Share

Bab 2

Auteur: Makjos
Hari itu, saat aku keluar dari rumah sakit, hujan turun dengan sangat deras. Aku sampai di vila Keluarga Keraf dalam keadaan basah kuyup.

Melihatku untuk pertama kali, anakku, Jack, langsung menutup hidungnya dengan jijik sambil berkata, "Bau sekali!"

Hujan saat musim kemarau membawa aroma tanah yang anyir, tapi tidak sampai busuk.

Dia melakukan itu hanya untuk membuat senang Bianca.

Benar saja, aktingnya yang berlebihan itu membuat Bianca, yang saat itu sedang memakai baju tidurku, terkekeh sambil menutup mulut.

Tatapan wanita itu padaku penuh dengan rasa puas dan provokasi.

Aku mengabaikannya dan berbalik untuk naik ke lantai atas.

Namun, Steven bergegas keluar dari dapur. Dia mengerutkan kening dan menatapku dengan tatapan benci, lalu berkata, "Bianca sengaja meluangkan waktu dari pekerjaannya untuk menemani Jack hari ini. Bukannya berterima kasih, kamu malah memasang wajah seperti itu?"

Aku berdiri di anak tangga, menatapnya dengan pandangan dingin. Aku berkata, "Ya, makanya aku akan memberikanmu padanya. Ayo kita cerai."

Suaraku sangat pelan, tapi terdengar sangat jelas.

Kilatan penghinaan muncul di mata Steven, dia berkata, "Hagia, dari mana kamu belajar kebiasaan buruk ini? Sedikit-sedikit mengancam cerai. Kamu pikir kamu bisa mengancamku?"

Bianca juga berdiri, suaranya terdengar manja saat berpura-pura menasihatiku, padahal sebenarnya dia sedang memanaskan suasana.

"Hagia, jangan salah paham. Meskipun aku dan Steven pernah pacaran, dia adalah suami yang sangat bertanggung jawab pada keluarganya. Kamu harusnya menghargai itu. Bagaimana bisa kamu terus-menerus mengancam cerai?"

Benar saja, setelah Bianca bicara begitu, rasa jijik di mata Steven padaku semakin dalam.

Aku mengangguk acuh tak acuh, lalu berkata, "Kamu benar. Jadi pria ini untukmu saja, hargai dia dengan baik."

Setelah mengatakan hal itu, aku langsung naik ke atas.

Aku tidak peduli pada Bianca yang diam-diam senang, maupun Steven yang raut wajahnya semakin muram.

Aku mengemasi semua barang milikku di kamar tidurku ke dalam koper.

Aku lalu menaruh surat perjanjian cerai yang sudah kutandatangani dan surat pemutusan hubungan ibu dan anak di atas meja rias.

Terakhir, aku melepas cincin kawin dari jari manisku.

Steven tidak menyusulku. Dia sepertinya menganggap aku hanya sedang merajuk.

Dia kembali ke dapur untuk memasak.

Dia tidak pandai memasak, tapi dia rela bersabar belajar memasak demi Bianca.

Sedangkan padaku? Selama enam tahun menikah, dia hanya pernah memberiku semangkuk bubur putih yang sudah dingin, itu pun beli di gerai sarapan pinggir jalan.

Di media sosial, Bianca mengunggah foto meja makan penuh makanan lezat dan punggung Steven yang sedang sibuk memasak untuknya.

Dia menuliskan keterangan:

[Di dunia ini, akan selalu ada seseorang yang selamanya ingat apa makanan favoritmu.]

Baru satu menit foto itu diunggah, ibu mertua dan adik iparku langsung memberi like.

Ibu mertuaku bahkan berkomentar:

[Memang cuma Bianca yang paling kusukai. Nggak seperti seseorang, yang sudah enam tahun berusaha masuk ke keluarga ini, tapi tetap saja menyebalkan.]

Adik iparku juga menimpali:

[Karena aku orangnya jujur, jadi kukatakan saja, ya. Kak Bianca, tolong rebut saja kakakku! Istri kakakku yang sekarang sangat nggak pantas dengannya!]

Aku memberikan like pada postingan itu dengan santai.

Namun, saat aku menyegarkan halaman media sosial, postingan tersebut sudah hilang.

Aku malas memikirkannya lagi, lalu menarik koperku turun ke bawah.

Melihatku membawa koper, Steven berkata dengan keras dan dingin, "Postingan Bianca itu cuma bercanda, apa kamu harus berlebihan begini?"

Mata Bianca memerah, dia meminta maaf padaku dengan penuh kepura-puraan, "Hagia, aku nggak tahu kamu akan benar-benar cemburu. Kalau aku tahu, aku nggak akan datang hari ini dan membuatmu marah."

Aku menatap Steven dengan tenang, suaraku datar saat berkata, "Surat cerai ada di meja rias. Sampai jumpa besok pagi di Kantor Urusan Sipil."

Bersamaan dengan itu, mobil yang kupesan tiba. Aku pun berbalik untuk pergi.

Saat Steven hendak bicara, Jack menghalanginya sambil berkata, "Biarkan Mama pergi!"

Jack sepertinya sangat membenciku. Wajah mungil anak berusia enam tahun itu mampu mengekspresikan kebencian yang begitu mendalam padaku.

Dia meludah ke arahku, lalu merenggut jimat pelindung yang tergantung di lehernya dan melemparkannya ke arahku. Itu adalah jimat yang kudapatkan setelah berlutut memohon selama tiga hari.

"Cepat pergi! Mulai sekarang, Tante Bianca adalah mama baruku!"

"Oke."

Aku pun memungut jimat itu dan membuangnya ke tempat sampah di depan pintu. Lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.

"Jalan, Pak."

Mobil melaju pergi, meninggalkan vila Keluarga Keraf jauh di belakang.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Sepucuk Surat Cerai Memisahkan Kita Selamanya   Bab 10

    [Sudut Pandang Steven]Di matanya, Hagia selalu pendiam dan tertutup. Sama seperti pekerjaan gadis itu, membosankan sekali. Dia sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Bianca. Namun entah mengapa, setiap kali Steven pulang ke rumah kakeknya dalam keadaan mabuk karena kesal. Lalu melihat Hagia yang sedang asyik mengobrol dengan kakeknya, hatinya yang bergejolak selalu merasa tenang.Maka, Steven mulai sengaja berpura-pura mabuk agar bisa pulang ke rumah kakeknya.Hanya untuk bisa melihat Hagia. Lalu, dia akan menggoda Hagia dengan alasan mabuk. Melihat ujung telinga Hagia yang memerah, Steven merasa itu sangat menarik.Kejadian mabuk malam itu adalah kecelakaan, dia tidak berniat menyakiti Hagia. Namun setelahnya, saat Kakek memerintahkannya untuk menikahi Hagia, dia justru merasa lega, bahkan sedikit bersyukur dan senang.Kehidupan setelah menikah tetap terasa hambar. Hagia selalu mencurahkan seluruh perhatiannya pada pekerjaan arkeologinya. Hal ini membuat Steven cemburu.

  • Sepucuk Surat Cerai Memisahkan Kita Selamanya   Bab 9

    Akhirnya, semua perampok makam berhasil ditangkap. Steven segera dilarikan ke rumah sakit. Punggungnya terkena peluru karena aku mendorongnya tadi. Aku membawa Sofia naik mobil ke rumah sakit kota untuk menjenguknya setelah dia keluar dari ruang operasi. Dadanya dibalut perban. Saat melihatku, matanya sempat berbinar sesaat sebelum redup kembali.Aku menaruh bunga di vas dan memberi penghiburan padanya, "Jack sudah dijemput neneknya. Liburan musim panas hampir berakhir."Steven mengangguk. Aku melirik Sofia yang menunggu dengan patuh di depan pintu. Lalu setelah menimbang-nimbang, aku melanjutkan, "Setelah ini aku akan membawa Sofia pergi dari sini dan menyekolahkannya di kota besar. Aku ... aku nggak mau dia terlibat dengan Keluarga Keraf. Setelah kamu sembuh, ayo kita urus perceraian kita."Steven sulit menerima hal itu, matanya langsung memerah. Aku tiba-tiba sulit mengingat seperti apa rupa Steven yang dulu mabuk dan balapan liar demi Bianca.Dia bertanya dengan nada rendah da

  • Sepucuk Surat Cerai Memisahkan Kita Selamanya   Bab 8

    Setelah hari itu, Steven menjadi jauh lebih tenang. Bukan hanya karena rasa bersalahnya padaku. Tetapi juga karena Perusahaan Keraf yang terus-menerus dihujat oleh netizen akibat reputasi buruk Bianca.Selama beberapa tahun ini, aku selalu menghindari internet, jadi aku baru tahu beberapa kabar belakangan ini. Film yang awalnya diadaptasi dari kisah hidup Bianca, bahkan belum sempat tayang saat kedoknya terbongkar. Predikat "Penulis Skenario Emas" yang dia sandang ternyata palsu. Karya-karya yang memenangkan penghargaan itu adalah hasil plagiarisme massal, menjiplak karya asli dari tidak kurang dari dua puluh penulis skenario amatir.Awalnya Steven menekan opini publik agar berita itu tidak meledak. Sampai akhirnya, entah mengapa, dua tahun lalu Steven tiba-tiba berhenti mengikuti akun media sosial Bianca. Netizen pun kembali membongkar kasus ini habis-habisan. Bianca yang semula dicitrakan sebagai wanita cerdas dan berbakat, berubah menjadi sampah plagiat yang dihujat seluruh

  • Sepucuk Surat Cerai Memisahkan Kita Selamanya   Bab 7

    Kehadiran Steven dan Jack hanya gangguan kecil dalam hidupku yang tenang. Awalnya aku tidak mengambil pusing.Namun, tidak kusangka, Steven justru membeli rumah di sebelah dan pindah ke sana. Jack, tuan muda yang dimanjakan sejak kecil, juga mulai belajar cara mengambil hatiku seperti yang dilakukan Sofia.Jika Sofia bangun pagi untuk menggembala domba dan menyiapkanku air minum, Jack akan repot-repot menyeduh teh kesukaanku. Dia berdiri di depan pintu rumahku sambil memeluk teko teh, menatap dari balik pagar karena takut melewatkanku.Kemudian, dia akan dikejar oleh Sofia yang membawa anjing besar sampai sepatunya hampir copot. Jack sangat takut anjing.Sofia berteriak bangga padanya, "Jangan rebut Mamaku!"Jack ketakutan setengah mati tapi tetap keras kepala dan menjawab, "Mama juga Mamaku, dia yang melahirkanku!"Sofia membalas, "Lalu kenapa Mama lebih memilihku yang anak pungut daripada kamu? Coba kamu pikir sendiri!"Jack akhirnya menangis tersedu-sedu karena tidak bisa membal

  • Sepucuk Surat Cerai Memisahkan Kita Selamanya   Bab 6

    Aku menggendong Sofia pulang ke rumah. Steven tidak mau pergi, tapi tidak berani mendekat. Dia hanya bisa menggandeng Jack dan mengikutiku dari jauh.Aku tidak memedulikan mereka. Di rumah, aku mengobati luka Sofia. Jack dua tahun lebih tua darinya dan sangat kasar, lutut dan siku Sofia sampai lecet.Setelah selesai mengobati Sofia, aku menoleh dan melihat Jack menatapku dengan mata memelas. Dia berkata, "Mama, tanganku juga lecet."Aku menatap luka di telapak tangan putihnya yang terkena pasir, tapi hatiku tetap tidak tergerak.Dulu, aku sangat menyayanginya. Jangankan luka begini, dia batuk sekali saja, sudah cukup membuatku panik luar biasa."Mama ada pekerjaan siang ini, kamu di rumah saja ya. Hati-hati, jangan sampai lukanya berdarah lagi," ucapku lembut pada Sofia.Sofia menatapku dengan ragu, lalu melirik Steven dan Jack di belakangku. Dia bertanya dengan nada cemas, "Mama, apa Mama mau pulang ke rumah yang dulu?"Hari saat aku menemukan Sofia adalah hari yang bersalju. Gadi

  • Sepucuk Surat Cerai Memisahkan Kita Selamanya   Bab 5

    Tiga tahun kemudian."Mama Hagia!"Suara kekanak-kanakan yang cempreng terdengar di luar halaman kecil rumahku. Aku melepas celemek dan membuka pintu sambil tersenyum.Seorang gadis kecil yang badannya kotor penuh lumpur, menerjang ke pelukanku seperti peluru kendali."Anak lumpur ini habis berkelahi dengan Si Kuning lagi?"Si Kuning adalah anak anjing jantan milik kepala desa yang baru berusia delapan bulan.Anak kecil itu menyeringai malu dan memperlihatkan giginya yang ompong. "Aku menang!" Suaranya terdengar sangat bangga."Masih ingat kata-kata yang Mama ajarkan kemarin?"Aku mengambil handuk dan mengusap wajahnya. Setelah beberapa usapan, handuk putih itu berubah jadi hitam. Barulah terlihat wajah mungil yang menggemaskan dengan bintik-bintik matahari.Namanya Sofia, anak yatim piatu yang kuadopsi setelah aku tiba di Gurun Jabi tiga tahun lalu."Mama Hagia, aku lapar ...." Sofia menjulurkan lidah, matanya yang bulat berputar mencari alasan."Tadi pagi, aku menyabit sekeranjang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status