LOGINSETELAH AKU KAU MILIKI
- Mencarimu "Memang keputusannya harus pindah ya, Bu?" tanya kepala sekolah yang didampingi oleh Bu Umi, wali kelasnya Zahra. Mereka tampaknya menyayangkan keputusan Naima yang menemui mereka di kantor. "Ya, Bu." Naima mengusap rambut Zahra yang duduk mepet di sebelahnya. Ibu kepala sekolah berkaca-kaca memandang Zahra. Bu Umi menghampiri lalu merangkulnya. Sebagai pihak sekolah, jelas mereka tahu data anak didiknya. "Saya paham perasaan, Bu Naima. Bagi seorang ibu, anak adalah segala-galanya. Seorang ibu rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi anak." Naima mengangguk sambil tersenyum getir. Hatinya perih, tapi air matanya dah habis karena menangis semalam. "Tadi papanya anak-anak juga baru saja dari sini. Beliau menanyakan tentang Zahra dan Ibu. Beliau berpesan, kalau Ibu datang, saya suruh nelepon ke nomornya." Bu Umi memberitahu. Seharusnya dia diam-diam menghubungi Emir. Namun melihat permasalahan ini, dia tahu apa yang harus dilakukan. Memberitahu bisa jadi akan menambah masalah bagi Zahra dan ibunya. "Tidak usah, Bu. Ini masalah pribadi saya. Saya ke sini, hanya bilang kalau untuk sementara Zahra nggak masuk sekolah. Sekalian izin untuk pindah setelah saya mendapatkan sekolah baru untuknya." Ibu kepala sekolah mengangguk. Bahkan dia meneteskan air mata. Ikut merasakan betapa perihnya beban Naima, walaupun tidak menceritakan secara gamblang permasalahannya. Setelah beberapa saat berbincang, Naima pamitan. Agar tidak bertemu Aurel saat anak itu istirahat nanti. Juga untuk menyudahi pembicaraan yang terasa berat ini. Zahra mencium tangan kedua gurunya. Ibu kepala sekolah memberikan sejumlah uang yang nominalnya tidak sedikit. "Untuk kamu ya, Zahra." Meski Naima menolak, tapi Ibu Kepala Sekolah memaksa. Begitu juga dengan Bu Umi. Guru itu juga memberikan uang untuk Zahra. "Nggak apa-apa, Bu. Biar untuk jajan Zahra," jawab guru itu saat Naima menolak dengan sopan. Sebab dia jadi tidak enak hati. Ibu kepala sekolah mengantarkan mereka sampai pintu gerbang hingga pergi naik taksi yang masih menunggu. "Ma, apa Zahra harus pindah sekolah?" pertanyaan sederhana saat mereka dalam perjalanan. "Iya. Nanti Zahra tinggal bersama Mama saja. Berdua." "Papa?" Satu kata yang membuat perasaan Naima terasa sangat sakit. Begitu sayangnya Zahra pada Emir. "Papa nggak ikut, Sayang." "Zahra tadi dengar Ibu Guru bilang kalau Papa nyari kita di sekolah, Ma." "Ya. Nggak apa-apa, Zahra." Bagaimana Naima harus menjelaskan. Zahra pasti akan merasakan sangat kecewa sekali jika tahu kebenarannya. Nanti anaknya akan semakin sedih. Bukan sekarang, suatu hari nanti ia pasti memberitahu. Setelah Zahra cukup mengerti. "Kita nggak tinggal lagi di rumah Papa?" Naima menatap putrinya. "Apa Zahra mau kembali ke sana dan selalu dimarahi Nenek?" Dengan spontan Zahra menggeleng. "Nah, makanya itu kita pergi. Mama nggak ingin Zahra disakiti dan dibentak-bentak lagi." "Iya, Ma," jawab Zahra lirih. Naima merangkul erat putrinya. 🖤LS🖤 Emir yang baru selesai meeting dengan pihak instansi dan retail, tergesa melangkah ke ruangannya. Pikirannya tak tenang. Sampai tengah hari ini, dia belum mendapatkan kabar dari gurunya anak-anak. Apa Naima tidak datang ke sekolahan hari ini? Akhirnya ia menelepon wali kelasnya Zahra. "Assalamu'alaikum, Pak Emir," suara Bu Umi di seberang. "Wa'alaikumsalam, Bu. Maaf kalau saya mengganggu. Apa istri dan anak saya tidak ke sekolah hari ini?" "Maaf, Pak Emir. Belum ada kabar apapun." "Baik, Bu. Saya tetap menunggu kabarnya. Oh ya, kelas satu sudah pulang kan, Bu?" "Sudah, Pak. Aurel tadi dijemput sama sopir. Katanya suruhan Pak Emir." "Iya, Bu. Kalau gitu terima kasih banyak. Maaf, merepotkan." "Nggak apa-apa, Pak." "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Emir menghela napas panjang sambil bersandar di kursinya. Kalau satu jam lagi tidak ada janji dengan pihak produsen, ia akan keluar mencari Naima dan Zahra. Namun pertemuan itu sudah dijadwalkan beberapa hari yang lalu. Mata pria itu memejam, tapi dadanya berdenyut perih seakan ada duri yang menancap di dalamnya. Ke mana mereka pergi? Pertanyaan berputar di kepalanya tanpa henti. Apa di kesempatan kedua ini, ia harus kehilangan Naima lagi? Ia kira semua perselisihan antara mertua dan menantu hanyalah fase biasa. Sedikit benturan, sedikit adaptasi, lalu berakhir dengan saling memahami dan akan membaik seiring berjalannya waktu. Ternyata ia keliru. Itu bukan percikan kecil. Itu bara yang selama ini ia biarkan, hingga kini meledak menjadi bom waktu. Dan bom itu merenggut Naima. Emir mengusap wajahnya saat teringat cerita gurunya tentang Zahra. Ternyata Aurel yang nakal selama ini. Padahal di hadapannya, dia anak yang penurut. Kenapa ia tidak peka. Bukankah di rumah pun Zahra selalu berlindung dibalik tubuh mamanya tiap kali ada sang nenek. Gadis kecil itu sering memeluknya dengan manja, karena Zahra menganggap dirinya adalah ayah kandungnya. Namun gadis kecil bermata bening itu sekarang pun ikut pergi mamanya. Dia anak yatim yang seharusnya dilindungi. Zahra. Perasaan Emir semakin semrawut. 🖤LS🖤 Keluar kantor, Emir tidak langsung pulang ke rumah. Dia kembali ke rumah peninggalan orang tua Naima. Namun rumah itu tetap sepi. Emir duduk dibalik kemudi sambil memandang halaman yang kotor oleh dedaunan kering. "Bapak titip Naima dan Zahra, Nak Emir. Tolong jaga mereka baik-baik. Setelah saya nggak ada, Nak Emir satu-satunya yang mereka punya." Emir ingat pesan bapaknya Naima saat lelaki itu sakit parah tiga bulan setelah ia menikahi Naima. Dan meninggal setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Mata Emir terasa memanas. Ia menunduk dalam-dalam. Sejenak kemudian memandang langit sore yang kekuningan. Ia teringat teman dekatnya Naima. Apa kira-kira Surti tau ke mana Naima pergi? Tapi Surti sudah tidak tinggal di sini lagi. Nomer ponselnya pun Emir tidak tahu. Menjelang senja Emir sampai di rumah. Di sana sudah ada Yesi yang bercanda dengan Aurel dan Bu Anjar di ruang keluarga. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." "Baru pulang, Mas?" tanya Yesi sambil tersenyum. Emir hanya memandang sekilas, lalu menyambut pelukan Aurel. Setelah mencium anaknya, ia masuk ke kamar dan langsung membuka lemari. Laci rahasia paling bawah ditariknya hingga terbuka lebar. Buku nikah milik Naima tidak ada. Jantung pria itu berdegup kencang. Di sana yang tersisa hanya buku nikah miliknya, kartu ATM yang biasa dipegang Naima, cincin pernikahan milik istrinya itu, dan kotak perhiasan yang lengkap isinya. Satu set perhiasan yang biasa dipakai Naima, dikembalikan di sana. Ponsel di sakunya yang bergetar, membuatnya berdiri dan menerima panggilan. "Halo, Pak. Apa ada kabar tentang istri saya?" Siang tadi Emir memang membayar seseorang untuk mencari keberadaan Naima dan Zahra. Tentu dia adalah orang kepercayaannya. "Kata anak buah saya, mereka melihat Mbak Naima dan Mbak Zahra di kosan Gang Batur. Sekarang saya menuju ke sana untuk memastikan, Mas." "Baik, Pak. Kita ketemu di sana." Next ....Selesai makan, mereka membahas tentang poin-poin penting dalam rencana kerjasama. Seperti biasa Dewa sangat fokus. Waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membahas semua hal yang penting. Selang beberapa menit setelah pembicaraan selesai, relasinya pamit. Tapi Dewa masih duduk di sana menghadap laptop sambil sesekali menyeruput kopinya.Saat ia menoleh sekilas ke arah pintu masuk. Ia terkejut. Seorang wanita masuk sambil menggandeng tangan seorang anak perempuan. Wanita itu mengenakan kemeja krem dengan blazer navy, rambutnya digerai sebahu. Di tangan kanannya menenteng tas besar berisi kemasan keripik. Anak kecil di sampingnya masih mengenakan seragam SD, rambutnya dikucir dua. Anak itu sudah besar sekarang. Seumuran Zahra. Langkah wanita itu terhenti sepersekian detik ketika matanya bertemu dengan mata Dewa. Tia.Wajah itu tidak banyak berubah. Hanya sedikit lebih tirus. Sosok yang dulu membuat Dewa luluh tanpa banyak kata, wanita yang dulu ia percaya sepenuhnya. Sebelum kenyataan
Tidak ada yang sempurna. Dulu Dewa juga seperti anak muda pada umumnya. Suka balapan, minuman keras, ikut gelangang bebas. Tapi dia tidak pernah menyentuh obat-obatan terlarang dan main perempuan. Namun setelah lulus kuliah dan fokus bekerja. Sudah mulai mengurangi kebiasaan itu. Apalagi setelah memutuskan untuk menikah, dia benar-benar berhenti. Sebab ingin menjadi suami yang baik, sebagaimana dia berharap mendapatkan istri yang baik.Sebenarnya Ilyas tahu sepak terjangnya Dewa bagaimana. Hanya saja dia memang sudah berubah banyak. Merokok pun berhenti waktu menikah. Namun sekarang rokok kembali menjadi temannya dikala sunyi.Dewa sosok yang memiliki solidaritas tinggi terhadap teman dan lingkungan. Tidak pernah merugikan orang lain juga. Malah dia yang jadi tumpuan teman-temannya.Setelah menghabiskan satu batang rokok, Dewa berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan. Dari Blitar ia mengambil rute menuju Kademangan, melewati area persawahan luas. Ia membuka kaca mobil. Angin siang
SETELAH AKU KAU MILIKI- 66 Perjalanan Pulang Mobil Dewa melaju meninggalkan batas kota Tulungagung untuk kembali ke Surabaya. Dia hanya ditemani suara mesin halus dalam kabin. Tidak ada musik yang mengalun. Karena kali ini ia lebih memilih suasana sepi.Tatapannya lurus ke depan. Tangan kirinya fokus ke kemudi, sedangkan tangan kanan bertumpu di sandaran pintu. Sesekali mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi cambang halus.Dalam kesunyian perjalanannya, pikirannya jauh melayang ke belakang.Beberapa menit sebelumnya, dia bertemu lagi dengan perempuan itu. Wanita yang selama setahun ini mengusik hatinya tanpa ampun. Sosok yang pertama kali ia temui bukan dalam kondisi baik-baik saja, tapi disaat hidupnya bersama sang anak sedang runtuh."Om Dewa, tolongin Mama saya!" Dia masih ingat dengan jelas suara Zahra yang panik di depan terasnya suatu malam.Inilah awal kisah yang membuatnya kembali patah kali kedua. Tapi perempuan ini, kembali bahagia dengan lelaki yang sangat mencintainya. Bu
"Elvaro, Om," jawab Naima sambil memperhatikan sang anak di pangkuannya."Sudah umur tiga bulan, Mas." Emir menambahkan."Iya. Sudah delapan bulan yang lalu Mas Emir membawa pindah keluarga kembali ke Tulungagung.""Mas Dewa, pindah ke mana? Waktu kami ke sana, katanya Mas juga pindah.""Saya kembali ke Surabaya, Mas. Dan sudah dua hari ini saya ada urusan di Tulungagung. Makanya kemarin di kantor saya kepikiran mau mencari alamat Mas Emir. Alhamdulillah, langsung ketemu tadi." Dewa mengambil paper bag di dekatnya, kemudian memberikan pada Naima. "Mbak Nai, hadiah untuk baby boy.""Oh, makasih, Mas Dewa. Selalu saja bawain hadiah untuk anak-anak.""Nggak apa-apa, Mbak."Mereka berbincang-bincang ringan tentang pekerjaan dan hal-hal umum. Namun baik Emir maupun Naima, tidak menyinggung tentang pasangan. Melihat Dewa datang sendirian, sudah pasti dia belum menikah. Emir dan Naima menganggap masalah itu terlalu pribadi jika ditanyakan.Dewa juga ngobrol dan bercanda dengan anak-anaknya N
"Audy," jawab Yesi lembut. Aurel dan Zahra kembali memperhatikan sang adik."Namanya mirip kamu, Rel," bisik Zahra ke telinga Aurel sambil ditutupi telapak tangannya yang kecil. "Hu um."Waktu berlalu hampir satu jam. Ruangan penuh tawa dan percakapan ringan. Sesekali Elvaro yang mulai gelisah merengek. Dia sebenarnya tidak betah digendong. Mintanya di taruh kasur dan bisa menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan leluasa.Emir beralih fokus pada putranya. Kemudian memberi isyarat untuk pamitan. Ia juga berdiri dan menghampiri dua putrinya. Memperhatikan sejenak bayi perempuan, anak mantan istrinya. Kemudian ia pamit. Semua saling bersalaman.Yesi menciumi Aurel. Ia sudah terbiasa menahan kangen pada putri sulungnya. Sekarang juga mulai sibuk dengan Audy. Tidak usah mengkhawatirkan Aurel, anaknya itu hidup sangat baik bersama papanya."Terima kasih sudah datang. Makasih juga untuk kadonya, Nai," ucap Yesi."Sama-sama, Mbak.""Assalamu'alaikum," ucap Emir seraya membukakan pintu un
SETELAH AKU KAU MILIKI - 65 Tentang Mereka "Kami bawa mainan untuk adik, Ma. Kan dia cewek. Bisa main boneka," kata Aurel begitu polosnya.Naima menghampiri kedua putrinya. Kemudian melihat apa yang mereka bawa di goodie bag. Boneka kuda poni, ada barby, ada hello kitty, panda juga. "Dengerin Mama. Adik itu baru lahir, dia masih kecil banget. Kalian ingat kan, bagaimana dulu El bayi?"Kedua bocah perempuan itu mengangguk. "Jadi dia belum ngerti bermain. Nanti malah bahaya kalau dimasukkan ke mulutnya.""Iya. Tapi biar disimpan Mama Yesi dulu, nanti kalau adik dah bisa bermain, biar dikasihkan ke dia, Ma," jawab Aurel."Jangan, Sayang. Nanti saja dikasihkan kalau adek sudah umur setahun. Mama Yesi kan baru lahiran, dia nggak bisa mengurus barang-barang ini. Lagian kita mau nyambangi ke rumah sakit. Nanti merepotkan Mama Yesi dan Ayah Doni kalau banyak barang di kamar perawatan." Naima memberikan pengertian ke anak-anak."Aurel, Zahra, disimpan dulu mainannya. Nanti kalau adik sudah







