LOGINTanda tangan. Dan sepuluh miliar ini—jadi milikmu.” Elena tak pernah percaya pada uang tanpa syarat. Apalagi dari pria sedingin Kenan Adityawan. Tawaran itu sederhana sekaligus gila: menjadi istri kontrak Naras Adityawan selama lima tahun. Namun uang bukan satu-satunya umpan. Sebuah foto masa kecil mengungkap identitas yang selama ini terkubur—Elena Maheswari, pewaris Maheswara Group yang hilang. Demi kebenaran tentang keluarganya, Elena menerima kesepakatan berbahaya itu dengan satu syarat: Kenan tak boleh ikut campur. Masalahnya, pria bernama Naras Adityawan bukan sekadar suami kontrak. Dan beberapa keputusan… tak pernah bisa dibatalkan.
View MoreLangit sore memerah di atas hamparan lembah hijau tempat desa Liora berdiri. Cahaya keemasan dari matahari yang tenggelam menimpa ladang gandum, membuatnya berkilau seperti lautan emas yang berombak ditiup angin. Desa kecil itu damai, dikelilingi hutan pinus di utara dan sungai jernih yang mengalir dari pegunungan timur.
Bagi kebanyakan orang, Liora hanyalah titik kecil yang nyaris terlupakan di peta kerajaan Asteria. Tetapi bagi Ardyn, desa itu adalah seluruh hidupnya. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya di ladang. Peluh menetes dari kening, bajunya dipenuhi debu, dan tangannya kasar karena terbiasa bekerja keras. Ia duduk di tepi sungai, mencelupkan wajah ke air dingin, menikmati kesegaran yang menyapu tubuhnya. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Seperti hari-hari sebelumnya, bayangan mimpi aneh kembali menyusup ke dalam pikirannya. Mimpi yang terus berulang, dengan detail yang sama: lautan cahaya emas yang menyilaukan, dan sebuah suara dalam yang memanggilnya. "Bangkitlah… pewarisku." Ardyn mengerutkan kening. “Apa maksud semua ini?” gumamnya. Ia tidak pernah menceritakan mimpi itu kepada siapa pun. Bahkan kepada keluarganya sendiri. Baginya, mimpi itu terlalu aneh, terlalu nyata, seakan bukan sekadar bunga tidur. “Ardyn!” suara nyaring memecah lamunannya. Ia menoleh dan melihat Mira, adik perempuannya, berlari kecil di tepi sungai. Gadis berusia sembilan tahun itu mengangkat keranjang berisi apel, wajahnya berseri-seri meski napasnya terengah. “Ibu memanggil! Katanya makan malam sudah siap!” serunya riang. Ardyn tersenyum. “Kau selalu tahu cara membuat orang terkejut, Mira.” Mira cemberut sambil mengusap pipinya. “Aku memanggilmu berkali-kali, tapi kau melamun lagi ya?” Ardyn berdiri, mengacak rambut adiknya yang hitam legam. “Mungkin aku terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting. Ayo pulang.” Mereka berjalan bersama melewati jalan setapak berbatu yang membelah ladang. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan obor-obor di sepanjang jalan mulai dinyalakan. Suara-suara penduduk desa terdengar akrab: tawa anak-anak yang masih bermain, kambing yang digiring masuk kandang, dan aroma roti panggang dari tungku-tungku rumah. Liora adalah desa yang sederhana, tapi bagi Ardyn, inilah rumah yang selalu memberi rasa damai. --- Rumah keluarga Ardyn terletak di pinggir desa. Bangunannya terbuat dari kayu pinus dengan atap jerami, sederhana tapi hangat. Saat Ardyn dan Mira masuk, mereka langsung disambut aroma sup sayuran dan daging yang mengepul di meja makan. “Ibu, kami pulang!” seru Mira. Seorang wanita berusia pertengahan tiga puluhan, berambut cokelat panjang yang diikat rapi, muncul dari dapur. Wajahnya lembut, namun sorot matanya kuat—ia adalah Elira, ibu mereka. “Ardyn, kau terlambat lagi,” katanya sambil meletakkan panci di meja. “Kalau terus melamun, kau bisa jatuh sakit.” Ardyn mengangkat bahu. “Aku hanya butuh udara segar, Bu.” Dari kursi dekat perapian, terdengar suara tawa rendah. Seorang pria berperawakan tinggi, berjanggut tebal, sedang membersihkan tombak tua. Ia adalah Daren, ayah Ardyn. Meski usianya sudah melewati empat puluh, tubuhnya masih kekar—dulu ia adalah prajurit kerajaan sebelum memilih hidup tenang di desa. “Udara segar memang baik,” katanya sambil menatap putranya. “Tapi ingat, terlalu banyak melamun bisa membuatmu kehilangan pijakan di bumi.” Ardyn hanya tersenyum kecil, lalu duduk bersama keluarganya. Mereka makan malam dengan sederhana: sup sayur, roti gandum, dan apel segar. Obrolan mengalir ringan, tentang ladang, tentang tetangga yang baru saja punya bayi, tentang pesta panen yang akan diadakan dua minggu lagi. Namun, di balik tawa dan canda itu, Ardyn menyembunyikan kegelisahannya. Mimpi itu kembali menghantuinya sepanjang makan malam, seolah suara asing itu ingin didengar. --- Malam semakin larut. Setelah membersihkan meja makan dan membantu adiknya menyiapkan tempat tidur, Ardyn masuk ke kamarnya. Ruangan itu sederhana, hanya ada ranjang kayu, meja kecil, dan jendela yang menghadap ladang. Ia berbaring, menatap langit-langit gelap, berharap kantuk segera datang. Tapi pikirannya terus dipenuhi oleh mimpi dan suara itu. “Apa maksud dari semua ini?” bisiknya lirih. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berembus masuk lewat jendela, membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Bulan purnama menggantung tinggi di langit, begitu terang hingga bayangan pepohonan tampak jelas. Lalu, tanpa peringatan, rasa panas menjalar di telapak tangan Ardyn. Ia terkejut, duduk, dan melihat telapak tangannya menyala dengan cahaya samar. Sebuah simbol aneh muncul, berbentuk lingkaran dengan bintang bersinar di tengahnya. Cahaya itu berdenyut, semakin lama semakin terang, hingga menerangi seluruh kamar. “Ap—apa yang terjadi padaku?” Ardyn terengah. Ia mencoba menutup tangannya, tapi cahaya itu tetap keluar, menembus sela-sela jari. Simbol itu seolah hidup, berdenyut mengikuti detak jantungnya. Dan saat itulah, suara itu kembali terdengar. Lebih jelas, lebih dekat. "Bangkitlah… pewaris cahaya. Waktumu telah tiba." Ardyn terperanjat, napasnya memburu. Ia merasa ada sesuatu yang terbangun di dalam dirinya—kekuatan besar yang tidak pernah ia sadari. Tubuhnya gemetar, antara takut dan kagum. “Apa aku… bermimpi lagi?” katanya dengan suara bergetar. Namun cahaya itu nyata. Panasnya nyata. Dan suara itu terlalu jelas untuk dianggap ilusi. Ardyn memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan napas. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu—hidupnya yang damai di desa Liora baru saja berubah selamanya. Di luar, bulan purnama bersinar terang, seakan menjadi saksi lahirnya takdir baru. ---Pagi itu, Elena terbangun karena merasakan sesuatu menyentuh pergelangan tangannya.Ia membuka mata perlahan.Naras duduk di sisi ranjang, menunduk dengan wajah serius. Di antara jemarinya terdapat sebuah gelang cantik dengan rantai tipis berwarna keemasan. Sebuah bandul kristal ungu berbentuk tetesan air tergantung di tengahnya.Klik.Gelang itu terpasang sempurna.Elena mengangkat tangannya dan memperhatikan benda tersebut yang berkilauan diterpa cahaya matahari."Kupikir itu cantik," ucap Naras.Elena menoleh."Aku?"Naras terdiam sesaat."Atau gelangnya?" tanya Elena lagi, sengaja menggoda.Naras menggigit bibirnya seakan gemas."Kamu cantik."Ia mengangkat tangan Elena sedikit lebih tinggi."Pakai gelang ini tambah cantik."Elena tersenyum."Jawabanmu semakin lama semakin pintar.""Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."Elena bangkit dari ranjang. Rambutnya yang berantakan diikat asal menggunakan ikat rambut yang berada di atas nakas."Aku mau mandi.""Aku ikut."Elena langsung m
Untuk terakhir kalinya, Naras berusaha menahan diri. Sungguh. Ia sudah mencoba. Pria asing itu masih berdiri di depan mereka dengan senyum santai yang semakin lama semakin mengganggu. "Kalau kau sudah memastikan istriku baik-baik saja, kurasa pembicaraan kita selesai." ucap Naras dengan nada masih sopan. Setidaknya dia masih berusaha sopan. Pria pirang itu hanya mengangkat bahu."Sayang sekali. Aku baru saja ingin berkenalan."Naras melangkah maju memperingatkan."Jangan melewati batas."Pria asing itu menggelengkan kepala."Belum. Aku bahkan belum tahu siapa namanya."Elena bisa merasakan otot rahang Naras mulai menegang.Bahaya. Sangat berbahaya.Pria itu malah mengulurkan tangan."Namaku Adrian Laurent."Senyumnya semakin lebar. "Senang bertemu denganmu." Detik berikutnya— BUGH!Kepalan tangan Naras menghantam wajah Adrian.Pria itu langsung terhuyung beberapa langkah hingga jatuh di atas salju. "Astaga!" Elena menjerit kaget. Beberapa wisatawan ikut menoleh. Suasana menda
"Aku tidak kuat lagi. Pinggangku rasanya mau copot." keluh Elena sambil menarik selimut hingga sebatas bahu.Rambut panjangnya berantakan. Wajahnya masih menyisakan semburat merah yang belum sepenuhnya hilang.Kemarin mereka sama sekali tidak keluar kamar. Tidak melihat pemandangan ataupun ke mana-mana.Bahkan makan siang dan makan malam diantar langsung ke kamar.Dan sekarang Elena merasa seluruh tulang bergeser dari tempatnya.Pintu kamar mandi terbuka.Naras keluar dengan handuk melilit pinggangnya.Rambut hitamnya masih basah menyisakan tetesan air yang mengalir di leher hingga dada bidangnya.Pria itu bahkan sedang bersiul pelan.Sangat menyebalkan.Terutama bagi seseorang yang membuat Elena tidak bisa bangun dari tempat tidur."Ayo bangun, Tuan Putri."Elena memelototinya."Apa kamu pikir aku masih punya cukup energi untuk bangun?"Naras berpikir sejenak."Seharusnya iya." jawabnya asal.Bantal langsung melayang ke wajahnya.Namun Naras menangkapnya dengan mudah."Mulai berani,h
Pagi itu, desa kecil di kaki Pegunungan Alpen tampak seperti lukisan yang hidup.Atap-atap rumah kayu tertutup salju putih tebal. Cerobong asap mengepulkan uap hangat ke udara dingin. Lampu-lampu gantung menghiasi jalan utama, membuat seluruh desa terlihat seperti lokasi syuting film Natal.Begitu turun dari mobil, Elena langsung memutar tubuhnya perlahan.Matanya berbinar terang "Cantik sekali..."ucapnya sedikit terengah- engah karena saat menghirup udara, napasnya membentuk kabut putih di udara.Di sampingnya, Naras merapikan syal yang sedikit melorot dari leher Elena."Kau juga mengatakan hal yang sama sepuluh menit lalu.""Memang kamu tidak setuju?"Naras menatap wajah Elena yang memerah karena dingin.Kemudian berkata santai dekat telinga Elena."Daripada disini,aku lebih suka saat kita dikamar."Elena langsung memalingkan wajahnya yang merah seperti tomat dan pura-pura tidak mendengar.Mereka mulai berjalan menyusuri jalan utama desa.Toko-toko kecil berjajar rapi di kedua sisi
Lorong rumah sakit dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk sementara lampu putih terang memantul dingin di lantai mengilap.Hari sudah malam sementara bagi beberapa orang,waktu terasa berhenti berputar.Di balik kaca ICU, tubuh Naras terbaring diam.Selang oksigen terpasang. Monitor jantung berbunyi
“Maaf, Nona. Tanpa izin, Anda dilarang menemui Wakil CEO.”Elena berkedip pelan.Ia berdiri di depan meja Customer Service Adityawan Holding sambil memegang tote bag berwarna krem di tangannya. Di dalamnya ada beberapa wadah makanan hangat yang tadi dia bawa dari kediaman Adityawan.Dan sekarang…
Sudah dua bulan berlalu sejak Elena menandatangani kontrak pernikahan dengan Naras. Sejak hari itu, kehidupan di Mansion Adytiawan perlahan berubah. Rumah yang dulu terasa terlalu besar dan terlalu sunyi kini mulai dipenuhi jejak seseorang yang tidak pernah benar-benar bisa diam. Kadang aroma men
“Tahu hasil foto pernikahan seperti ini, lebih baik aku sisir poniku kesamping,” gumam Elena sambil berbaring telentang, mengangkat buku pernikahan di atas wajahnya. Nada suaranya penuh penyesalan namun terdengar menggemaskan. Di sampingnya, Naras duduk dengan laptop di pangkuan. Jemarinya bergera


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore