Accueil / Romansa / Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku / Bab 160. Sayang, Kumohon Jangan Seperti ini

Share

Bab 160. Sayang, Kumohon Jangan Seperti ini

Auteur: Te Anastasia
last update Dernière mise à jour: 2025-12-12 14:29:39

Sementara di tempat lain, Maxim panik sepeninggal Margaret. Ia bangun dalam keadaan tiada Margaret di sampingnya.

Maxim bertanya pada semua orang, ia juga marah pada Nyonya Letiti—Kepala Pelayan yang sudah bekerja bersama keluarga Valdemar sejak Maxim masih bocah. Maxim memarahi wanita itu karena ia anggap Nyonya Letiti ceroboh tidak mengunci pintu rumah.

Tapi Maxim tidak diam saja. Ia pergi ke Yards dan berharap bisa menemukan Margaret dalam keadaan baik-baik saja di sana.

"Kita sudah samp
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
puji lestari
Dari kemarin nangis terus baca part yg diupdate hiksss
goodnovel comment avatar
Idatul Ibrahim
knp turut rasa sedih ni?? huwaaaa..
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 323. S2 Viony Adalah Prioritasku

    Setelah mendengar pengakuan Dylan tadi, malam ini Viony tidak bisa tidur. Gadis itu terjaga, bahkan rasa kantuk pun ia tidak merasakannya. Viony berbaring meringkuk di atas ranjang dan merengkuh selimut abu-abu yang ia gunakan untuk menutup tubuhnya. Saat Viony masih terjaga di balik selimutnya, tiba-tiba saja gadis itu terkejut saat penerangan di dalam kamar mati. "Heh?" Viony tersentak. Sontak gadis itu langsung bangun dan duduk. Viony mengerjapkan kedua matanya pelan saat mendapati Dylan yang masuk ke dalam kamar. Pria itu menatapnya, ia berjalan ke arah ranjang mendekati Viony. "Kenapa belum tidur, hm?" tanya Dylan, ia mengulurkan tangannya mengusap pucuk kepala Viony. Gadis itu menggelengkan kepalanya, wajahnya tampak pucat dan polos. "Aku belum mengantuk, Kak." Kening Dylan mengernyit. “Kenapa kau sangat pucat?” Ia meletakkan telapak tangannya di kening Viony, ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Viony. "Badanmu panas lagi, Viony," ujar Dylan. "Akhir-akhir ini aku s

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 322. S2. Isi Hatiku Padamu

    Hujan masih mengguyur kota Barchen hingga sore hari. Saat ini, Viony dan Dylan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Viony menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. Gadis itu termenung, terdiam, dan jemari tangannya saling meremas dengan cemas. "Viony...." Dylan mengulurkan tangannya meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Kau kenapa?" tanyanya. Viony menoleh dan tersenyum tipis menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Hanya mengantuk saja, Kak," jawabnya sambil menyilakkan poni rambutnya. Dylan mengembuskan napasnya pelan, ia menarik pundak Viony dan meminta gadis itu untuk bersandar padanya. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu saat kita sampai di apartemen nanti," ujar Dylan tertunduk menatapnya. Dengan pelan Viony mengangguk. Setelah itu, Dylan melingkarkan kedua tangannya dan memeluk Viony dengan hangat. Viony meletakkan satu tangannya di dada Dylan. Sepasang matanya mengerjap dan sayu bercampur rasa kantuk. Kadang Dylan terlihat dingin padanya, kadang sangat hang

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 321. S2. Kesepakatan Viony dan Dylan

    Viony dan Dylan pergi ke Linchen setelah mereka berdua pulang dari kediaman orang tua Dylan. Viony ingin melihat kondisi Papanya. Ia juga tidak sabar ingin memeluk Mama dan Papanya. Begitu tiba di rumah sakit, mereka berdua turun bersama. Dylan merangkul pundak Viony dan sesekali meliriknya. "Kau keberatan menikah denganku, 'kan?" tanya Dylan tiba-tiba. "Tidak," jawab gadis itu cemberut. "Tolong jangan bahas ini sekarang, Kak Dylan." Pria tersenyum dan mengecup pucuk kepalanya. "Baiklah, Sayang." Seperti embusan udara yang hangat menyelimuti Viony saat panggilan Sayang terucap dari bibir Dylan pada gadis itu. Namun tetap saja, Viony tampak cemberut meskipun satu lengannya melingkar memeluk tubuh Dylan. Mereka masuk ke dalam koridor rumah sakit. Di depan sana, Viony melihat Kalix duduk di bangku tunggu di depan. "Paman Kalix!" pekik Viony melambaikan tangannya. Dengan langkah tertatih-tatih, Viony melepaskan pelukannya pada Dylan dan berjalan ke arah pria itu. "Nona, kenapa

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 320. S2. Aku Mau Menjadi Istrimu

    "Ti-tidur dengan Kakak?" Sepasang mata indah milik gadis cantik itu berkaca-kaca. Dylan menatapnya tanpa senyuman sedikitpun. Sengaja ia menawarkan hal gila pada gadis itu, toh ujung-ujungnya juga sama. Ia akan memiliki Viony dengan seutuhnya. "Kalau kau tidak mau, tidak masalah. Kau pasti bisa mencari bantuan dari orang luar, 'kan?" Dylan berjalan ke arah kamar mandi. "Tapi ... pikirkan kondisi Papamu, Viony." Pintu kamar mandi tertutup rapat meninggalkan Viony yang terduduk di tepi ranjang meremas berkas di tangannya itu. Kedua mata Viony berkaca-kaca, apa yang harus ia pilih? Mengingat kondisi Papanya sekarang, perusahaan bisa hancur lebur kalau menunggu Papanya pulih. "Tidur," lirih Viony. "Tidur dengannya? A-apa yang dilakukan dalam kata tidur itu?" cicitnya sendu. "Kenapa dia mempermainkanku seperti ini?" Tak berselang lama, Dylan keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu melihat Viony menangis tanpa suara, berdiri di depan dinding kaca di depan sana, memunggungi ke arah Dy

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 319. S2. Keduanya Sama-sama Untuk Menjebak Viony

    Viony pikir, Dylan akan sungguh mengajaknya ke Linchen semalam, tetapi ternyata mereka berdua justru sama-sama tertidur. Udara pagi yang hangat di dalam kamar apartemen, selimut tebal yang menyelimuti tubuh Viony, juga pelukan erat dari belakang melilit perutnya. "Enggh...." Viony meregangkan otot tubuhnya, sebelum kedua matanya terbuka perlahan-lahan. Gadis itu melotot saat menyadari semalam penuh ia tidur dalam pelukan Dylan. "Astaga, apa-apaan ini?" lirih gadis itu antara bingung dan frustrasi. Perlahan-lahan Viony memutar tubuhnya menghadap Dylan yang masih memejamkan kedua matanya. Dari jarak yang sangat sedekat ini, Viony menyadari bahwa Dylan tanpa kacamata sangat mirip dengan Alvano, tetapi ... telunjuk Viony perlahan menyentuh pipi Dylan. Lesung pipi saat tersenyum yang menjadi perbedaan yang sangat mencolok antara Dylan dan Alvano. Viony tersenyum samar dan tipis, saat pria menyeramkan ini terlihat tidak garang saat tertidur pulas. "Heeehhh ... bagaimana melepaskan p

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 318. S2. Tidur dan Memelukmu Dengan Erat

    "Minum obatnya dan kembali istirahat." Kalimat itu terucap dari bibir Dylan, bersamaan dengannya meletakkan beberapa butir obat di hadapan Viony. Gadis itu segera meminumnya dengan cepat, berharap demamnya segara turun. "Viony, kalau kau sembuh, aku akan mengajakmu ke pameran kota minggu depan," ujar Levino tersenyum manis menatap gadis itu. "Iya, Levino. Tapi tunggu Papaku sembuh," jawab Viony tampak sedikit murung. "Jangan sedih ... aku ada di sini denganmu, kalau kau butuh apapun, aku—""Pulanglah, Lev!" seru Dylan tiba-tiba. Ia menatap sang adik yang terkejut mendengarnya. Tak hanya Levino, bahkan Viony langsung ikut menoleh dan menatapnya serius. "Ke-kenapa, Kak?" tanya Viony menatap Dylan yang tiba-tiba mengusir adiknya. "Kau harus istirahat," jawabnya. "Tapi, aku sudah baikan, Kak Dylan...." "Viony tidak masalah, kenapa Kakak yang sewot?!" pekik Levino, sebal ia pada Dylan. Tanpa basa-basi, Dylan beranjak dari duduknya dan merangkul Viony diajaknya bangun. Dengan pe

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status