LOGIN
Kerja sama antara Perusahaan Tantio dan Perusahaan Krisna berjalan stabil. Tiga tahun kemudian, aku dan Leila menikah. Pernikahan kami diadakan di sebuah kota kecil klasik di luar negeri, di mana setiap rumah menggantungkan lonceng angin berwarna-warni. Saat angin berembus, dentingan jernih terdengar seperti untaian doa yang tulus.Menjelang acara berakhir, aku menerima sebuah kado. Tidak ada nama pengirimnya, tetapi semua orang mengenali stempel Perusahaan Ondri.Sebenarnya, setelah Leila resmi memegang kendali Perusahaan Krisna, dia melakukan penekanan besar-besaran terhadap Perusahaan Ondri. Jika dulu Perusahaan Ondri tanpa Nyonya Disya ibarat gedung yang hampir runtuh, maka Perusahaan Ondri yang sekarang hanya menyisakan puing-puing bangunan. Leila tidak akan membiarkan keluarga yang mengkhianati ibunya lepas begitu saja.Aku memilih untuk bekerja sama dengannya, bahkan bertindak lebih keras. Perusahaan Ondri sudah tidak punya nama lagi di lingkaran bisnis. Karena aku pun ti
Sudah sangat larut saat kami selesai membuat laporan di kantor polisi, jadi aku membawa Leila langsung ke rumahku. Keesokan paginya saat membuka mata, sarapan sudah tersaji di atas meja.Aku bersandar di pintu, menatap orang yang sedang serius mencuci alat makan. "Rajin sekali?""Kan belum punya status resmi, jadi harus rajin supaya calon suamiku terkesan.""Kalau dia marah lalu nggak mau menikah denganku lagi, bagaimana?"Leila mencubit hidungku sambil mengeluh manja. Aku hanya bisa pasrah, teringat bagaimana teman-temanku menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu semalam.Sambil bersantai melihat ponsel, perhatianku tertuju pada sebuah berita. Aku tersenyum. "Kalau kamu butuh status, ini dia kesempatannya."Berita yang sedang memuncaki trending topik memiliki judul besar dan tebal. [Pewaris Perusahaan Tantio Berperilaku Buruk, Menggoda Wanita Bersuami!][Kehidupan Pribadi Pewaris Perusahaan Tantio Berantakan, Mengajak Wanita Asing Menginap Di Rumahnya!]Dua judul itu muncul beruru
Aku bertemu kembali dengan Samanta di acara jamuan makan yang diadakan teman-temanku. Kami semua sudah dewasa. Pembicaraan di lingkaran sosial kami mulai beralih ke urusan bisnis dan pengelolaan keluarga. Cahaya lampu yang temaram, minuman yang manis, suasananya cukup nyaman.Aku memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama, tetapi tiba-tiba tamu tak diundang masuk. Suasana di ruangan privat itu seketika hening.Seorang teman menarik ujung bajuku dan berbisik, "Deandre, nggak ada yang mengundangnya."Aku mengangguk paham. Temanku mendengus jijik. "Pasangan ini sudah dianggap seperti hama di lingkaran pertemanan kita. Keluarga mereka sudah bangkrut, perangai mereka pun buruk.""Terutama Mario. Dia memperlakukan Samanta seolah gadis itu adalah barang paling berharga di dunia. Dia waspada pada setiap pria yang mendekat."Aku menoleh. Benar saja, di belakang Samanta, ada Mario. Saat melihatku menatap ke arah mereka, Mario refleks menciutkan bahunya ketakutan. Namun sedetik kemudian, dia
Kantor pusat perusahaan berada di kota ini, jadi aku langsung berkendara pulang untuk mengambil dokumen. Demi kenyamananku, ibuku membelikan sebuah vila kecil dengan taman yang asri.Aku mendorong gerbang utama, tetapi saat hendak menekan kode kunci pintu, aku tersentak. Seseorang ternyata sedang duduk di koridor samping pintu.Dia menoleh, memperlihatkan sepasang mata yang merah padam. Aku mengernyit. "Samanta? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"Tiba-tiba aku melihat lututnya yang memar kebiruan. Kerut di keningku makin dalam. "Kamu memanjat pagar rumahku? Ada urusan apa?"Orang yang sedari tadi diam itu menatapku tajam, lalu berucap tiba-tiba, "Deandre, kamu jadi kurusan sekarang."Aku tidak mengerti apa maksud basa-basi anehnya itu. Saat aku berbalik hendak pergi, dia mendadak menghambur dan memelukku. Kekuatannya begitu besar, seolah ingin meremukkan tubuhku.Untungnya, pelatihan fisik yang kujalani bukan sekadar pajangan. Aku menyentak tangannya hingga terlepas, lalu mengusa
Setelah pesta pertunangan, keluarga merencanakan agar aku melakukan magang di perusahaan yang ada di dalam negeri. Ibuku mulai membayangkan masa depan dan berkata, "Nanti kalian berdua yang mengurus urusan internal, biar Ibu dan Tante Disya yang mengurus urusan eksternal."Ayahku menimpali dengan nada tegas agar aku menjaga ibuku baik-baik, jangan sampai diculik oleh Tante Disya. Sambil membawa harapan-harapan itu, aku naik ke pesawat menuju tanah air dengan senyum simpul.Saat mengantarku ke bandara, Leila mengambil satu lonceng angin dan meletakkannya di telapak tanganku. Dia selalu bersikap sopan dan menahan diri di depanku. Namun, kali ini dia tidak bisa menahan diri dan memberitahuku lewat denting lonceng bahwa dia akan merindukanku.Setelah beberapa bulan berpisah, kenangan di kelas 12-A SMA 1 sudah menjadi masa lalu. Saat teman-temanku di tanah air mengirimkan foto kelulusan yang tidak menyertakan fotoku, aku merasa seolah itu sudah terjadi seabad yang lalu.Di foto itu, Sam
Belum sempat aku menjawab, suara Leila terdengar, "Deandre, mau kuantar melihat-lihat sekolah barumu dulu?" Wajahnya tampak polos, seolah dia hanya bersikap ramah. Namun, suara Samanta di telepon langsung meninggi. "Deandre, kamu sedang bersama Leila?! Kamu sebenarnya di mana?!"Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Untuk pertama kalinya, suara Samanta terasa begitu bising. "Apa urusannya denganmu aku ada di mana?"Samanta seolah tidak mendengar jawabanku, suaranya penuh nada tidak percaya. "Kamu pergi mencari Leila hanya karena mau membuatku kesal? Demi memancing amarahku, kamu bahkan mau berurusan dengan orang rendahan sepertinya!"Mendengar ucapannya yang semakin tidak sopan, aku membentaknya dengan tegas, "Cukup!"Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan mantap, "Samanta, kamulah orang yang paling nggak berharga di sini."Akhirnya, kata-kata itu kukembalikan padanya."Jangan menelepon lagi. Hubungan kita berakhir sampai di sini!"Setelah itu, aku segera mematikan telepo