Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!
"Bilqis... Ah, Bilqis..."
Deg!
Jantung Bilqis berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging. Namanya....
Bagi seorang gadis yang selama ini hidup dalam kepolosan dan tekanan keluarga, pemandangan itu adalah sebuah hantaman visual yang tak pernah ia bayangkan. Kepalanya mendadak pening. Jemari Bilqis gemetar hebat, dan detik berikutnya—
PLAK!
Map cokelat berisi ijazah bernilai sempurna itu terlepas dari genggamannya, jatuh menghantam lantai parket kayu dengan suara yang memecah keheningan kamar.
Mata Andika terbuka lebar seketika!
Napas Andika tercekat saat matanya menangkap sosok Bilqis yang berdiri mematung di dekat pintu, menatapnya dengan mata bulat yang dipenuhi campur aduk antara syok, malu, dan ketakutan yang polos.
Dalam sepersekian detik, kesadaran menghantam kepala Andika seperti godam. Rasa malu yang luar biasa, bersalah, dan panik membakar wajah dokter berwibawa itu hingga memerah padam. Dia langsung menarik selimut tebal menutupi tubuhnya, gerakannya liar dan kacau.
"Bilqis?!" suara Andika melengking, kasar dan bergetar akibat syok yang luar biasa karena ketahuan di posisi paling tidak berdaya. "Apa yang... kenapa kamu tidak mengetuk pintu?!"
Bilqis melangkah mundur satu tapak, bibirnya gemetar, lidahnya mendadak kelu. "Aku... aku cuma mau..."
"Keluar!" bentak Andika dengan nada tinggi, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin dengan kasar. Mata pria itu tidak berani menatap Bilqis. "Keluar sekarang, Bilqis! Keluar!"