LOGINSandra baru saja menikah dengan Farel selama satu minggu. Kemudian Farel membawa perempuan lain untuk meminta izin menikah lagi. Sialnya, perempuan itu adalah orang yang sering membully dia saat sekolah menengah. Akhirnya Farel dibolehkan menikah dengan Dewi. Syaratnya, semua harta menjadi milik Sandra. Farel tanpa berpikir panjang dengan cepat setuju. Dia tipe pria bucin. Sedangkan Dewi yang cewe matre merasa mendapatkan zonk. Sejak saat itu Sandra auto menjadi Miliarder. Dia bukan lagi gadis miskin. Tanpa sengaja dia bertemu dengan teman Dewi, teman masa sekolah mereka. Dewi mengaku jika dia menikah dengan anak konglomerat dan Sandra adalah pembantunya. Sandra mengikuti alur permainan Dewi. Sedikit demi sedikit dia akan membalas semua perbuatan Sandra dan merebut kembali suaminya. Dia akan membuat Dewi malu dengan sikapnya yang sombong dan suka merendahkan orang.
View MoreThe moon was fat and heavy, spilling silver light over the clearing like it was trying to make everything look holy. The air smelled of pine needles crushed under boots, smoky firewood, and the nervous sweat of too many wolves standing too close. Everyone was dressed up—blacks and golds, ceremonial nonsense—like they were part of something ancient and sacred.
Moon Choosing night. The night alphas played king, and omegas lined up, hoping to be chosen. Ezra lingered at the edge of it all, half-hidden in the shadows, leaning against a gnarled tree like he didn’t care. He didn’t. At least, that’s what he told himself. He tugged his hoodie lower, the fabric rough against the back of his neck—bare skin, unmarked. No bond. No claim. Just him—packless, statusless, and mostly forgotten. A mouthy omega with a reputation sharp enough to keep people away and a past he didn’t talk about. He wasn’t even supposed to be here. No one had invited him. Omegas like Ezra didn’t get picked. They got passed over. Pitied. Sometimes used. Never wanted. He preferred it out here, anyway. Past the torchlight. Beyond the judging eyes. Invisible. Ezra watched another omega step into the fire circle—perfect posture, perfect smile—tilting his neck just so for the alpha beside him. The crowd howled, the sound thick with approval. Another bond made. Another golden couple sealed by tradition. Ezra let out a quiet snort. “Yeah. Real sweet,” he muttered, barely moving his lips. Fated mates. The whole choosing thing. It was a show—painted in old symbols and fake smiles. Alphas strutted around like they were doing omegas a favor. And omegas? Most of them played along, hoping someone would see them. Choose them. Maybe even love them. Ezra had stopped hoping a long time ago. Suddenly, the air shifted. The energy in the clearing dipped, like something ancient had walked in wearing a human face. All the noise died at once. The silence was sharp, almost expectant. Ezra looked up. A figure entered the circle—tall, broad-shouldered, and dressed in black that somehow looked more like battle armor than ceremony. The moonlight caught on his face just enough to make the tension in Ezra’s chest pull tighter. The whispers started almost instantly. “Who’s that?” “Not from this pack…” “Is that—Kael Blackthorn?” Ezra’s breath stilled in his throat. Kael. Of course he’d heard of him. Everyone had. The cursed heir of the Blackthorn pack. The one with the unstable wolf. The one with a bloodline the elders whispered about when they thought no one was listening. They said he carried a mark no alpha should have. That he shouldn’t have survived his first shift. Ezra had never seen him—until now. Kael walked like someone barely holding something back, each step slow and deliberate. The sharpness of his suit did nothing to hide the wild tension in his frame—or the fire in his eyes. He didn’t glance at the lined-up omegas like the others had. Didn’t even slow down to pretend. He was looking for something. Or someone. Ezra’s skin prickled. He should leave. Now. Fade into the trees, slip out before anyone noticed him at all. But Kael stopped walking. And looked straight at him. Their eyes locked across the firelight, and Ezra’s breath caught before he even realized it. His heart punched against his ribs. No. No, this couldn’t be happening. Kael’s head tilted slightly, like he was listening to something no one else could hear. He didn’t look away. Didn’t blink. Ezra’s wolf stirred inside him—alert, confused, anxious. The kind of feeling that came right before a storm. He swallowed hard and pushed off the tree, ready to disappear. Then— “You.” Kael’s voice wasn’t loud, but it cut through the clearing like it had been waiting centuries to be said. Ezra froze. All around him, the crowd fell silent. Kael stepped forward, eyes locked on Ezra. “You. Step into the circle.” Ezra turned slowly, blinking like he was trying to wake up from a dream. Or a nightmare. Someone laughed awkwardly. “Is he serious?” another voice whispered behind him. Kael didn’t waver. “It’s not a mistake.” Ezra’s heart was a mess of noise now—loud, panicked, disbelieving. He wasn’t supposed to be seen. He wasn’t supposed to be chosen. But Kael’s voice came again, low and certain, like it came from the earth itself. “I choose you.”Beberapa tahun kemudian, kehidupan Tika selama itu banyak mengalami perubahan. Dia jatuh miskin karena ditipu oleh laki-laki brengsek. Dia masih saja sombong dan tidak belajar dari pengalaman. Sedangkan Evi dan Anita sudah menyadari kesalahannya. Mereka berusaha untuk memperbaiki kehidupan mereka. Mereka tidak lagi bersikap sombong kepada orang-orang. Mereka lebih menghargai orang lain, sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hidup mereka juga jauh lebih baik daripada dulu. Kemudian, hubungan Sandra dan Farel semakin baik. Mereka hidup layaknya keluarga normal pada umumnya. Mereka juga sudah memiliki seorang putra yang berusia tiga tahun. Putra mereka sangat mirip dengan Farel dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Sandra sempat membenci Farel selama seminggu setelah dia melahirkan. Dia merasa tidak adil. Dia yang sudah capek-capek mengandung dan melahirkan anak mereka, malah anak mereka copy paste dari sang suami. Sejalan dan beriring waktu Sandra malah sangat bersyukur a
"Dewi, mulai detik ini kamu aku ceraikan. Kamu tunggu saja surat cerai kita dari pengadilan," ujar Farel. "Farel, Farel aku mohon, maafkan aku. Aku masih mencintai kamu. Aku selama ini dihasut oleh Deni," kata Dewi mengkambing hitam putihkan Deni. "Mulai sekarang kamu jangan dekat-dekat dengan aku lagi. Kamu pergi dari sini sebelum kesabaran aku habis," ujar Farel marah. "Dasar perempuan tidak tahu malu." "Sudah ketahuan masih saya berbohong." "Mana menyalahkan orang lain lagi." Dewi yang terlanjur malu pergi dari sana. Dia tidak sanggup lagi berada di sana. "Pak, jangan biarkan Deni dan Dewi keluar dari sini. Cegat mereka berdua," suruh nek Ningsih pada sekretaris Has. "Baik Nyonya. Saya akan menyuruh para petugas untuk menahan mereka sambil menunggu polisi datang ke sini," sahut sekretaris Has. "Polisi? Ada apa ini?" tanya Farel tidak tahu apapun. "Farel, kamu lihat video tadi kan. Mereka berdua ingin mencelakai kita semua," ujar Sandra. "Tapi video itu belum cukup seba
"Baiklah, saya akan memanggil cucu saya. Untuk cucu saya, silahkan naik ke atas panggung, Farel," suruh nek Ningsih. Nek Ningsih memanggil Farel naik ke atas panggung. "Oh iya, sekalian sama istri kedua Farel," sambung nek Ningsih. Para karyawan melihat ke arah yang ditunjuk oleh nek Ningsih. Mereka tidak menyangka jika Farel yang mereka kenal sebagai orang biasa adalah cucu dari pemilik perusahaan. Di antara mereka ada orang-orang yang pernah membully Farel, mereka jadi panik. Mereka tidak menyangka jika Farel adalah orang penting. Mereka takut dipecat. Farel dan Dewi naik ke atas panggung. Dewi dengan sengaja mengandung Farel mesra. Tapi tingkah Dewi membuat istri pejabat dan lain yang ada di sana jadi berbisik tentangnya. Mereka yakin jika yang dimaksud nek Ningsih tadi adalah dia. Dewi berada di atas panggung. Dia bermuka tebal dan menulikan telinga dari bisikan nyonya-nyonya tadi. Dia tidak peduli, yang penting sekarang dia adalah istri dari yang memegang kuasa. Urusan
"Farel, kenapa Sandra yang menjadi bos baru. Seharusnya kan kamu," protes Dewi. "Apa kamu lupa, kalau nek Ningsih telah membuat surat penyerahan semuanya kepada Sandra. Jadi semuanya milik Sandra sekarang," terang Farel. "Jadi itu serius? Bukan bohongan?" tanya Dewi masih tidak percaya. "Nenek aku tidak pernah bermain-main dalam mengambil keputusan. Kenapa kamu jadi kaget seperti ini," ujar Farel yang bersikap biasa saja. Farel percaya dengan keputusan neneknya. Neneknya tidak pernah salah dalam mengambil keputusan. Para tamu undangan tidak kalah kaget. Mereka berbisik-bisik, bertanya-tanya kenapa nek Ningsih menyerahkan pemilik perusahaan kepada cucu menantunya, bukan cucu kandungnya. Setahu mereka, cucu kandung nek Ningsih kuliah di luar negeri dan sedang mengurus perusahaan yang ada di luar negeri. Mereka menduga-duga kalau Sandra menjadi pemimpin perusahaan lantaran cucu dari nek Ningsih masih di luar negeri. Hanya itu alasan yang masuk akal daripada alasan yang lain. Tika,
"Sandra, sini dong," panggil mereka lagi.Sandra mendekat ke arah mereka berempat. Dia meletakan tas belanjaan di dekat kakinya. "Ayo duduk sini," suruh Tika.Sekarang posisi duduk Sandra berhadapan dengan Dewi. Sedangkan Tika berhadapan dengan Evi dan Anita. Dewi menatap Sandra dengan harap-hara
"Kamu udah berani sama aku, heh.""Kenapa aku takut sama kamu. Sekarang aku istri pertama dan kamu istri kedua," sahut Sandra menantang Dewi. "Kamu jadi istri pertama saja bangga. Kamu harus ingat, perempuan yang dicintai Farel itu adalah aku bukan kamu. Farel nikah sama kamu gara-gara dia ingin m
Sandra sebelum ke ruang makan pergi ke dapur dulu. Dia akan mengambil makanan yang telah dia siapkan untuk Farel. Tangannya meletakkan sarapan pagi berupa nasi goreng dengan telaten. Setelah semua selesai ditata rapi di atas meja, Sandra duduk di sebelah kanan Farel. Sedangkan di sebelah kiri duduk
Sekretaris Has dengan cepat berlari dan menarik nek Ningsih beserta Sandra. Terlambat sedikit saja Sandra dan nek Ningsih sudah ditabrak dengan keras. Mobil itu gagal menabrak Sandra dan nek Ningsih. Kemudian mobil itu langsung lari dari sana. Meninggalkan jejak. "Kalian tidak apa-apa?" tanya se












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.