LOGIN“Maaf, karena udah bikin kamu lama nunggu,” Gavin meraih tangan Claudia dan menggenggamnya erat, lalu memusatkan perhatiannya lagi ke pusat acara.
Sementara Claudia masih berjuang menenangkan debar jantungnya sendiri, sambil sesekali tersenyum melihat bagaimana tangannya digenggam oleh tangan Gavin.
“Vin, apa ini artinya—”
“Sssttt, nanti aja. Sekarang fokus ke mereka dulu,” Gavin menunjuk Diandra dan Kara dengan dagunya.
Cl
Semalam…Claudia tidak tahu sudah berapa gelas alkohol yang ia tenggak, yang ia tahu, ia sudah hampir hilang kesadaran. Tubuhnya seperti sedang melayang, hingga ia tidak bisa membedakan lagi mana mimpi dan mana kenyataan.Ia tidak terbiasa mabuk, namun entah bagaimana malam itu, Claudia sedang ingin melakukannya. Ia penasaran bagaimana rasanya mabuk, oleh karenanya ia berani menuangkan minuman dari botol Gavin ke dalam gelasnya sendiri.“Clau, kamu mabuk?” Sebelah alis Gavin terangkat.“Cuma minum sedikit, huk,” jawabnya, yang diakhiri dengan beberapa cegukan.“Ada apa? Nggak biasanya kamu mabuk gini?” Tanya Gavin.“Lagi pengen aja,” mata Claudia setengah terpejam, menandakan gadis itu sedang berada diambang batas kesadarannya.“Minum berapa gelas tadi?”Claudia menggeleng, dan malah tersenyum lebar. Lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Gavin, menarik len
“Bisa emang, tapi kalo aku mau, itu udah terjadi dari dulu. Kita sempet LDR lama, pernah putus juga. Kalo aku kepikiran buat cari perempuan lain, kita nggak akan ada di sini sekarang.”“Janji, ya, untuk tetep sama-sama terus. Yah, meskipun keadaan aku lagi kayak gini, tapi tetep aja aku juga manusia biasa yang ingin bahagia.”“Itu dia, kebahagiaan kamu adalah prioritas aku. Jadi sesibuk apa pun aku nanti, aku akan selalu usahain untuk tetap meluangkan waktu buat kamu.”“Bener, ya?”“Promise.”“Aku nggak tau lagi deh bakal kayak apa hidup aku tanpa kamu. Dan gimana kalo pasangan aku itu bukan kamu. Mungkin aku akan sedih dan terpuruk sendirian.”“Dan itu nggak akan terjadi selama Sangkara masih ada di dunia ini. Aku nggak akan biarin kamu sedih, apalagi sampe terpuruk sendirian.”Diandra memincingkan mata untuk menganalisis wajah Kara saat berb
“Iya, dong. Pokoknya aku yang cinta banget sama kamu, titik.”Diandra mengangguk, memilih mengalah saja untuk kali ini. Karena sepertinya Kara sudah menyiapkan seribu satu alasan untuk meng-counter semua kata-katanya.“Selamat Pak Kara atas pertunangannya, semoga diberikan kelancaran hingga hari pernikahan, dan langgeng selalu sampai maut memisahkan,” ucap salah seorang kolega Kara saat memberikan selamat.“Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk hadir dan menjadi saksi di hari pertunangan kami,” balas Kara dengan senyum mengembang.Ia senang luar biasa karena orang-orang yang hadir di sana, satu per satu mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik untuk hubungan mereka kedepannya.***“Sayang, kamu ikut pulang ke rumah, kan?” Tanya Miranda, dan yang barusan ia maksud adalah pulang ke kediamannya di Garden Grove, cluster hunian elit yang hanya terdiri dari enam unit rumah s
“Maaf, karena udah bikin kamu lama nunggu,” Gavin meraih tangan Claudia dan menggenggamnya erat, lalu memusatkan perhatiannya lagi ke pusat acara.Sementara Claudia masih berjuang menenangkan debar jantungnya sendiri, sambil sesekali tersenyum melihat bagaimana tangannya digenggam oleh tangan Gavin.“Vin, apa ini artinya—”“Sssttt, nanti aja. Sekarang fokus ke mereka dulu,” Gavin menunjuk Diandra dan Kara dengan dagunya.Claudia mengangguk dengan senyum malu-malu di wajahnya.***Setelah mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang sudah berkenan hadir di acara pertunangannya. Kara mulai memasangkan cincin berlian berbentuk oval itu di jari manis tangan kiri Diandra. Namun tidak dengan Diandra, ia tidak menyematkan cincin di jari manis Kara karena lelaki itu menolak menggunakannya.Katanya, ia ingin langsung memakai cincin pernikahan saja.Diandra tersenyum, lalu mengangkat tangannya
“Sudah siap semua, mas. Tinggal nunggu rumahnya jadi aja.”“Oke, pastiin nggak ada kesalahan. Jadi surat-surat yang udah legal itu bisa langsung dikasih ke Diandra secepatnya.”“Baik, mas. Akan saya atur serapi mungkin, dijamin Mba Diandra nggak akan nyangka sama effort Mas Kara yang sebesar ini.”“Yakin? Kayaknya dia tau deh, kalo aku bisa ngelakuin apa pun buat dia.” Sebelah alis Kara terangkat ke atas.“Yakin, mas.”Kara mengangguk.“Pastiin juga nggak akan ada penolakan untuk semua hadiahnya.”“Siap, mas.”“Oke, kamu boleh keluar sekarang. Aku mau selesaiin proposalnya dulu.”Vincent mengangguk, dan segera meninggalkan kamar Kara yang sudah mirip kapal pecah itu.“Terakhir, mas. Maaf, ini nanti kamarnya ada rencana mau dibersihin nggak, ya?” Tanya Vincent sebelum benar-benar me
Claudia menahan tawa, lalu duduk di samping Kara, diikuti Gavin di sisinya. Lelaki itu melempar tatapannya ke arah dance floor, merasa kesal karena waktu kedatangannya tidak tepat, hingga akhirnya harus menyaksikan pemandangan itu lagi.“Makanya cari pacar, biar nggak gerah terus tiap liat orang lain pacaran.” Ucap Diandra seenaknya.“Doain, ya.” Ucapnya santai.“Doain… doain… kayak udah ada calonnya aja,” Diandra balas mencemooh.“Emang udah.” Jawab Gavin tak mau kalah.“Hah? Serius? Siapa?” Kali ini Diandra tak bisa menahan rasa penasarannya.Gavin punya calon pacar, itu adalah hal baru yang mencengangkan.“Rahasia! Makanya doain gue biar bisa cepet jadian sama dia,” lanjutnya, tanpa sadar melirik ke arah Claudia dengan ekor matanya.Kara menyipitkan mata. Sejauh ini instingnya tidak pernah salah. Dan baru saja ia melihat gelagat an
“Gue udah jujur… ke Diandra. Soal perasaan gue,” Claudia melihat Gavin yang tengah menarik napas panjang dan kasar. Seolah membuang semua energi negatif dari dalam tubuhnya.“Terus?”“Dengan Diandra yang sebegitu cinta matinya sama Sangkara, apa
Laki-laki yang namanya disebut itu maju beberapa langkah untuk sampai di hadapan gadisnya.“I’m back,” ucapnya dengan senyum cerah, membuat lesung pipitnya semakin cekung di pipi kirinya.“How come?” Suara Diandra terbata tak percaya.
“Selama itu?” Tanyanya memastikan.Diandra mengangguk yakin.“Kenapa? Kan, ada Vincent yang jagain kamu?” Tanyanya lagi.“Nggak asyik, ah, kalo party diikutin Mas Vincent tuh. Aku gaboleh pake baju pendek, gaboleh minum minuman yang ada
“Eh, udah-udah. Kenapa malah pada ribut, sih? Ini gue lagi deg-degan parah, loh, karena bentar lagi mau Sempro. Kalian malah sibuk berdebat.”“Dia duluan tuh yang mulai!” Seru Lavie tak mau kalah.“Ya, lo ngatain gue sombong,” Gavin tak mau kalah.







