แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Cendu
Marvin tersedak.

Aku berjongkok, menyejajarkan tatapanku dengan matanya.

"Marvin, berhentilah berbohong. Itu sangat memuakkan."

"Aku beri kamu waktu tiga hari. Tandatangani ini, atau aku akan mengirimkan foto-foto ini kepada investor-investormu, ke seluruh karyawan di perusahaanmu dan mengirimkan satu salinan lagi untuk ibumu."

"Biarkan semua orang melihat bagaimana seorang penganut menikah tanpa punya anak yang begitu teguh sepertimu, ternyata diam-diam menjadi seorang 'ayah yang baik'."

Tubuh Marvin gemetar hebat, wajahnya juga pucat pasi.

Marvin tidak menandatanganinya.

Sebaliknya, dia mulai memainkan sandiwaranya.

Setiap hari, Marvin pulang tepat waktu, memasakkan makanan untukku, mencuci kakiku dan memijatku.

Dia mengumpulkan semua kartu ATM dan kunci mobilnya, lalu meletakkannya di hadapanku, sambil berkata bahwa segala sesuatu di rumah ini akulah yang memegang kendali.

Di depan mataku, Marvin menelepon Winda, menggunakan kata-kata yang paling kejam untuk menyuruhnya pergi dan memintanya agar tidak lagi mengganggu.

Di ujung telepon, tangisan Winda terdengar begitu memilukan, tetapi Marvin tetap tidak bergeming.

Setelah menutup telepon, Marvin segera menunjukkan kesetiaannya kepadaku. "Sayang, lihatlah. Aku benar-benar sudah putus dengannya. Kita nggak usah cerai, ya?"

Jika bukan karena pelacak mini yang kupasang di mobilnya menunjukkan bahwa setiap siang, Marvin pergi ke perumahan mewah lainnya dan tinggal di sana selama beberapa jam, aku mungkin hampir memercayainya.

Di sanalah rumah Winda dan Veran.

Marvin menenangkan dua pihak sekaligus, yang satu pohon uangnya dan yang satunya lagi adalah belahan jiwanya. Benar-benar perhitungan yang licik.

Ibu mertuaku juga ikut campur.

Dalam sehari, dia menelepon tiga kali. Awalnya, dia memaki-makiku karena dianggap tidak tahu diuntung. Katanya, punya suami yang mau bertobat saja sudah untung, mau apa lagi?

Begitu sadar cara keras tidak mempan, ibu mertuaku mulai memainkan perasaan. Dia mengenang masa lalu dan mengatakan bahwa sejak dahulu, dia sudah menganggapku sebagai putri kandungnya sendiri.

Aku tidak memedulikan semuanya.

Di hari terakhir dari batas waktu tiga hari itu, Marvin melakukan pertaruhan terakhirnya.

Marvin merencanakan sebuah perjamuan makan malam yang megah bagi para investor, yang bertempat di rumah kami sendiri.

Dia mengundang hampir seluruh tokoh terkemuka di kota ini, dengan tujuan untuk mementaskan sandiwara suami-istri yang harmonis di hadapan semua orang dan mengikatku sepenuhnya.

Dengan mata yang memerah, Marvin memohon kepadaku, "Sayang, kali ini saja. Tolong bantu aku sekali ini saja. Setelah malam ini, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau. Pendanaan ini sangat penting bagiku, juga sangat penting bagi keluarga kita."

Aku menatap Marvin, lalu tiba-tiba tersenyum.

"Oke."

Marvin sangat gembira.

Aku menatap diriku di cermin dengan riasan yang begitu sempurna dan mengenakan gaun panjang berwarna merah menyala.

'Marvin, karena kamu sudah menyiapkan panggung untuk sandiwara ini, maka aku akan memberimu sebuah pertunjukan penutup yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup.'

Di malam perjamuan itu, banyak sekali tamu yang hadir.

Mencitrakan diri sebagai suami sempurna, Marvin yang mengenakan setelan jas yang dibuat khusus itu, terlihat penuh percaya diri. Dia menggandeng tanganku dan berkeliling di antara para tamu.

"Ini istriku, Belinda Aryandra, seorang kritikus kuliner. Tanpa dirinya, aku nggak akan bisa jadi seperti sekarang ini."

Marvin menggambarkan diriku, seakan aku ini tidak tergantikan.

Di tengah tatapan iri dan kagum dari orang-orang, aku tetap menyunggingkan senyum yang sopan.

Setelah meminum beberapa gelas, Marvin naik ke podium yang didirikan sementara dan memulai pidatonya yang penuh semangat.

Marvin berbicara tentang pahit getirnya membangun bisnis, tentang visi masa depannya, serta tentang tanggung jawab dan integritas seorang pria.

"Di balik pria yang sukses, pasti ada keluarga yang hebat. Aku sangat beruntung karena memiliki istri terbaik di dunia. Kami sudah berjanji untuk terus bergandengan tangan, menjalani hidup tanpa anak selamanya dan menciptakan masa depan yang luar biasa hanya bagi kami berdua."

Tepuk tangan bergemuruh di bawah panggung.

Aku memegang gelas anggurku sambil menatapnya dan senyumku makin lebar.

Pidato berakhir, lampu-lampu mulai meredup. Sekarang, saatnya hidangan utama disajikan.

Seorang pembuat kue yang sudah kupesan sebelumnya masuk sambil mendorong sebuah kue besar.

Semua orang mengira itu hanyalah bagian dari hiburan untuk merayakan perjamuan malam tersebut.

Hanya Marvin yang wajahnya langsung berubah saat melihat dengan jelas figur manusia di atas kue itu.

Figur di atas kue itu bukanlah sepasang pengantin, melainkan sebuah keluarga kecil beranggotakan tiga orang.

Seorang pria, seorang wanita dan seorang anak laki-laki.

Wajah anak laki-laki itu dibuat persis menyerupai Veran.

Sebelum orang-orang bisa bereaksi, terdengar suara keributan di depan pintu.

Setelah melihat dengan jelas siapa yang datang, aku pun tersenyum. Aku benar-benar ingin melihat apa yang akan dilakukan Marvin sekarang!
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 10

    Aku tidak menjalin hubungan dengan putra Bu Sarah.Kami justru menjadi mitra bisnis terbaik.Namanya Teddy, seorang pemuda yang memiliki insting bisnis yang tajam dan visi internasional.Saat pertama kali bertemu, Teddy langsung memberikan lebih dari belasan saran untuk mengoptimalkan model operasional restoranku.Dia berkata, "Kak Belinda, masakanmu itu sebuah karya seni. Tapi, bisnis butuh standar dan prosedur. Kita bisa kerja sama untuk menduplikasi seni ini ke seluruh dunia."Kata-katanya menyulut kembali api di dalam hatiku yang sudah lama padam.Namun, di awal masa kerja sama, kami bertengkar hampir setiap hari.Teddy membawa stopwatch untuk menghitung waktu penyajian makanan di dapurku dan menuntut agar ketebalan setiap irisan daging harus akurat hingga hitungan milimeter.Aku membuang draf rencana standarisasi miliknya ke tempat sampah dan bersikeras bahwa setiap hidangan harus memiliki inspirasi serta emosi juru masak saat itu juga."Kak Belinda, itu namanya seni, bukan bisnis

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 9

    Setelah kejadian itu, Marvin tidak pernah lagi datang mencariku.Aku mendengar dari Bu Sarah, Marvin membawa ibunya yang terkena stroke dan pergi meninggalkan kota ini.Ke mana dia pergi, tidak ada seorang pun yang tahu.Marvin bagaikan sebutir debu yang lenyap di tengah lautan manusia yang luas.Hidupku pun kembali tenang sepenuhnya.Bisnis restoran privatku makin hari, makin ramai. Banyak orang datang karena mendengar reputasinya. Bukan hanya untuk mencicipi hidangan lezat, tetapi juga demi mendengarkan kisahku, "pemilik restoran yang legendaris" ini.Aku tidak pernah menutupi masa laluku.Pengalaman itu, meski menyakitkan, sudah membuatku tumbuh. Aku menyadari bahwa rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa diberikan oleh diri kita sendiri.Setahun kemudian, saat aku sedang mengembangkan menu baru di restoran, aku menerima telepon dari nomor asing."Apa benar ini dengan Bu Belinda? Di sini ada orang bernama Marvin. Dia mengalami kecelakaan. Nomor Anda tercatat sebagai kontak daruratnya

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 8

    Setelah Bu Sarah pergi, aku duduk sendirian di halaman yang kosong, menyaksikan matahari terbenam.Ponselku berdering, sebuah nomor asing muncul di layar. Akan tetapi, aku tahu, orang di balik nomor ini adalah dia.Aku mengangkatnya. Dari ujung telepon, terdengar suara yang akrab sekaligus asing."Belinda …."Itu Marvin.Suara Marvin terdengar serak dan lelah, menyiratkan keputusasaan dari seseorang yang sudah dipatahkan oleh kerasnya hidup."Aku … bisakah kita ketemu?"Aku terdiam sejenak."Bisa. Besok siang, datanglah ke restoran milikku."Keesokan harinya, Marvin muncul tepat waktu di depan pintu restoran privat milikku.Marvin tampak lebih kurus dan hitam. Dia mengenakan kaus yang sudah pudar warnanya. Rambutnya berantakan dan binar di matanya sudah lama menghilang.Marvin berdiri dengan canggung di depan pintu, tidak berani melangkah masuk.Aku membuka pintu. "Masuklah."Marvin berjalan ke halaman. Dia menatap penataan tempat ini yang elegan dengan tatapan yang menyiratkan perasaa

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 7

    Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang Winda.Wanita ini jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.Dia sama sekali bukan wanita yang lembut dan polos, melainkan seorang pemain ulung dalam urusan asmara.Sebelum bersama Marvin, Winda sudah punya hubungan dengan beberapa pria.Lalu, ayah kandung Varen adalah seorang pengusaha kaya yang pernah bersama Winda sebelumnya.Dahulu, Winda membawa anaknya mendekati Marvin hanya karena mengincar uang dan potensinya. Winda hanya ingin mencari sumber nafkah jangka panjang.Marvin, pria yang sok pintar itu, merasa dirinya sudah mengendalikan segalanya. Padahal, dia tidak sadar bahwa dari awal sampai akhir, dia hanya membesarkan anak orang lain.Aku pun mengirimkan laporan hasil investigasi ini secara anonim kepada Marvin, yang saat ini sedang pusing tujuh keliling karena dikejar utang.Aku ingin Marvin tahu bahwa demi apa yang dia sebut sebagai "keluarga" itu, dia tega mengkhianatiku dan mencampakkan segalanya. Padahal, "keluarga" i

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 6

    Marvin akhirnya hilang kendali.Dia berlari turun dari panggung dan berusaha menangkapku."Belinda! Beraninya kamu!"Pengawal Pak Teja mengadangnya.Pak Teja pun menatap Marvin dengan dingin. "Pak Marvin, kurasa kerja sama kita nggak perlu dilanjutkan lagi."Setelah berkata seperti itu, Pak Teja berbalik dan mengangguk padaku. Lalu, dia pergi bersama orang-orangnya tanpa menoleh sedikit pun.Begitu tokoh kunci itu pergi, para investor lainnya juga ikut mencari-cari alasan untuk meninggalkan lokasi.Perjamuan yang seharusnya membawa Marvin ke puncak kejayaan, kini berubah menjadi lelucon belaka.Marvin terduduk di lantai, wajahnya pucat pasi.Melihat ruang perjamuan yang kini kosong melompong, ibu mertua pun hanya bisa melongo tidak percaya.Dia tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti ini.Winda juga ikut panik. Dia menarik lengan baju ibu mertua. "Tante, ini …."Ibu mertua menepisnya dengan kesal. "Jangan panggil aku! Ini semua karena kamu, dasar pembawa sial!"Drama orang jahat b

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 5

    Ibu mertua masuk sambil memapah Winda, yang perut buncitnya sudah terlihat jelas.Winda menangis tersedu-sedu, air matanya berlinang dan tampak menyedihkan.Sementara itu, wajah ibu mertua tampak penuh amarah. Namun, ada binar rasa puas yang tersirat di matanya.Ibu mertua berdeham. Lalu, dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh semua orang di ruangan itu, dia berteriak ke arah Marvin yang berada di atas panggung, "Marvin! Istrimu itu mandul. Jadi, cari saja wanita lain untuk melahirkan anak bagimu!""Sekarang, dia hamil lagi. Katakan, apa yang harus dilakukan?"Suasana langsung menjadi sunyi senyap.Pandangan semua orang langsung tertuju pada Marvin yang mematung di atas panggung.Wajah Marvin pucat pasi, tidak ada sedikit pun rona darah yang tersisa.Aku berdiri di tengah kerumunan, menggoyangkan-goyangkan gelas anggur merah di tanganku, sambil menikmati pemandangan dirinya yang seolah akan segera ambruk itu.Ibu mertua adalah bagian terpenting dalam rencanaku.Setelah menge

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status