LOGIN“Sudah siap semua, mas. Tinggal nunggu rumahnya jadi aja.”
“Oke, pastiin nggak ada kesalahan. Jadi surat-surat yang udah legal itu bisa langsung dikasih ke Diandra secepatnya.”
“Baik, mas. Akan saya atur serapi mungkin, dijamin Mba Diandra nggak akan nyangka sama effort Mas Kara yang sebesar ini.”
“Yakin? Kayaknya dia tau deh, kalo aku bisa ngelakuin apa pun buat dia.” Sebelah alis Kara terangkat ke atas.
“Nggak perlu,” kening Gavin mengkerut dalam mendengar penolakan Claudia.“Tapi ini bukan sesuatu yang bisa kamu hadapi sendiri,” protesnya.“Aku tau.”“Terus?”“Aku cuma nggak mau, kamu bertanggung jawab hanya karena kamu merasa bersalah. I don’t need it.”“Jadi kamu maunya aku jadi semakin brengsek dengan berpura-pura seolah semalem nggak pernah terjadi apa-apa, gitu?” Suara Gavin naik satu tingkat.“Gavin… please.”“Stop it! Terakhir kali kamu ngomong please, aku gagal menahan diri. Dan sekarang apa lagi? Kamu mau aku kayak gimana lagi?” Gavin tidak berusaha menyembunyikan kemarahannya.Claudia mengkerut, melihat Gavin menjadi semarah ini membuat nyalinya ciut. Ia tidak tahu kalau kata-katanya bisa menjadi provokasi bagi lelaki itu, dan membuatnya marah saat mereka bahkan masih berada di tempat tidur!“Sorry…” suaranya bergetar dan air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.Gavin terkejut, merutuki kebodohannya sendiri karena telah memarahi gadis itu. Seharusnya ia paham dengan
Semalam…Claudia tidak tahu sudah berapa gelas alkohol yang ia tenggak, yang ia tahu, ia sudah hampir hilang kesadaran. Tubuhnya seperti sedang melayang, hingga ia tidak bisa membedakan lagi mana mimpi dan mana kenyataan.Ia tidak terbiasa mabuk, namun entah bagaimana malam itu, Claudia sedang ingin melakukannya. Ia penasaran bagaimana rasanya mabuk, oleh karenanya ia berani menuangkan minuman dari botol Gavin ke dalam gelasnya sendiri.“Clau, kamu mabuk?” Sebelah alis Gavin terangkat.“Cuma minum sedikit, huk,” jawabnya, yang diakhiri dengan beberapa cegukan.“Ada apa? Nggak biasanya kamu mabuk gini?” Tanya Gavin.“Lagi pengen aja,” mata Claudia setengah terpejam, menandakan gadis itu sedang berada diambang batas kesadarannya.“Minum berapa gelas tadi?”Claudia menggeleng, dan malah tersenyum lebar. Lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Gavin, menarik len
“Bisa emang, tapi kalo aku mau, itu udah terjadi dari dulu. Kita sempet LDR lama, pernah putus juga. Kalo aku kepikiran buat cari perempuan lain, kita nggak akan ada di sini sekarang.”“Janji, ya, untuk tetep sama-sama terus. Yah, meskipun keadaan aku lagi kayak gini, tapi tetep aja aku juga manusia biasa yang ingin bahagia.”“Itu dia, kebahagiaan kamu adalah prioritas aku. Jadi sesibuk apa pun aku nanti, aku akan selalu usahain untuk tetap meluangkan waktu buat kamu.”“Bener, ya?”“Promise.”“Aku nggak tau lagi deh bakal kayak apa hidup aku tanpa kamu. Dan gimana kalo pasangan aku itu bukan kamu. Mungkin aku akan sedih dan terpuruk sendirian.”“Dan itu nggak akan terjadi selama Sangkara masih ada di dunia ini. Aku nggak akan biarin kamu sedih, apalagi sampe terpuruk sendirian.”Diandra memincingkan mata untuk menganalisis wajah Kara saat berb
“Iya, dong. Pokoknya aku yang cinta banget sama kamu, titik.”Diandra mengangguk, memilih mengalah saja untuk kali ini. Karena sepertinya Kara sudah menyiapkan seribu satu alasan untuk meng-counter semua kata-katanya.“Selamat Pak Kara atas pertunangannya, semoga diberikan kelancaran hingga hari pernikahan, dan langgeng selalu sampai maut memisahkan,” ucap salah seorang kolega Kara saat memberikan selamat.“Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk hadir dan menjadi saksi di hari pertunangan kami,” balas Kara dengan senyum mengembang.Ia senang luar biasa karena orang-orang yang hadir di sana, satu per satu mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik untuk hubungan mereka kedepannya.***“Sayang, kamu ikut pulang ke rumah, kan?” Tanya Miranda, dan yang barusan ia maksud adalah pulang ke kediamannya di Garden Grove, cluster hunian elit yang hanya terdiri dari enam unit rumah s
“Maaf, karena udah bikin kamu lama nunggu,” Gavin meraih tangan Claudia dan menggenggamnya erat, lalu memusatkan perhatiannya lagi ke pusat acara.Sementara Claudia masih berjuang menenangkan debar jantungnya sendiri, sambil sesekali tersenyum melihat bagaimana tangannya digenggam oleh tangan Gavin.“Vin, apa ini artinya—”“Sssttt, nanti aja. Sekarang fokus ke mereka dulu,” Gavin menunjuk Diandra dan Kara dengan dagunya.Claudia mengangguk dengan senyum malu-malu di wajahnya.***Setelah mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang sudah berkenan hadir di acara pertunangannya. Kara mulai memasangkan cincin berlian berbentuk oval itu di jari manis tangan kiri Diandra. Namun tidak dengan Diandra, ia tidak menyematkan cincin di jari manis Kara karena lelaki itu menolak menggunakannya.Katanya, ia ingin langsung memakai cincin pernikahan saja.Diandra tersenyum, lalu mengangkat tangannya
“Sudah siap semua, mas. Tinggal nunggu rumahnya jadi aja.”“Oke, pastiin nggak ada kesalahan. Jadi surat-surat yang udah legal itu bisa langsung dikasih ke Diandra secepatnya.”“Baik, mas. Akan saya atur serapi mungkin, dijamin Mba Diandra nggak akan nyangka sama effort Mas Kara yang sebesar ini.”“Yakin? Kayaknya dia tau deh, kalo aku bisa ngelakuin apa pun buat dia.” Sebelah alis Kara terangkat ke atas.“Yakin, mas.”Kara mengangguk.“Pastiin juga nggak akan ada penolakan untuk semua hadiahnya.”“Siap, mas.”“Oke, kamu boleh keluar sekarang. Aku mau selesaiin proposalnya dulu.”Vincent mengangguk, dan segera meninggalkan kamar Kara yang sudah mirip kapal pecah itu.“Terakhir, mas. Maaf, ini nanti kamarnya ada rencana mau dibersihin nggak, ya?” Tanya Vincent sebelum benar-benar me
“Kenapa? Nggak suka?”“Enggak. Karena officially, dia cewek gue sekarang.” Ujar Kara penuh kemenangan.“Nggak mungkin” Gavin menggeleng tak mau percaya.“Dia belom cerita ke elo? Bukannya lo sahabatnya?” Kara tersenyum
Suaranya lirih tapi menusuk, sebelum akhirnya bibir Kara menempel kembali dengan ganas di bibir Diandra.“Akh… Eungh…” Diandra berusaha menahan, tapi Kara lebih cepat.Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Diandra di belakang tubuh gadis itu, membuat
Tidak ada jawaban.“Gue bahkan kalah sebelum maju. Diandra nggak akan pernah tau kalo suka sama dia.”“Lo masih bisa ngomong ke dia.”“Buat apa? Dia udah sama Kara sekarang.”“Seenggaknya dia tau. Cuma itu, kan, yang lo pengen?
“With Sangkara,” jawab Seno memvalidasi.Sama-sama tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat saat ini.“Kok bisa? Kok bisa Diandra sama Sangkara—”“Udah ayok,” sebelum Lavie selesai dengan keterkejutannya, Seno lebih du







