Share

Bab 6

Author: Bibi
Telinga Suci terasa berdenging. Rasanya seolah seluruh darah di tubuhnya membeku dalam sekejap.

Rendra tahu betul bahwa semua ini adalah sandiwara yang sengaja dibuat Puspa untuk menjebaknya.

Namun, alih-alih membongkar kebohongan itu dan menegakkan keadilan, dia justru menyuruh dirinya yang menjadi korban untuk ikut bersandiwara, mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya, lalu menerima hukuman yang katanya hanya pura-pura?

Hanya demi agar Puspa tidak memendam amarah dan jatuh sakit?

Lalu, bagaimana dengannya?

Dia melindungi Rendra dari anak panah. Racun di tubuhnya belum sepenuhnya dikeluarkan dan masa pemulihan setelah melahirkannya pun belum selesai.

Rasa pedih yang menusuk seketika melanda dirinya. Kali ini bahkan jauh lebih kuat daripada saat dia menerima anak panah demi melindungi Rendra.

Setelah cukup lama, barulah dia berhasil menemukan suaranya.

"Pangeran, saya masih belum selesai menjalani masa pemulihan setelah melahirkan. Kali ini, bisa saya menolak mengakuinya?"

Rendra menatap wajahnya yang pucat dan secercah harapan yang samar di matanya. Entah kenapa, hatinya mendadak kacau. Dia merasa sedikit kesal.

Dia mengalihkan pandangan, tetapi nada bicaranya justru menjadi semakin tegas dan dingin. "Suci, jangan menyulitkanku. Ini cuma sandiwara. Aku nggak akan benar-benar menghukummu dengan berat. Setelah semua ini berlalu, aku akan ... memberimu ganti rugi."

Ganti rugi? Lagi-lagi ganti rugi. Dia tidak butuh ganti rugi! Dia hanya ingin pergi dengan tenang dan menjalani hidupnya tanpa diganggu!

Namun, dia tahu dirinya tidak punya pilihan.

Di kediaman Putra Mahkota ini, perkataan Rendra adalah hukum. Jika Rendra menyuruhnya mengaku bersalah, dia harus mengaku bersalah. Jika Rendra menyuruhnya menerima hukuman, dia harus menerimanya.

Suci perlahan menunduk. Ketika kembali mendongak, tatapannya sudah kosong tanpa sedikit pun emosi. "Baik."

Melihat kepatuhannya, raut wajah Rendra sedikit melunak. "Masuklah."

Keduanya masuk ke aula utama. Rendra berjalan di depan dan Suci mengikutinya.

Di dalam aula, Puspa bersandar di dipan berlapis kain brokat. Setelah melihat Suci di belakang Rendra, dia mulai menangis dengan wajah penuh kesedihan.

"Pangeran harus membelaku! Aku nggak menyangka kalau Suci ternyata menyimpan dendam sebesar itu hanya karena kejadian di pesta ulang tahunku! Dia bahkan menggunakan cara sekeji ini untuk mengutukku sampai mati! Kalau bukan karena kemampuan guru spiritual yang begitu tinggi, aku ... mungkin nggak akan pernah bisa bertemu Pangeran lagi!"

Rendra segera berjalan ke sisi dipan dan menggenggam tangannya, lalu menenangkannya dengan suara lembut, "Puspa, jangan terlalu emosi. Jaga kesehatanmu. Masalahnya sudah diselidiki dan semuanya sudah jelas."

Dia menoleh ke arah Suci dan memberi isyarat agar dia berbicara.

Suci memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, dia menghadap Puspa dan membungkuk memberi hormat. Suaranya datar tanpa sedikit pun emosi.

"Memang saya yang membuat boneka itu. Saya khilaf. Saya mengakui kesalahan saya. Mohon Pangeran menghukum saya."

Sekilas, tampak kepuasan di wajah Puspa. Namun tak lama kemudian, ekspresi kembali berubah menjadi kesedihan dan kemarahan yang lebih besar.

"Pangeran! Dengar itu! Dia sudah mengaku! Dia bahkan ingin membunuhku! Pangeran harus menghukumnya dengan berat! Kalau nggak ... penyakitku ini mungkin nggak akan pernah sembuh!"

Rendra menepuk punggung tangannya, lalu berbalik menghadap Suci. Nada bicaranya terdengar tegas dan serius, seolah benar-benar sedang menegakkan keadilan.

"Suci, kamu menggunakan ilmu hitam untuk mengutuk Putri Mahkota. Niatmu sungguh jahat dan pantas dihukum. Tapi, mengingat kamu masih menyadari kesalahanmu, serta pernah melahirkan keturunan bagi keluarga kekaisaran, hukuman mati bisa diampuni."

"Mulai hari ini, kamu dihukum menyalin sutra sebanyak seratus kali di aula leluhur untuk merenungkan kesalahanmu."

Menyalin kitab suci sebanyak seratus kali di aula leluhur yang dingin dan lembap merupakan hukuman yang sangat berat bagi Suci. Bagaimanapun, lukanya belum sembuh dan masa pemulihannya setelah melahirkan pun belum selesai.

Namun, Puspa jelas tidak puas.

"Hanya menyalin kitab?" Dia tiba-tiba menegakkan tubuh. "Pangeran! Dia hampir membunuhku! Hukumannya hanya menyalin kitab? Hukuman seringan ini mana mungkin bisa membuatnya jera?!"

Dia mencengkeram lengan Rendra erat-erat dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Pangeran, apa ... apa Pangeran sudah menyukainya? Jadi Pangeran sengaja membelanya seperti ini?"

"Jangan bicara sembarangan!" Wajah Rendra menggelap. Dia langsung menyangkalnya. "Di dalam hatiku hanya ada kamu seorang. Bagaimana mungkin aku membelanya?"

"Kalau begitu, buktikan padaku! Kirim dia ke Biro Hukuman dan hukum dia sesuai peraturan istana!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 24

    Tabib istana terkejut dan segera berlutut."Yang Mulia! Jangan! Tubuh Yang Mulia sangat berharga dan ini menyangkut keberlangsungan negara! Cara sesat seperti ini akan membahayakan tubuh Yang Mulia. Hamba rela mati berkali-kali, tapi nggak berani melakukannya!""Aku bilang, pakai darahku." Rendra mengulanginya dengan nada tegas. "Nggak perlu banyak bicara. Segera persiapkan semua. Kalau dia nggak berhasil diselamatkan, kamu akan dikubur bersamanya. Kalau satu kata saja bocor, seluruh keluargamu akan dihukum mati."Wajah tabib istana seketika pucat pasi, lalu tubuhnya lunglai di lantai.Selama tujuh hari berikutnya, Rendra menutup diri dengan alasan sedang menjalani pertapaan dan tidak menemui siapa pun.Setiap hari, dengan tangan gemetar ketakutan, tabib istana mengambil semangkuk penuh darah hangat dari jantungnya.Setiap kali darah diambil, rasanya seperti berjalan melewati gerbang kematian. Rasa sakit yang luar biasa, tubuh yang semakin lemah, hawa dingin yang menusuk, kesadaran yan

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 23

    Tak lama kemudian, kabar datang dari kota perbatasan.Di sebuah kediaman jenderal yang sederhana tetapi hangat di perbatasan, Suci dan Wira melangsungkan upacara pernikahan.Saat upacara selesai, salju tipis yang jarang turun di perbatasan mulai berjatuhan. Kepingan salju beterbangan, jatuh di gaun pengantin dan rambut Suci.Dia mendongak, memandangi salju yang memenuhi langit. Dalam keadaan linglung, dia seakan kembali melihat sosok Putra Mahkota yang ditemuinya bertahun-tahun lalu di Istana Timur, berdiri di tengah aula megah dan memandangnya dengan dingin dan penuh keangkuhan.Dia sempat tertegun, tetapi segera tersenyum lega.Segala yang telah berlalu, cinta dan kebencian yang berbelit, perjuangan yang penuh penderitaan, perpisahan dan kematian, semuanya ikut jatuh bersama salju di perbatasan ini, mencair, lalu meresap ke dalam tanah.Kaisar baru naik takhta. Keadaan pemerintahan perlahan kian kokoh.Para pejabat dan panglima perang berkali-kali mengajukan petisi, meminta agar ista

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 22

    Suci berdiri terpaku, menatap mulut prajurit yang bergerak membuka dan menutup untuk menyampaikan kabar itu. Telinganya berdenging, membuatnya tak mampu mendengar apa pun dengan jelas.Hanya beberapa kata seperti "jatuh dari tebing" dan "hidup atau mati belum diketahui" yang terus menghantam gendang telinganya berulang kali.Dia perlahan duduk, tepat di tengah kekacauan itu, lalu diam tak bergerak. Dari siang hingga larut malam, dari larut malam hingga fajar.Pada petang hari ketiga, Wira kembali ke perkemahan utama dengan tubuh penuh luka dan kelelahan.Dia menemukan Rendra tersangkut di sebatang pohon kering di pertengahan tebing. Seluruh tubuh Rendra berlumuran darah, beberapa tulangnya patah, dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terasa.Namun di tangannya, dia menggenggam erat sebuah tusuk konde giok yang berlumuran darah.Wira mengenalinya. Itu milik Suci.Dengan perasaan yang rumit, Wira menyelamatkan Rendra dan kemudian mengutus orang untuk mempertaruhkan nyawa mengambil

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 21

    Demam tinggi membuat pandangannya kabur, tetapi pendengarannya justru menjadi jauh lebih tajam.Dari tenda di sebelah, samar-samar terdengar suara yang tertahan. Isak tangis lirih seorang wanita, napas berat seorang pria, serta suara ranjang yang bergoyang pelan ....Semua itu seperti pisau-pisau membara yang mengiris gendang telinga dan jantungnya perlahan.Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga bau amis darah menyebar di dalam mulut. Kukunya mencengkeram erat kasur di bawah tubuhnya. Dia nyaris melukai telapak tangannya sendiri.Dia ingin menerjang ke sana, ingin berteriak, ingin membunuh. Namun, seluruh tubuhnya terasa luar biasa sakit. Demam tinggi membuatnya tak berdaya, bahkan menggerakkan satu jari pun terasa begitu sulit.Dengan mata merah menyala, dia hanya bisa terbaring di sana, mendengarkan suara yang menandakan bahwa dirinya sudah kehilangan segalanya, mendengarkan wanita yang dicintainya menikmati tubuh pria lain.Sepanjang malam, dia seolah disiksa di dalam kuali

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 20

    Amarah yang tak jelas asalnya bercampur dengan kekhawatiran yang begitu kuat. Keduanya pun seketika membara di hati Rendra. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memacu kudanya ke arah Suci, berniat menariknya dari sana dan mengantarkannya ke tempat yang aman di garis belakang.Namun, tepat ketika dia memacu kudanya ke depan, sesuatu yang tak terduga terjadi.Sebuah anak panah yang dilepaskan dari sudut yang sulit ditebak memelesat dari tengah pasukan yang kacau di sisi medan perang. Anak panah itu langsung mengarah ke punggung Wira.Wira sedang mengerahkan seluruh tenaganya menghadapi beberapa pasukan berkuda musuh di depannya dan sama sekali tidak menyadarinya."Wira!" Pupil mata Suci menyempit. Dia berteriak panik dan berlari sekuat tenaga ke depan, tetapi terhalang oleh kerumunan yang kacau.Dalam sekejap, sesosok berpakaian hitam tiba-tiba menerjang dari samping dan menghantam Wira dengan keras, menjatuhkannya dari punggung kuda.Jleb! Suara anak panah yang menembus daging terdenga

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 19

    Rendra perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Di bawah cahaya lilin, wajah Suci tampak tenang, dingin, bahkan menyiratkan sedikit rasa muak.Di sana, tidak ada lagi kelembutan dan kesabaran yang dulu selalu ditunjukkannya. Terlebih lagi, tidak ada cinta yang selama ini Rendra kira diam-diam tersimpan di hati Suci.Yang tersisa hanyalah ketidakpedulian yang sepenuhnya dingin.Akhirnya, dia menyadari dengan sangat jelas, dia sudah kehilangan Suci untuk selamanya.Dengan berpegangan pada tepi ranjang, dia terhuyung bangkit. Untuk terakhir kalinya, dia menatap Suci dalam-dalam, seolah ingin mengukir wajahnya jauh ke dalam jiwa.Kemudian, dia berbalik. Seperti tubuh kosong yang sudah kehilangan jiwanya, dia berjalan sempoyongan meninggalkan kamar dan menyatu dalam kegelapan yang terbentang tanpa batas.Malam itu, Rendra berjalan tanpa tujuan di jalanan dingin daerah perbatasan. Pada akhirnya, dia masuk ke sebuah kedai arak sederhana yang belum tutup. Dia mengeluarkan semua barang berhar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status