로그인Suara langkah kaki panik memecah keheningan hutan. Seorang gadis berlarian di antara semak dan pohon, keringat bercucuran di wajah cantiknya.
[BERHENTI!] Langkah gadis itu seketika terhenti, mengakibatkan gadis itu hampir terpental. "Apa lagi kali ini?" Dia terengah-engah, menyeka keringat di pipinya dengan tangan. "Kamu sudah menemukan Reiji?" [Bukan itu, Host dari tadi kita hanya berputar-putar di satu tempat!] teriak sistem panik. "Sebentar biarkan aku bernapas dulu...." Liriel duduk bersandar di pohon, menarik dan menghembuskan napas perlahan. Tangannya mengibas pelan, mengusir panas. "Mari kita analisa lagi dari awal." Gadis itu mengambil ranting, menggambar sesuatu di tanah. "Pertama, aku dan Reiji masuk ke hutan ilusi ini lalu bertemu kelinci aneh kemudian—" Sistem menyela dengan nada datar. [Kamu sibuk bermain dengan boneka rubah sampai tidak sadar sudah terpisah dengan Reiji.] "Ekhem." Pipi gadis itu memerah, ia sedikit malu dengan kecerobohannya sendiri. "Ayolah, boneka itu sangat lucu, oke? Tidak ada yang tahan untuk tidak bermain dengannya." [Ya, ya ya.] Sistem memutar matanya. [Lalu tanpa sengaja kamu menginjak jebakan kelinci dan tersandung. Saat mencoba membebaskan diri terdengar raungan binatang buas.] "Kemudian kamu berteriak ketakutan dan terus menyuruhku lari," tambah gadis itu sambil mendengus. [Ayolah siapa yang tidak akan takut kalau mendengar raungan sekeras tadi,] bantah sistem. Liriel memutar mata. Setelah beberapa saat saling mengejek dengan sistem, akhirnya ia mengalihkan perhatiannya kembali. Menurutnya tidak ada perbedaan jelas antara bagian luar atau dalam hutan, semuanya dipenuhi pohon maple. Membuat orang mudah tersesat. "Gimana? Sudah ketemu cara keluar dari ilusi ini?" Gadis itu bertanya sambil terus memperhatikan sekitar. "Kamu harus mendapatkannya, jika bukan karena kaget mendengar teriakanmu. Aku tidak akan tanpa sengaja tersandung masuk ke dalam ilusi ini." Pipinya menggembung disertai dengan kerutan di antara alisnya. Suara sistem melemah saat ia menjawab, [Aku tahu.] Beberapa menit berlalu begitu saja, desiran angin lembut ditambah keheningan yang tenang membuat kelopak mata Liriel terasa berat. Saat itu suara langkah kaki samar datang dari arah timur, semakin dekat semakin keras suara itu. Membuat gadis itu tersentak, ia menoleh menatap tajam ke arah asal suara. Seorang gadis muda berlari panik, menoleh ke sana kemari. Saat ia mendongak ke depan, mata gadis muda itu bertatapan langsung dengan mata Liriel. Gadis muda itu terdiam, matanya berbinar bahagia lalu ia berlari menghampiri Liriel. "Nona tunggu, aku ingin meminta tolong." "Maaf aku tidak bisa menunjukkan jalan keluar padamu," tolak Liriel tegas. "Setiap orang memiliki ujiannya sendiri, biarlah takdir yang menentukan jalannya." Tanpa memperhatikan kebingungan gadis muda itu, Liriel berbalik lalu melambaikan tangan sambil berjalan pergi. "Sampai jumpa di lain waktu Nona, saat takdir mengizinkan." [....] sistem tak bisa berkata-kata. [Dasar sok, bilang saja kamu takut dia tahu kamu juga tersesat.] "Hei! Berikan aku sedikit harga diri oke," rengeknya. Melihat punggung Liriel semakin menjauh, akhirnya gadis muda itu tersadar. Ia buru-buru menghentikannya. "T-tunggu Nona, aku hanya ingin memintamu mengecek kondisi ibuku. Ia sudah tidak sadarkan diri selama satu hari penuh." Giliran Liriel yang kebingungan, ia menoleh kepalanya miring ke kanan dipenuhi tanda tanya. ....... "Kamu yakin dia ibumu?" Liriel mau tak mau bertanya. "Kamu yang cantik bagai pertama dan dia...." Wanita tua di depannya memiliki rambut gimbal acak-acakan, pakaian yang ia kenakan kotor dan tua dengan warna yang memudar akibat terlalu sering dicuci. Wanita tua itu juga memiliki bau tidak sedap yang membuat kerutan di pelipis Liriel. "Eumm...." Gadis itu tidak tahu harus berkata apa. Gadis muda di sebelahnya hanya tertawa. "Tentu saja dia ibuku, jangan lihat dia seperti gelandangan tidak terurus sekarang, dulu ibuku terkenal akan kecantikannya." Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Kamulah yang mengatakan ibumu mirip gelandangan. Mata Liriel membelalak takjub. "Ehem, baiklah kembali ke topik. Biar aku periksa dulu," ucapnya. Lalu ia berjongkok dan memeriksa seluruh tubuh wanita tua itu. "Tidak ada masalah serius, hanya kelelahan dan ketakutan berlebih." "Diperkirakan dia akan segera sadar. Namun kita harus mengobati dulu luka kecil yang ada di tangan dan kakinya," lanjutnya dengan serius. Gadis muda itu berseru kagum. "Wow, terima kasih Nona. Apakah kamu seorang tabib?" "Hah?" Liriel memiringkan kepala, merenung. "Aku tidak tahu." Gadis muda itu ikut berjongkok lalu meniru pose Liriel. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Kamu sungguh lucu." Wajah Liriel terasa panas saat gadis muda di depannya mengelus kepalanya. Ia menepis tangan gadis itu, dengan cemberut berkata. "Ambilkan beberapa tanaman dan air untukku." Ia menyebutkan lima jenis tanaman yang umum tumbuh di mana-mana. Lalu ia duduk agak jauh dari wanita tua itu sambil menunggu gadis muda itu kembali. Sekitar 10 menit kemudian, gadis muda itu datang membawa semua bahan yang diperlukan. Dengan cepat Liriel membuat obat sederhana sebelum ia mengoleskannya ke setiap luka yang ada. "Huft...." Liriel menyeka keringat di dahinya. "Dengan ini untuk sementara ibumu akan aman." "Tapi kita harus segera kembali ke kota, luka kecil seperti ini rentan terhadap infeksi," tambahnya. "Baiklah, aku serahkan padamu." Gadis muda itu mengangguk setuju. "Untuk keluar dari hutan ini, ikuti saja arah matahari terbit." "Baiklah." Liriel menopang wanita tua itu, siap untuk berangkat. "Mengapa diam? Ayo pergi." Gadis muda itu hanya tersenyum lalu menggeleng kepala. "Aku tidak bisa pergi sekarang, aku sudah berjanji untuk menunggu seseorang datang menjemputku." Meskipun Liriel tidak memahaminya, tapi ia menghormati pilihan gadis muda itu. "Kalau begitu, aku pergi duluan mengobati ibumu. Nanti datang saja ke penginapan terbesar di ibu kota, aku tinggal di sana." Masih dengan senyum tipisnya, gadis muda itu menjawab. "Baik, akan kuingat." ...... "Hos... hos...." Suara napas berat terdengar nyaring. Liriel menyeret tubuh wanita tua itu dengan napas kacau dan tubuh sakit akibat berat tubuh yang ia topang. "S-sistem tolong a-aku." [Maaf Host tapi aku tidak memiliki wujud fisik.] "Tidak berguna, kamu hanya bisa berbicara dan bertingkah lucu," cemooh gadis itu. Tak terima disebut tidak berguna, sistem segera berkata. [Ini juga salahmu! Jika kamu tidak kehilangan ingatan, semua fitur di dataku akan berfungsi.] Liriel memutar bola matanya. "Alasan, bilang saja kamu memang tidak memiliki fitur seperti itu." Sistem dengan marah langsung membantah. [Hmph, aku memang punya! Meski sekarang yang tersisa hanyalah data informasi lengkap ketujuh target.] "Aku tidak peduli, bantu aku. Wanita tua ini berat sekali, bahuku sakit," rengeknya. Tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan, kakinya berdenyut nyeri. Liriel menghela napas, kembali menguatkan diri untuk terus berjalan. Sistem sedikit tidak tega melihat Tuan Rumahnya bertingkah seperti ikan tanpa air. [Tuan, mengapa kamu tidak meminta bantuan Reiji saja? Dia sudah memperhatikanmu sejak tadi.]Theron berjalan dengan waspada di samping Lucian. Mengawasi setiap gerakan di sekelilingnya.Baju zirahnya sebagian terkoyak dengan balutan perban yang terlihat menempel di kulit. Di depannya, Lucian tampak tidak terganggu di hutan ini.Pakaiannya masih bersih tak ternoda. Dia tampak santai di tengah ilusi yang terkadang bisa menjebak Theron.Keheningan yang damai ini mendadak pecah akibat suara napas kacau disertai langkah kaki tergesa-gesa.Theron mengeratkan genggaman pedangnya, menatap tajam ke arah asal suara. Beberapa detik kemudian, bulu oranye kemerahan menyala melompat keluar dari semak-semak.Seekor rubah kecil menabrak pohon terdekat. Rubah itu mengerang pelan sambil menggumamkan sesuatu.“Sungguh sial, ini ketiga kalinya aku menabrak...”“Aduh, kepalaku sakit,” tambahnya sambil mengusap kepala berbulunya.Dia menguap lebar, rasa kantuk menyerbu. Dari kemarin Seliora tak sempat tidur, untuk anak 5 tahun, sepanjang waktu itu cukup berat.Seliora merentangkan tubuh, lalu menj
"Hapus pandangan iba itu dari matamu. Mereka tidak butuh dikasihani, baik Viner maupun Belia jauh lebih kuat dari yang kau kira. Dan—" Suara Reiji mendadak terhenti, tatapannya melihat kejauhan ke tempat Viner berada.Refleks, Liriel menoleh, memelototi pria itu tidak senang sambil mendengus. "Aku tidak merasa kasihan!""Aku hanya... ingin memastikan dia baik-baik saja. Itu bukan kasihan!” Gadis itu memalingkan wajah, dengan tangan terlipat di dada dan wajah tertekuk.Reiji diam memperhatikan gadis itu berjalan pergi meninggalkannya dengan marah. Bibir merahnya terbuka dan menutup, melontarkan semua omelan.Tanpa sadar, sekilas senyum melintas di wajahnya. Reiji melirik ke belakang sejenak sebelum bergegas mengikuti Liriel, mencegah gadis itu tersesat di hutan ilusi ini.“Hati-hati, jika terus cemberut nanti cepat tua." Pria itu menusuk pipi Liriel dengan ujung jarinya, terkekeh pelan saat ia merasakan tubuh gadis itu sedikit kaku.Liriel menepis tangan Reiji, mendengus sekali lagi. N
Kelopak mata Viner perlahan terbuka. Cahaya samar jingga dari sela-sela dedaunan menampakkan kilau keemasan di ujungnya. Matahari perlahan bangkit untuk menyinari hari baru.Dia berkedip beberapa kali, menyipitkan mata menyesuaikan pandangannya. Perlahan dia menengadah, mencoba mencari tahu di mana ia berada sekarang.Seketika itu juga, dia membeku saat melihat gadis yang selama ini ia rindukan tengah menatapnya dengan senyum manis.Viner bisa merasakan bagaimana jari-jemari gadis itu mengusap lembut rambutnya. Ia tak kuasa menahan napas, tanpa sadar air mata merembes keluar.Namun, Viner tak sedetik pun berkedip seolah takut kekasihnya akan hilang bagai malam-malam biasa saat ia merindukannya dulu."Kenapa menatapku begitu? Ada sesuatu di wajahku? Atau..." Gadis itu berhenti sejenak, lalu dengan wajah cemberut ia kembali berkata, "Aku sudah tidak cantik lagi?""Hah? Tidak!" sangkal Viner tegas. Dia buru-buru bangkit ingin menjelaskan. Namun, rasa sakit di tubuhnya membuat pria
Setiap detik yang berlalu suhu di sini semakin menurun. Liriel memeluk dirinya, tubuhnya bergetar. Dia mendekati Reiji lalu memeluk erat lengan pria itu, mencari kehangatan di sana. "Bukannya kau itu makhluk laut, ya? Suhu segini saja sudah menggigil," ejeknya sambil melepaskan Liriel dan menghindar kesamping. Kedua alis Liriel berkerut erat, kesal dengan gerakan menghindar pria itu. Dia menggertakan gigi sebelum menerkanya. "Jangan bergerak! Sebagai rubah dengan banyak bulu, kamu tidak berhak menghakimiku." Dengan lihai Reiji mundur selangkah, membiarkan gadis itu terhuyung dan menggeram marah. Seringai tersungging di wajahnya. "Sigh... sekarang seorang pria harus pandai menjaga diri, apalagi dari gadis aneh yang selalu ingin memanfaatkannya," desahnya tak berdaya. "Hei!" Teriak Liriel tak terima. "Jangan mencuri dialogku! Dan... berhenti bergerak Reiji, biarkan aku merasakan kehangatanmu~" Sudut mata Reiji terkedut mendengar kata ambigu itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk m
Tatapan Liriel berhenti beberapa detik di punggung Reiji, sebelum ia mengalihkannya."Reiji."Jika saja pria itu tidak memiliki pendengaran yang baik, mungkin ia akan melewatkan panggilan samar yang gadis itu bisikkan.Tanpa menoleh, Reiji mengeluarkan "Mm" pelan, menjawab panggilannya.Liriel menghentikan langkahnya menatap lurus ke arah pria itu. "Bukannya sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskannya padaku?"Kibasan kipasnya terhenti sesaat, sebuah emosi melintas sekilas di matanya. Reiji tetap diam tanpa berbalik namun dia menghentikan langkahnya. "Menjelaskan apa? Ah, maksudmu tentang Seliora? Dia hanya—""Bukan itu," potong Liriel. "Ini tentang semua upaya yang kamu lakukan untuk memikatku agar masuk ke dalam hutan."Melihat pria itu membuka mulutnya lagi untuk kembali mengalihkan perhatiannya. Tak akan Liriel biarkan, ia segera menyela."Jangan mengelak Reiji, sejak awal aku sudah merasakan ada yang aneh tentang semua ini," ujarnya dengan percaya diri.Melihat pria itu diam t
Liriel menarik napas, matanya berkedip pelan, setengah wajahnya terangkat dari air setengahnya lagi ia biarkan tetap di dalam. Gadis itu diam mengamati Reiji di sisi sungai yang tengah berbincang dengan Seliora. Tanpa sadar secuil senyum tipis terukir di bibirnya, tatapan gadis itu melembut. "Kamu pintar sekali membuatku bingung, mana dirimu sebenarnya?" bisiknya samar terbawa arus sungai.Ia kembali membenamkan wajahnya ke dalam air. Membiarkan tubuhnya terombang-ambing oleh arus sungai. Sementara di tepi sungai, tatapan Reiji menajam melihat kekeraskepalaan rubah kecil di hadapannya. Ia memijat pangkal hidungnya sambil mendesah pelan. "Kau tahu jelas, aku tidak bisa membantu lebih dari ini.""Aku tahu! Aku tidak akan meminta lebih. Jadi..." Rubah kecil itu terus menatap pria di depannya. "Aku mohon Reiji. Hanya satu hari lagi— Tidak setengah hari atau satu jam juga tidak apa-apa.""Aku hanya..." Suaranya bergetar, ia menundukkan kepala. Dengan mata memerah menahan air mata, Seli
Cahaya matahari bersinar lembut, menerpa kesibukan di ibu kota Varelis. Liriel bersandar di tepi jendela memperhatikan semua itu. Sampai akhirnya deritan pintu terbuka, mengalihkan perhatiannya. Seekor rubah kecil berlari dan melompat-lompat sebelum berdiri di samping gadis itu. "Kak Liriel bagaim
"Mau sampai kapan kamu di sana? Cepat turun," kata gadis itu sambil menatap tajam satu pohon tak jauh darinya. Keheningan menyelimuti hutan, hanya suara dedaunan bergesekan dan hembusan angin lembut yang terdengar. Matanya menyipit, senyum penuh makna merekah di wajah cantiknya. "Masih tidak mau
"Kamu masih marah? Reiji~" Liriel mengetuk pelan punggung pria itu dengan jarinya. "Tidak," ketus Reiji tanpa menoleh. Pipi Liriel mengembung, melihat ketidakpeduliannya. Gadis itu terus mengetuk punggungnya dengan kekuatan yang semakin besar. Tepat saat Reiji berbalik dan ingin marah, ia tidak
"Jadi cara yang kau maksud dengan mencari tahu tentang Belia dan..." Reiji berhenti, sejenak tak tahu harus berkata apa. "Menyamar menjadi gadis itu?" "Kalau tidak? Memangnya ada cara lain?" Liriel menyesuaikan lipatan gaun. "Aku tidak masalah dengan cara itu hanya–" Reiji memandang gadis yang si







