LOGINDi saat gadis seusianya sudah menimang anak, Sekar justru terjebak dalam lingkaran setan kegagalan pernikahan. Penyebabnya bukan karena ia tak cantik, melainkan ambisi orang tuanya yang selalu mematok nilai mahar di luar nalar. Sekar pasrah, saat mantan kekasihnya enggan menolak mahar besar dan kini melamar wanita lain. Sampai ia ditarik oleh pria yang menganggapnya tunangannya. Ia pikir masalah itu selesai. Tapi, ternyata pria itu.... bos barunya! “Sebutkan berapapun mahar yang diinginkan orang tuamu, saya akan bayar sebanyak apapun yang penting istri saya adalah kamu."
View More“Mas, kalau nanti Bapak sama Ibu bicara aneh-aneh, tolong jangan langsung diambil hati, ya?”
Sekar menatap Raden penuh hati walau suaranya agak bergetar saat mereka melangkah ke lobi hotel.
Raden tersenyum kikuk. "Iya. Tapi kamu juga jangan diem aja kalau mereka kelewatan. Aku sudah bela-belain ambil cuti ke Jogja, masa mau dipermalukan, Ya kan?"
Sekar tertegun. Ia mengangguk pelan, merasa sedikit tertusuk mendengar keluhan Raden.
Semua karena orang tuanya yang meminta pertemuan ini diadakan di hotel mewah.
Katanya, “Kalau Nak Raden memang serius dan menghargai kamu, suruh dia ajak bapak ibu ke restoran hotel misalnya, tempat yang pantas untuk membicarakan masa depan. Jangan cuma di rumah, tidak elok dilihat tetangga kalau bawa orang kantoran Jakarta.”
Sekar tersenyum tipis. Semoga harapannya benar. Semoga keluarganya tidak menguji aneh-aneh saat ia sudah mengiyakan bertemu di hotel mewah ini.
Seharusnya cukup untuk orang tuanya, kan?
Sekar tersenyum tipis. Ia mengeratkan genggamannya ke lengan Raden, pujaan hatinya selama ini.
Namun, begitu melangkah masuk ke dalam restoran yang sudah dipesan khusus, kontras di depannya membuat Sekar makin cemas.
Di atas meja bundar hotel yang mewah itu, ibu bapaknya tersenyum merekah.
“Sembah nuwun, Bapak, Ibu, atas sambutan hangatnya,” buka Raden setelah mereka dipersilakan duduk.
“Maksud kedatangan saya mendampingi Sekar ke Jogja hari ini, selain untuk silaturahmi, ada niat suci yang ingin saya sampaikan.”
Raden menjeda kalimatnya, menarik napas dalam. “Saya, Raden, bermaksud meminta izin Bapak dan Ibu untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Saya ingin melamar Sekar untuk menjadi istri saya.”
“Ya…. Mas Raden,” ucap Broto, ayahnya dengan nadanya berat. “Sebagai orang tua, Bapak tentu senang kalau ada laki-laki yang berniat baik pada anak perempuan Bapak. Apalagi Sekar ini anak pertama, perempuan satu-satunya.
Sejak kecil kami sekolahkan tinggi-tinggi sampai bisa kerja di Jakarta.”
Laras menyunggingkan senyum penuh arti.
“Betul, Mas Raden. Sekar ini ibaratnya bunga yang Bapak dan Ibu siram dengan air terbaik. Garis keturunan kami juga jelas, masih ada kerabat dekat dengan abdi dalem keraton.
Tentu, dalam adat kami, pernikahan itu bukan cuma menyatukan dua orang, tapi juga menjaga kehormatan dan bobot, bibit, bebet keluarga.” Imbuh ibunya menimpali.
Jantung Sekar berdegup kencang. Pola ini sama persis seperti lamaran-lamaran sebelumnya.
Sekar sudah mulai gemetar. Ia melirik Raden, berharap pria itu tetap tenang.
“Mohon maaf sebelumnya, Mas Raden,” lanjut ibunya sembari membetulkan letak selendangnya.
“Kalau di keluarga kami, untuk meminang gadis seperti Sekar, ada hitung-hitungannya sendiri sebagai bentuk keseriusan dan penghormatan. Istilahnya, untuk mahar dan tali asih.”
Raden mengangguk. “Nggih, Bu. Saya sangat menghormati adat. Sebagai bentuk tanggung jawab, saya sudah mempersiapkan mahar emas tiga puluh gram, dan uang lima puluh juta untuk resepsi nanti. Semoga kiranya….”
“Wah, Mas Raden….” Broto tersenyum sinis, menggeleng-gelangkan kepalanya. “Jaman
sekarang uang segitu di hotel mewah seperti ini mungkin cuma cukup buat sewa ruangan ini beberapa jam.
Padahal relasi-relasi saya di paguyuban pasti ekspektasinya tinggi kalau denger Sekar nikah sama orang kantoran Jakarta.”
“Begini saja, Mas Raden,” timpal Laras cepat. “Biar sama-sama enak dan tidak menurunkan harga diri keluarga. Kami tidak minta aneh-aneh.
Untuk Sekar, kami mematok mahar uang tunai sebesar dua ratus juta. Itu bersih, belum termasuk emas dan tanah atau rumah atas nama Sekar sebagai jaminan masa depannya. Oh ya, dan seluruh biaya pesta di Jogja nanti, pihak laki-laki yang menanggung,” pungkas ibunya tanpa beban.
Deg.
Dunia seolah runtuh menimpa Sekar.
Raden terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, kelu. Dua ratus juta tunai, belum termasuk emas,
tanah, dan biaya pesta?
Bagi karyawan biasa seperti dirinya, angka itu setara dengan menguras habis tabungan kerja kerasnya selama sepuluh tahun ke depan dalam satu hari.
“Mohon maaf, nominal tersebut di luar kemampuan saya. Tabungan yang saya siapkan benar-benar murni hasil keringat saya sendiri.
Raden terperangah. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena marah. Ia melirik Sekar dengan tatapan tajam, seolah menyalahkan Sekar atas tuntutan orang tuanya.
Raut wajah Broto langsung berubah dingin. “Mas Raden. Kalau untuk menghormati perempuan yang Mas katanya cintai saja masih menawar, bagaimana bisa menjamin masa depannya?
Mahar itu bukti kemampuan laki-laki. Kalau belum mampu memenuhi standar keluarga kami, ya berarti Mas Raden belum siap jadi suaminya Sekar.”
“Bapak! Ibu! Cukup!” Sekar akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Air matanya luruh. Ia berdiri dari kursinya, menatap kedua orang tuanya dengan kecewa.
"Pak, Bu. Ini bukan jual beli!" Raden bersuara tinggi, memecah suasana. “Maaf saya gak bisa meminang anak ibu dan bapak jika ditakar dengah harga.”
“Kenapa Bapak sama Ibu selalu begini?! Mas Raden itu datang dengan niat baik!” suara Sekar bergetar hebat.
Pasalnya, ini bukan yang pertama kali.
“Sekar! Jaga sopan santunmu! Ini demi kebaikanmu, biar kamu nggak diremehkan suami!” bentak Laras.
Raden ikut berdiri. Wajahnya yang tadi ramah kini mengeras, dipenuhi rasa malu yang bercampur amarah karena harga dirinya baru saja diinjak-injak secara halus.
“Sekar! Mau kemana kamu? Kembali!” teriakan Laras melengking.
Namun, Sekar sudah tidak peduli. Ia mengejar Raden yang sudah keluar lobi.
Begitu sampai di area parkiran hotel yang agak sepi, Raden langsung menghempaskan tangan Sekar dengan kasar. Napasnya memburu, wajahnya merah padam.
“Gila ya keluarga kamu, Kar!” bentak Raden, tidak lagi peduli pada air mata Sekar. “Kamu bilang mereka cuma mau uji mental? Itu bukan diuji, itu diperas! Sadar nggak sih, keluarga kamu ternyata matre!”
“Mas... maafin aku... aku– aku nggak tahu kalau Bapak Ibu—,” tangis Sekar pecah, bahunya terguncang.
Ia mengenakan kebaya batik putih bersih, pakaian yang tadinya ia siapkan dengan penuh suka cita untuk hari lamarannya.
“Halah, udahlah! Pantesan kamu belum nikah. Siapa yang sudi nikah kalau mertuanya modelan matre kayak begitu? Tahu gitu dari awal aku nggak usah buang-buang waktu sama kamu!”
Raden mendengus kasar, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Sekar sendirian yang langsung luruh ke lantai, menangis sesenggukan menutup wajahnya.
Sudah kesekian kali, teman-temannya sudah memiliki anak bahkan menikah dua kali. Dan dirinya? selalu gagal di tangan orang tuanya sendiri.
Di tengah ingin melangkah, sebuah bayangan tinggi mendadak tegap berdiri di depan Sekar, menghalangi terik matahari.
Sebuah tangan kekar dengan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya tiba-tiba menarik lengan Sekar, memaksa gadis itu berdiri.
Sekar yang masih setengah nangis dan bengong mendongak, mendapati seorang pria berwajah tegas, berahang kokoh dengan setelan jas hitam formal yang sangat rapi.
Pria itu menatap tajam kebaya batik putih yang dikenakan Sekar, lalu beralih ke wajah Sekar yang sembab.
“Kenapa kamu di sini?” suara Nehan terdengar berat, dingin, namun penuh penekanan.
“Lamaran kita di sana.”
“Hah? Apa—” Sekar terbata menyeka tangisnya, otaknya macet seketika.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Sekar untuk mencerna keadaan, Nehan langsung menarik pergelangan tangan Sekar.
Membawa gadis itu kembali masuk ke dalam hotel, berbelok ke arah Grand Ballroom utama di lantai yang sama—hall sebelah yang dekorasinya jauh lebih megah, dipenuhi karangan bunga mewah bertuliskan nama keluarga besar Adiwangsa.
Tiba-tiba, Sekar menghentikan langkahnya secara paksa. Ia menarik tangannya dari genggaman Nehan, napasnya tersengal.
Nehan ikut berhenti. Ia berbalik menatap Sekar. "Kenapa? Ada masalah?"
Sekar mengerjapkan mata, masih merasa seperti sedang bermimpi buruk atau justru mengalami halusinasi.
“Dari awal saya sudah setuju dengan mahar yang diajukan keluargamu.” Nehan menarik napas panjang, lalu kembali meraih pergelangan tangan Sekar. “Kesepakatannya sudah jelas, kan? Maharmu akan diberikan sekaligus dengan penyerahan saham dari keluargamu. Jadi, nggak usah pura-pura sedih.”Sekar mendadak terkejut. Ia tak mengenal pria itu, tapi kenapa bisa pria itu malah membahas mahar dari keluarganya? Bahkan ... saham? Saham apa maksudnya?“T–tapi, Mas—”Nehan memotong cepat. "Bisa kita mulai saja acaranya sekarang?"Pintu ruang rapat terbuka. Seorang pria tinggi masuk dengan langkah tenang, diikuti seorang staf dari manajemennya.Semua orang di ruangan berdiri menyambut kedatangannya,“Selamat pagi. Perkenalkan, saya Ahn Hyo-seop. Senang bisa bertemu dengan semuanya.” Sapa Hyo-seop dengan senyum ramah.Sekar merasa lututnya langsung lemas begitu melihat senyuman itu. “Selamat pagi, Pak Hyo-seop.”“Selamat pagi.”Beberapa orang mengangguk sambil tersenyum. Hyo-seop membalas singkat sebelum duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya.Sekar menarik napas pelan."Oke. Tenang, Sekar. Ini kantor, ini meeting, bukan fan meeting." “ Pak Ahn, ini beberapa tim yang akan terlibat langsung dalam peluncuran. Dan ini Sekar, she will be your main liaison selama acara.” Ucap Bela.Ahn Hyo-seop menoleh kepadanya.“Nice to meet you, Sekar.”Sekar menjabat tangannya. “Nice to meet you too.”Sekar langsung menyembunyikan tangannya yang bergetar begitu terlepas dari jabatan tangan Ahn Hyo-Seop.Ia buru-buru kemba
Pagi itu, Sekar sarapan bersama Nehan.Keduanya tidak banyak bicara. Sekar lebih banyak memperhatikan makanannya, sementara Nehan sesekali membaca sesuatu dari ponselnya.Begitu selesai, Sekar mengambil tasnya.“Pak, nanti saya turun agak jauh dari kantor, ya.”Nehan mengangkat pandangan. “Kenapa?”“Saya belum terbiasa kalau nanti jadi pusat perhatian.”Nehan diam sebentar. “Kamu yakin?”Sekar mengangguk. “Iya.”“Baik.”-------mmobil berhenti tidak jauh dari gedung kantor.Sekar membuka pintu. “Terima kasih, Pak.”“Hati-hati.”Sekar turun, sementara mobil melanjutkan perjalanan menuju gedung Sajiwa.Ia menarik napas panjang, mungkin lebih baik seperti ini, seperti biasanya.Baru beberapa langkah memasuki lobi, beberapa suara langsung menyambutnya.“Selamat pagi, Bu Sekar.”“Pagi, Mbak.”“Selamat ya, Mbak Sekar.”Sekar sempat memperlambat langkah.Biasanya tidak banyak yang memperhatikannya ketika datang ke kantor. Sekarang, hampir setiap orang yang berpapasan dengannya seolah punya a
Pesawat yang membawa Sekar dan Nehan akhirnya mendarat di Jakarta.Begitu keluar dari area kedatangan, Astrid sudah menunggu bersama mobil.“Selamat datang kembali, Pak. Mbak Sekar.”“Terima kasih,” jawab Sekar.Mereka masuk ke mobil.Sekar sebenarnya sejak tadi memikirkan satu hal. Setelah menikah, mereka akan tinggal di mana? namun ia tidak berani bertanya lebih dulu.Sampai Astrid membuka suara dari kursi depan.“Oh iya, Mbak. Barang-barang Mbak sudah dipindahkan ke rumah.”Sekar sedikit terkejut. “Barang saya?”“Iya. Beberapa pakaian dan barang pribadi Mbak juga sudah kami rapikan.”Sekar menoleh kepada Nehan. Laki-laki itu hanya duduk tenang di sampingnya."Oh… ternyata dia sudah menyiapkan semuanya."Sekar tidak bertanya lagi.Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar di kawasan Jakarta Selatan.Sekar turun dan menatap rumah itu beberapa saat.Nehan berdiri di sampingnya. “Ayo.”Mereka masuk. Rumah itu tenang dan rapi. Tidak terlalu banya
Sekar keluar dari rumah tanpa menoleh lagi.Nehan menyusul beberapa langkah di belakangnya.Sekar terus berjalan menyusuri jalan kecil di samping sawah. Langkahnya masih cepat, tetapi perlahan mulai melambat. Ketika jarak di antara mereka sudah cukup dekat, Nehan akhirnya berjalan di sampingnya.Mereka berjalan beriringan dalam diam.Hanya suara langkah kaki dan angin yang sesekali melewati persawahan.Beberapa saat kemudian, Nehan menoleh.“Kamu mau terus jalan sampai mana?”Sekar menggeleng.“Kalau begitu, jalan saja.”Sekar mengangguk kecil. Mereka kembali berjalan.Namun beberapa langkah kemudian, Sekar tiba-tiba berhenti. Air matanya kembali jatuh.Nehan ikut berhenti.Sekar menunduk, berusaha mengusap wajahnya.Nehan memperhatikannya beberapa detik. Kemudian ia bertanya pelan,“Do you need a hug?”Sekar mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menjawab, hanya menatap Nehan.Nehan akhirnya maju. Ia memeluk Sekar.Pelukannya terasa sedikit kaku pada awalnya. Tangannya bahk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews