LOGINPada tahun kelima pertunanganku dengan Gavin, ketika kami sudah berencana untuk menikah, cinta pertamanya kembali. Semua janjinya padaku tidak lagi berlaku. Demi cinta pertamanya, dia merasa muak pada setiap tindakanku. Aku sadar bahwa aku tidak berarti apa-apa di hadapan cinta pertamanya. Aku yang merasa lelah pun memutuskan untuk menyerah dan merestui mereka. Aku juga sepenuhnya menghilang dari kehidupan Gavin. Namun, dia menyesali perbuatannya dan mencariku sambil menangis ....
View MoreBab 1
“Damn…”
“Yes, please…”
Killian melumat bibir wanita cantik yang kini berada di kungkungannya.
“Ir…”
“Heump… Ah…” Wanita cantik itu melepaskan pakaian pria tampan yang kini sedang mencumbunya dengan liar.
Begitu juga Killian yang tidak sungkan untuk melepaskan gaun hitam yang melekat dari tubuh wanita yang berada di genggamannya. Ia tidak menyangka wanita lugu yang biasa ia lihat di Rumah Sakit ternyata memiliki sisi liar—ia menyukainya.
“Oh my… Ah…” Lenguhan terdengar begitu merdu saat Killian mulai mencumbu area sensitivenya.
“Panggil namaku… Ir…”
“Nama? Ah… Siapa namamu tampan…”
Killian terkekeh dan menggeram pelan, ia menjilati telinganya dan berbisik, “Ian.”
“I-an?” ulangnya.
Pria itu mengangguk tipis, "Ya, Ian." Killian tersenyum, “Bisa kita lanjutkan?”
“Yes… Do it Ian… Badanku sangat panas…”
“As your wish…”
“Oh my… Ian… Aah…”
Tiga jam sebelumnya...
Dentum musik techno berdentum lowong di dalam ruang VIP salah satu klub eksklusif di pinggiran Monschau. Killian melepaskan kacamata baca yang selalu bertengger di hidungnya saat ia berada di rumah sakit. Tanpa jas putih dokter, ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka.
Dari balik kaca satu arah ruang VIP, mata tajamnya mengawasi lantai dansa. Liburan atau pelarian? Killian selalu punya alasan sendiri mengapa ia menyembunyikan identitas aslinya sebagai pemilik saham utama rumah sakit tempatnya bekerja dan memilih membaur sebagai dokter spesialis penyakit dalam biasa.
Namun, tatapan Killian mendadak terkunci pada satu titik.
Di sudut bar bawah, seorang wanita dengan gaun hitam backless yang memeluk tubuhnya dengan sempurna sedang tertawa bersama beberapa pria paruh baya berpakaian formal. Rambutnya hitam panjang, berkilau di bawah lampu kelap-kelip klub.
Killian memicingkan matanya. Jantungnya berdesir aneh. “Irish?” gumamnya lirih.
Dokter spesialis jantung yang terkenal sangat lembut, selalu memakai kacamata tipis, soft spoken, dan berambut gold? Mengapa wanita itu ada di sini, tanpa kacamata, berambut hitam legam, dan berpenampilan seksi luar biasa?
Killian berdecih, sebuah seringai tipis terukir di bibirnya yang kokoh. “Menarik,” bisiknya pada gelas wiski di tangannya.
Killian tidak tahu, bahwa wanita di bawah sana bukanlah Irish Harold yang ia kenal di rumah sakit desa. Wanita itu adalah Irina Harold.
Sedangkan di lantai dasar, Irina mengutuk dalam hati saat rasa pening yang tidak wajar mendadak menyerang kepalanya. Ia baru saja menghadiri gala dinner membosankan bersama rekan-rekan desainer dan artisnya, lalu diajak minum di klub ini. Irina adalah wanita yang badass dan glamor, ia tahu batasan minumnya. Dan dua gelas sampanye seharusnya tidak membuatnya se-tidak berdaya ini.
"Kau baik-baik saja, Irina? Mau kami antarkan ke kamar hotel di atas?" Salah satu rekan bisnis pria tersenyum penuh arti, tangannya mulai berani meraba pinggang Irina.
Sial. Irina tersadar. Dia dijebak. Obat perangsang atau sejenisnya telah dicampurkan ke dalam minumannya. “Aku lengah!”
Dengan sisa tenaga yang ada, Irina menepis tangan pria itu kasar. "Menjauh dariku, brengsek," desisnya dengan suara serak. Ia berdiri dengan kaki gemetar, berniat melarikan diri menuju koridor privat klub, mencari tempat aman sebelum kesadarannya benar-benar hilang karena hawa panas yang membakar tubuhnya.
Namun, langkah Irina limbung di koridor yang sepi. Tubuhnya hampir ambruk ke lantai jika sebuah lengan kekar dan berotot tidak menangkap pinggangnya dengan sigap.
Irina mendongak dengan pandangan buram. Hal terakhir yang ia lihat sebelum akal sehatnya hilang sepenuhnya adalah sepasang mata elang yang dingin, namun memancarkan gairah yang pekat. Pria itu sangat tampan, dengan aura tak tersentuh yang justru terasa sangat sensual.
"Butuh bantuan?" suara berat pria itu berbisik di telinganya.
Kembali ke saat ini…
“Oh my… I-ian… Aah…”
Killian menyesap kuat dada, bahkan tangannya yang besar sudah berada di inti tubuhnya.
"Tubuhmu sangat sensitif, Ir," gumamnya. "Aku menyukainya."
"Aku juga, Ian. Ah..." Irina mendesah tak karuan. Pria yang baru ia temui ini benar-benar tahu di mana titik sensitifnya.
Killian menggeram, tubuhnya terbakar gairah. Baru kali ini ada wanita yang membuatnya lepas kontrol seperti ini.
Cumbuannya turun ke bawah, "Oh my, I-ian. Apa yang... Eukh-" racauan Irina terputus saat merasakan inti tubuhnya dijilati dengan intens oleh Killian. "Rasanya... Ah... Luar biasa, Ian."
Pujian serak itu bagai bensin yang menyiram api di dada Killian. Geraman rendah keluar dari tenggorokan pria itu saat ia kembali merangkak naik, mengukung tubuh Irina yang sudah sepenuhnya pasrah di bawah kendalinya. Tatapan mata Killian yang biasanya sedingin es kini menyala, mengunci manik mata Irina yang sayu dan berkabut karena pengaruh obat.
Di bawah remang lampu kamar, Killian menatap wajah wanita di bawahnya. Wajah yang sama persis dengan dokter spesialis jantung yang selalu bersikap formal dan kaku dengannya di rumah sakit. Namun, ekspresi liar, bibir merah yang tergigit menahan hasrat, dan cengkeraman kuku-kuku tajam wanita ini di bahunya benar-benar meruntuhkan kewarasan Killian.
"Kau menyembunyikan sisi ini dengan sangat baik..." bisik Killian dengan suara serak yang seksi, tepat di depan bibir Irina.
Irina yang otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih hanya menangkap gumaman samar pria itu. Rasa panas yang menuntut di dalam dirinya membuat ia tidak memedulikan kata-kata Killian. Ia hanya butuh pria ini. Sekarang.
"Jangan banyak bicara... Ian... Please..." rengek Irina, menarik tengkuk Killian untuk kembali menyatukan bibir mereka dalam lumatan yang menuntut dan dalam.
Killian terkekeh sinis di sela ciuman mereka. Ego lelakinya melonjak tajam. Angkuh, dominan, dan tak tersentuh—sifat asli Killian yang selalu ia sembunyikan di balik jubah dokternya kini keluar seutuhnya.
Killian membuka laci nakas, ia lupa kalau ia tidak mengantongi pengaman malam ini. “Sial ukurannya.”
Irina menatap Killian dengan tidak sabar, “Ada apa?”
“Aku tidak membawa kondom, dan ini,” Killian memperlihatkan kondom yang ia pegang ke Irina, “bukan ukuranku.”
Irina menggigit bibir bawahnya, nafasnya tersengal begitu berat, “I don’t care, Ian. Just do it!”
Pria bertubuh atletis itu terkekeh melihat wajah putus asa yang kabut akan gairah, terlihat begitu erotis di matanya. “Shit!” Ia melingkarkan jari-jarinya yang besar ke pergelangan tangan Irina, menguncinya ke atas kasur dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menuntun pinggul Irina.
"Kau yang memintanya. Jangan menyesal besok pagi, hmm?" bisik Killian rendah, sebelum akhirnya ia menyatukan tubuh mereka dengan satu hentakan dalam yang intens.
"Ahhh! I-ian...!" Irina memekik, matanya melebar sesaat saat rasa penuh dan nikmat yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya.
Killian pun tak kalah terkejutnya merasakan perih saat menabrak dinding tipis, “Shit! You're a virgin?”
Setelah menyuruh Kenneth membasuh diri dengan air dingin, Nayla baru menyadari bahwa Kenneth bukan hanya ditabrak dari belakang sehingga punggungnya tersiram air dari pir panggang yang mendidih, dia sendiri juga memegang secangkir air tebu yang panas.Begitu mendengar Nayla mulai batuk, Kenneth sengaja datang untuk mengantar air tebu panas itu. Ketika dia ditabrak, air tebu panas itu juga tumpah ke tangannya sehingga punggung tangannya memerah karena terbakar.Nayla segera menelepon resepsionis dan memintanya untuk membelikan satu set pakaian pria. Sementara itu, dia sendiri pergi ke gedung perkantoran untuk mencari kompres es. Ketika keluar, dia malah bertemu dengan Gavin.Gavin terlihat agak kewalahan. "Nayla, maaf. Aku bukan sengaja mau menabraknya."Pada saat ini, Nayla baru menyadari bahwa Gavin-lah yang menabrak Kenneth. Dia pun mengerutkan kening dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan di sini?"Gavin menjawab dengan agak takut, "Seingatku, kamu suka makan pir panggang. Aku sudah s
Begitu Nayla masuk, Fiona buru-buru mengamati ekspresinya dan bertanya, "Kamu benar-benar rela meninggalkannya?"Nayla menggeleng dan menjawab, "Ini bukan soal rela atau nggak. Berhubung sudah putuskan untuk meninggalkannya, aku nggak punya niat untuk kembali lagi."Fiona mengangguk dengan gembira. "Baguslah kalau begitu!"Dia mencibir, "Waktu Gavin tahu influenser itu memeluk pacarnya sambil mengejeknya kaya tapi bodoh, dia juga mencarimu seperti ini dan berjanji nggak akan melakukannya lagi. Tapi nyatanya? Begitu Elina kembali, dia melupakan semua janjinya. Kalau kamu kembali bersamanya, siapa tahu ada Elina mana lagi yang akan tiba-tiba muncul?"Nayla tertawa terbahak-bahak dan menjawab, "Aku nggak akan kembali padanya."Fiona berkata dengan lantang, "Aku bilang begitu bukan karena adikku! Kalau kamu biarkan orang lain perlakukan kamu seenaknya lagi, aku nggak akan berteman denganmu lagi! Daripada aku marah sampai nggak bisa makan setelah mendengarnya." Kenneth memukul Fiona dari b
Nayla menggeleng dan menjawab dengan acuh tak acuh, "Kamu itu putra Keluarga Winowa, aku yang nggak layak dampingi kamu. Kita sudah akhiri pertunangan kita. Pak Gavin jangan bercanda lagi."Hati Gavin sangat sakit hati. Dia tidak peduli dengan hal lainnya lagi dan berujar dengan tergesa-gesa, "Semua itu salahku! Aku yang salah. Aku kira aku mencintai Elina, tapi orang yang kucintai ternyata adalah kamu. Nayla, aku nggak seharusnya akhiri pertunangan kita. Aku sudah sadari kesalahanku. Aku minta maaf. Maafkan aku dan pulang bersamaku, ya?"Nayla menggeleng. "Pak Gavin, tolong jangan mengolok-olok aku lagi. Aku nggak mampu temani kamu bermain. Sampai jumpa."Nayla memang mengucapkan sampai jumpa, tetapi ekspresinya jelas-jelas terkesan seperti mereka tidak akan pernah bertemu lagi.Melihat Nayla akan menutup pintu, Gavin buru-buru berseru, "Tunggu!"Gavin melepas ranselnya dengan panik, lalu membungkuk untuk membuka koper dengan tergesa-gesa."Aku benar-benar sudah sadari kesalahanku! Li
Gavin telah membayangkan banyak kemungkinan. Satu-satunya hal yang tidak terpikirkan olehnya adalah Nayla sudah memiliki pria lain. Nayla benar-benar tidak menginginkannya lagi.Gavin masih berdiri terpaku di tempat. Pikirannya sangat kacau dan dia tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa.Kenneth menatap pria yang membawa koper dan ransel di luar pintu. Setelah menunggu beberapa saat dan pria itu masih tidak berbicara, dia bertanya lagi, "Maaf, siapa yang kamu cari?"Gavin mendengar dirinya menjawab dengan kaku, "Aku Gavin. Aku datang mencari Nayla."Begitu mendengar nama Gavin, ekspresi Kenneth seketika berubah. Namun, hanya sesaat. Setelahnya, dia tersenyum sopan dan berujar, "Tunggu sebentar."Kemudian, Kenneth berbalik dan berteriak ke dalam rumah, "Lala! Gavin datang mencarimu!"Lala ....Gavin berpikir dengan linglung. Selama ini, dia tidak pernah memberi nama panggilan untuk Nayla. Apakah Nayla suka dipanggil seperti itu? Apakah pemuda ini begitu dekat dengan Nayla sehing






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews