Share

Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah
Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah
Author: Nina

Bab 1

Author: Nina
Saat mendengar kenyataan itu, jantungku bergetar hebat.

Selama sebulan terakhir, kasus Samanta Ondri dikeroyok dan difitnah sudah tak terhitung jumlahnya.

Aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk melindunginya, meski terkadang masih ada yang terlewat.

Karena sudah tidak tahan lagi, aku menyarankannya untuk pindah sekolah.

Waktu itu, Samanta baru saja disiram air es. Wajahnya yang manis, tampak pucat dan menyedihkan. Dengan tak berdaya, dia menggenggam tanganku.

"Deandre, aku takut pergi sendirian ke tempat yang nggak kukenal."

Aku dan Samanta bisa dibilang teman masa kecil. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama sejak taman kanak-kanak, tak pernah berubah selama belasan tahun.

Terlebih lagi, aku diam-diam mencintainya.

Jadi, dalam luapan emosi, aku berjanji padanya, "Jangan takut. Ke mana pun kamu pergi, aku akan menemanimu."

Namun, baru sekarang aku tahu bahwa semua itu hanyalah sandiwara rumit yang dia buat demi mengusirku.

Aku mau tak mau merasa heran, apakah Samanta begitu membenciku?

Suara dari dalam ruangan privat itu masih berlanjut. "Deandre benar-benar setia mati-matian padamu."

"Kalau kamu memintanya pindah ke sekolah lain sekarang, apa kamu nggak takut dia akan menyukai orang lain?"

"Dia?"

Samanta mendengus remeh, seolah baru saja mendengar lelucon terlucu di dunia.

"Demi aku, dia bahkan berani menghadang keroyokan massa. Walaupun dipukuli sampai babak belur, dia nggak mundur selangkah pun. Kamu bilang dia akan berpaling dariku?"

Seseorang bergumam kecil, "Bagaimana kalau iya? Deandre bukan tipe orang yang bisa dianggap remeh."

Nada bicara Samanta terdengar malas saat berkata, "Nggak akan ada 'bagaimana kalau'. Ada banyak gadis cantik di SMA 1, tapi kapan kamu pernah melihatnya melirik orang lain?"

Suaranya tak pelak lagi tercemar oleh rasa hina.

"Setiap hari kerjanya hanya membuntutiku. Anjing pelacak saja nggak seposesif dia."

Gelak tawa yang menyakitkan telinga, pecah di dalam ruangan itu, terasa seperti tamparan keras di wajahku.

Aku ingin pergi, tapi kakiku seolah berakar di sana. Memaksaku untuk terus mendengar dan terus merasa sakit.

Seseorang berdecak kagum.

"Baru kali ini aku melihat gadis yang mengusir pemuda yang mencintainya. Sobat, aku salut padamu."

"Tapi kalau kamu nggak suka Deandre terlalu menempel padamu, bukannya cukup bilang saja langsung? Deandre Tantio sepertinya bukan tipe orang yang akan mengejar-ngejar kalau sudah ditolak."

Samanta berdecak, mulai terdengar tidak sabar. "Deandre itu terlalu mencolok. Kalau dijelaskan secara terang-terangan, mana mungkin dia mau pergi dengan mudah."

Nada bicaranya berubah. "Lagi pula, Mario merasa rendah diri dan sedih setiap kali melihat Deandre. Mario hanya akan merasa lebih baik kalau aku yang menemaninya."

"Demi Mario, aku terpaksa melakukan ini. Untuk sementara, biar Deandre saja yang kesusahan."

Begitu kata-kata ini terucap, semua orang langsung paham.

Jika dihitung waktunya, keputusan Samanta untuk berpura-pura dirundung tepat terjadi satu minggu setelah Mario pindah ke SMA 1.

Seseorang tertawa sambil menggoda Samanta, "Hebat juga kamu, ya? Begitu si berondong manis itu pindah ke sini, kamu langsung naksir anak itu?"

"Tapi Mario memang punya wajah yang sangat mengundang rasa iba, karakternya juga lembut. Wajar saja kalau kamu tertarik padanya."

"Nggak seperti Deandre. Selain sifatnya yang keras dan galak, wajahnya selalu dingin sepanjang hari, seolah menolak siapa pun yang mendekat. Setampan apa pun dia, tetap saja nggak menarik."

Komentar-komentar liar tentangku di dalam ruangan itu terus pasang seperti ombak.

Sementara Samanta, gadis yang diam-diam kucintai selama bertahun-tahun, tidak mencegah maupun membantah. Sesekali, dia malah mengiyakan.

Aku berdiri di luar pintu, merasa hatiku jatuh ke jurang yang dalam. Hampa, sekaligus sesak.

Untuk sesaat, aku ingin membuka pintu dan menginterogasi Samanta dengan suara lantang.

Bertanya, mengapa dia menipuku?

Bertanya, apakah dia merasakan sedikit rasa bersalah atau iba, saat melihatku dipukuli demi melindunginya?

Bertanya, apakah dia pernah memikirkan persahabatan belasan tahun kami saat melakukan semua ini?

Namun akhirnya, kata-kata ibuku terngiang di telingaku, "Jangan melakukan hal yang sia-sia."

Seseorang tidak akan berubah menjadi buruk secara mendadak.

Aku pun berbalik dan meninggalkan ruangan pribadi itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 10

    Kerja sama antara Perusahaan Tantio dan Perusahaan Krisna berjalan stabil. Tiga tahun kemudian, aku dan Leila menikah. Pernikahan kami diadakan di sebuah kota kecil klasik di luar negeri, di mana setiap rumah menggantungkan lonceng angin berwarna-warni. Saat angin berembus, dentingan jernih terdengar seperti untaian doa yang tulus.Menjelang acara berakhir, aku menerima sebuah kado. Tidak ada nama pengirimnya, tetapi semua orang mengenali stempel Perusahaan Ondri.Sebenarnya, setelah Leila resmi memegang kendali Perusahaan Krisna, dia melakukan penekanan besar-besaran terhadap Perusahaan Ondri. Jika dulu Perusahaan Ondri tanpa Nyonya Disya ibarat gedung yang hampir runtuh, maka Perusahaan Ondri yang sekarang hanya menyisakan puing-puing bangunan. Leila tidak akan membiarkan keluarga yang mengkhianati ibunya lepas begitu saja.Aku memilih untuk bekerja sama dengannya, bahkan bertindak lebih keras. Perusahaan Ondri sudah tidak punya nama lagi di lingkaran bisnis. Karena aku pun ti

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 9

    Sudah sangat larut saat kami selesai membuat laporan di kantor polisi, jadi aku membawa Leila langsung ke rumahku. Keesokan paginya saat membuka mata, sarapan sudah tersaji di atas meja.Aku bersandar di pintu, menatap orang yang sedang serius mencuci alat makan. "Rajin sekali?""Kan belum punya status resmi, jadi harus rajin supaya calon suamiku terkesan.""Kalau dia marah lalu nggak mau menikah denganku lagi, bagaimana?"Leila mencubit hidungku sambil mengeluh manja. Aku hanya bisa pasrah, teringat bagaimana teman-temanku menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu semalam.Sambil bersantai melihat ponsel, perhatianku tertuju pada sebuah berita. Aku tersenyum. "Kalau kamu butuh status, ini dia kesempatannya."Berita yang sedang memuncaki trending topik memiliki judul besar dan tebal. [Pewaris Perusahaan Tantio Berperilaku Buruk, Menggoda Wanita Bersuami!][Kehidupan Pribadi Pewaris Perusahaan Tantio Berantakan, Mengajak Wanita Asing Menginap Di Rumahnya!]Dua judul itu muncul beruru

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 8

    Aku bertemu kembali dengan Samanta di acara jamuan makan yang diadakan teman-temanku. Kami semua sudah dewasa. Pembicaraan di lingkaran sosial kami mulai beralih ke urusan bisnis dan pengelolaan keluarga. Cahaya lampu yang temaram, minuman yang manis, suasananya cukup nyaman.Aku memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama, tetapi tiba-tiba tamu tak diundang masuk. Suasana di ruangan privat itu seketika hening.Seorang teman menarik ujung bajuku dan berbisik, "Deandre, nggak ada yang mengundangnya."Aku mengangguk paham. Temanku mendengus jijik. "Pasangan ini sudah dianggap seperti hama di lingkaran pertemanan kita. Keluarga mereka sudah bangkrut, perangai mereka pun buruk.""Terutama Mario. Dia memperlakukan Samanta seolah gadis itu adalah barang paling berharga di dunia. Dia waspada pada setiap pria yang mendekat."Aku menoleh. Benar saja, di belakang Samanta, ada Mario. Saat melihatku menatap ke arah mereka, Mario refleks menciutkan bahunya ketakutan. Namun sedetik kemudian, dia

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 7

    Kantor pusat perusahaan berada di kota ini, jadi aku langsung berkendara pulang untuk mengambil dokumen. Demi kenyamananku, ibuku membelikan sebuah vila kecil dengan taman yang asri.Aku mendorong gerbang utama, tetapi saat hendak menekan kode kunci pintu, aku tersentak. Seseorang ternyata sedang duduk di koridor samping pintu.Dia menoleh, memperlihatkan sepasang mata yang merah padam. Aku mengernyit. "Samanta? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"Tiba-tiba aku melihat lututnya yang memar kebiruan. Kerut di keningku makin dalam. "Kamu memanjat pagar rumahku? Ada urusan apa?"Orang yang sedari tadi diam itu menatapku tajam, lalu berucap tiba-tiba, "Deandre, kamu jadi kurusan sekarang."Aku tidak mengerti apa maksud basa-basi anehnya itu. Saat aku berbalik hendak pergi, dia mendadak menghambur dan memelukku. Kekuatannya begitu besar, seolah ingin meremukkan tubuhku.Untungnya, pelatihan fisik yang kujalani bukan sekadar pajangan. Aku menyentak tangannya hingga terlepas, lalu mengusa

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 6

    Setelah pesta pertunangan, keluarga merencanakan agar aku melakukan magang di perusahaan yang ada di dalam negeri. Ibuku mulai membayangkan masa depan dan berkata, "Nanti kalian berdua yang mengurus urusan internal, biar Ibu dan Tante Disya yang mengurus urusan eksternal."Ayahku menimpali dengan nada tegas agar aku menjaga ibuku baik-baik, jangan sampai diculik oleh Tante Disya. Sambil membawa harapan-harapan itu, aku naik ke pesawat menuju tanah air dengan senyum simpul.Saat mengantarku ke bandara, Leila mengambil satu lonceng angin dan meletakkannya di telapak tanganku. Dia selalu bersikap sopan dan menahan diri di depanku. Namun, kali ini dia tidak bisa menahan diri dan memberitahuku lewat denting lonceng bahwa dia akan merindukanku.Setelah beberapa bulan berpisah, kenangan di kelas 12-A SMA 1 sudah menjadi masa lalu. Saat teman-temanku di tanah air mengirimkan foto kelulusan yang tidak menyertakan fotoku, aku merasa seolah itu sudah terjadi seabad yang lalu.Di foto itu, Sam

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 5

    Belum sempat aku menjawab, suara Leila terdengar, "Deandre, mau kuantar melihat-lihat sekolah barumu dulu?" Wajahnya tampak polos, seolah dia hanya bersikap ramah. Namun, suara Samanta di telepon langsung meninggi. "Deandre, kamu sedang bersama Leila?! Kamu sebenarnya di mana?!"Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Untuk pertama kalinya, suara Samanta terasa begitu bising. "Apa urusannya denganmu aku ada di mana?"Samanta seolah tidak mendengar jawabanku, suaranya penuh nada tidak percaya. "Kamu pergi mencari Leila hanya karena mau membuatku kesal? Demi memancing amarahku, kamu bahkan mau berurusan dengan orang rendahan sepertinya!"Mendengar ucapannya yang semakin tidak sopan, aku membentaknya dengan tegas, "Cukup!"Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan mantap, "Samanta, kamulah orang yang paling nggak berharga di sini."Akhirnya, kata-kata itu kukembalikan padanya."Jangan menelepon lagi. Hubungan kita berakhir sampai di sini!"Setelah itu, aku segera mematikan telepo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status