Salah Pasangan, Tuan Muda Tak Mau Melepaskanku!

Salah Pasangan, Tuan Muda Tak Mau Melepaskanku!

last updateLast Updated : 2026-08-15
By:  Akira MaikariUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
43Chapters
249views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di saat gadis seusianya sudah menimang anak, Sekar justru terjebak dalam lingkaran setan kegagalan pernikahan. Penyebabnya bukan karena ia tak cantik, melainkan ambisi orang tuanya yang selalu mematok nilai mahar di luar nalar. Sekar pasrah, saat mantan kekasihnya enggan menolak mahar besar dan kini melamar wanita lain. Sampai ia ditarik oleh pria yang menganggapnya tunangannya. Ia pikir masalah itu selesai. Tapi, ternyata pria itu.... bos barunya! “Sebutkan berapapun mahar yang diinginkan orang tuamu, saya akan bayar sebanyak apapun yang penting istri saya adalah kamu."

View More

Chapter 1

Luka Lama yang Kembali Terulang

“Mas, kalau nanti Bapak sama Ibu bicara aneh-aneh, tolong jangan langsung diambil hati, ya?”

Sekar menatap Raden penuh hati walau suaranya agak bergetar saat mereka melangkah ke lobi hotel.

Raden tersenyum kikuk. "Iya. Tapi kamu juga jangan diem aja kalau mereka kelewatan. Aku sudah bela-belain ambil cuti ke Jogja, masa mau dipermalukan, Ya kan?" 

Sekar tertegun. Ia mengangguk pelan, merasa sedikit tertusuk mendengar keluhan Raden. 

Semua karena orang tuanya yang meminta pertemuan ini diadakan di hotel mewah. 

Katanya, “Kalau Nak Raden memang serius dan menghargai kamu, suruh dia ajak bapak ibu ke restoran hotel misalnya, tempat yang pantas untuk membicarakan masa depan. Jangan cuma di rumah, tidak elok dilihat tetangga kalau bawa orang kantoran Jakarta.” 

Sekar tersenyum tipis. Semoga harapannya benar. Semoga keluarganya tidak menguji aneh-aneh saat ia sudah mengiyakan bertemu di hotel mewah ini.

Seharusnya cukup untuk orang tuanya, kan?

Sekar tersenyum tipis. Ia mengeratkan genggamannya ke lengan Raden, pujaan hatinya selama ini. 

Namun, begitu melangkah masuk ke dalam restoran yang sudah dipesan khusus, kontras di depannya membuat Sekar makin cemas. 

Di atas meja bundar hotel yang mewah itu, ibu bapaknya tersenyum merekah.

“Sembah nuwun, Bapak, Ibu, atas sambutan hangatnya,” buka Raden setelah mereka dipersilakan duduk. 

“Maksud kedatangan saya mendampingi Sekar ke Jogja hari ini, selain untuk silaturahmi, ada niat suci yang ingin saya sampaikan.” 

Raden menjeda kalimatnya, menarik napas dalam. “Saya, Raden, bermaksud meminta izin Bapak dan Ibu untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Saya ingin melamar Sekar untuk menjadi istri saya.”

“Ya…. Mas Raden,” ucap Broto, ayahnya dengan nadanya berat. “Sebagai orang tua, Bapak tentu senang kalau ada laki-laki yang berniat baik pada anak perempuan Bapak. Apalagi Sekar ini anak pertama, perempuan satu-satunya. 

Sejak kecil kami sekolahkan tinggi-tinggi sampai bisa kerja di Jakarta.”

Laras menyunggingkan senyum penuh arti. 

“Betul, Mas Raden. Sekar ini ibaratnya bunga yang Bapak dan Ibu siram dengan air terbaik. Garis keturunan kami juga jelas, masih ada kerabat dekat dengan abdi dalem keraton. 

Tentu, dalam adat kami, pernikahan itu bukan cuma menyatukan dua orang, tapi juga menjaga kehormatan dan bobot, bibit, bebet keluarga.” Imbuh ibunya menimpali.

Jantung Sekar berdegup kencang. Pola ini sama persis seperti lamaran-lamaran sebelumnya.

Sekar sudah mulai gemetar. Ia melirik Raden, berharap pria itu tetap tenang. 

“Mohon maaf sebelumnya, Mas Raden,” lanjut ibunya sembari membetulkan letak selendangnya. 

“Kalau di keluarga kami, untuk meminang gadis seperti Sekar, ada hitung-hitungannya sendiri sebagai bentuk keseriusan dan penghormatan. Istilahnya, untuk mahar dan tali asih.”

Raden mengangguk. “Nggih, Bu. Saya sangat menghormati adat. Sebagai bentuk tanggung jawab, saya sudah mempersiapkan mahar emas tiga puluh gram, dan uang lima puluh juta untuk resepsi nanti. Semoga kiranya….”

“Wah, Mas Raden….” Broto tersenyum sinis, menggeleng-gelangkan kepalanya. “Jaman 

sekarang uang segitu di hotel mewah seperti ini mungkin cuma cukup buat sewa ruangan ini beberapa jam. 

Padahal relasi-relasi saya di paguyuban pasti ekspektasinya tinggi kalau denger Sekar nikah sama orang kantoran Jakarta.”

“Begini saja, Mas Raden,” timpal Laras cepat. “Biar sama-sama enak dan tidak menurunkan harga diri keluarga. Kami tidak minta aneh-aneh. 

Untuk Sekar, kami mematok mahar uang tunai sebesar dua ratus juta. Itu bersih, belum termasuk emas dan tanah atau rumah atas nama Sekar sebagai jaminan masa depannya. Oh ya, dan seluruh biaya pesta di Jogja nanti, pihak laki-laki yang menanggung,” pungkas ibunya tanpa beban.

Deg. 

Dunia seolah runtuh menimpa Sekar.

Raden terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, kelu. Dua ratus juta tunai, belum termasuk emas, 

tanah, dan biaya pesta? 

Bagi karyawan biasa seperti dirinya, angka itu setara dengan menguras habis tabungan kerja kerasnya selama sepuluh tahun ke depan dalam satu hari.

“Mohon maaf, nominal tersebut di luar kemampuan saya. Tabungan yang saya siapkan benar-benar murni hasil keringat saya sendiri. 

Raden terperangah. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena marah. Ia melirik Sekar dengan tatapan tajam, seolah menyalahkan Sekar atas tuntutan orang tuanya. 

Raut wajah Broto langsung berubah dingin. “Mas Raden. Kalau untuk menghormati perempuan yang Mas katanya cintai saja masih menawar, bagaimana bisa menjamin masa depannya? 

Mahar itu bukti kemampuan laki-laki. Kalau belum mampu memenuhi standar keluarga kami, ya berarti Mas Raden belum siap jadi suaminya Sekar.”

“Bapak! Ibu! Cukup!” Sekar akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Air matanya luruh. Ia berdiri dari kursinya, menatap kedua orang tuanya dengan kecewa.

"Pak, Bu. Ini bukan jual beli!" Raden bersuara tinggi, memecah suasana. “Maaf saya gak bisa meminang anak ibu dan bapak jika ditakar dengah harga.”

“Kenapa Bapak sama Ibu selalu begini?! Mas Raden itu datang dengan niat baik!” suara Sekar bergetar hebat.

Pasalnya, ini bukan yang pertama kali.

“Sekar! Jaga sopan santunmu! Ini demi kebaikanmu, biar kamu nggak diremehkan suami!” bentak Laras.

Raden ikut berdiri. Wajahnya yang tadi ramah kini mengeras, dipenuhi rasa malu yang bercampur amarah karena harga dirinya baru saja diinjak-injak secara halus. 

“Sekar! Mau kemana kamu? Kembali!” teriakan Laras melengking.

Namun, Sekar sudah tidak peduli. Ia mengejar Raden yang sudah keluar lobi.

Begitu sampai di area parkiran hotel yang agak sepi, Raden langsung menghempaskan tangan Sekar dengan kasar. Napasnya memburu, wajahnya merah padam.

“Gila ya keluarga kamu, Kar!” bentak Raden, tidak lagi peduli pada air mata Sekar. “Kamu bilang mereka cuma mau uji mental? Itu bukan diuji, itu diperas! Sadar nggak sih, keluarga kamu ternyata matre!”

“Mas... maafin aku... aku– aku nggak tahu kalau Bapak Ibu—,” tangis Sekar pecah, bahunya terguncang. 

Ia mengenakan kebaya batik putih bersih, pakaian yang tadinya ia siapkan dengan penuh suka cita untuk hari lamarannya.

“Halah, udahlah! Pantesan kamu belum nikah. Siapa yang sudi nikah kalau mertuanya modelan matre kayak begitu? Tahu gitu dari awal aku nggak usah buang-buang waktu sama kamu!”

Raden mendengus kasar, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Sekar sendirian yang langsung luruh ke lantai, menangis sesenggukan menutup wajahnya.

Sudah kesekian kali, teman-temannya sudah memiliki anak bahkan menikah dua kali. Dan dirinya? selalu gagal di tangan orang tuanya sendiri.

Di tengah ingin melangkah, sebuah bayangan tinggi mendadak tegap berdiri di depan Sekar, menghalangi terik matahari.

Sebuah tangan kekar dengan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya tiba-tiba menarik lengan Sekar, memaksa gadis itu berdiri. 

Sekar yang masih setengah nangis dan bengong mendongak, mendapati seorang pria berwajah tegas, berahang kokoh dengan setelan jas hitam formal yang sangat rapi.

Pria itu menatap tajam kebaya batik putih yang dikenakan Sekar, lalu beralih ke wajah Sekar yang sembab.

“Kenapa kamu di sini?” suara Nehan terdengar berat, dingin, namun penuh penekanan. 

“Lamaran kita di sana.”

“Hah? Apa—” Sekar terbata menyeka tangisnya, otaknya macet seketika.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Sekar untuk mencerna keadaan, Nehan langsung menarik pergelangan tangan Sekar.

Membawa gadis itu kembali masuk ke dalam hotel, berbelok ke arah Grand Ballroom utama di lantai yang sama—hall sebelah yang dekorasinya jauh lebih megah, dipenuhi karangan bunga mewah bertuliskan nama keluarga besar Adiwangsa.

Tiba-tiba, Sekar menghentikan langkahnya secara paksa. Ia menarik tangannya dari genggaman Nehan, napasnya tersengal.

Nehan ikut berhenti. Ia berbalik menatap Sekar. "Kenapa? Ada masalah?" 

Sekar mengerjapkan mata, masih merasa seperti sedang bermimpi buruk atau justru mengalami halusinasi. 

“Dari awal saya sudah setuju dengan mahar yang diajukan keluargamu.” Nehan menarik napas panjang, lalu kembali meraih pergelangan tangan Sekar. “Kesepakatannya sudah jelas, kan? Maharmu akan diberikan sekaligus dengan penyerahan saham dari keluargamu. Jadi, nggak usah pura-pura sedih.”

Sekar mendadak terkejut. Ia tak mengenal pria itu, tapi kenapa bisa pria itu malah membahas mahar dari keluarganya? Bahkan ... saham? Saham apa maksudnya?

“T–tapi, Mas—”

Nehan memotong cepat. "Bisa kita mulai saja acaranya sekarang?" 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Nasywa Anjalillah
Nasywa Anjalillah
pasti sakit jadi Sekar, gagal nikah tiga kali cuma gara2 mahar. semoga Nehan bisa jadi suami Sekar
2026-07-29 02:48:08
1
0
D.N.A
D.N.A
Keluarganya Sekar luar biasa sekali ...
2026-07-20 11:49:54
1
0
43 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status