Share

Malam yang Mendebarkan

Penulis: Risca Amelia
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 20:34:19

Di dalam ruang CEO yang kedap suara, Nyonya Vivian menyodorkan beberapa lembar dokumen di atas meja.

"Rosella, saya memutuskan menambah tiga set perhiasan dari lini ‘Crown’ untuk dijual di acara lelang,” pungkas Nyonya Vivian.

“Ini adalah daftar nama pelanggan kita yang telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Pastikan kau menyapa mereka.”

Sabiya menerima dokumen itu dengan rasa tanggung jawab yang besar. Namun, sebelum Nyonya Vivian melepasnya, sang CEO menambahkan satu tugas krusial.

"Dan sat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Godaan Penuh Kenikmatan

    Awalnya, pria itu mengangkat tangannya perlahan. Roman menyingkirkan helaian rambut panjang Sabiya yang menutupi leher, lalu menyampirkannya ke belakang bahu.Gerakan jemari Roman yang sengaja menyentuh kulit tengkuk Sabiya mengirimkan sensasi menggelitik.Setelah leher jenjang Sabiya terekspos, Roman memajukan wajahnya.Pria itu mulai mengendus aroma alami tubuh Sabiya. Napasnya yang terasa hangat menerpa kulit sensitif wanita itu.Sabiya menahan napas sejenak, tubuhnya sedikit menegang. Jemarinya yang sedang mengetik kalimat laporan mendadak berhenti."Roman, hentikan," tegur Sabiya dengan suara pelan, berusaha menjaga konsentrasinya agar tidak buyar. "Aku harus menyelesaikan ini."Bukannya menurut, Roman malah menyeringai. Ia mulai melancarkan godaan yang jauh lebih intens.Roman mendaratkan kecupan basah yang memanjang di sepanjang garis leher Sabiya. Bibirnya yang sedikit kasar karena cambang tipis itu menyusuri urat nadi Sabiya.Roman mengecupnya berulang kali, lalu sesekali mem

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Aku Ingin Diperhatikan

    Satu hari sebelum acara camping sekolah si kembar diselenggarakan, Roman memulai sesi fisioterapi. Perkembangan fisik pria itu terbilang sangat pesat.Pelat titanium di kakinya mulai menyatu dengan baik bersama jaringan tulangnya.Dengan panduan dokter spesialis rehabilitasi medik, Roman belajar menjejakkan kakinya ke lantai dan berjalan sangat perlahan menyusuri palang sejajar.Meski napasnya memburu usai melangkah, sorot mata kelabu pria itu memancarkan tekad yang pantang menyerah.Usai dokter dan perawat keluar dari ruangan, Roman kembali berbaring di atas brankar untuk mengistirahatkan otot-ototnya yang menegang.Sementara pria itu beristirahat, Sabiya kembali pada rutinitas profesionalnya. Wanita itu duduk di sofa seraya memangku laptopnya.Sabiya sedang bekerja secara daring, mengamati layar yang menampilkan file presentasi dan draf katalog.Sebagai kepala desainer, ia harus memeriksa katalog perhiasan musim gugur yang akan diluncurkan bulan depan.Sabiya meneliti dengan cermat

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Psikopat

    Hari ini, Clara sengaja mengambil izin setengah hari dari sekolah dengan alasan migrain.Tentu saja, rasa sakit kepala itu hanyalah bualan belaka. Alasan sesungguhnya adalah ia tidak bisa berkonsentrasi mengajar saat pikirannya sepenuhnya tertuju ke seberang benua.Hari ini adalah hari pemakaman Nyonya Regina Valeriano.Sebagai wanita yang ambisius dan terobsesi pada kekuasaan klan Valeriano, Clara tahu bahwa pemakaman ini bukan sekadar acara duka, melainkan ajang perebutan takhta.Ia pun mondar-mandir di ruang tengah apartemennya yang sempit, menggenggam ponsel erat-erat dengan kuku panjangnya yang dicat merah menyala.Waktu terasa merayap begitu lambat. Clara sudah menunggu cukup lama hingga kesabarannya nyaris habis.Tepat ketika Clara hendak melempar ponselnya ke atas sofa pudar, layar benda pipih itu menyala, menampilkan nama ayahnya, Tuan Simon.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Clara langsung menggeser ikon hijau."Akhirnya Papa menelepon juga!" sergah Clara dengan nada tidak s

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Sang Ratu Valeriano

    Dante segera menekan sebuah tombol di meja.Detik berikutnya, gambar wajah Roman muncul di dua layar raksasa yang telah disiapkan di area pemakaman Aldena.Suasana di kompleks pemakaman seketika hening. Seluruh pelayat yang hadir mendongak, menatap ke arah wajah pemimpin tertinggi klan Valeriano yang disiarkan dari benua seberang.Mereka bisa melihat wajah pucat sang bos besar. Namun, tatapan elang pria itu tetap menembus dan mengintimidasi siapapun yang berani mempertanyakan kelemahannya.Roman menatap ke lensa kamera yang terhubung langsung ke Aldena."Hari ini, seluruh keluarga besar Valeriano berduka karena kehilangan salah satu pilar terkuatnya," suara bariton Roman mengalun melalui sistem pelantang suara."Dan saya, kehilangan seorang ibu yang telah melahirkan, merawat, dan mengajari saya bagaimana cara bertahan hidup.”Roman memberikan jeda sejenak, mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk mengeraskan volume suaranya."Saya, Roman Valeriano, menyampaikan permintaan maaf kepada selur

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Mengantar Kepergian Ibu

    Suasana riang di ruangan itu berlanjut sejenak, hingga raut wajah Roman perlahan berubah.Tawa di bibirnya surut, digantikan oleh keseriusan yang mendalam. Ia memusatkan perhatian kembali pada wajah polos Ares dan Altair.Ada satu kebenaran yang harus ia sampaikan kepada kedua putranya malam ini. Sebuah fakta yang selama ini tertutup rapat oleh konflik dan pelarian di masa lalu.Roman menarik napas panjang, menyingkirkan ego dan rasa sakit di dadanya."Ares, Altair, ada banyak hal yang tidak sempat kalian ketahui tentang keluarga Papa," ucap Roman pelan, merangkai kata-kata yang mudah dipahami oleh anak-anak."Papa ingin memberi tahu kalian satu rahasia. Kalian masih memiliki seorang nenek. Ibu kandung dari Papa."Mata Ares dan Altair seketika membesar. Kata 'nenek' adalah sebuah kosa kata yang asing dalam kehidupan mereka.Selama bertahun-tahun berpindah tempat, mereka hanya memiliki ibu, dan baru-baru ini menyadari bahwa mereka memiliki seorang ayah. Mengetahui bahwa ada sosok nenek

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Papa Takut Mama

    Ketika matahari sore mulai condong ke ufuk barat, Sabiya berdiri di sisi brankar.Ia menatap wajah Roman yang masih terlelap, akibat efek obat pereda nyeri dosis tinggi. Namun, wajah pria itu mulai menunjukkan rona merah, tidak sepucat tadi pagi.Dengan perasaan lega, Sabiya kemudian merapikan letak selimut putih yang menutupi tubuh Roman."Aku pulang sebentar untuk menjemput anak-anak," bisik Sabiya di dekat telinga Roman.Sabiya memutar tubuhnya dan mendapati Dante telah berdiri siaga di dekat pintu. Asisten setia itu tampak jauh lebih segar pasca mendapatkan waktu istirahat yang cukup."Dante, aku titip Roman," pesan Sabiya seraya meraih tas jinjingnya. "Jika dia terbangun dan mencariku, tolong katakan aku sedang menjemput si kembar.""Anda tidak perlu khawatir, Nyonya Sabiya," jawab Dante dengan anggukan hormat. "Saya akan menjaga Tuan Roman."Dikawal oleh Liam, Sabiya meninggalkan rumah sakit.Perjalanan menuju apartemen terasa jauh lebih ringan bagi Sabiya, seiring dengan membai

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Acuh Tak Acuh

    Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghapus Jejakmu

    Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status