로그인"Jadi cara yang kau maksud dengan mencari tahu tentang Belia dan..." Reiji berhenti, sejenak tak tahu harus berkata apa. "Menyamar menjadi gadis itu?"
"Kalau tidak? Memangnya ada cara lain?" Liriel menyesuaikan lipatan gaun. "Aku tidak masalah dengan cara itu hanya–" Reiji memandang gadis yang sibuk merapikan bajunya. "Mengapa aku yang harus menyamar menjadi Belia?" Liriel mendongak. "Mau bagaimana lagi, warna mata dan rambutku berbeda dengan suku rubah. Hanya kamu yang bisa, jangan khawatir aku pasti akan membuatmu menjadi wanita tercantik di Klan Varelis." Semangat membara terpancar di mata gadis itu membuat Reiji terdiam. Dia menarik napas, menenangkan dirinya. Reiji mendorong Liriel dan berkata, "Keluar." "Eh? Kenapa, aku belum selesai mendandani-mu," teriak gadis itu tak terima. "Reiji–" BRAK. Suara bantingan pintu menunjukkan sebesar apa amarah yang pria itu miliki. [Host selamat, kamu berhasil memicu emosi dari Reiji.] Sindiran sistem membuat Liriel merasa bersalah sejenak. Sebelum ia berdehem, dan berjalan keluar penginapan. [Sekarang bagaimana kamu akan membantu Viner? Aku tidak mengerti mengapa kamu mau membantunya.] "Aku tidak ingin melihatnya menangis," gumam gadis itu. "Pokoknya, ayo kita cari tahu dulu tentang hubungan Viner dan Belia. Sekalian juga kita mencari tentang hutan ilusi itu," ujar gadis itu. [Tentu, kalau begitu Host bisa bertanya pada pedagang buah di sana. Dia salah satu orang yang berbisik-bisik tadi.] Mengikuti saran sistem, gadis itu menghampiri kios buah. "Pak, apelnya satu." "Tentu Nona, satu koin tembaga." Pedagang buah itu menyerahkan apel merah. "Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan pria yang mengamuk tadi?" tanya gadis itu, menggigit apel. Pedagang buah itu menghela napas. "Hal seperti itu sering terjadi belakangan ini. Mereka menjadi seperti itu sejak kembali dari hutan." "Ada yang mengatakan..." Pria itu melirik sekeliling lalu berbisik padanya. "Kamu bisa melihat orang yang kamu cintai di sana, termasuk orang yang sudah mati." "Karena hal itu banyak orang nekat pergi ke hutan," tambahnya sambil menghela napas. "Sungguh?" Mata gadis itu membelalak tak percaya. "Ya, tapi itu hanyalah ilusi tidak mungkin ada orang yang bisa membangkitkan kembali orang mati." Pedagang itu mengibas-ngibaskan tangan. "Pemimpin Klan sudah mengeluarkan perintah, melarang mereka masuk ke hutan. Namun banyak orang keras kepala, menerobos masuk tanpa mempedulikan peringatan itu," ucap pedagang itu. "Hanya dua akhir yang menanti mereka." Liriel menelan daging apel terakhir. "Apa itu?" "Mereka mati atau menjadi gila," jawabnya. Setelah mendapatkan informasi, Liriel melanjutkan pencariannya. Dia bertanya lagi pada beberapa orang, mereka menjawab hampir sama persis. Namun dia tidak mengerti, ilusi apa yang bisa membunuh mereka? Apalagi menurut sistem Klan Varelis terkenal dengan kemampuan mereka dalam ilusi. Dari informasi yang dia dapatkan, ada seorang wanita tua tinggal di ujung jalan utama. Wanita tua itu terkenal akan kegilaannya, dia sering mengoceh tak jelas tentang suami dan anaknya yang sudah tiada. Jadi Liriel memutuskan untuk menemuinya, siapa tahu dia mungkin akan mendapatkan petunjuk lain tentang hutan. Tok. Tok. Tok. Keheningan menyambut, rumah tua milik wanita tua itu sepi dan tak terurus. Halamannya dipenuhi gulma, dinding rumah yang terkelupas dengan atap yang berlubang di beberapa tempat. "Permisi ada orang di dalam?" Liriel terus mengetuk, sambil mengintip dari jendela. "Berisik sekali, berhenti mengetuk. Wanita tua itu tidak ada di rumah." Salah seorang tetangga tak tahan dengan kebisingan, berteriak marah pada gadis itu. Liriel menoleh. "Ke mana dia pergi?" Tetangga itu menguap sambil mengacak-ngacak rambutnya. "Mana aku tahu, dia sering keluar berhari-hari." Liriel menghampirinya. "Paman aku dengar pemilik rumah ini sering bertingkah gila, apa itu benar?" "Benar, dia menjadi seperti itu sejak kematian suami dan putrinya." Pria itu mengedipkan mata, mengusir kantuk. "Kau pikir wanita tua itu menjadi gila karena ilusi hutan? Sayang sekali tapi tidak." "Aih belakangan ini banyak sekali anak muda yang menanyakan hal ini, berlarian kemari mencari petunjuk agar bisa keluar dari hutan dengan selamat," tambahnya sambil mendesah lelah. Liriel terdiam, dia memalingkan muka. "Paman kau tahu tentang Viner? Pria yang mengamuk tadi." "Hah? Siapa yang mengamuk," seru pria itu kaget. Mendengar nama Viner lagi, membuat pria itu membeku. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tahu pria itu tidak akan tahan saat mendengar rumor itu, tapi aku tidak percaya akan terjadi secepat ini." Liriel kembali menatap ke arahnya. "Paman kau tahu sesuatu?" Pria itu mendesah. "Aku mengenal mereka sejak kecil, bisa dibilang kami tumbuh bersama. Dari dulu mereka sudah saling mencintai, hingga lima tahun lalu mereka menikah. Namun sayangnya di hari pernikahan mereka, terjadi penyerangan mendadak." "Meskipun penyerangan itu berhasil dikalahkan, tetap memakan banyak korban. Di antaranya seorang jendral mati untuk menyelamatkan warga dan seorang pengantin yang menantikan hari bahagianya." "Viner kehilangan kekasihnya, dan wanita tua itu kehilangan suami serta putrinya. Kegilaan wanita tua itu tidak ada hubungannya dengan hutan tapi keadaan mengamuk Viner kemungkinan besar memang berhubungan dengan hutan," lanjutnya. Setelahnya pria itu kembali ke dalam rumah. Perkataan paman itu masih bergema di pikiran Liriel, dia berjalan menyusuri jalanan utama. Langkahnya terhenti, gadis itu bersandar di tembok toko. Memandangi pemandangan indah bagai ilusi milik Klan Varelis. ..... Pada waktu yang sama, di penginapan. Reiji bersandar di tepi jendela, menatap ke bawah kerumunan orang yang berlalu lalang. Suara ketukan terdengar samar, lalu seorang prajurit melangkah masuk. "Seperti dugaanmu Tuan, Viner memang pergi ke hutan tadi malam." "Kami belum mengetahui dengan cara apa dia bisa keluar hutan. Tapi menurut beberapa saksi ada orang lain yang masuk bersama dengannya." Prajurit itu melaporkan semua penyelidikan yang sudah ia kumpulkan. "Mm." Reiji mengetuk tepi jendela dengan jarinya. "Terus selidiki." "Baik Tuan," jawabnya. "Tuan utusan dari kerajaan akan segera sampai." Melihat Reiji melambaikan tangan, prajurit itu menunduk dan segera pergi. Beberapa saat kemudian, langkah kaki ringan dan lincah menerobos masuk ke dalam ruangan. "Reiji, aku sudah melakukan semua yang kau suruh," kata seekor rubah kecil. "Jangan lupakan janjimu." "Tentu saja. Aku selalu menepati janji," jawab pria itu sambil menoleh ke belakang. "Terutama janji pada adikku sendiri." Seliora menyipitkan mata, tidak senang dengan ejekan pria itu. "Adik? Hah! Lebih dari siapa pun kau tahu kebenarannya." "Haha." Reiji tertawa, senang melihat ekspresi marah rubah kecil itu. "1 hari, hanya itu yang bisa aku berikan." Seliora menundukkan kepala, matanya meredup. Dia tahu 1 hari adalah waktu terlama yang bisa Reiji berikan padanya, lebih dari itu mereka akan curiga kalau dia pergi. "Cukup, jangan serakah," gumam rubah kecil itu. Dia mengangguk pada Reiji lalu melesat pergi. Langkahnya berhenti sejenak saat melihat seorang gadis berdiri di depan toko, memandangi kerumunan. Rubah kecil itu menatapnya, lalu memejamkan mata. "Maaf."Theron berjalan dengan waspada di samping Lucian. Mengawasi setiap gerakan di sekelilingnya.Baju zirahnya sebagian terkoyak dengan balutan perban yang terlihat menempel di kulit. Di depannya, Lucian tampak tidak terganggu di hutan ini.Pakaiannya masih bersih tak ternoda. Dia tampak santai di tengah ilusi yang terkadang bisa menjebak Theron.Keheningan yang damai ini mendadak pecah akibat suara napas kacau disertai langkah kaki tergesa-gesa.Theron mengeratkan genggaman pedangnya, menatap tajam ke arah asal suara. Beberapa detik kemudian, bulu oranye kemerahan menyala melompat keluar dari semak-semak.Seekor rubah kecil menabrak pohon terdekat. Rubah itu mengerang pelan sambil menggumamkan sesuatu.“Sungguh sial, ini ketiga kalinya aku menabrak...”“Aduh, kepalaku sakit,” tambahnya sambil mengusap kepala berbulunya.Dia menguap lebar, rasa kantuk menyerbu. Dari kemarin Seliora tak sempat tidur, untuk anak 5 tahun, sepanjang waktu itu cukup berat.Seliora merentangkan tubuh, lalu menj
"Hapus pandangan iba itu dari matamu. Mereka tidak butuh dikasihani, baik Viner maupun Belia jauh lebih kuat dari yang kau kira. Dan—" Suara Reiji mendadak terhenti, tatapannya melihat kejauhan ke tempat Viner berada.Refleks, Liriel menoleh, memelototi pria itu tidak senang sambil mendengus. "Aku tidak merasa kasihan!""Aku hanya... ingin memastikan dia baik-baik saja. Itu bukan kasihan!” Gadis itu memalingkan wajah, dengan tangan terlipat di dada dan wajah tertekuk.Reiji diam memperhatikan gadis itu berjalan pergi meninggalkannya dengan marah. Bibir merahnya terbuka dan menutup, melontarkan semua omelan.Tanpa sadar, sekilas senyum melintas di wajahnya. Reiji melirik ke belakang sejenak sebelum bergegas mengikuti Liriel, mencegah gadis itu tersesat di hutan ilusi ini.“Hati-hati, jika terus cemberut nanti cepat tua." Pria itu menusuk pipi Liriel dengan ujung jarinya, terkekeh pelan saat ia merasakan tubuh gadis itu sedikit kaku.Liriel menepis tangan Reiji, mendengus sekali lagi. N
Kelopak mata Viner perlahan terbuka. Cahaya samar jingga dari sela-sela dedaunan menampakkan kilau keemasan di ujungnya. Matahari perlahan bangkit untuk menyinari hari baru.Dia berkedip beberapa kali, menyipitkan mata menyesuaikan pandangannya. Perlahan dia menengadah, mencoba mencari tahu di mana ia berada sekarang.Seketika itu juga, dia membeku saat melihat gadis yang selama ini ia rindukan tengah menatapnya dengan senyum manis.Viner bisa merasakan bagaimana jari-jemari gadis itu mengusap lembut rambutnya. Ia tak kuasa menahan napas, tanpa sadar air mata merembes keluar.Namun, Viner tak sedetik pun berkedip seolah takut kekasihnya akan hilang bagai malam-malam biasa saat ia merindukannya dulu."Kenapa menatapku begitu? Ada sesuatu di wajahku? Atau..." Gadis itu berhenti sejenak, lalu dengan wajah cemberut ia kembali berkata, "Aku sudah tidak cantik lagi?""Hah? Tidak!" sangkal Viner tegas. Dia buru-buru bangkit ingin menjelaskan. Namun, rasa sakit di tubuhnya membuat pria
Setiap detik yang berlalu suhu di sini semakin menurun. Liriel memeluk dirinya, tubuhnya bergetar. Dia mendekati Reiji lalu memeluk erat lengan pria itu, mencari kehangatan di sana. "Bukannya kau itu makhluk laut, ya? Suhu segini saja sudah menggigil," ejeknya sambil melepaskan Liriel dan menghindar kesamping. Kedua alis Liriel berkerut erat, kesal dengan gerakan menghindar pria itu. Dia menggertakan gigi sebelum menerkanya. "Jangan bergerak! Sebagai rubah dengan banyak bulu, kamu tidak berhak menghakimiku." Dengan lihai Reiji mundur selangkah, membiarkan gadis itu terhuyung dan menggeram marah. Seringai tersungging di wajahnya. "Sigh... sekarang seorang pria harus pandai menjaga diri, apalagi dari gadis aneh yang selalu ingin memanfaatkannya," desahnya tak berdaya. "Hei!" Teriak Liriel tak terima. "Jangan mencuri dialogku! Dan... berhenti bergerak Reiji, biarkan aku merasakan kehangatanmu~" Sudut mata Reiji terkedut mendengar kata ambigu itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk m
Tatapan Liriel berhenti beberapa detik di punggung Reiji, sebelum ia mengalihkannya."Reiji."Jika saja pria itu tidak memiliki pendengaran yang baik, mungkin ia akan melewatkan panggilan samar yang gadis itu bisikkan.Tanpa menoleh, Reiji mengeluarkan "Mm" pelan, menjawab panggilannya.Liriel menghentikan langkahnya menatap lurus ke arah pria itu. "Bukannya sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskannya padaku?"Kibasan kipasnya terhenti sesaat, sebuah emosi melintas sekilas di matanya. Reiji tetap diam tanpa berbalik namun dia menghentikan langkahnya. "Menjelaskan apa? Ah, maksudmu tentang Seliora? Dia hanya—""Bukan itu," potong Liriel. "Ini tentang semua upaya yang kamu lakukan untuk memikatku agar masuk ke dalam hutan."Melihat pria itu membuka mulutnya lagi untuk kembali mengalihkan perhatiannya. Tak akan Liriel biarkan, ia segera menyela."Jangan mengelak Reiji, sejak awal aku sudah merasakan ada yang aneh tentang semua ini," ujarnya dengan percaya diri.Melihat pria itu diam t
Liriel menarik napas, matanya berkedip pelan, setengah wajahnya terangkat dari air setengahnya lagi ia biarkan tetap di dalam. Gadis itu diam mengamati Reiji di sisi sungai yang tengah berbincang dengan Seliora. Tanpa sadar secuil senyum tipis terukir di bibirnya, tatapan gadis itu melembut. "Kamu pintar sekali membuatku bingung, mana dirimu sebenarnya?" bisiknya samar terbawa arus sungai.Ia kembali membenamkan wajahnya ke dalam air. Membiarkan tubuhnya terombang-ambing oleh arus sungai. Sementara di tepi sungai, tatapan Reiji menajam melihat kekeraskepalaan rubah kecil di hadapannya. Ia memijat pangkal hidungnya sambil mendesah pelan. "Kau tahu jelas, aku tidak bisa membantu lebih dari ini.""Aku tahu! Aku tidak akan meminta lebih. Jadi..." Rubah kecil itu terus menatap pria di depannya. "Aku mohon Reiji. Hanya satu hari lagi— Tidak setengah hari atau satu jam juga tidak apa-apa.""Aku hanya..." Suaranya bergetar, ia menundukkan kepala. Dengan mata memerah menahan air mata, Seli
"Mau sampai kapan kamu di sana? Cepat turun," kata gadis itu sambil menatap tajam satu pohon tak jauh darinya. Keheningan menyelimuti hutan, hanya suara dedaunan bergesekan dan hembusan angin lembut yang terdengar. Matanya menyipit, senyum penuh makna merekah di wajah cantiknya. "Masih tidak mau
Suara langkah kaki panik memecah keheningan hutan. Seorang gadis berlarian di antara semak dan pohon, keringat bercucuran di wajah cantiknya. [BERHENTI!] Langkah gadis itu seketika terhenti, mengakibatkan gadis itu hampir terpental. "Apa lagi kali ini?" Dia terengah-engah, menyeka keringat di pi
"Kamu masih marah? Reiji~" Liriel mengetuk pelan punggung pria itu dengan jarinya. "Tidak," ketus Reiji tanpa menoleh. Pipi Liriel mengembung, melihat ketidakpeduliannya. Gadis itu terus mengetuk punggungnya dengan kekuatan yang semakin besar. Tepat saat Reiji berbalik dan ingin marah, ia tidak
Cahaya matahari bersinar lembut, menerpa kesibukan di ibu kota Varelis. Liriel bersandar di tepi jendela memperhatikan semua itu. Sampai akhirnya deritan pintu terbuka, mengalihkan perhatiannya. Seekor rubah kecil berlari dan melompat-lompat sebelum berdiri di samping gadis itu. "Kak Liriel bagaim







