MasukWanita itu menggeliat di bawah tubuh suamiku. Ya, SUAMIKU. Pemandangan menjijikan itu sedang aku lihat dari balik layar ponselku. Marah..? pasti, karena pria yang sudah hidup bersamaku selama tiga tahun ini tengah bermadu kasih dengan wanita lain. Sedih…? Oh tidak. Aku sama sekali tidak merasa sedih melihat kebusukan mereka yang aku saksikan saat ini. Justru aku akan mengikuti permainan mereka, dan rekaman ini akan menjadi senjata untuk menjatuhkan mereka.
Lihat lebih banyakSuara Faris terdengar dingin di balik telepon.Beberapa detik ia hanya mendengarkan jawaban dari seberang.“Aku sudah menjelaskannya pada Kak Rian. Sepertinya dia akan merah padaku saat pulang nanti.”Faris menghela napas. “Aku tidak peduli akan hal itu, Maya. Yang penting, kamu jangan pernah mengatakan kepada siapa pun tentang kesepakatan kita, selain pada kakakmu agar ia tidak salah paham. Aku juga tidak mau semua itu mengganggu kehidupan pribadiku. Kau mengerti?”“Aku mengerti? Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu jika ternyata kamu mengenal kakakku.”“Ya sudah, aku harap kamu tidak mengulangi kesalahan itu lagi.”Panggilan pun terputus. Faris pulang ke rumah dan beristirahat. Sebelum masuk ke kamar, ia membuka pintu kamar sebelahnya. Ia tersenyum sebelum akhirnya kembali menutup pintu itu secara perlahan.Keesokan paginya, Caroline datang lebih awal ke kantor. Ia sengaja datang sebelum Faris menjemputnya. Entah mengapa, setelah kejadian semalam, ia merasa perlu menghindari pria
Senyum Rian benar-benar hilang, terlebih ia melihat kekasih adiknya justru bersama teman lamanya. Ia menatap Faris penuh selidik.“Maaf, saya rasa anda sudah salah paham. Bahkan saya tidak mengenal anda, ataupun adik anda,” ucap Faris. Ia masih berdiri tenang menatap Rian.“Kamu tidak mengenal adikku?” Rian menggeleng pelan sambil menghela nafas. “Maya akan tersakiti jika dia mendengarnya, Faris.”“Maya?” tanya Caroline memastikan.“Ya, Maya, adikku.”“Tunggu, Maya adik anda?” Faris ikut bertanya.“Tentu saja, dan kemarin kamu menjemputnya untuk pergi ke suatu tempat,” sahut Rian.“Tapi Maya bukan pacar saya,” bantah Faris.Rian melipat kedua tangannya. tatapannya berubah penuh kekesalan pada Faris. “Jangan bilang sekarang kamu mau pura-pura tidak punya pacar hanya karena datang ke reuni bersama Caroline.”“Saya tidak pura-pura. Saya memang tidak—”“Faris,” potong Caroline. Ia tahu jika ia tetap merahasiakan siapa Faris sebenarnya, masalahnya pasti akan runyam. “Kemarin kamu bilang pa
Caroline menatap hotel itu cukup lama. Tangannya masih menggenggam kemudi, sementara pikirannya terus berusaha mencari alasan yang masuk akal.Mungkin wanita itu memang keluarganya. Mungkin mereka hanya datang untuk membicarakan sesuatu. Atau mungkin ada urusan penting yang tidak bisa dilakukan di tempat lain.Namun satu hal yang tidak bisa Caroline jelaskan adalah, alasan mengapa hatinya justru terasa begitu tidak nyaman.“Kenapa aku harus peduli?” Ia menghembuskan napas kasar. “Dia bukan kekasihku apalagi suamiku. Lalu kenapa aku harus penasaran dengan apa yang akan ia lakukan dengan wanita itu?”Kalimat itu justru membuat Caroline terdiam. ‘Benar. Faris hanyalah seorang ajudan yang selama ini bekerja untuk keluargaku. Seseorang yang bertugas menjagaku, memastikan kebutuhanku terpenuhi, melindungiku, dan membantuku dalam pekerjaan. Tidak lebih.’Caroline kembali menatap ke arah hotel. ‘Jadi kenapa aku merasa seperti perempuan bodoh yang sedang memata-matai pacarnya sendiri?’Carolin
“Kamu tidak akan bertanya tentang Faris, jika tidak ada tujuannya. Iya kan?” ucap Ayu kembali.“Ma, aku hanya tanya saja. Sedikit penasaran.”“Benarkah?” Ayu ragu dengan jawaban Caroline.“Ma… Faris ajudanku, dan aku rasa tidak ada salahnya juga aku bertanya tentangnya, kan?”“Ok ok ok.” Ayu hanya terkekeh pelan, lalu mereka melanjutkan makan malam tanpa membahas Faris lagi.Sejak pembicaraannya dengan kedua orang tuanya semalam, Caroline tak lagi ingin tahu tentang adik yang dimaksud Faris. Sebagai pemilik perusahaan furnitur keluarga, ia tak ingin memikirkan hal yang baginya bukalah hal penting. Apalagi sekarang ia mulai lebih sering turun langsung ke lapangan. Ia ingin mengetahui sendiri bagaimana perkembangan proyek-proyek yang selama ini hanya ia lihat melalui laporan.Pagi itu, Caroline bersama Faris pergi meninjau salah satu proyek produksi furnitur yang sedang dikerjakan untuk sebuah hotel baru.Begitu turun dari mobil, suara mesin pemotong kayu dan aktivitas para pekerja lang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.