Share

Bab 36. Nenek, Maafkan Aku

Penulis: Te Anastasia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-23 10:02:46

Setelah membujuk sang Nenek untuk beristirahat, Marieana berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang dulu bertahun-tahun ia tempati.

Aroma ruangan itu masih sama, wangi lavender yang menyengat, dan barang-barangnya masih tertata rapi di tempat-tempat semula sebelum ia pergi.

"Kamarku," lirih gadis itu tersenyum berjalan mendekati ranjang yang masih tertata rapi.

Marieana membuka jendela kamarnya, pemandangan hutan-hutan kecil dan suara kicauan burung srigunting bersahutan di sekitar sana mengobati rasa rindunya. Suara aliran sungai kecil dan danau kecil yang berada tak jauh dari rumahnya juga terlihat jelas. Taman bunga yang bertahun-tahun menjadi sumber penghasilan Neneknya, juga masih dirawat dengan baik oleh Bibi Erica.

Lengkungan senyuman terukir di bibir Marieana. Gadis itu menoleh ke arah meja belajar di sebelahnya. Di sana, ia melihat figura foto berisikan fotonya saat masih kecil bersama kedua orang tuanya. Menatap foto itu hanya akan membawa Marieana mengingat keluka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 232. Pengirim Bunga dan Surat Sarkastik

    Margaret duduk lama di atas kursi roda, menggendong bayi mungilnya dan memberikan ASI untuk pertama kalinya pada si kecil Baby Viony. Baik Margaret maupun Maxim tidak ada yang tahu, apa warna mata si mungil ini, karena Viony selalu tertidur sepanjang hari. Apakah dia memiliki manik mata biru seperti Margaret, atau hitam seperti milik Maxim?"Sssttt ... ya ampun! Ternyata sakit sekali!" Margaret meringis kesakitan saat bayi kecil itu menyesap ASI. "Ya ampun, Sayang." Margaret mengelus kening putri kecilnya. Meskipun ini pertama kali untuknya memberikan ASI untuk bayinya, dan ternyata rasanya sangat sakit. Margaret tidak mau berhenti, ia tetap memberikan ASI untuk putri kecilnya. Karena ia ingin menjadi ibu yang baik untuk anak kesayangannya. "Sayang, kalau sangat sakit lebih baik tidak usah—""Tidak apa-apa," sela Margaret cepat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menatap bayinya yang menyesap ASI dengan kuat.Margaret tersenyum lembut menahan sakit. "Dulu, waktu aku masi

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 231. Selamat Datang Ke Dunia, Baby Viony

    "Tuan, apakah kabar kelahiran Nona kecil tidak akan Tuan umumkan? Biasanya ... rekan-rekan kerja Tuan selalu mengadakan acara setiap mereka memiliki bayi yang baru lahir." Logan menatap Maxim yang kini duduk di sampingnya. Dengan suara berbisik, mereka duduk di luar kamar rawat inap Margaret. Helaan napas panjang menjadi jawaban pertama dari Maxim atas pertanyaan Logan barusan. "Entahlah. Sepertinya nanti," jawabnya tenang. "Yang terpenting sekarang adalah kondisi istriku. Dia harus segera pulih terlebih dahulu." "Iya, Tuan." Maxim tertunduk, ia menatap ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebelum akhirnya laki-laki berbalut jas berwarna navy itu beranjak dari duduknya. Langkah Maxim menuju ke arah kamar rawat inap Margaret. Ia membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk ke dalam menghampiri istrinya yang baru saja bangun. "Kau tidak lapar, Sayang?" tanya Maxim, mengusap kening Margaret. "Heem," jawab Margaret bergumam dan mengangguk. "Aku ingin makan bubur

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 230. Semakin Sayang Aku Padamu

    Kondisi Margaret benar-benar melemah setelah melahirkan. Ia dan bayinya dipisah kamar untuk beberapa waktu. Sementara Maxim sibuk mengurus banyak hal tentang berkas rumah sakit untuk bayinya dan juga istrinya. Begitu hari sudah menjelang sore, Maxim kembali ke dalam kamar perawatan Margaret. Di sana, ia melihat Margaret yang masih terbaring dengan sepasang terpejam.Usai beberapa menit melahirkan, Margaret pingsan karena kehilangan banyak darah dan tubuhnya semakin melemah hingga butuh perawatan khusus. Maxim terlihat gelisah dan gundah. Ia duduk di samping Margaret dan menggenggam tangannya."Bangunlah, Sayang... Viony mencarimu," bisik Maxim dengan hati sedih. Maxim menundukkan kepalanya di samping kepala Margaret. Ia masih menggenggam tangan Margaret, dan tak terhitung berapa kali ia mengecup kening dan pucuk kepala istrinya. Dokter berkata, sore ini mungkin Margaret sudah bangun. Namun tetap saja, Maxim sangat cemas karena sang istri belum memberikan tanda-tanda sadarkan diri.

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 229. Kelahiran Putri Kita, Viony Valdemar

    Margaret terbangun saat tubuhnya merasa kedinginan. Wanita itu membuka kedua matanya dan menarik napas panjang. Setelah kesadarannya terkumpul, dahinya mengernyit bersamaan rasa nyeri seolah menyerangnya secara tajam. Perutnya sakit menjadi semakin tak tertahankan. "Akhhh..." Margaret meremas bantal di sampingnya. "Sayang!" Maxim yang baru saja masuk ke dalam kamar, ia segera meletakkan segelas air putih untuk Margaret di atas meja.Maxim segera mendekati Margaret dan merangkulnya. "Masih sakit?" tanya laki-laki itu, suaranya diselimuti rasa khawatir. "Iya, semakin sakit. Se-sepertinya aku akan me-melahirkan! Huhhh! Arrrggghh!" Margaret meremas kuat punggung Maxim. "Kita ke rumah sakit sekarang, Sayang!" seru Maxim. Laki-laki itu menyahut mantel hangatnya dan menyelimuti tubuh Margaret sebelum ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya pergi keluar dari dalam kamar. Margaret menangis kesakitan. Pasalnya, rasa sakit yang ia rasakan kini jauh lebih sakit dari biasanya. Semua tul

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 228. Aku Tidak Akan ke Mana-mana

    Malam terasa hening di kediaman Maxim malam ini. Margaret merasakan kembali nyerinya kontraksi palsu. Ia yang biasanya ditemani oleh Bibi Letiti, kali ini Margaret hanya seorang diri. Ia berjalan ke sana kemari di lantai dua, menunggu Maxim pulang meeting malam ini. "Huhh...!" Sergahan napas panjang mengudara dari bibir Margaret. Ia menyentuh perutnya yang terasa sesak, mulas, dan nyeri menjadi satu. "Ya ampun, Nak. Sudah satu jam rasanya tidak reda sama sekali," ucap Margaret, ia menyandarkan punggungnya pada pilar besar di lantai dua. Udara yang dingin di Fratz seolah tidak menyentuh Margaret. Wajahnya tetap berkeringat dan tubuhnya juga terasa lemas. "Maxim ... kenapa dia belum kembali? Dia bilang tidak sampai jam sembilan malam," gerutu Margaret kesal. Wanita itu berjalan tertatih-tatih ke arah kamar. Ia mengambil ponselnya di atas nakas dan menghubungi Maxim saat itu juga. Semakin Margaret menahan kesal, rasanya sakit di perutnya semakin terasa nyeri. "Ayo jawab, Maxim!

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 227. Mempercayai Suamiku

    Dua hari berlalu...Setelah sekian lama akhirnya Margaret kembali ke Fratz. Kota besar yang dulu menjadi bagian dari tujuan rencanannya membalas dendam, sebelum semuanya gagal total untuk ia raih sendiri, tapi setidaknya sedikit berhasil dengan adanya Maxim. Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Valdemar, Margaret tampak jemu menatap pemandangan kota besar itu. Semuanya masih sama dan tidak ada yang berubah. "Saat tiba di rumah, kau harus segera istirahat setelah makan siang," ujar Maxim menoleh pada Margaret. "Kalau kau sendiri?" Wanita cantik itu balik bertanya. "Aku akan ke kantor. Ada beberapa urusan yang harus aku urus. Dan pertemuan dengan beberapa orang," jawab Maxim menjelaskan. "Heem, baiklah." Maxim melirik Margaret yang masih diam dan menatap kembali ke arah pemandangan di luar. Rasa ragu mulai menyelimuti Maxim. Ia ingin membahas tentang perusahaan dan pertambangan milik Margaret, setidaknya, Maxim ingin sedikit saja menanyakan pada istrinya, apakah Margaret

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status