Masuk"Gyana aku….” Lidah Sean menjadi kelu.Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering. Sean merogoh ponselnya. Nama Tania terpampang di layar dan tanpa melihat reaksi Gyana, Sean segera menjawab panggilan itu. Sementara Sean sedang sibuk menjawab panggilan Tania, Gyana memalingkan wajahnya ke arah lain. Telinganya sengaja pura-pura ia tulikan. Perjalanan menjadi lebih tenang. Gyana menyandarkan punggungnya sejenak di kursi. Matanya hampir saja terpejam, hingga perintah Sean tiba-tiba membuatnya urung memejamkan mata. “Putar balik, Mike. Segera ke rumah sakit Mutiara.” Mike mengangguk cepat. Pria muda itu segera memutar mobil di bundaran depan mereka. Gyana menegakkan kembali tubuhnya. “Rumah sakit? Siapa yang sakit?” Wajah panik Sean terlihat jelas. “Tania masuk rumah sakit.”Ekspresi Gyana berubah datar. Kembali ia menyandarkan punggungnya seperti semula. “Panik banget. Secinta itu kamu sama dia?” Gyana sebenarnya tidak bermaksud menyindir apalagi cemburu. Sean menghela napasnya l
Gyana hanya bergurau, Nenek.” Sean tersenyum kaku. Kemudian merangkul bahu Gyana dengan mesra. “Kami akan memulai program hamil itu.”Rangkulan Sean membuat Gyana risih. Namun, ia tidak menepis tangan Sean. Otak Gyana masih waras untuk menjaga sikapnya di hadapan Nyonya Saras. “Syukurlah. Kalau begitu Nenek pergi dulu.” Nyonya Saras tersenyum lega. Gurat kecantikan di wajah tuanya masih terlihat. Apalagi saat tersenyum. Gyana dan Sean mengangguk lalu membantu Nyonya Saras untuk masuk ke mobil. Setelah masuk, kaca mobil sempat diturunkan. Sebelum benar-benar pergi, Nyonya Saras melambaikan tangan pada sepasang suami istri tersebut dan langsung dibalas kedua orang tersebut. Mobil rolls-royce tersebut sudah melesat jauh dari pandangan Gyana dan Sean. Tanpa sedikit pun ragu, Gyana segera melepaskan tangan Sean dari lengannya. “Aku pulang.” Sean menahan pergelangan tangan Gyana. “Biar aku antar. Kenapa harus pulang sendiri? Kamu kira aku seburuk itu?” Gyana menatap manik gelap Sean.
"Nenek mengajak kita makan siang bersama sekarang.” Gerakan tangan Gyana untuk menyampirkan tas selempangnya melambat. Kabar mendadak yang diberikan Sean membuatnya menatap sang suami penuh curiga. “Kamu bisa menghubungi nenek jika tidak percaya.” Sean berujar santai. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, pandangannya pun mengarah ke jendela kaca yang langsung menuju bangunan kota. Sengaja Menghindari sorotan hazel milik Gyana. Gyana menghela napas gusar. Meski sebenarnya ragu, akhirnya ia pun mengangguk pasrah. Sean melirik Gyana. Senyum samarnya pun terbit. “Mengapa kamu langsung mau jika yang meminta itu nenek? Bukannya tadi kamu punya janji?” “Nggak ada alasan khusus. Karena nenek selalu baik padaku, masa iya aku tolak.” Keheningan perlahan menghampiri. Gyana duduk di sofa tetap fokus dengan ponselnya. Jemarinya mengetik balasan dengan santai. Sementara Sean merasa ada yang janggal. Tentang sikap cuek Gyana dan perkataan terakhir tentang neneknya. Bukankah itu seperti menyin
Sean tidak berkomentar apapun. Mata gelapnya masih tertuju pada sosok pria yang turun dari mobil Gyana. Jantungnya berdebar lebih cepat. Tiba-tiba rasa takut mendominasi dirinya. Nathanael Airlangga. Pria itu bukanlah orang lain bagi Sean. Mereka berdua memiliki nama belakang yang sama. Keduanya adalah keturunan Airlangga yang sama. Meski sudah lama tidak bertemu, Sean tidak akan pernah lupa dengan wajah Nael—sepupunya sendiri. Tetapi apakah Gyana benar-benar mengenal Nael? Sean merutuki ketidakpeduliannya kepada kesibukan Gyana di luar rumah. Ia sendiri tidak tahu, apakah Gyana mempunyai teman dekat atau tidak. Selain itu, Sean tidak tahu apa yang dilakukan Nael di King Island Resort. Bukankah seharusnya Nael menemui keluarganya atau Sean langsung jika memang ada keperluan? “Jadi turun, Tuan?” tanya Mike hati-hati. Sean tersentak. Kemudian mengangguk tanpa suara. Mike langsung mengerti. Gerakannya cepat seperti biasa. Tanpa diminta dia kali, Mike segera keluar dan berlari mem
“Terima aja.” Nael meletakkan buket tersebut di sebelah pot kaktus Gyana. “Oh iya, pulangnya aku sama kamu, ya. Tadinya ke sini buat nemenin teman yang mau beli bunga buat pacarnya. Karena aku lihat kamu di sini, jadinya aku samperin deh. Eh dia langsung pulang.” Rentetan kalimat panjang itu tidak lagi terdengar menyebalkan di telinga Gyana. Bukannya kesal, ia justru tersenyum kecil. Pertama kali sejak mereka berkenalan, kata-kata Nael terdengar menggelitik. “Kamu pasti nggak punya pacar, ya?” tebak Gyana asal. Nael membulatkan netranya yang kecil. “Kok tahu?” Gyana menunjuk buket lily di meja dengan matanya. “Bunganya malah dikasih ke aku. Kalau punya pacar seharusnya kamu kasih ke dia.” “Ya sudah. Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi pacarku?” Nael kembali duduk di bangku depan Gyana. Kali ini dengan santai menopang dagu sembari menatap Gyana tanpa kedip. Wajah tampan itu membuat Gyana mendengus. Alih-alih mer
“Kamu salah paham, Gya. Kita sudah membahas ini sebelumnya.” Kekehan kecil Gyana terdengar. “Iya. Aku kira memang alasannya sesuai dengan yang pernah kita bahas. Tapi ternyata aku memang sebodoh itu, mau percaya dengan alasan konyolmu.” Sean berdiri. Sorot mata Gyana semakin tidak bersahabat. Kekhawatiran Sean adalah Gyana mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya ia tahu. “Kamu mulai melantur. Aku tidak me—” “Ya. Terserah kamu mau bicara apa. Aku juga tidak peduli lagi.” Gyana lekas bergerak meninggalkan meja makan. Gyana malas membahas kekurangan rumah tangganya. Begitu ia tahu Sean tidak mau menyentuhnya karena perasaan pria itu pada Tania, Gyana sempat merasa rendah diri. Gyana merasa dirinya punya banyak kekurangan sehingga Sean lebih memilih Tania. Rasa tidak pantas dan jijik juga sempat hinggap di hatinya. Sean tidak tahu seberapa besar efek dari perilaku Sean terhadap







