereka sama sekali tidak keluar kamar. Tidak melihat pemandangan ataupun ke mana-mana.Bahkan makan siang dan makan malam diantar langsung ke kamar.Dan sekarang Elena merasa seluruh tulang bergeser dari tempatnya.Pintu kamar mandi terbuka.Naras keluar dengan handuk melilit pinggangnya.Rambut hitamnya masih basah menyisakan tetesan air yang mengalir di leher hingga dada bidangnya.Pria itu bahkan sedang bersiul pelan.Sangat menyebalkan.Terutama bagi seseorang yang membuat Elena tidak bisa bangun dari tempat tidur."Ayo bangun, Tuan Putri."Elena memelototinya."Apa kamu pikir aku masih punya cukup energi untuk bangun?"Naras berpikir sejenak."Seharusnya iya." jawabnya asal.Bantal langsung melayang ke wajahnya.Namun Naras menangkapnya dengan mudah."Mulai berani,h
Pagi itu, desa kecil di kaki Pegunungan Alpen tampak seperti lukisan yang hidup.Atap-atap rumah kayu tertutup salju putih tebal. Cerobong asap mengepulkan uap hangat ke udara dingin. Lampu-lampu gantung menghiasi jalan utama, membuat seluruh desa terlihat seperti lokasi syuting film Natal.Begitu turun dari mobil, Elena langsung memutar tubuhnya perlahan.Matanya berbinar terang "Cantik sekali..."ucapnya sedikit terengah- engah karena saat menghirup udara, napasnya membentuk kabut putih di udara.Di sampingnya, Naras merapikan syal yang sedikit melorot dari leher Elena."Kau juga mengatakan hal yang sama sepuluh menit lalu.""Memang kamu tidak setuju?"Naras menatap wajah Elena yang memerah karena dingin.Kemudian berkata santai dekat telinga Elena."Daripada disini,aku lebih suka saat kita dikamar."Elena langsung memalingkan wajahnya yang merah seperti tomat dan pura-pura tidak mendengar.Mereka mulai berjalan menyusuri jalan utama desa.Toko-toko kecil berjajar rapi di kedua sisi
“Tahu hasil foto pernikahan seperti ini, lebih baik aku sisir poniku kesamping,” gumam Elena sambil berbaring telentang, mengangkat buku pernikahan di atas wajahnya. Nada suaranya penuh penyesalan namun terdengar menggemaskan. Di sampingnya, Naras duduk dengan laptop di pangkuan. Jemarinya bergera
Pagi di rumah keluarga Kenan selalu sunyi seperti ruang sidang di pengadilan. Meja makan panjang sudah tertata sempurna. Diatas sebuah piring datar, roti panggang hangat, telur setengah matang, potongan buah segar tersusun simetris. Sendok dan pisau bergerak teratur. Tidak ada suara lain. Tidak a
Ballroom hotel di malam itu terlihat sangat mewah. Langit-langitnya tinggi dengan kubah berlapis emas pucat. Lampu gantung kristal bertingkat memantulkan ribuan kilau kecil ke lantai marmer hitam mengilap. Meja-meja bundar tertata rapih, dilapisi kain satin gading dan dihiasi anggrek putih serta ma
Ketukan pintu memecah pagi. Elena membuka mata dengan jengkel. Siapa yang ganggu pagi buta begini? Ketukan itu datang lagi. Semakin keras. Ia membuka pintu dengan rambut masih berantakan. Lima pria bersetelan hitam berdiri di depan apartemennya. “Selamat pagi, Nona Elena. Kami datang menjem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus