Home / Romansa / Sepanas Belaian Mantan Kekasihku / 9. Di Atas Ranjang Leon Alejandro Ronan

Share

9. Di Atas Ranjang Leon Alejandro Ronan

Author: Almiftiafay
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-08 13:46:54

Brianna menjatuhkan bibirnya pada milik Leon. Ciumannya mendapat balasan hingga ia tak kuasa menahan lenguhannya.

“Eungh ….”

Tangan besar Leon meraih pinggulnya, meremas dan menekan Brianna dalam dekapannya.

Leon menariknya pergi dari tempat mereka berdiri semula.

Brianna memiringkan kepala ke samping untuk memberinya lebih banyak ruang saat merasakan lidah dan gigitannya yang semakin liar.

“Ahh—!”

Di atas ranjang besar milik Leon, Brianna duduk di pangkuannya.

Jari-jari panjang Leon meluncur d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Eva
Lebih dekat lebih baik? Akankah Leon mendekat?
goodnovel comment avatar
Christy Lino
Aduuuhhhh,..si melon sangar banget jd mkin kesel aq sama dia.,..hikz..jgn campur adukkan perasaan dgn pkerjaan gk prof itu namanya
goodnovel comment avatar
Aya Melodi Agrifina
heh jadi manusia jgn kejam2 amat sih,tau kmu masih sakit hati sma Brie tapi apa emng harus bgitu??
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   193. Rindu itu Telah Dipadamkan

    Tiga tahun berlalu seperti musim yang datang dan pergi di Norwald. Salju turun, mencair, lalu kembali lagi. Daun-daun linden di sepanjang jalan di depan Aeterna berubah dari hijau muda menjadi emas sebelum akhirnya gugur memenuhi trotoar. Di belakang rumah, danau Stillensee beriak dengan tenang, memantulkan langit yang terus berganti warna dari tahun ke tahun. Hari ini, Brianna baru saja menghadiri pertemuan orang tua di sekolah dasar si kembar Lionel dan Evangeline. Ada pertunjukan seni yang ditampilkan dalam rangka memperingati hari anak-anak. Sebenarnya, ia datang bersama dengan Leon, hanya saja, prianya itu telah lebih dulu keluar untuk menemui Leiden dan Cassandra. Ia berjalan keluar dengan si kembar yang menggandeng tangan kanan dan kirinya, bersama-sama meninggalkan gedung untuk menuju ke depan. Sudah tidak terlalu ramai orang sebab mereka memang cukup terakhir keluar setelah acara usai. “Mommy, katanya ada anak kelas sebelah yang suka dengan Eve sejak kami masuk sekola

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   192. Kembar Nakal Kesayangan

    “Sayang—stooop!” Brianna berseru, hendak menghalangi pertengkaran anak kembarnya. Tapi Evangeline yang terlanjur kesal sepertinya tak mau mendengarnya. Ia berlari menuju Lionel yang terseret-seret kala berhasil bangun dari koper. Evangeline berteriak saat benar melemparkan diaper di tangannya. “HIYAAA!” “TIDAAAAK!” Lionel mencari perlindungan. Ia berlari melewati Brianna saat diaper itu melayang ke atas, melambung membentuk lingkaran parabola dan— PUKK! Mengenai kepala Lionel yang seketika membeku. Brianna memejamkan matanya dengan tak berdaya sebelum perlahan menoleh pada Lionel yang tak bergerak dengan diaper yang tersangkut di kepalanya. “Lho? Ada apa ini?” tanya Leon yang berjalan memasuki ruangan. Bergantian memandang anak kembarnya, mengamati selama beberapa detik sebelum mengetahui bahwa mereka sedang bertengkar. Brianna yang tadinya datang untuk bersantai dan bermain dengan mereka mendadak dibuat ‘darah tinggi’. “Kenapa kalian lempar-lemparan diaper-nya adik?” tanya

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   191. Hal yang Tak Terduga

    Brianna membuka mata dan melihat dirinya yang terbaring di atas sofa ruang tamu hotel tempat mereka menginap. Tubuhnya ditutupi oleh selimut, tengah berbaring nyaman bersama dengan seorang pria yang juga sama tak mengenakan pakaian. Dinginnya ruangan menusuk dari segala penjuru, Brianna perlahan bangun dan melihat jam yang menunjukkan pukul satu dini hari. "Ahh ...." gumamnya seraya meraba tengkuknya. Ia baru saja tidur sekitar satu jam setelah 'pergulatan' yang panas di sofa ini. Ia bersama Leon, apalagi yang dapat mereka pikirkan jika tengah bersama dan diawali dengan saling menggoda. Di meja makan sebelumnya, Leon mengatakan akan menggigit siapapun yang membuat berantakan kamar dan Brianna menantangnya. Maka demikianlah semua terjadi. Bukan hidungnya yang digigit oleh Leon, tetapi bibirnya, telinga, leher bahu dan puncak merah muda di dadanya yang kini terasa kebas. Ia memungut pakaiannya yang ada di lantai, membawanya ke dalam kamar dan meninggalkan Leon sendirian di dalam s

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   190. Daddy ... Oh, Daddy ....

    “Ka-kalau untuk itu ... Nona Eva bisa menanyakannya langsung pada Daddy,” jawab Ricky seraya menekuk lututnya untuk berlutut.“Memangnya Uncle tidak bisa menjawab?”“Bisa, tapi Daddy lebih pandai loh ....”“Benarkah?”Ricky mengangguk banyak-banyak. “Benar. Nona Eva bisa melihat ‘kan kalau Daddy bisa membuat banyak bayi? Sebelumnya Nona bersama Kakak Lion, yang kemarin Adik Leiden dan Adik Cassa.”Evangeline terlihat mengerutkan alisnya, seperti sedang menimbang ucapan Ricky sebelum ia menoleh pada Leon yang duduk di samping Brianna setelah mengambilkan kue untuknya.“Sepertinya Uncle Rick benar ....”Evangeline beranjak menuju pada Leon. Sementara Ricky mengembuskan napasnya dengan lega.“Hah ... selamat,” katanya. Ia selamat dari anak-anak cerdas Leon yang banyak ingin tahunya.Ia bangun dari berlututnya dan melihat sengitnya pandangan Leon dari kejauhan kala manik mereka bersirobok. Pria itu bersedekap seolah sedang mengatakan, ‘Ricky Nolan, apa yang kamu katakan pada anak gadisku?

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   189. Dalam Garis Takdir yang Menjanjikan Suka Cita

    Vienna, beberapa hari setelahnya …. Ini bukan yang pertama kali bagi Brianna datang ke RN Empire, tapi setiap kali ia lakukan, ia tak pernah bisa melepaskan pandangan dari lobinya yang megah. Ia tak menyangka Leon benar menepati janjinya untuk senantiasa berada di dekatnya. RN Empire yang berdiri di Vienna ini lah bukti bahwa ucapannya bisa dipercaya. Untuknya dan anak-anak, ia memindah sebagian besar pusat kerja dari Halden—Jerman—ke Austria. Pria itu pulang-pergi dari tempat kerjanya ke rumah sekitar setengah jam untuk dapat kembali ke mansion mereka yang tenang di tepi danau Stillensee. Bertahun-tahun ia lakukan tanpa mengeluh. “Mommy …,” panggil Evangeline dari samping kanannya yang membuat Brianna segera terjaga. “Iya, Sayang?” “Apakah kita akan menunggu Daddy di sini?” Brianna mengangguk, meminta anak-anaknya untuk menunggu di sofa lobi. Ia menoleh pada Lionel yang mendorong stroller si kembar Leiden dan Cassandra agar lebih dekat pada anak gadisnya yang mengusap lembut

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   188. Our Beautiful Anniversary

    Brianna tergemap, matanya bergetar karena jujur saja ... ia lupa. Ia lupa ini adalah hari anniversary mereka. “Kenapa?” tanya Leon sebab Brianna hanya bergeming. Hening yang diberikannya membuat embusan angin dari danau terasa lebih bising. “Kamu tidak ingat kalau ini adalah anniversary kita?” “Iya,” aku Brianna. “Memang lucu, Brie ... aku sering tidak ingat jadwal penting yang berulang kali dikatakan oleh Ricky. Tapi untukmu, hal sekecil apapun aku rasa tidak akan melupakannya.” “Maaf ....” “Untuk apa minta maaf?” Brianna menghela dalam napasnya, “Karena tidak ingat hari penting seperti ini, Leon.” Leon berdecak, ia menyentuh pucuk hidung Brianna sebelum mengambil liontin dari dalam kotak beludru merah yang ada di tangannya. “Melupakan pun juga tidak apa-apa, itu tidak akan membuatku kesal. Lebih banyak luka yang disebabkan olehku yang tertinggal di hatimu. Jangan merasa bersalah untuk hal seperti ini.” Leon bangun dari duduknya, ia berjalan mendekat pada Brianna

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status