แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Nina
Rasa sakit yang halus dan menusuk baru terasa kemudian.

Seharusnya aku tidak sesedih ini. Anggap saja dikhianati oleh seorang teman, bukan masalah besar.

Namun, garis pembatas bernama "teman" itu adalah Samanta yang pertama kali melanggarnya.

Pada hari saat aku memutuskan untuk pindah sekolah bersamanya, dia membawaku ke sebuah bar untuk merayakan "kebebasan".

Di bawah pendar cahaya yang ambigu, aku memandangi orang yang kucintai selama bertahun-tahun itu dengan perasaan linglung.

Karena itulah, saat dia mendekat dan menciumku, aku tidak menolak.

Perasaan yang kupendam bertahun-tahun tumbuh liar seketika.

Dalam emosi yang tak terkendali, aku tak tahan untuk bertanya demi memastikan, "Samanta, apa hubungan kita sekarang?"

Samanta mengecup keningku lagi dengan penuh kasih. "Bodoh, memangnya hubungan apa lagi?"

Sorak-sorai pecah di dalam ruangan, suasananya begitu hangat, semeriah gejolak cintaku.

Siapa sangka hanya berselang dua hari, aku mendengar Samanta sendiri menghancurkan angan-anganku.

Aku tersenyum, tetapi air mataku jatuh tak terkendali.

Jadi, jawaban ambigu yang dia berikan waktu itu juga hanya tipu muslihat agar aku segera pergi demi Mario?

Lonceng angin di kamar berdenting tertiup angin, perlahan mengeringkan air mataku.

Hatiku yang hancur pun perlahan menyatu kembali.

Samanta salah besar.

Dia hanyalah putri haram dari Keluarga Ondri, sedangkan aku adalah pewaris tunggal Keluarga Tantio. Kami memang tidak seharusnya terus bersama.

Karena, kami tidak sepadan.

Formulir permohonan pindah di tanganku basah oleh air mata, tintanya meluber dan kotor.

Namun tidak apa-apa. Jika yang ini kotor, ganti saja dengan yang bersih.

Keluarga Tantio tidak pernah kekurangan pilihan cadangan.

Aku mencetak ulang formulir baru. Saat sampai pada kolom sekolah tujuan, aku menelepon ibuku.

"Ibu, waktu itu Ibu bilang ingin aku sekolah di luar negeri, SMA mana yang Ibu maksud?"

"Ya, aku akan pergi sendiri."

Lonceng angin di kamar mengeluarkan suara yang jernih dan merdu, seolah sedang merayakan keputusanku.

Aku memejamkan mata perlahan. Kali ini, wajah yang muncul bukan wajah Samanta.

Seorang wanita dengan fitur wajah yang agak mirip dengan Samanta, tetapi jauh lebih lembut dan menawan, tersenyum padaku.

Sama seperti ucapannya dua tahun lalu yang penuh keyakinan, "Deandre, cepat atau lambat kamu akan melepaskan Samanta dan memilihku."

Waktu itu aku menganggapnya lelucon.

Sekarang, aku membatin dalam hati.

'Samanta, aku benar-benar tidak menginginkanmu lagi.'

Setelah mengisi formulir baru, aku mengembuskan napas panjang. Hatiku sudah tenang.

Namun tiba-tiba, pintu kamarku diketuk.

Aku tertegun. Rumah ini selalu kutempati sendiri, dan orang yang tahu kata sandinya hanya ....

Aku membuka pintu. Benar saja, wajah Samanta terpampang di sana.

Nandanya lembut seperti biasa. "Deandre, kamu nggak datang untuk berpamitan dengan teman-teman. Aku jadi khawatir."

Aku berusaha bicara dengan nada sedatar mungkin, "Lambungku kurang enak, jadi aku nggak pergi."

Baru saja ingin mengusirnya, sudut mataku menangkap sosok yang tak terduga.

Mario berdiri dengan tubuh kurus, seolah menciut di samping Samanta. Saat mata kami bertemu, dia tampak gemetar ketakutan.

Samanta sangat memperhatikan setiap gerak-geriknya. Melihat hal itu, dia langsung merangkul Mario dengan protektif.

"Deandre, kamu bikin Mario takut."

Lagi-lagi begini. Mario selalu bersikap lemah seolah aku merundungnya, seolah aku adalah penjahat keji.

Padahal jelas-jelas aku tidak melakukan apa pun.

Raut wajahku mendingin. "Sudah kubilang, aku nggak suka orang lain datang ke rumahku."

Samanta sedikit mengernyit, tampak tidak senang. "Mario bukan orang asing. Lagi pula, dia ikut karena peduli padamu."

Belum sempat aku membantah, mata Mario tiba-tiba memerah.

"Deandre, maafkan aku. Aku tahu kamu selalu merasa jijik padaku, tapi aku mandi setiap hari, kok."

Dengan wajah penuh penderitaan, dia menambahkan, "Aku nggak akan mengotori rumahmu."

Mendengar kata-kata itu, Samanta langsung marah. Dia menatapku dengan sorot mata kecewa. "Deandre, Mario memang dari keluarga miskin, tapi dia nggak serendah yang kamu bayangkan."

"Kamu memperlakukannya seperti ini, benar-benar membuatku kecewa."

Mario menarik ujung baju Samanta dengan hati-hati, bersikap sangat murah hati dan pengertian.

"Samanta, nggak apa-apa. Jangan bertengkar dengan Kak Deandre gara-gara aku."

Dia mengendus, lalu menunjukkan senyum yang tampak tertekan tetapi tegar.

"Bagaimanapun juga, Kak Deandre bilang kalian adalah teman masa kecil. Kalau begitu, mana mungkin aku bisa menandinginya."

"Bicara apa kamu ini? Kamu itu sosok yang unik dan tak tergantikan."

Samanta menangkup wajah Mario dengan iba, membujuknya dengan suara yang sangat lembut.

Lalu dia menoleh padaku, wajahnya sedingin es.

"Suasana hati Mario sedang nggak baik, aku bawa dia pergi dulu. Kamu introspeksi diri saja. Jangan lupa bawa formulir pindah sekolahmu untuk ditanda tangan."

Aku memang benar-benar mengintrospeksi diri karena telah salah menilai orang.

Setelah mereka pergi, aku segera mengubah kata sandi pintu rumahku.

Rasa sesak di dadaku akhirnya sedikit berkurang.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 10

    Kerja sama antara Perusahaan Tantio dan Perusahaan Krisna berjalan stabil. Tiga tahun kemudian, aku dan Leila menikah. Pernikahan kami diadakan di sebuah kota kecil klasik di luar negeri, di mana setiap rumah menggantungkan lonceng angin berwarna-warni. Saat angin berembus, dentingan jernih terdengar seperti untaian doa yang tulus.Menjelang acara berakhir, aku menerima sebuah kado. Tidak ada nama pengirimnya, tetapi semua orang mengenali stempel Perusahaan Ondri.Sebenarnya, setelah Leila resmi memegang kendali Perusahaan Krisna, dia melakukan penekanan besar-besaran terhadap Perusahaan Ondri. Jika dulu Perusahaan Ondri tanpa Nyonya Disya ibarat gedung yang hampir runtuh, maka Perusahaan Ondri yang sekarang hanya menyisakan puing-puing bangunan. Leila tidak akan membiarkan keluarga yang mengkhianati ibunya lepas begitu saja.Aku memilih untuk bekerja sama dengannya, bahkan bertindak lebih keras. Perusahaan Ondri sudah tidak punya nama lagi di lingkaran bisnis. Karena aku pun ti

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 9

    Sudah sangat larut saat kami selesai membuat laporan di kantor polisi, jadi aku membawa Leila langsung ke rumahku. Keesokan paginya saat membuka mata, sarapan sudah tersaji di atas meja.Aku bersandar di pintu, menatap orang yang sedang serius mencuci alat makan. "Rajin sekali?""Kan belum punya status resmi, jadi harus rajin supaya calon suamiku terkesan.""Kalau dia marah lalu nggak mau menikah denganku lagi, bagaimana?"Leila mencubit hidungku sambil mengeluh manja. Aku hanya bisa pasrah, teringat bagaimana teman-temanku menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu semalam.Sambil bersantai melihat ponsel, perhatianku tertuju pada sebuah berita. Aku tersenyum. "Kalau kamu butuh status, ini dia kesempatannya."Berita yang sedang memuncaki trending topik memiliki judul besar dan tebal. [Pewaris Perusahaan Tantio Berperilaku Buruk, Menggoda Wanita Bersuami!][Kehidupan Pribadi Pewaris Perusahaan Tantio Berantakan, Mengajak Wanita Asing Menginap Di Rumahnya!]Dua judul itu muncul beruru

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 8

    Aku bertemu kembali dengan Samanta di acara jamuan makan yang diadakan teman-temanku. Kami semua sudah dewasa. Pembicaraan di lingkaran sosial kami mulai beralih ke urusan bisnis dan pengelolaan keluarga. Cahaya lampu yang temaram, minuman yang manis, suasananya cukup nyaman.Aku memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama, tetapi tiba-tiba tamu tak diundang masuk. Suasana di ruangan privat itu seketika hening.Seorang teman menarik ujung bajuku dan berbisik, "Deandre, nggak ada yang mengundangnya."Aku mengangguk paham. Temanku mendengus jijik. "Pasangan ini sudah dianggap seperti hama di lingkaran pertemanan kita. Keluarga mereka sudah bangkrut, perangai mereka pun buruk.""Terutama Mario. Dia memperlakukan Samanta seolah gadis itu adalah barang paling berharga di dunia. Dia waspada pada setiap pria yang mendekat."Aku menoleh. Benar saja, di belakang Samanta, ada Mario. Saat melihatku menatap ke arah mereka, Mario refleks menciutkan bahunya ketakutan. Namun sedetik kemudian, dia

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 7

    Kantor pusat perusahaan berada di kota ini, jadi aku langsung berkendara pulang untuk mengambil dokumen. Demi kenyamananku, ibuku membelikan sebuah vila kecil dengan taman yang asri.Aku mendorong gerbang utama, tetapi saat hendak menekan kode kunci pintu, aku tersentak. Seseorang ternyata sedang duduk di koridor samping pintu.Dia menoleh, memperlihatkan sepasang mata yang merah padam. Aku mengernyit. "Samanta? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"Tiba-tiba aku melihat lututnya yang memar kebiruan. Kerut di keningku makin dalam. "Kamu memanjat pagar rumahku? Ada urusan apa?"Orang yang sedari tadi diam itu menatapku tajam, lalu berucap tiba-tiba, "Deandre, kamu jadi kurusan sekarang."Aku tidak mengerti apa maksud basa-basi anehnya itu. Saat aku berbalik hendak pergi, dia mendadak menghambur dan memelukku. Kekuatannya begitu besar, seolah ingin meremukkan tubuhku.Untungnya, pelatihan fisik yang kujalani bukan sekadar pajangan. Aku menyentak tangannya hingga terlepas, lalu mengusa

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 6

    Setelah pesta pertunangan, keluarga merencanakan agar aku melakukan magang di perusahaan yang ada di dalam negeri. Ibuku mulai membayangkan masa depan dan berkata, "Nanti kalian berdua yang mengurus urusan internal, biar Ibu dan Tante Disya yang mengurus urusan eksternal."Ayahku menimpali dengan nada tegas agar aku menjaga ibuku baik-baik, jangan sampai diculik oleh Tante Disya. Sambil membawa harapan-harapan itu, aku naik ke pesawat menuju tanah air dengan senyum simpul.Saat mengantarku ke bandara, Leila mengambil satu lonceng angin dan meletakkannya di telapak tanganku. Dia selalu bersikap sopan dan menahan diri di depanku. Namun, kali ini dia tidak bisa menahan diri dan memberitahuku lewat denting lonceng bahwa dia akan merindukanku.Setelah beberapa bulan berpisah, kenangan di kelas 12-A SMA 1 sudah menjadi masa lalu. Saat teman-temanku di tanah air mengirimkan foto kelulusan yang tidak menyertakan fotoku, aku merasa seolah itu sudah terjadi seabad yang lalu.Di foto itu, Sam

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 5

    Belum sempat aku menjawab, suara Leila terdengar, "Deandre, mau kuantar melihat-lihat sekolah barumu dulu?" Wajahnya tampak polos, seolah dia hanya bersikap ramah. Namun, suara Samanta di telepon langsung meninggi. "Deandre, kamu sedang bersama Leila?! Kamu sebenarnya di mana?!"Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Untuk pertama kalinya, suara Samanta terasa begitu bising. "Apa urusannya denganmu aku ada di mana?"Samanta seolah tidak mendengar jawabanku, suaranya penuh nada tidak percaya. "Kamu pergi mencari Leila hanya karena mau membuatku kesal? Demi memancing amarahku, kamu bahkan mau berurusan dengan orang rendahan sepertinya!"Mendengar ucapannya yang semakin tidak sopan, aku membentaknya dengan tegas, "Cukup!"Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan mantap, "Samanta, kamulah orang yang paling nggak berharga di sini."Akhirnya, kata-kata itu kukembalikan padanya."Jangan menelepon lagi. Hubungan kita berakhir sampai di sini!"Setelah itu, aku segera mematikan telepo

บทอื่นๆ

บางทีคุณอาจจะชอบ

สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status