Short
Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari

Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari

Por:  AsaiCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
21Capítulos
2visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Setelah menjalani hukuman selama lima tahun di penjara kekaisaran, Sekar Adiasta akhirnya dibebaskan. Saat pintu penjara terbuka, orang pertama yang dilihatnya adalah Noah Lukasa. Dia menunggang seekor kuda hitam pekat, mengenakan jubah seorang pangeran berwarna hitam pekat yang bermotif naga, dengan sosok tegap menjulang seperti pohon pinus. Namun, hati Sekar sudah tidak lagi terusik. Dia mengalihkan pandangan, seolah pria itu tidak ada di sana, lalu menyeret tubuhnya yang penuh luka dan berusaha melewati kuda tersebut. Baru beberapa langkah berjalan, sekelompok pengawal bersenjatakan tombak panjang tiba-tiba muncul dari kedua sisi dan menghalangi jalannya. “Terpidana Sekar, dengarkan titah!” Sekar menghentikan langkah dan perlahan mengangkat kepalanya. “Terpidana Sekar, lima tahun lalu terbukti berusaha mencelakai Pangeran Keenam. Seharusnya kau dijatuhi hukuman mati dan segera dieksekusi! Namun, mengingat jasa besar ayahmu, Jenderal Adiasta, di medan perang, Yang Mulia berkenan memberikan kemurahan hati dan mengubah hukumanmu menjadi lima tahun penjara di Penjara Kekaisaran. Kini masa hukumanmu telah berakhir. Namun, duka Selir Anna atas kematian putranya belum juga sirna meski lima tahun telah berlalu. Oleh karena itu, diperintahkan untuk menghamparkan arang membara sepanjang lima kilometer, dari Penjara Kekaisaran sampai ke gerbang kota! Terpidana Sekar harus berjalan tanpa alas kaki menempuh seluruh jalan itu demi menghibur arwah Pangeran Keenam. Hanya setelah itulah dosamu akan dianggap lunas!” Hamparan arang membara sepanjang lima kilometer? Berjalan di atasnya tanpa alas kaki?

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

Orang-orang yang berkerumun menyaksikan dari kejauhan sontak menarik napas.

Itu adalah arang yang dibakar hingga merah menyala. Jangankan sepanjang lima kilometer, bahkan sepuluh langkah saja sudah cukup untuk membuat kedua kaki seseorang terbakar hingga kulit dan dagingnya mengelupas.

Tangan Noah yang menggenggam tali kekang tiba-tiba mengencang. Wajahnya seketika berubah dan segera melompat turun dari kudanya. “Hentikan ....”

“Pangeran Noah!” Suara seorang perempuan yang lembut dan terdengar mendesak, menyela perkataannya.

Tirai sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di samping tersibak. Renata Hannan turun dengan anggun, dibantu oleh seorang pelayan perempuan.

Dia berjalan cepat menghampiri Noah, lalu dengan lembut menarik lengan bajunya. “Pangeran, jangan gegabah! Selir Anna sedang dalam keadaan marah. Jika Pangeran bersikeras menghentikannya, aku khawatir hal itu justru akan semakin membuatnya murka dan kelak makin mempersulit Kak Sekar.”

“Lagipula, Kak Sekar sejak dulu memang berwatak tegas dan ceria. Selama ini, cuma dia yang bikin orang lain rugi. Kapan dia pernah membiarkan dirinya dirugikan? Dia pasti punya cara untuk mengatasinya. Jika Pangeran turun tangan sekarang, justru keadaan bisa jadi lebih buruk.”

Gerakan Noah terhenti.

Benar juga. Sekar ... dia tidak pernah menjadi seseorang yang bisa diperlakukan sesuka hati.

Dia adalah putri dari keluarga jenderal, ceria dan berani, tak tertandingi dalam berkuda dan memanah. Sifatnya bahkan lebih keras daripada kebanyakan pria.

Dahulu, siapa pun yang berani menindasnya sedikit saja, pasti akan dibalasnya sepuluh kali lipat.

Arang membara sebanyak ini ... mungkinkah dia benar-benar punya cara untuk mengatasinya?

Noah ragu. Dia memandang Sekar, berharap perempuan itu akan kembali seperti dulu. Mengangkat dagunya, lalu memperlihatkan senyum yang cemerlang seperti mentari, tetapi juga menyimpan sedikit kelicikan, lalu berkata kepadanya, “Noah, lihat baik-baik. Trik sekecil ini nggak akan bisa mengalahkanku!”

Namun, tidak.

Sekar hanya menundukkan kepala dan menatap hamparan arang yang membara merah itu cukup lama.

Kemudian, dia mengangkat kaki dan menginjaknya.

Ces.

Suara kulit dan daging yang terbakar terdengar, diikuti bau hangus yang seketika menyebar ke udara.

Mata Noah menyusut tajam.

Namun, gadis ceria yang dahulu menunggang kuda dengan gagah dan mengenakan pakaian merah menyala bak api itu, seolah tidak merasakan apa pun. Selangkah demi selangkah, Sekar berjalan tanpa alas kaki di atas arang yang membara merah. Kulit dan daging di telapak kakinya dengan cepat menghitam, terkelupas, lalu terlepas, memperlihatkan daging merah di bawahnya, yang seketika kembali hangus akibat panas.

Darah terus mengalir sepanjang jalan. Tubuh Sekar gemetar dan wajahnya pucat pasi, tetapi dia mengatupkan giginya erat-erat tanpa mengeluarkan sepatah suara pun.

Noah menatap sosok kurus yang tertatih-tatih di tengah hamparan arang membara itu. Jantungnya terasa seperti dicengkeram erat oleh tangan tak kasatmata, semakin lama semakin kuat hingga ia nyaris kehabisan napas.

Rasa panik dan nyeri yang tak mampu dijelaskan itu semakin lama semakin kuat.

Tidak ... seharusnya tidak seperti ini.

Bagaimana mungkin Sekar menanggung semua ini dengan begitu tenang? Seharusnya dia melawan, memaki, dan menatap mereka dengan sepasang mata yang selalu menyala penuh amarah itu ....

Kenapa?

Kenapa dia berubah menjadi seperti ini?

Akhirnya, hamparan arang membara sepanjang lima kilometer itu pun mencapai ujungnya.

Kaki Sekar sudah hancur hingga darah dan dagingnya tak lagi jelas. Tubuhnya terhuyung, lalu condong ke depan, tampak akan jatuh.

“Sekar!”

Noah akhirnya tersadar. Dia segera menerjang ke depan dan menopang Sekar yang hampir terjatuh, lalu menariknya ke dalam pelukannya.

Begitu tubuh Sekar jatuh ke dalam pelukannya, Noah langsung merasakan betapa ringannya tubuh itu. Tulang-tulangnya yang menonjol bahkan terasa jelas di tangannya. Sekar seringan sehelai bulu dan seluruh tubuhnya sedingin es. Hanya kedua kakinya yang masih membara, panasnya begitu menyengat hingga membuat Noah panik.

“Kamu ....” Suaranya bergetar. “Bukankah kamu punya ilmu bela diri? Kenapa nggak menggunakan tenaga dalammu? Kenapa kamu tetap berjalan?!”

Sekar perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Tatapannya setenang permukaan air yang tak terusik.

“Hukuman pertama yang kuterima di penjara kekaisaran adalah tulang selangkaku ditembus.” Suaranya serak dan datar, nyaris tanpa emosi. “Ilmu bela diriku sudah lama musnah.”

Seluruh tubuh Noah tersentak, seolah tersambar petir. Dia berdiri kaku di tempat.

Kedua tulang selangkanya telah ditembus hingga ilmu bela dirinya musnah.

Bagi seorang ahli bela diri, itu adalah salah satu hukuman paling menyakitkan, bahkan lebih menyiksa daripada kematian.

“Jelas-jelas aku sudah minta orang di Penjara Kekaisaran untuk menjagamu. Kenapa kamu sampai menerima hukuman sekejam ini?” Tenggorokan Noah terasa tercekat hingga dia nyaris tak mampu menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa kamu nggak kirim seseorang untuk mencariku? Kenapa kamu nggak beri tahu aku?!”

“Mencarimu?”

Sekar tertawa kecil. Senyumnya kosong dan getir, dipenuhi ejekan yang tak berkesudahan.

Di dalam Penjara Kekaisaran yang gelap tanpa cahaya matahari, entah berapa banyak siksaan yang diterimanya, berapa kali dia meneriakkan ketidakbersalahannya, dan berapa banyak surat yang ditulisnya dengan darah sendiri untuk disampaikan kepadanya.

Dia memohon agar pria itu membebaskannya. Memohon agar, demi lima tahun hubungan mereka sebagai suami istri, dia tidak membiarkan Sekar menanggung kesalahan orang lain.

Namun, bagaimana dengannya? Dia bahkan tidak pernah muncul sekali pun.

Harapan demi harapan berakhir menjadi keputusasaan. Hingga pada akhirnya, bahkan keputusasaan itu pun tak lagi mampu membuatnya merasakan apa-apa.

Tatapan Sekar yang begitu tenang justru membuat Noah merasa takut. Untuk pertama kalinya, rasa takut yang asing mencengkeram hatinya.

Dia segera menjelaskan, “Saat kamu dipenjara, kebetulan Ayahanda mengutusku ke wilayah Patra untuk mengawasi urusan garam. Tempatnya jauh, kabar pun sulit sampai. Jadi, mungkin pesanmu nggak sampai kepadaku tepat waktu.”

“Sudahlah, kita nggak usah bicarakan ini lagi. Aku akan membawamu pulang dulu dan meminta tabib istana mengobatimu. Mulai sekarang aku nggak akan membiarkanmu menderita lagi.”

Dia hendak mengangkat Sekar ke atas kereta, tetapi perempuan itu perlahan melepaskan tangannya. Dia berpegangan pada badan kereta dan berdiri sendiri hingga tubuhnya kembali tegak.

“Aku nggak mau kembali ke Kediaman Pangeran.”

Noah tertegun. “Nggak mau kembali? Lalu kamu mau pergi ke mana?”

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
21 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status