Share

Bab 7

Author: Bibi
Biro Hukuman?!

Pupil mata Rendra seketika menyempit. Untuk pertama kalinya, terlihat jelas penolakan di wajahnya. "Puspa! Orang yang masuk ke sana mungkin akan mati atau setidaknya sekarat ...."

"Waktu dia menyakitiku, apa dia pernah memikirkan aku bisa mati?" Suara Puspa berubah dingin. "Kalau Pangeran nggak bersedia, berarti Pangeran memang nggak peduli padaku."

Sambil berkata demikian, dia kembali terbatuk-batuk hebat. Kali ini, benar-benar ada darah yang keluar dari mulutnya.

Rendra panik dan segera memanggil tabib.

Namun, Puspa menolak tabib itu dan menatap Rendra lekat-lekat. "Pangeran, berjanjilah padaku. Kalau nggak, penyakitku ini juga nggak perlu diobati lagi."

Suasana di dalam aula seketika sunyi senyap. Semua orang menahan napas.

Suci berlutut di lantai. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak menghantam dadanya hingga jebol.

Setelah sekian lama, akhirnya dia mendengar suara Rendra.

"Baik ...."

Suci sontak mendongak.

Rendra menghindari tatapannya.

"Pangeran!" Raras menjerit. Dia langsung berlutut dan bersujud berkali-kali. Dahinya seketika memerah. "Nyonya baru saja melahirkan dan juga terkena anak panah beracun. Tubuhnya sudah sangat lemah! Nyonya benar-benar nggak boleh menerima hukuman lagi! Nyonya bisa kehilangan nyawa!"

"Mohon Pangeran berbelaskasihan! Mohon Putri berbelaskasihan! Hamba bersedia menerima hukuman menggantikannya! Hamba mohon!"

Sambil menangis dan berteriak, dia bahkan merangkak maju tanpa memedulikan apa pun. Dia hendak menarik ujung pakaian Rendra, lalu memohon kepada Puspa.

"Raras! Berhenti!" Suci akhirnya bereaksi. Dia berteriak dan hendak menarik Raras.

Namun, sudah terlambat. Tepat ketika Raras hampir menyentuh ujung rok Puspa, Puspa tiba-tiba terkejut hebat, lalu jatuh terguling dari dipan.

"Putri!" Seluruh orang di dalam ruangan langsung panik.

Rendra buru-buru mengangkat Puspa ke dalam pelukannya. Puspa bersandar di dadanya sambil menangis hingga tubuhnya gemetar.

"Pangeran, lihatlah .... Bahkan seorang pelayan berani bersikap nggak hormat padaku dan hendak mendorongku dari ranjang .... Mereka benar-benar ingin membunuhku!"

Puspa menatap Rendra, berkata dengan sorot mata yang kejam, "Budak ini nggak tahu tata krama, berani menghina istri utama. Berdasarkan peraturan istana, dia pantas dipukuli sampai mati! Pangeran, segera keluarkan perintah!"

Dipukuli sampai mati?! Pikiran Suci seketika berdengung dan menjadi kosong.

Dia menatap Rendra dengan sorot mata yang untuk pertama kalinya dipenuhi permohonan yang nyaris putus asa.

"Pangeran! Jangan! Raras nggak bersalah! Dia hanya ingin melindungi saya! Mohon ampuni dia! Saya bersedia pergi ke Biro Hukuman! Saya bersedia menerima hukuman apa pun! Asalkan Pangeran melepaskan Raras!"

Suci berlutut dan bersujud keras ke arah Rendra tanpa henti. Suara benturan dahinya dengan lantai yang dingin dan keras terdengar berat, menghantam hati Rendra yang menegang.

Rendra menatap pemandangan di depannya. Di satu sisi ada Puspa yang batuk darah dan lemas, terus mendesak tanpa mau menyerah. Di sisi lain ada Suci yang bersujud memohon sambil menangis hingga wajahnya basah oleh air mata.

Ada pula Raras, sang pelayan yang ketakutan hingga tubuhnya melemas di lantai dan wajahnya pucat pasi.

Urat di pelipis Rendra berdenyut hebat. Kepalanya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk jarum.

"Pangeran ...." Puspa memanggilnya dengan suara lemah dan memilukan. Tatapannya dipenuhi tekanan.

"Pangeran! Saya mohon!" Dahi Suci sudah terluka. Darah bercampur air mata mengalir di wajahnya, membuat pemandangan itu begitu mengerikan.

Rendra memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, pergulatan dan sedikit rasa iba yang masih tersisa di matanya telah tertutup oleh keputusan yang kejam.

Dia tidak bisa membuat Puspa begitu sedih dan jatuh sakit hanya demi seorang selir dan seorang pelayan.

Sedangkan Suci ... setelah semuanya selesai, dia akan memberinya ganti rugi. Dia akan memberikan ganti rugi yang lebih besar.

"Pengawal." Suara Rendra terdengar serak, tetapi mengandung perintah yang tak terbantahkan. "Seret pelayan yang berani menghina Putri Mahkota ini keluar. Pukul dia sampai mati."

"Jangan!" Suci langsung menerjang ke depan, tetapi dua orang pelayan segera menahannya dengan kuat.

Tak lama kemudian, dari luar terdengar suara pukulan berat, disusul jeritan kesakitan Raras yang singkat dan memilukan.

Suara itu terdengar berulang kali, seolah menghantam jantung Suci, menghancurkan seluruh hati dan perasaannya hingga berkeping-keping.

Entah berapa lama berlalu, akhirnya suara dari luar berhenti.

Seorang pengawal masuk untuk melapor, "Pangeran, pelayan itu sudah mati."

Suci merasa seolah baru saja disambar petir. Dia sempoyongan dan berusaha bangkit, tetapi tiba-tiba memuntahkan darah. Pandangannya menghitam. Dia pun kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Ketika kembali sadar, Suci sudah berada di ruang penyiksaan Biro Hukuman. Dia membuka mata dan melihat langit-langit ruangan yang rendah dan lembap. Dari jendela sempit, cahaya siang yang redup masuk dengan samar.

Setelah itu, datanglah rasa sakit yang begitu hebat hingga seakan merobek-robek jiwanya. Rasa sakit itu berasal dari tulang belikatnya dan menembus seluruh tubuh, membuatnya hampir kembali pingsan.

Dengan susah payah, dia menunduk dan melihat bahunya terbalut perban tebal yang sudah basah oleh darah.

Tulang belikatnya ... sudah ditembus.

Itulah cara Biro Hukuman menangani tahanan kelas berat. Setelah tulang belikat ditembus, bahkan orang yang paling kuat sekalipun tidak akan mampu mengerahkan tenaga dan hanya bisa pasrah diperlakukan sesuka hati.

Apa yang menanti Suci setelah itu adalah neraka yang tidak akan pernah bisa dihapus dari ingatannya seumur hidup.

Cambuk kulit yang dilengkapi duri menghantam tubuhnya hingga kulitnya terkoyak. Luka lama kembali tertimpa luka baru.

Jarum perak yang panjang dan tipis ditusukkan ke sela-sela kukunya. Rasa sakitnya menjalar hingga ke jantung, membuatnya beberapa kali pingsan karena tak sanggup menahannya. Pada akhirnya, dia disiram air dingin hingga tersadar kembali.

Masih ada berbagai hukuman lain yang bahkan tidak sanggup dia sebutkan namanya. Setiap hukuman dirancang untuk menyiksa tubuh manusia semaksimal mungkin dan menghancurkan ketahanan batinnya.

Pada awalnya, Suci masih menjerit setiap kali rasa sakit yang luar biasa menyerangnya. Namun lama-kelamaan, bahkan untuk menjerit pun dia sudah tidak punya tenaga.

Dia hanya menatap semuanya dengan tatapan kosong. Langit-langit ruang tahanan, batu-batu yang basah oleh rembesan air dan ditumbuhi lumut. Kesadarannya perlahan memudar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 24

    Tabib istana terkejut dan segera berlutut."Yang Mulia! Jangan! Tubuh Yang Mulia sangat berharga dan ini menyangkut keberlangsungan negara! Cara sesat seperti ini akan membahayakan tubuh Yang Mulia. Hamba rela mati berkali-kali, tapi nggak berani melakukannya!""Aku bilang, pakai darahku." Rendra mengulanginya dengan nada tegas. "Nggak perlu banyak bicara. Segera persiapkan semua. Kalau dia nggak berhasil diselamatkan, kamu akan dikubur bersamanya. Kalau satu kata saja bocor, seluruh keluargamu akan dihukum mati."Wajah tabib istana seketika pucat pasi, lalu tubuhnya lunglai di lantai.Selama tujuh hari berikutnya, Rendra menutup diri dengan alasan sedang menjalani pertapaan dan tidak menemui siapa pun.Setiap hari, dengan tangan gemetar ketakutan, tabib istana mengambil semangkuk penuh darah hangat dari jantungnya.Setiap kali darah diambil, rasanya seperti berjalan melewati gerbang kematian. Rasa sakit yang luar biasa, tubuh yang semakin lemah, hawa dingin yang menusuk, kesadaran yan

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 23

    Tak lama kemudian, kabar datang dari kota perbatasan.Di sebuah kediaman jenderal yang sederhana tetapi hangat di perbatasan, Suci dan Wira melangsungkan upacara pernikahan.Saat upacara selesai, salju tipis yang jarang turun di perbatasan mulai berjatuhan. Kepingan salju beterbangan, jatuh di gaun pengantin dan rambut Suci.Dia mendongak, memandangi salju yang memenuhi langit. Dalam keadaan linglung, dia seakan kembali melihat sosok Putra Mahkota yang ditemuinya bertahun-tahun lalu di Istana Timur, berdiri di tengah aula megah dan memandangnya dengan dingin dan penuh keangkuhan.Dia sempat tertegun, tetapi segera tersenyum lega.Segala yang telah berlalu, cinta dan kebencian yang berbelit, perjuangan yang penuh penderitaan, perpisahan dan kematian, semuanya ikut jatuh bersama salju di perbatasan ini, mencair, lalu meresap ke dalam tanah.Kaisar baru naik takhta. Keadaan pemerintahan perlahan kian kokoh.Para pejabat dan panglima perang berkali-kali mengajukan petisi, meminta agar ista

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 22

    Suci berdiri terpaku, menatap mulut prajurit yang bergerak membuka dan menutup untuk menyampaikan kabar itu. Telinganya berdenging, membuatnya tak mampu mendengar apa pun dengan jelas.Hanya beberapa kata seperti "jatuh dari tebing" dan "hidup atau mati belum diketahui" yang terus menghantam gendang telinganya berulang kali.Dia perlahan duduk, tepat di tengah kekacauan itu, lalu diam tak bergerak. Dari siang hingga larut malam, dari larut malam hingga fajar.Pada petang hari ketiga, Wira kembali ke perkemahan utama dengan tubuh penuh luka dan kelelahan.Dia menemukan Rendra tersangkut di sebatang pohon kering di pertengahan tebing. Seluruh tubuh Rendra berlumuran darah, beberapa tulangnya patah, dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terasa.Namun di tangannya, dia menggenggam erat sebuah tusuk konde giok yang berlumuran darah.Wira mengenalinya. Itu milik Suci.Dengan perasaan yang rumit, Wira menyelamatkan Rendra dan kemudian mengutus orang untuk mempertaruhkan nyawa mengambil

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 21

    Demam tinggi membuat pandangannya kabur, tetapi pendengarannya justru menjadi jauh lebih tajam.Dari tenda di sebelah, samar-samar terdengar suara yang tertahan. Isak tangis lirih seorang wanita, napas berat seorang pria, serta suara ranjang yang bergoyang pelan ....Semua itu seperti pisau-pisau membara yang mengiris gendang telinga dan jantungnya perlahan.Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga bau amis darah menyebar di dalam mulut. Kukunya mencengkeram erat kasur di bawah tubuhnya. Dia nyaris melukai telapak tangannya sendiri.Dia ingin menerjang ke sana, ingin berteriak, ingin membunuh. Namun, seluruh tubuhnya terasa luar biasa sakit. Demam tinggi membuatnya tak berdaya, bahkan menggerakkan satu jari pun terasa begitu sulit.Dengan mata merah menyala, dia hanya bisa terbaring di sana, mendengarkan suara yang menandakan bahwa dirinya sudah kehilangan segalanya, mendengarkan wanita yang dicintainya menikmati tubuh pria lain.Sepanjang malam, dia seolah disiksa di dalam kuali

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 20

    Amarah yang tak jelas asalnya bercampur dengan kekhawatiran yang begitu kuat. Keduanya pun seketika membara di hati Rendra. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memacu kudanya ke arah Suci, berniat menariknya dari sana dan mengantarkannya ke tempat yang aman di garis belakang.Namun, tepat ketika dia memacu kudanya ke depan, sesuatu yang tak terduga terjadi.Sebuah anak panah yang dilepaskan dari sudut yang sulit ditebak memelesat dari tengah pasukan yang kacau di sisi medan perang. Anak panah itu langsung mengarah ke punggung Wira.Wira sedang mengerahkan seluruh tenaganya menghadapi beberapa pasukan berkuda musuh di depannya dan sama sekali tidak menyadarinya."Wira!" Pupil mata Suci menyempit. Dia berteriak panik dan berlari sekuat tenaga ke depan, tetapi terhalang oleh kerumunan yang kacau.Dalam sekejap, sesosok berpakaian hitam tiba-tiba menerjang dari samping dan menghantam Wira dengan keras, menjatuhkannya dari punggung kuda.Jleb! Suara anak panah yang menembus daging terdenga

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 19

    Rendra perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Di bawah cahaya lilin, wajah Suci tampak tenang, dingin, bahkan menyiratkan sedikit rasa muak.Di sana, tidak ada lagi kelembutan dan kesabaran yang dulu selalu ditunjukkannya. Terlebih lagi, tidak ada cinta yang selama ini Rendra kira diam-diam tersimpan di hati Suci.Yang tersisa hanyalah ketidakpedulian yang sepenuhnya dingin.Akhirnya, dia menyadari dengan sangat jelas, dia sudah kehilangan Suci untuk selamanya.Dengan berpegangan pada tepi ranjang, dia terhuyung bangkit. Untuk terakhir kalinya, dia menatap Suci dalam-dalam, seolah ingin mengukir wajahnya jauh ke dalam jiwa.Kemudian, dia berbalik. Seperti tubuh kosong yang sudah kehilangan jiwanya, dia berjalan sempoyongan meninggalkan kamar dan menyatu dalam kegelapan yang terbentang tanpa batas.Malam itu, Rendra berjalan tanpa tujuan di jalanan dingin daerah perbatasan. Pada akhirnya, dia masuk ke sebuah kedai arak sederhana yang belum tutup. Dia mengeluarkan semua barang berhar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status