ANMELDENsedikit demi sedikit lama-lama kita kawin lagi 😁🥰🥰 banyak yang suka, Thor akan kasih lagi nanti 😁😁
“T-tidak di sini, Leon,” cegah Brianna dengan cepat.Ia menjauhkan kepalanya agar Leon tak terus memberi ciuman. Bagaimanapun, mereka sedang ada di luar ruangan sekarang.“Jadi?”Brianna menoleh ke belakang. Hanya sepersekian milimeter yang membuat hidung mereka nyaris bersinggungan.“A-ada yang ingin aku tanyakan,” kata Brianna, menahan diri agar tak tenggelam dalam pesona iris biru Leon yang tampak sangat berkilauan.“Apa?”“Sejak malam itu, kamu masih belum menjawab pertanyaanku soal siapa Fiona, dan kenapa kamu bilang kalau dia bukan selingkuhanmu dulu?”Harusnya Leon ingat, sejak di hotel, kemudian pada pertemuan mereka di depan rumahnya malam itu, Leon masih belum memberinya kejelasan.“Bisakah sekarang kamu hanya memikirkan kita berdua saja? Aku membawamu sejauh ini tidak untuk membicarakan orang lain, Brie ....”Bibir Leon mendarat ringan di pipi Brianna. Tangannya berpindah ke sekitar pinggul, dan sedikit memberi dorongan saat berujar, “Ayo keluar dulu, kamu kedinginan.”Bria
Brianna meremas kimono yang ia kenakan saat mendengar itu. Sementara Leon kembali ke dalam kolam renang, menunggunya di dekat tangga turun yang ada di dalam air.“Tidak mau?” tanya Leon, kedua alisnya terangkat untuk beberapa detik.Serupa godaan yang merayu Brianna untuk segera menyusulnya.Brianna tak menjawab. Ia perlahan menguraikan ikatan yang ada di pinggangnya, membukanya dan meletakkannya di kursi malas sebelum melangkahkan kakinya dengan hati-hati pada anak tangga.Ia berpegangan pada tangan Leon yang terulur ke depan, seakan memastikan Brianna akan aman bersamanya.Air kolam yang sejuk menyapa. Dari sebatas pergelangan kaki, memenuhi betis hingga ke lututnya. Leon menangkap pinggangnya dengan cepat, memastikan Brianna tetap berada di permukaan sehingga ia bisa bernapas dengan leluasa.“Jangan panik,” kata Leon.Mengisyaratkan pada Brianna agar ia tetap rileks dan mengatur napasnya.Brianna menurutinya. Ia menghela dan membuang napasnya secara teratur. Tangannya yang semula m
Brianna bersama Katie beberapa kali menunggu hingga larut malam agar dapat melihat siapa yang tinggal di seberang jalan. Tapi seperti tahu kedatangannya sangat dinantikan, tak satupun kemunculan yang didapati oleh Brianna maupun Katie. Hari ini, Brianna berpesan pada Katie untuk berhati-hati di rumah. Bahkan menyarankannya untuk pergi ke apartemen anak buahnya yang lain karena Brianna tidak akan pulang sampai hari minggu. Brianna beralasan ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, padahal ia pergi dengan Leon sejak pagi. Seperti yang telah mereka sepakati sebelumnya, menuju ke vila yang dulu pernah mereka datangi dalam kegiatan team building. Gemuruh terus bermunculan di dada Brianna sepanjang perjalanan hingga saat mereka tiba di sana. Gerbang tinggi dan halamannya yang luas menyambut. Saat keluar dari mobil dan berjalan bersama Leon, Brianna tak bisa menggambarkan seberantakan apa detak jantungnya. “Ayo!” ajak Leon, mengisyaratkan dengan matanya agar mereka masuk. Suasananya sa
Meninggalkan ruang kerja Leon, jantung Brianna berdebar kencang. Panas menjalari tengkuknya dengan hanya membayangkan apa yang akan terjadi di vila itu nanti. ‘Tapi kalau dengan Leon, bukankah sudah pasti kami akan….’ Ia berhenti membatin, mengipasi wajah setibanya di dalam mobil. Perihal bertemu di vila, Brianna setuju akan hal itu. Ia antusias bukan hanya tentang project baru yang ke depannya akan ditanganinya lagi bersama dengan Arcadia, tapi juga karena ia merasa akan memiliki lebih banyak waktu bersama dengan Leon. Saat yang tepat untuk menanyakan apapun yang ingin diketahuinya. Berkendara menjauh dari RN Empire, Brianna menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko bakery. Ada kue yang dijual musiman dan kebetulan Brianna sangat ingin makan manis sekarang ini. Baru setelah itu, ia menuju ke rumah. Setibanya di sana, Katie dijumpainya juga baru datang. Temannya itu keluar dari mobil dan memandang Brianna yang membawa dua kotak kue. “Aku pikir kamu sudah pulang dari tadi, B
“Kamu—apa yang kamu lakukan, Leon?!” Brianna melebar kedua matanya, mendorong Leon agar membebaskannya karena mereka berada di tempat yang … ‘rawan.’ Jika ada yang melihat mereka berduaan di tempat sepi seperti ini, apa yang akan terjadi? Tapi sekalipun Brianna memberontak, tapi Leon tetap menghalangi jalannya. Tak seinci pun beranjak sehingga secara praktis Brianna tetap terperangkap di sana. “Kamu sudah gila?!” Hanya ditanggapi dengan mengangkat salah satu alisnya saja. Brianna menjauhkan tangannya dari dada Leon, mengembuskan napasnya dan memutar kedua bola matanya dengan malas. Seberapa kuat usahanya mencoba melarikan diri, itu tak akan berhasil. “Sejak kapan kamu di sini?” tanya Brianna. “Baru saja, melihat kamu dan menunggumu lewat.” “Padahal aku hampir bertemu dengan orang yang parfumnya mirip dengan penguntit itu, Leon. Tapi gara-gara kamu aku malah kehilangan jejak.” Alis lebat Leon berkerut dengan cepat, “Penguntit itu di sini?” “Hanya dugaanku. Wangi parfum meman
Di kantor Arcadia, Brianna memandang ponselnya yang berulang kali bergetar karena ada panggilan dari Robert. Meski nomornya tidak disimpan, tapi ia bisa mengenalinya dengan jelas. Brianna mengabaikannya, memilih untuk membaca laporan uji struktural yang kemarin diserahkan oleh tim lapangan melalui Katie. Hasilnya sekali lagi sangat memuaskan. Keseragaman angka yang tertera di sana membuat Brianna mengangguk penuh rasa senang. “Waktunya pergi ke RNE, Bu project manager,” ucap Katie yang berhenti di seberang meja. “Jangan terlambat, anak-anak yang lain sudah aku beri tahu untuk berangkat tadi.” “Iya,” jawab Brianna kemudian menutup laptopnya. Ia simpan terlebih dahulu lalu menghadap pada cermin kecil yang ada di samping monitor, membubuhkan kembali lipstik di bibirnya. “Kamu cantik seperti biasa,” puji Katie sebelum Brianna meninggalkan kursinya. Meraih paper bag berisikan mantel milik Leon yang malam itu diletakkan di punggungnya. “Kenapa harus dikembalikan?” Katie bertanya saa







