Se connecter
Di tengah rerumputan, terbaring seorang gadis muda. Rambut panjang bergelombang dengan warna perak kebiruan transparan, tergeletak di rumput di dekatnya. Siulan angin membuat bulu mata gadis itu bergetar.
Lalu kelopak matanya mulai terangkat, memperlihatkan sepasang mata berwarna ungu muda bercampur biru laut, seperti cahaya misterius di kedalaman samudra. Dipenuhi kabut dan tampak linglung. “Di mana ini?” Suara gumaman lembut dan merdu terdengar sebelum lenyap terbawa angin. [Ding! Selamat Tuan Rumah sudah terikat pada sistem dunia binatang. Saya 114 siap melayani Tuan Rumah.] Suara muda dan kekanak-kanakan terdengar nyaring. Gadis itu terdiam sejenak, lalu dengan kaku memperhatikan sekelilingnya. “Sistem? Apa itu.” [Sistem adalah esensi kecerdasan buatan dewa semesta yang memiliki tugas untuk membantu menstabilkan dunia-dunia kecil.] Gadis itu beranjak duduk, tangannya menopang kepala yang terus berdenyut nyeri. “Lalu di mana kamu? Aku hanya mendengar suaramu tapi tidak dengan tubuhmu.” [Aku terhubung langsung dengan jiwamu, jadi aku tidak memiliki tubuh fisik. Namun, Tuan Rumah bisa berbicara dalam pikiranmu secara langsung, karena aku bisa mendengarnya.] Tanpa mereka sadari cahaya keemasan samar berkedip di mata gadis itu lalu menghilang sedetik kemudian. “Mm, baiklah. Kalau begitu. Apa kamu tahu… siapa aku?” [Tentu, host bisa melihat data dirimu di sini. Nama : Liriel. Usia : 18 tahun. Asal : Dunia Binatang. Ras : Ubur-ubur. Data ini sangat akurat. Namun, host mengapa kamu menanyakan ini? Apa kamu tidak ingat siapa dirimu sendiri?] Suara kekanak-kanakan itu terdengar bingung. Gadis itu tidak menjawab hanya memperhatikan dengan linglung panel sistem yang menampilkan identitasnya. “Liriel…,” bisik gadis itu pelan. “Terdengar familiar tapi aku tidak ingat apapun tentangnya.” [Host, kamu kehilangan ingatanmu!] Gadis itu memiringkan kepalanya, tidak mengerti mengapa suara sistem terdengar panik. “Sepertinya begitu– sudahlah, kalau hilang ya hilang.” Liriel berdiri, meregangkan tubuhnya sebentar. Lalu tatapannya menyapu sekeliling dengan rasa ingin tahu dan antisipasi kuat. “Dimana kita sekarang? Apa ada yang harus kita lakukan?” Daun-daun maple merah menyelimuti langit seperti lautan api yang membeku. Saat angin berhembus, helai-helai itu jatuh perlahan, berputar di udara sebelum menyentuh tanah yang lembap dan sunyi. [Tunggu sebentar Host, aku akan melaporkan masalah hilangnya ingatanmu dulu, jangan kemana-mana.] Setelah itu, Liriel bisa merasakan dengan samar, hilangnya sesuatu dalam dirinya. Namun, ia tidak terlalu peduli. Matanya berbinar melihat buah bergoyang pelan dari pohon di dekatnya. Dia berlari kecil, menghampiri pohon itu. Rambutnya memantul-mantul mengikuti gerakan melompatnya, setiap helainya tampak ringan dan mengalir, bergerak lembut. pakaian yang gadis itu gunakan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah dan menawan. Kulitnya pucat bening dengan semburat mutiara, memberi kesan rapuh namun memikat. Mata ungu muda tercampur biru lautnya berbinar-binar, gadis itu terlihat begitu cantik. Senyum merekah diwajahnya, saat akhirnya ia berhasil mengambil buah. "Hm~" Liriel bersenandung senang, tangannya dengan cekatan mengambil beberapa buah lagi. [Host aku kembali.] Setelah mengunyah habis buah lezat ini. Liriel akhirnya memperhatikan sistem yang sudah mengoceh banyak hal padanya. "Hah? Siapa yang harus kubunuh?" Liriel tak bisa menahan seruan kaget. [Sang Raja. Huft...] Sistem menghela napas. [Aku juga tidak tahu mengapa kamu harus membunuh sang Raja untuk mendapatkan kembali ingatanmu.] Liriel memandang hamparan rumput tempat ia bangun lalu ikut mendesah. "Pertanyaannya sekarang bagaimana aku bisa membunuh Raja, kalau aku saja tidak ingat siapa diriku." Sistem tertawa riang dan menjawab penuh kemenangan. [Tenang saja Host, aku sudah mempersiapkannya! Kita bisa meminjam kekuatan dari tujuh pejuang hebat.] "Kamu yakin? Menyuruh mereka meminjamkan kekuatan untuk membunuh Raja yang mereka yakini?" tanya gadis itu. Tawa sistem seketika berhenti. [Umm... benar juga. Namun kita tidak bisa menyerah begitu saja! Kalau tidak Host akan hidup tanpa ingatan selamanya!] Liriel menghela napas, senyum tipis tersungging di wajahnya. Meskipun dia sendiri tidak terlalu peduli dengan ingatannya yang hilang. Namun mendengar semangat membara sistem membuatnya tertarik. Gadis itu berjongkok, mengambil ranting dan menebas-nebas rumput. "Baiklah, kamu punya saran agarmereka mau meminjamkan kekuatannya?" Sistem merenung. [...Sebenarnya, segalanya mungkin. Namun, aku sarankan agar Host menaklukkan mereka saja.] Menaklukkan? Mata Liriel berkedip, sedetik kemudian pupil ungu muda tercampur biru laut itu berbinar cemerlang. Spontan ia berdiri, dengan semangat membara gadis itu berseru, "Bagus! Ayo kita taklukan mereka!" Melihat itu Sistem ikut berseru. [Ayo!] .... Bangunan-bangunan tinggi menjulang dari akar dan batang pohon raksasa, dindingnya dari kayu gelap yang dipoles halus, jendelanya memantulkan cahaya hangat seperti bara api. Jembatan-jembatan lengkung menghubungkan satu menara ke menara lain, melayang di antara kanopi merah. Kota itu diselimuti kabut tipis, dengan daun merah berguguran membuat orang ingin mengelurkan tangan untuk menyingkirkan tabir tipis itu sekaligus merasa kagum dan penasaran akan misterinya. "Wow," seru gadis itu. Dengan perasaan terkagum-kagum, satu ubur-ubur dan satu sistem bergegas memasuki kota. Tanpa memperhatikan sepasang mata coklet kemerahan mengintip dari balik pohon. "Di sini kau rupanya." Suara serak dan merdu seorang pria mendekati pemiliki mata itu. Seekor rubah kecil melompat keluar dari balik pohon, dengan kaki kecilnya bergegas lari. Namun tangan pria itu bergerak lebih cepat dan berhasil menangkapnya. "Dasar gadis nakal, mau pergi kemana lagi kau." "Ying! Le-lepaskan," teriak rubah kecil itu, meronta-ronta. "Reiji bau, lepaskan." Pria itu tersenyum tipis, telapak tangannya menampar punggung rubah kecil itu. "Panggil aku kakak!" "Hm?" Reiji berhenti sejenak, hidungnya mengendus udara. "Laut...? Aneh sekali, sejak kapan suku kami kedatangan tamu langka ini." "Ayo pulang," kata pria itu sambil memangku rubah kecil ditangannya. ... Liriel memandang ke sana kemari penuh rasa ingin tahu, berlari-lari kecil melewati kios dipinggir jalan. Mulut kecilnya terus mengeluarkan seruan kagum. Sampai teriakan panik menyela perhatiannya. "Awas!" Refleks Liriel menoleh, seekor rubah kecil menghantam perutnya dengan kecepatan tinggi. "Ugh! Aduh–" "Ying, ying... kamu baik-baik saja? Maaf," ucap rubah kecil itu panik. Liriel memegang perutnya, merintih kesakitan. Dia mencoba untuk berdiri, sambil menopang rubah kecil yang sudah menangis di pelukannya. "Seliora!" Suara marah seorang pria terdengar nyaring, dengan langkah tergesa-gesa pria itu berlari mendekat. "Sudah berapa kali kubilang, jangan lari dijalan!" Rubah kecil itu berbalik, matanya berbinar melihat pria itu. "Wuuu... Reiji." Reiji segera memeluk sadara perempuannya, menenangkannya. "Jangan menangis, ini salahmu sendiri karena nakal." Liriel yang sedari tadi tidak diperhatikan, mengangkat tangannya. "Ugh... maaf mengganggu tapi bisakah kamu membantuku dulu?" Seliora melompat dulu, matanya memerah dan masih berkaca-kaca. Memperhalitan kakaknya membantu gadis yang dia tabrak berdiri. "Maaf atas kecelakaan ini Nona," ucap pria itu dengan nada menyesal. "Aku pasti akan menghukumnya saat kembali nanti." Gadis itu menarik napas, perutnya masih terasa sakit meskipun tidak separah tadi. Setelah menenangkan diri, akhirnya dia mendongak. Saat itu tatapannya membeku. Rambutnya merah kecokelatan jatuh berantakan namun tetap rapi, dipasangkan dengan sepasang mata keemasan cerah. Senyum tipis di sudut bibir dengan anting merah bergoyang mengikuti gerakannya. Bajunya memperlihatkan setengah kulit berwarna putih, dengan otot perut yang samar terlihat. Pria itu terlihat sangat tampan membawa pesona liar namun menawan. [Ding! Selamat Host sudah menemukan salah satu dari tujuh target!]Liriel mendongak, keningnya mengernyit erat. "Reiji, ketemu tidak?" Teriakan itu membuat pria yang tengah berdiri di dahan pohon tinggi tersebut ikut mengernyitkan pelipisnya. Namun, Reiji tetap diam, memilih fokus menajamkan indranya untuk mencari. Gadis itu mendesah pelan, menggosok-gosok keningnya yang mulai terasa pening. Ia kemudian mengalihkan perhatian pada rubah kecil di hadapannya. "Bagaimana denganmu, Seliora?" Seliora membuka matanya, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi murung. Respons itu membuat Liriel kembali mengembuskan napas berat. "Ke mana Belia pergi?" gumam Liriel frustrasi. Tepat saat itu, Reiji membuka matanya. Ia melompat turun dari dahan pohon dengan gerakan seringan bulu, lalu berkata pelan, "Aku menemukannya." Mata gadis itu langsung berbinar cerah. Ia bergegas menghampiri pohon tempat pria itu berada. "Kalau begitu, ayo kita ke sana!" Reiji tidak langsung menjawab. Ia menatap Liriel dengan pandangan yang teramat dalam. Tanpa disadar
Liriel berjalan sambil memeluk erat boneka rubahnya. Sesekali ia melirik ke samping. Di sana Reiji berjalan santai sambil mengibas-ngibaskan kipas merahnya. Liriel diam menatap pipi Reiji beberapa saat. Bekas merah akibat tamparan tadi sudah jauh memudar.Gadis itu menghela napas lega. Untung saja Reiji tidak marah. Tadi dia benar-benar mengira hidupnya akan berakhir."Reiji?" panggil Liriel tiba-tiba."Hm?" Reiji berdehem, tanpa mengalihkan pandangannya. Gadis itu menatapnya beberapa detik sebelum berkata dengan serius. "Apa pipimu masih sakit?"Alis pria itu terangkat, ia sedikit memiringkan kepala. "Apa? Merasa bersalah?""Tidak," jawab gadis itu sambil menggelengkan kepala. "Hanya saja, tanganku sakit sekali. Sebenarnya wajahmu terbuat dari apa? Begitu keras saat kutampar, menyakiti tanganku."Pria itu terdiam, rahangnya mengatup. Dia memejamkan mata sejenak, mengatur napas. Reiji menoleh, senyum manis tersungging di bibirnya. Suara melembut saat ia berkata. "Luar biasa. Setela
Udara malam semakin dingin. Bulan tidak lagi bersembunyi di balik awan, seolah kini berani menampilkan wujudnya dan menerangi seluruh hutan. Liriel dan Belia masih berjalan ke arah yang ditunjukkan rubah kecil itu. Namun kali ini perjalanan mereka tidak dipenuhi obrolan. Hanya keheningan malam yang mengisi ruang di antara mereka. Di satu titik, Liriel menghentikan langkahnya. Tatapannya menyapu sekitar dengan waspada. Dia ingat sekarang. Baru siang tadi ia berada di tempat ini bersama Reiji. Raungan binatang yang didengarnya saat itu masih jelas terngiang di benaknya, penuh amarah dan niat membunuh, namun entah kenapa juga menyimpan kesedihan aneh di dalamnya. "Hati-hati, tempat ini dekat dengan binatang buas berbahaya," ucapnya memperingatkan. Mendengar itu, Belia dan Seliora ikut menegang. Mereka mengamati sekeliling dengan hati-hati. Namun beberapa saat berlalu dan hutan tetap tenang tanpa tanda-tanda bahaya. [Host, apa kamu lupa? Tempatmu terpisah dengan Reiji waktu itu masi
"Jadi sudah berapa lama kamu di sini?" Liriel menoleh, bertanya penasaran. Mereka bertiga berjalan beriringan. Hutan tak lagi terasa sunyi dan senyap. Belia bersenyum tipis tidak langsung menjawab, matanya berkedip. "Aku tidak ingat sudah berapa lama. "Setelah merenungkan jawaban gadis itu, Liriel menepuk keningnya. "Oh! Apa kamu kehilangan ingatanmu juga?""Mm? Tidak," jawab Belia, menggeleng kepala.Meringkuk dalam pelukan Liriel. Seliora menguap, kelopak matanya sedikit berat. Namun ia segera menggeleng-geleng kepala mencegah dirinya tertidur. Rubah kecil itu ikut bertanya. "Kenapa tidak kembali ke kota? Tinggal di hutan ini apa kamu tidak takut?""Tidak." Lagi-lagi Belia menyangkal. "Aku sedang menunggu seseorang. Dia berjanji akan menjemputku."Liriel mendekatinya dengan mata berbinar. "Siapa itu? Jangan-jangan... kekasihmu?"Gadis muda itu diam sejenak, di bawah tatapan membara Liriel. Wajahnya memerah malu saat perlahan ia mengangguk. Mata Liriel semakin berbinar, tatapanny
"Haah... haah..." Seekor rubah kecil berlari gesit melewati semak dan pepohonan, membawa tas kecil berwarna cokelat di punggungnya. Napasnya tersengal-sengal saat ia memejamkan mata agar tidak terkecoh oleh ilusi. Sosok kecil itu terus berlari, bahkan ketika terjatuh. Seliora langsung bangkit dan melanjutkan langkahnya. "Sebentar lagi, hanya sedikit lagi. Haah..." Rasa sakit di kakinya perlahan memudar saat ia membayangkan akan kembali bertemu dengan orang itu. Senyum merekah di bibirnya. Pipi rubah kecil itu sudah basah oleh air mata, suaranya bergetar saat ia berkata, "Kita akan segera bertemu kembali... Mama." ..... Bulan mengintip dari balik awan, sinarnya menembus dedaunan dan membentuk bayangan samar di tanah. Desir angin malam membawa rasa dingin. Liriel berjalan pelan melewati pepohonan maple yang menjulang tinggi. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon, sesekali menyentuh ujung gaunnya sebelum menghilang perlahan. Ia terus menyusuri hutan mencari p
Kabut tipis menyelimuti jalanan hutan saat Viner berlari menembus gelap malam. Napasnya berat dan kacau, ranting-ranting patah di bawah langkah tergesa pria itu. "Belia!" serunya lagi. Suaranya menggema di antara pepohonan maple merah kehitaman. Tidak ada jawaban. Hanya suara angin dingin yang berhembus melewati dedaunan. Viner menghentikan langkahnya, mengatur napas lalu memperhatikan sekeliling. Mencoba menemukan jejak gadis itu. Entah berapa lama ia mencari dan berkeliaran ke sana kemari. Viner menyandarkan tubuh pada pohon, rasa perih yang menyengat menyerbu matanya. Pandangannya mulai kabur saat air mata kembali berjatuhan. 5 tahun ia habiskan dalam penyesalan, sekarang saat akhirnya ia menemukan secerah harapan. Mana mungkin dia mau menyerah begitu saja. Viner tidak ingin mengulangi penyesalan hari itu. "Belia tunggu sebentar lagi, aku pasti akan menemukanmu." ..... Senyum manis tersungging di wajah Liriel, angin malam membelai lembut kulitnya. Dia berjalan beriringan d







