LOGINWanita itu menggeliat di bawah tubuh suamiku. Ya, SUAMIKU. Pemandangan menjijikan itu sedang aku lihat dari balik layar ponselku. Marah..? pasti, karena pria yang sudah hidup bersamaku selama tiga tahun ini tengah bermadu kasih dengan wanita lain. Sedih…? Oh tidak. Aku sama sekali tidak merasa sedih melihat kebusukan mereka yang aku saksikan saat ini. Justru aku akan mengikuti permainan mereka, dan rekaman ini akan menjadi senjata untuk menjatuhkan mereka.
View MoreTiga tahun pernikahan, ternyata hubunganku dengan David diuji oleh orang ketiga. Aku tidak langsung marah saat mendengar tentang perselingkuhannya, karena aku tidak mau membuang tenaga secara sia-sia hanya untuk seorang pengkhianat.
Selama dua bulan ini, Faris membantuku menyelidiki siapa wanita yang kini menjadi simpanan suamiku itu. Dan saat Faris mendapatkan informasi yang aku inginkan… ia itu tak langsung memberitahu. Aku sempat marah, tapi pria kepercayaan ayahku itu memberikan alasan yang bisa aku terima. Faris ingin aku mengontrol emosiku. Dia tak ingin aku langsung membabi buta, lalu melakukan hal yang mungkin justru merugikanku. Dia ingin aku menghadapi masalah ini dengan tenang agar tak salah mengambil langkah. >>>> “Apa kamu ingin melindungi wanita itu, Faris? Atau kamu juga tertarik dengannya?” tanyaku saat itu, tapi Faris tak menjawab pertanyaanku dan justru diam menatapku dengan tenang “Cepat beri tahu aku siapa wanita itu, agar aku bisa segera memberi mereka pelajaran atas hal menjijikan ini,” ucapku lagi. “Nona, saya tahu anda sedang marah, tapi keputusan yang diselimuti amarah hanya akan menambah masalah. Dan jika tuan Abraham tahu tentang ini… Beliau akan sangat kecewa.” “Lalu apa kamu ingin aku membiarkan mereka terus berhubungan di belakangku?! Kamu ingin wanita itu merebut David dariku?! Apa kamu ingin aku membiarkan itu terjadi, hah?!” Aku bahkan berbicara dengan nada tinggi pada Faris, karena sangkin kesalnya aku padanya yang berusaha menutupi siapa wanita itu. Bahkan aku sempat mengira jika ia bersekongkol dengan mereka. “Bukan begitu, Nona. Saya hanya ingin anda menyelesaikan masalah ini tanpa emosi.” Aku tertawa pelan. Tawa getir karena jawaban Faris. “Apa kamu ada di pihak mereka?” tanyaku. “Nona, saya tidak akan berkhianat pada Tuan Abraham untuk selalu melindungi Anda. Tapi jika saya memberitahu pada anda sekarang, apa anda yakin tidak akan melakukan kesalahan yang mungkin membuat tuan Abraham turun tangan?” Aku diam sejenak, dan Faris kembali bicara. “Nona, ini semua demi kebaikan anda.” “Cih! Alasan saja. Kalau kamu benar-benar setia sama Papa, sekarang beritahu aku, siapa wanita itu? Aku janji tidak akan loss control” “Apa yang akan Anda lakukan jika sudah mengetahuinya?” Aku kembali diam sebelum menjawab. Aku sangat paham Faris, dia tidak akan memberitahuku jika aku tidak menjawab pertanyaannya, sesuai dengan keinginannya. “Aku akan memberi pelajaran padanya hingga ia menyesal seumur hidup, dengan caraku.” Faris pergi dari ruanganku setelah mendapat jawaban. Dan itu benar-benar membuat aku sangat kesal. Aku bahkan hampir melempar vas bunga di mejaku, sebelum punggungnya menghilang dari balik pintu. Namun aku tak bisa berbuat banyak. Karena jika aku terus memaksanya untuk memberitahuku, maka yang ada dia akan mengadu pada ayahku. Aku menunggu beberapa hari hingga hati dan pikiranku sedikit tenang, barulah Faris memberi tahuku tentang wanita itu. Aku tak sabar menunggu, tapi saat apa yang aku tunggu datang, aku justru merasa takut. Takut akan kenyataan yang mungkin akan lebih menyakitkan dari sebelumnya. “Berjanjilah anda tidak akan lepas kontrol setelah mengetahuinya,” ucap Faris saat memberikan sebuah amplop coklat padaku. Aku hanya melirik tajam, dan langsung mengambil amplop itu cepat dari tangan Faris. Kadang sikap Faris membuat aku muak dan ingin memecatnya. Andai saja Papa tidak memaksaku untuk membiarkan Faris ada di dekatku… Aku menghela nafas, lalu membuka amplop coklat itu. Dan… mataku terbelalak melihat isi di dalamnya. “Ini…,” aku menatap Faris dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Dia benar-benar mengkhianatiku? Dan wanita ini…” tanyaku. Suaraku mulai bergetar. Amarahku benar-benar membakar dada. Aku kembali menatap foto itu. Menatap foto suamiku dengan wanita yang ternyata cukup aku kenal. “Anda sudah berjanji untuk tenang, Nona.” Aku menatap Faris. Ya, aku sudah berjanji untuk mengontrol amarahku jika dia memberitahuku. Aku sudah berjanji untuk tetap tenang, dan aku tidak mungkin melanggarnya. Aku meremas kuat foto-foto itu, lalu melemparnya diatas meja hingga ada beberapa yang terjatuh. Aku kembali duduk di kursi, menundukan wajah dan mulai menangis. Aku bisa mengontrol amarahku, tapi tidak dengan kekecewaan yang begitu melukai hatiku. Tiga tahun pernikahan. Aku berusaha menunjukan ketulusanku pada David. Aku berusaha melakukan yang terbaik untuk karirnya, tapi nyatanya…. Kenyataan ini terlalu menyakitkan. Benar-benar menyakitkan. “Nona Caroline,” suara Faris terdengar memanggilku. Aku yang sedang menangis hanya diam tanpa merespon panggilan itu. Aku melirik ke arahnya. Ia mengambil beberapa lembar foto di lantai yang yang terjatuh, saat aku lempar di meja tadi. Ia menatapnya beberapa detik, lalu meletakkan di meja kerjaku. “Untuk apa Anda menangisinya?” tanyanya. Aku menoleh ke arahnya perlahan. “Kamu bertanya kenapa aku menangisinya? Apa aku tidak boleh menangis dengan apa yang sudah David dan wanita itu lakukan padaku?” Faris tak menjawab. Ia hanya menatapku setelah menghela nafas, lalu kembali merapikan foto-foto itu ke dalam amplop coklat. “Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa tiga tahun pernikahan ini tidak ada artinya sama sekali baginya? Kenapa ketulusan dan kesetiaanku justru ia khianati? Kenapa?” tanyaku pelan dengan air mata yang kembali menetes. Faris menatapku tanpa kata-kata, lalu perlahan mendekat. ia berlutut hanya agar bisa menatapku dengan posisi yang nyaman. “Anda wanita kuat, Nona. Anda tidak akan lemah hanya karena pengkhianatannya, kan? Tunjukan jika anda adalah orang berkelas, yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini dengan cara elegan. Tunjukan jika Anda bukanlah orang yang akan mempertahankan sebuah sampah.” Aku pun menatapnya. Meski dia hanya seorang ajudan, tapi dia selalu menenangkanku setiap kali aku ada masalah dengan suamiku. Dia selalu berusaha agar rumah tanggaku baik-baik saja. Dan tak jarang suamiku meminta saran padanya, cara membujukku saat aku marah. Tapi untuk masalah saat ini… Faris tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya memintaku untuk menjadi wanita kuat. “Kamu benar, aku bukan wanita lemah. Aku tidak akan terpuruk hanya karena sebuah pengkhianatan. Jika mereka ingin bermain api, maka aku akan membuat mereka terbakar oleh api yang mereka mainkan.”“Maaf Tuan, saya pikir hanya ada tuan David di ruangan.”“Jadi kalau hanya ada David, kamu bisa bebas seperti ini?” tanya Caroline yang langsung membuat Vanessa terdiam. Ia bingung menjawab.“Saya… saya minta maaf Bu Caroline.”Abraham menghela nafas kasar, lalu menatap ke arah map yang di bawa Vanessa. “Dokumen apa itu?” tanyanya.“Ini.. ini berkas yang harus di tandatangani pak David, Tuan.”“Bawa kemari,” ucap Abraham.Vanessa mengangguk, lalu perlahan masuk. Ia sedikit gugup saat melihat bos besar ada di hadapannya. ’Kenapa mereka semua ada di sini? Di mana David? Apa dia baik-baik saja?’ pikir Vanessa.Vanessa memberikan map itu pada Abraham. Saat Abraham membaca berkas yang ada di tangannya saat ini, Vanessa perlahan menatap ke arah Vanessa.“Bu Caroline, kenapa pak David tidak masuk hari ini?” tanyanya.“Oh, dia sakit. Dan sekarang di rawat di rumah sakit.”“Sakit?” ulang Vanessa. “Perasaan kemarin baik-baik saja, kenapa pak David tiba-tiba sakit? Memangnya sakit apa, Bu?”Caro
Begitu melihat kondisi David, wajah dokter itu langsung berubah serius."Sudah berapa kali BAB sejak tadi malam?" tanyanya sambil memasang alat pengukur tekanan darah.David mencoba mengingat. "Mungkin delapan, atau sembilan kali, Dok."Dokter Steven mengangguk pelan. Ia kembali memeriksa denyut nadi, tekanan darah, lalu kondisi mata David.Caroline masuk ke dalam kamar diikuti Faris.“Dok, bagaimana keadaan suami saya?” tanya Caroline."Beliau mengalami diare akut dengan kehilangan cairan yang cukup banyak." Dokter Steven menjelaskan dengan tenang. "Kalau seseorang terlalu sering buang air besar dalam waktu singkat, tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit seperti natrium dan kalium. Dan kalau dibiarkan, pasien bisa mengalami dehidrasi berat.”Caroline menggigit bibir bawahnya. Ia sama sekali tidak menyangka obat pencahar itu akan berefek sejauh ini. “Apa itu bahaya, Dok?”"Tentu. Saya sarankan Pak David dibawa ke rumah sakit sekarang juga. Beliau perlu mendapatkan cairan infus
David melangkah ke arah pintu dengan senyum di wajahnya. Ia merasa sangat bahagia dalam dua hari terakhir ini. Ya, selain ia memiliki kesempatan berdua dengan Vanessa secara bebas, kehamilan Vanessa juga menjadi sumber kebahagiaannya karena sudah sejak lama ia menginginkan seorang anak. Meski kabar itu sempat membuatnya frustasi karena Vanessa mendesak David untuk menikahinya.Dan besok ia sudah berencana untuk mengurus beberapa surat penting, sebelum Caroline kembali. Namun saat membuka pintu rumah, senyum seketika hilang.“Surprise!!”Keberadaan Caroline sunggung membuatnya terkejut.“Sa-sayang, kamu sudah pulang,” ucap David gugup.Caroline mengangguk, lalu melangkah mendekatinya. “Kenapa kamu terlihat tidak senang melihat aku pulang lebih awal? Apa kamu lebih suka aku pergi lebih lama?”“Tentu saja tidak. Aku… aku hanya terkejut,” jawab David. Namun gugup di wajahnya tak bisa ia sembunyikan.Caroline tersenyum, lalu melangkah ke arah sofa. “Aku pikir kamu akan senang melihat aku p
jantungku benar-benar berdetak cepat. Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya, agar aku bisa segera tahu seperti apa bukti itu sebenarnya. Bukti yang membuat Faris takut aku melihatnya.Aku segera membuka galeri. Namun belum sempat aku membuka menemukan, Faris kembali mengambil ponselnya dengan cepat. Aku pun langsung menatap ke arahnya.“Kenapa lagi?” tanyaku.“Nona, saya mohon. Ini hanya akan semakin menyakiti perasaan anda.”Aku memutar kedua bola mataku. Lama-lama Faris membuat aku kesal juga ternyata. “Aku tidak suka kamu yang terlalu bertele-tele seperti ini. Siapa kamu hingga sok tahu banget tentang perasaanku?”“Saya hanya pelayan yang sudah bersumpah untuk menjaga anda.”Jawabannya membuat aku hanya bisa menghela nafas. Heran, kenapa ada manusia sepertinya. Dia sangat setia pada ayahku, dan kesetiaannya benar-benar totalitas hingga terlalu over protektif padaku.Aku langsung berdiri. Menatap ke arahnya dengan senyuman tipis, sambil melipat kedua tanganku di dada.“Kamu tahu, F






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.