LOGINSuasana di halaman Bright School menjadi riuh rendah begitu bel istirahat berbunyi. Anak-anak bersorak gembira, berlarian ke sana ke mari untuk menikmati waktu bebas mereka sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai.Di bawah rindangnya pohon besar, Ares duduk di atas bangku taman. Ia menikmati sekotak susu cokelat dan sepotong sandwich sambil bersenandung kecil. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya tanpa berkedip.Sejak tadi, Clara memperhatikan Ares untuk mencari kesempatan mendekatinya. Dan, sekarang-lah waktu yang paling tepat untuknya bergerak, tanpa harus terganggu oleh anak-anak lain.Dengan senyuman paling ramah yang bisa ia pasang di wajahnya, Clara berjalan melintasi lapangan rumput. Ia menghampiri bangku taman tempat Ares duduk."Halo, Ares." Melihat guru musik baru berdiri di sampingnya, bocah itu sontak bangkit berdiri. "Miss Clara! Halo!" sapa Ares riang.Clara pun menepuk ruang kosong di sebelahnya agar Ares duduk kembali. Ia memasang e
Tepat pada detik yang sama, lonceng kecil di atas pintu masuk restoran berdenting nyaring, menandakan ada seseorang yang baru saja melangkah masuk.Sabiya tersentak kaget. Refleks, tubuhnya menegang dan matanya membelalak lebar menatap ke arah pintu masuk. Namun, alih-alih sosok asing berwajah menyeramkan yang muncul, figur yang tertangkap oleh pandangannya adalah sosok yang familiar.Pria tinggi berpostur tegap dengan setelan jas hitam melangkah menghampiri mejanya. Itu adalah Dante, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Roman.Melihat kedatangan Dante, Sabiya terkejut sekaligus lega. Dengan cepat, ia mengisyaratkan agar Dante mendekat dan duduk di kursi kosong yang berhadapan dengannya.Sabiya menatap asisten setia itu dengan sejuta tanda tanya besar. "Dante, kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau menemani Roman terbang ke Lisea?"Dante membungkuk hormat kepada Sabiya, sebelum menarik kursi."Selamat siang, Nyonya. Tuan Roman sendiri yang memerintahkan saya un
Sebelum Ares sempat membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Clara, suasana di atas karpet beludru mendadak riuh rendah.Anak-anak lain yang sudah lama mengantre dan merasa bosan mulai berteriak protes. Mereka berebut ingin mendapat giliran bermain piano bersama guru baru mereka."Miss Clara! Giliran aku!" seru seorang anak laki-laki dari barisan depan, melompat-lompat kecil tidak sabar.Bahkan, seorang anak perempuan berambut kepang bernama Isabelle maju tanpa ragu. Ia menarik lengan baju Ares agar mundur dari bangku piano."Ares, minggir! Giliranku sekarang! Kau sudah terlalu lama di sana!"Ares yang tidak ingin berkelahi dengan teman sekelasnya hanya mengerjap. Ia kemudian tersenyum ramah tanpa beban.“Oke, Isabelle. Aku akan turun dari kursi," kata Ares santai.Bocah lelaki itu menoleh ke arah Clara sambil melambaikan tangan kecilnya. "Miss Clara, nanti lagi kita bicara, ya. Isabelle ingin bermain piano juga."Setelah berkata demikian, Ares berbalik dan mundur dengan tertib. Ia kem
Selesai memanggil semua anak yang namanya tertera di lembar presensi, Clara berdiri di depan papan tulis putih.Sembari menatap anak-anak didiknya dengan senyuman ramah, Clara memegang sebuah spidol hitam. Tangannya menuliskan deretan notasi angka yang sederhana."Baiklah, anak-anak, perhatikan ke depan," suara Clara mengalun merdu, mengisi setiap sudut ruangan."Sebelum kita mulai bernyanyi, kita harus mengenal dasar notasi. Coba tirukan Miss Clara… Do-Re-Mi-Fa-Sol."Anak-anak berusia lima tahun itu serempak menirukan suara Clara dengan penuh antusias. Suara-suara kecil bernada tinggi bergemerincing memenuhi ruangan.Clara mengangguk-angguk puas. Ia membiarkan suasananya tampak menyenangkan di permukaan, sementara pikirannya terus berputar mencari cara untuk segera mendekati Ares.Setelah beberapa menit menjelaskan dasar-dasar teori lagu, Clara menutup buku catatannya dengan anggun."Nah, teori saja tidak cukup. Sekarang, mari kita pindah ke ruang musik. Di sana ada piano besar yang
Sisa malam itu seakan merangkak lambat bagi Sabiya. Di atas ranjang besar, ia berbaring dengan hati yang sangat gelisah. Sabiya bolak-balik mengubah posisi tidurnya, mencoba mencari ketenangan yang tak kunjung datang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan helikopter yang membawa Roman menembus langit malam selalu berputar di kepala.Baru menjelang pukul tiga dini hari, Sabiya terlelap dalam tidur yang gelisah. Namun, waktu istirahat yang singkat itu seolah berlalu dalam sekejap. Sinar matahari pagi hari Senin menyusup masuk melalui celah tirai, menandakan pukul enam pagi telah tiba. Sabiya langsung terbangun dari tidurnya. Meski matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pening, ia segera bangkit untuk membersihkan diri.Langkah kakinya yang senyap membawa Sabiya ke depan pintu kamar tidur si kembar. Ketika Sabiya mendorong pintu itu perlahan, ia melihat Ares dan Altair masih meringkuk di bawah selimut tebal. Tanpa menimbulkan suara berisik, Sabiya mendekat dan duduk di tepi r
Setelah menerima bingkai lukisan dan toples burung kertas penuh doa dari kedua putranya, Roman menyuruh Ares dan Altair mendekat. Dengan tatapan penuh kasih sayang, tangan kokoh pria itu mengelus lembut rambut tebal si kembar secara bergantian."Sekarang, kalian tidur yang nyenyak," tutur Roman.Ares dan Altair mengangguk patuh. Dengan senyuman cerah di wajah mereka, si kembar berpamitan serempak.“Selamat malam, Papa... selamat malam, Mama."Setelahnya, kedua bocah itu berlari kecil menuju kamar tidur mereka, meninggalkan keheningan yang manis di ruang tengah.Sabiya menatap kepergian anak-anaknya dengan dada yang membuncah oleh rasa haru. Kemudian, ia melangkah mendekati Roman sambil membawa nampan berisi teh lavender."Ayo, Roman... kita ke kamar," ajak Sabiya lembut.Roman mengangguk. Dengan tumpuan kruknya, pria itu mengikuti langkah Sabiya menuju kamar tidur."Letakkan dulu hadiah dari Ares dan Altair di sini, lalu minumlah tehmu selagi hangat."Sesuai perkataan Sabiya, Roman me
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me







