Share

Apakah Cinta Butuh Alasan?

Author: Jannah Zein
last update Last Updated: 2025-12-31 22:39:09

Bab 43

"Cukup, Melvin!" Kepalaku sudah terlanjur pening dengan ucapannya, susah mencerna karena selama ini Melvin tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda yang menguatkan dugaan jika dia menyukaiku.

Ini begitu tiba-tiba, dan sangat tidak bisa dipercaya.

Atau mungkin, jangan-jangan akulah yang tidak peka?

Aku selalu menganggap jika perhatian pemuda berumur 23 tahun ini hanya sebatas perhatian seorang calon dokter kepada seorang teman yang kebetulan akan segera melahirkan.

Aku meraih pintu mobil, berusaha membukanya. Namun tangan itu keburu ditangkap oleh Melvin. Dia menarik tubuhku dengan tarikan yang kuat, sehingga membuat kami terlihat seperti berpelukan. Sementara satu tangan digunakan Melvin untuk mengusap perutku. Sebuah usapan yang lembut. Namun sanggup membuat janin dalam perutku bergerak. Dia mulai menendang, memberi respon, seolah paham jika ada orang yang memberi perhatian kepadanya.

Aku di buat dilema. Di satu sisi aku terlena dengan perlakuannya yang terlihat begitu memper
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Sangkar Emas

    Bab 51: Sangkar EmasMobil yang dikendarai Bima akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang hitam menjulang. Ini bukan sekadar rumah, melainkan sebuah kompleks hunian mewah dengan keamanan ketat, dikelilingi taman asri yang tertata rapi.Aku menelan ludah, memandang bangunan bergaya minimalis modern di depan kami dengan perasaan hampa. Terasa dingin, sepi, dan asing.Tidak ada rasa senang sedikitpun saat melihat kemegahan dan kemewahan rumah ini. Aku lebih menyukai kamar kosku yang sempit, namun ada tawa Vina yang menemaniku setiap malam, saat gadis itu sudah pulang kerja. Kami juga sering melewatkan makan malam bersama, terkadang aku masak sendiri, tapi seringkali Vina juga membawa makanan dari luar.Makan malam yang selalu terlambat, karena aku pulang di atas pukul 08.00 malam, meski sebenarnya Melvin mempersilahkanku untuk pulang sesukaku. Aku tak tega, apalagi jika akhir pekan. Aku kadang harus pulang di jam 09.00 malam.Diam-diam tangan ini mengepal, jika teringat ucapan Bima saat

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Maafkan Aku, Melvin

    Bab 50Aku menemukan Melvin duduk santai di sofa yang berada di pojok ruangan toko ini, dan di dekatnya ada troli yang memuat barang-barang hasil belanjaanku barusan."Apa sudah selesai perundingannya?" cetus pemuda itu. Suaranya datar sekali. Tak ada lagi kehangatan seperti yang barusan kutemukan saat kami baru memasuki mall ini.Seolah kami merupakan orang asing yang baru kali ini bertemu."Maaf, Mas Bima ingin bicara sama kamu."Melvin mendongak, tatapannya yang semula dingin beralih ke sosok Bima yang berdiri tegap di belakangku. Dia bangkit perlahan, melipat tangan di dada dengan sikap defensif."Bicara apa lagi?" tanya Melvin ketus. "Saya pikir sudah nggak ada yang perlu lagi dibicarakan. Kalau Ratih mau ikut sama kamu silahkan! Saya memang anak kemarin sore, nggak berhak buat melarang seorang wanita yang sudah bersuami untuk mengikuti suaminya!""Melvin...." Suaraku hanya sampai di situ. Seolah lidahku ditimpa benda berat sehingga tak bisa bergerak."Kamu nggak perlu menjelaska

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Bujukanmu Tak Mempan, Mas

    Bab 49"Jangan sok menjadi pahlawan kesiangan, Mas! Bukannya kamu sendiri yang bahkan memaksaku untuk membunuh anak ini, jika aku tidak mau tanda tangan surat perjanjian kita tempo hari?! Jangan pura-pura lupa!"Aku menarik tanganku, lalu mundur selangkah, hingga akhirnya kami berdiri dengan berjarak. Tetap saling menatap, namun wajah pria itu terlihat penuh kabut. "Kamu pikir akan semudah itu membawaku pulang ke rumah, sementara kamu melupakan jika sudah begitu banyak luka yang kamu ciptakan?!""Kamu hanya mengingat luka. Aku kan sudah minta maaf dan kita sudah rujuk kembali. Kurang apa lagi? Kalau memang kamu ingin membangkitkan usaha orang tuamu, aku siap menjadi investor!"Ternyata Bima memang tidak berubah! Selalu itu saja yang ia ucapkan ketika membujukku. Memangnya rumah tangga adalah arena bisnis, yang setiap hubungan bersifat transaksional?"Terlalu murah apa yang kamu tawarkan, tidak sebanding dengan luka yang pernah engkau ciptakan." Berulang-ulang kalimat itu menggema da

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Pulang Sekarang Juga!

    Bab 48Sungguh tak pernah terpikirkan jika harus bertemu dengan Bima di sini, di pusat pembelanjaan ini pula. Tanpa aba-aba, pria itu menyeretku, mengabaikan teriakan Melvin yang terus memanggilku. Namun isyarat tangan dari pria itu membuat langkah Melvin menjadi urung. Pemuda itu akhirnya kembali berjalan menuju troli yang tertinggal di samping rak.Sekilas yang terlihat sebelum Bima menyeretku lebih jauh, raut wajah kecewa pria itu.Aku jadi merasa sangat bersalah pada Melvin."Apa kamu masih merasa belum cukup dengan petualanganmu selama ini?!" Kalimat yang meluncur dari mulutnya sungguh membuatku ternganga. Bukan cuma kemunculannya yang tibat di hari ini, tapi karena dia menyebut kata petualangan. "Aku biarkan kamu bebas menjalani hidupmu di luar. Tapi sekarang kamu sudah keterlaluan. Ngapain tinggal serumah dengan bocah itu?! Dia itu sedang memanfaatkan kamu!" Sorot mata yang berkilat-kilat seperti api yang menjilat. Aku berdiri dan meremas tanganku sendiri tanpa sadar."Mas

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Hormon Kebahagiaan

    Bab 47"Aku yang mengajakmu belanja, jadi akulah yang akan bayar. Meski belum jadi dokter, aku nggak miskin-miskin amat kok. Kamu udah tahu pekerjaanku apa." Pria itu itu menghela nafas. Sepertinya Melvin agak kesal dengan ucapanku barusan. Aku hanya sanggup menarik napas panjang. Lagi-lagi aku menyerah, membiarkan Melvin menghabiskan sarapannya. Sebenarnya aku nggak selera lagi untuk melanjutkan sarapan, tapi sayang juga. Soto ini terlampau enak. Ternyata Melvin pintar memilih makanan. Aroma bumbunya sungguh menggoda. Akhirnya semangkok soto pun habis dan aku segera membuang bekas bungkusnya ke tong sampah.Aku memilih menata barang-barangku di kamar setelah selesai sarapan. Sebagian lagi aku bawa ke dapur, karena berisi alat-alat masak. Lumayan, tidak perlu membeli semua peralatan dapur. Aku menata semuanya di sebuah rak piring yang sudah tersedia. Beberapa toples aku tata di atas lemari makanan. Pasti akan berguna nantinya untuk menaruh gula atau kerupuk. Di dapur ini sama sekali

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Kandidat Yang Mana?

    Bab 46Aku pikir yang datang itu kurir pengantar makanan, tapi tenyata malah Vina. Gadis itu muncul lengkap dengan seragam kerjanya. Di halaman rumah ada sebuah mobil taksi, dan Melvin bergegas menghampiri mobil itu, lalu membantu sopir taksi untuk mengeluarkan barang-barangku."Aku belum menghubungi kamu, Vin. Apakah Melvin yang meminta kamu datang?" Pandangan mataku tertuju pada dua orang laki-laki yang tengah sibuk memindahkan barang dari mobil."Iya, memang Melvin yang memintaku datang. Memangnya kenapa dengan orang-orang tadi malam, Mbak?" Gadis itu menyeretku masuk ke dalam rumah, membiarkan supir taksi dan Melvin menaruh barang-barangku hanya sampai di teras rumah."Aku nggak tahu juga persisnya, Vina. Tiba-tiba saja mereka muncul. Tapi yang jelas, mereka bertanya tentang soal statusku dengan Melvin. Aku memang bersama Melvin di mobil saat itu, dan itu yang pertama kalinya aku bersama dengan seorang laki-laki. Jadi mereka pikir itu suamiku." Aku menerangkan, meski sebenarnya ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status