تسجيل الدخول“Oh, iya?”
“Iya. Namanya Sangkara, kamu kenal?”
Diandra spontan menginjak pedal rem begitu nama itu disebutkan dengan ringan oleh Miranda.
“Diandra, hati-hati dong bawa mobilnya.” Seru mommy-nya karena kaget.
“Maaf mommy... Kaget dikit tadi.”
“Hm?”
"Anak tante Miranda siapa tadi? Sangkara?" Tanya Diandra memastikan.
“Iya. Sangkara Adhiyatsa. Kamu tahu dia?”
'Bukan cuma tahu, tan,' Diandra meringis dalam hati.
Bagaimana bisa ada kebetulan semacam ini dalam hidupnya. Sangkara, cowok yang tiga tahun ini menjadi gebetannya, dan selalu menolaknya. Sekarang dia malah duduk satu mobil dengan ibu dari lelaki itu?
Miranda bahkan adalah teman baik mommy-nya sejak jaman kuliah di Auckland.
'Takdir macam apa ini?' Batinnya girang.
“Voila!" Serunya.
“Kenapa, Di?” Tanya mommy-nya penasaran.
“Hehehe… gak apa-apa,” Diandra tersenyum canggung saat kedua orang tua itu menangkap basah perilaku anehnya.
Setelah berhasil menguasai diri, Diandra kembali menjalankan mobilnya dan melaju untuk mengantar Miranda lebih dulu.
"Tante, maaf . Kenapa aku baru tahu ya kalo mommy ini punya temen kayak tante? Maksud aku, kenapa baru ketemu sekarang gitu," tanya Diandra di tengah perjalanan.
“Ya karena Miranda ini juga, kan, baru sebulan yang lalu balik tinggal di Indo, Di,” jawab mommy-nya.
"Oh ya? Emang selama ini Tante Miranda tinggal di mana?" Tanyanya lagi, sambil sesekali melihat ke arah spion mobil.
"Dulu setelah lulus kuliah itu, tante langsung menikah dan ikut suami tante pindah ke Swiss. Dan tiga tahun yang lalu, kami sekeluarga balik ke Indo karena suami tante kebetulan ada kerjaan di sini. Eh, nggak sampai setahun ternyata kami harus balik lagi ke Swiss. Jadilah saat itu kita pindah dan ninggalin Kara sendirian di sini," jelasnya panjang lebar..
“Kalau boleh tahu, kenapa Kara ditinggal sendirian di Indo, tante?”
"Itu karena Kara sendiri yang mau. Dia bilang capek karena seumur hidup selalu pindah-pindah tempat tinggal terus. Karena selama di Swiss, ada kali kita pindah sampai ke empat kota berbeda. Tiga tahun di Bern, lima tahun di Jenewa, dua tahun di Luzern, dan yang paling lama di Zurich sekitar tujuh tahun."
“Wah keren. Aku juga pengen tuh suatu saat bisa tinggal di Swiss,” ucap Diandra penuh semangat.
"Oh ya? Diandra mau tinggal di kota mana memangnya?"
Diandra menggeleng.
“Belom tahu. Tante ada rekomendasi, nggak?” Gadis itu balik bertanya.
Miranda tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Swiss punya banyak kota indah, dan dari semuanya, nggak ada yang tante nggak suka. Nanti deh kalau kamu ke sana, tante ajakin kamu keliling Swiss sepuasnya.”
"Asyik! Beneran ya, tante."
“Iya.”
“Padahal, kan, asyik ya tinggal di Swiss, kenapa Kara malah nggak mau sih? Aneh banget,” Diandra bertanya dengan bingung.
"Karena selama tinggal di sana, dia jadi kesulitan untuk mencari teman. Dengan keadaan keluarga kita yang sering pindah-pindah kota itu, membuat Kara harus beberapa kali pindah sekolah. Jadi disaat dia baru memulai pertemanan, eh besoknya udah pindah lagi aja. Makanya setelah ke Indo, Kara nggak mau ikut balik ke Swiss. Dia kekeuh mau tinggal di sini aja. Sendirian nggak apa-apa katanya, yang penting dia nggak nomaden lagi," Miranda tertawa saat mengatakannya.
Diandra mengangguk. Sekarang dia paham kenapa Kara kerap kali terlihat seperti seseorang yang kesepian.
“Jadi, sekarang tante pulang ke Indo untuk urusan bisnis atau—”
"Menetap. Om dan tante mau nemenin Kara di sini, seenggaknya sampai dia lulus kuliah. Kami ingin hadir sebagai orang tua yang lengkap di masa remajanya. Biar Kara nggak merasa kesepian dan berakhir salah pergaulan nanti."
Mereka sampai di kediaman Miranda—rumah Kara—, Miranda lalu meminta Diandra dan Helena untuk mampir sebentar sebagai bentuk terima kasih karena sudah mengantarkannya pulang.
Diandra tentu saja tidak menolak, ia langsung setuju begitu Miranda menyuruhnya masuk lebih dulu.
“Wah!”
Hal pertama yang dilihatnya saat keluar dari mobil adalah sebuah rumah besar bergaya Eropa modern, dengan detail fasad bergaya klasik yang diterapkan pada kusen jendela dan pintu. Bangunan itu tampak megah dengan dua pintu berukuran besar penuh ukiran di sekelilingnya. Dindingnya bercat putih, krem, dan abu-abu yang memberikan tampilan elegan, klasik, dan modern dalam waktu bersamaan.
'Awesome,' Diandra tak dapat melepaskan pandangannya dari menikmati bangunan indah di hadapannya.
“Ayo masuk,” ucap Miranda mempersilakan.
Begitu pintu rumah terbuka, Diandra langsung disuguhkan dengan pemandangan ruang tamu yang luas dengan desain klasik yang tak kalah memanjakan mata. Rumah itu memiliki atap tinggi dan miring, jendela berukuran besar berbentuk persegi panjang dengan bagian atas yang melengkung dan sudut-sudut yang tegas.
Beberapa ruangan lainnya mengusung atap perisai dan pilar yang dibalut material batu alam, juga dinding-dinding yang memiliki detail garis yang identik dengan ciri khas Eropa.
“Rumah tante bagus banget,” puji Diandra spontan.
“Kamu suka?”
Diandra mengangguk penuh semangat.
“Kalo suka, kamu boleh loh sering-sering main ke sini,” kata-kata itu terdengar seperti angin yang super segar bagi Diandra.
"Oke, tante. Aku akan sering main ke sini nanti."
“Hmm kenapa rasanya kayak ada udang dibalik batu ya,” mommy-nya berbisik sambil memincingkan mata, seakan tahu gelagat putrinya yang seperti baru saja mendapatkan jackpot.
“Mommy, ih.”
Helena tersenyum melihat Diandra yang merengut pura-pura kesal.
“Bik Rina, tolong buatkan minuman untuk tamu saya, ya.”
“Baik, bu.”
Diandra masih berdiri melihat-lihat ruangan demi ruangan di rumah itu. Hingga dirinya sampai di dinding yang memajang sebuah foto keluarga yang terdiri dari empat orang, dua orang laki-laki, dan dua orang perempuan.
Diandra mengenali dua dari empat orang di foto. Perempuan cantik yang tampak elegan itu sudah pasti adalah Miranda. Sedangkan lelaki muda dengan wajah tegas dan senyum tipis itu… Sangkara. Satu lagi pria yang lebih tua dan memiliki fitur wajah mirip Kara, itu pasti adalah suami dari Miranda, papa Kara.
Dan satu gadis yang terlihat lebih muda itu… Diandra merasa asing. Tapi dilihat dari wajahnya, gadis itu memiliki senyum cerah dengan tatapan mata sendu.
“Ini…” Diandra menggantungkan kata-katanya.
“Itu Sandrina, adiknya Sangkara,” suara Miranda terdengar di belakang kepalanya.
Seolah-olah wanita itu tahu isi pikirannya.
“Oh,” Diandra mengangguk.
“Vince, tolong kamu kosongin jadwal Kara besok malem ya,” ucap Miranda pada seorang lelaki agak muda di rumah itu, usianya mungkin masih sekitar 20-an.
“Baik, bu.”
Lelaki itu mengangguk paham.
“Diandra, ini Vincent… PA-nya Kara,” ujar Miranda memperkenalkan.
“Halo… Diandra.”
“Vincent.”
“PA…nya Kara, tante?” Tanya Diandra bingung saat laki-laki bernama Vincent itu sudah pergi dari hadapannya.
“Emang. Makanya aku kasih stempel dulu, biar kamu nggak bisa berpaling dari aku.”“Jahat banget,” Diandra menggeleng sembari memincingkan mata.“Tapi itu terbukti efektif.”“Yah, sedikit.” Diandra menggeser tubuhnya hingga mereka berhadapan sekarang.“Makasih,” katanya lagi.“Untuk?”“Karena udah jujur tentang semua hal.”“Selalu, sayang. Aku juga nggak ada niat untuk nutupin apa pun dari kamu. Kita udah janji untuk selalu sama-sama. Ada Gestara dan Garistha juga yang udah melengkapi kita. Aku nggak butuh apa pun lagi. Kalian bertiga udah lebih dari cukup.”Diandra tersenyum, melingkarkan tangannya ke leher Kara dan menciumnya singkat.“Kalo Twinny G liat papinya manja kayak gini, bisa diledekin habis-habisan kamu sama mereka,” ucap Diandra.“Biarin aja. Biar mereka tau sebucin apa mami papiny
Diandra beserta keluarga kecilnya keluar dari limusin hitam yang baru saja berhenti di depan gedung utama Adhiyatsa Group di Jakarta.Berjalan pelan dan beriringan, dengan Kara yang menggandeng tangannya, sementara tangan Kara yang lain tengah menggendong tubuh gempal Garistha yang sekarang udah berumur dua tahun. Keduanya sesekali tersenyum menyapa para awak media yang sudah tiba lebih dulu di sana untuk meliput berita, begitupun yang dilakukan oleh si kecil Garistha, ia tampak menikmati setiap momen dan juga perhatian semua orang.Gadis kecil itu seolah tak terganggu dengan hingar bingar dan keramaian yang terjadi di sekitarnya.Sementara Gestara masih terlelap di pelukan oma cantiknya, Miranda. Yang sudah lebih dulu memasuki gedung utama Adhiyatsa Group.Butuh dua tahun hingga akhirnya Kara dan Diandra kembali ke Indonesia. Bukan untuk tinggal dan melanjutkan hidup, melainkan untuk sebuah acara penting yang mengharuskan kehadiran mereka berdua sebagai
“Sorry dulu nih sebelumnya, tapi aku beneran serius, kenapa nikahan kita nggak digabungin aja harinya, biar jadi satu acara? Lumayan hemat budget juga, kan?” Tawanya meledak setelah mengatakan hal konyol itu.“Malu, woy. Anak pengacara kondang kok mau nikah aja, harus mikirin budget,” seru Seno dari belakang.“Yang kondang, kan, bapak gue, bukan gue. Gimana sih.”“Iya, tau. Makanya itu, minimal jangan bikin bapak lu malu.”“Suka-suka gue lah,” Kara mengedikkan bahu acuh.“Iya, emang terserah dan suka-suka lo.”***“Kamu denger, tadi?” Tanya Kara pelan saat dirinya dan Diandra sudah berada di kamar.“Yang mana? Claudia atau Lavie?” Diandra balik bertanya.“Dua-duanya. Nggak nyangka aja aku, dua cowok Tom and Jerry itu bisa barengan gitu ngelamar ceweknya,” jawabnya.“Ya, bagus dong,” komentar Diandra.“Itu artinya dalam waktu deket ini, kita bakal sibuk kondangan terus. Setelah itu, Twinny G jadi punya temen main baru deh,” lanjutnya asal.“Pasti seru banget, ya, kalo nikahan mereka ben
Kara dan Diandra menatap nisan putih di depannya. Masing-masing dari mereka menggendong satu orang buah hatinya. Garistha bersama Kara, sedangkan Gestara bersama Diandra. Mereka tersenyum saat memperkenalkan anggota baru Keluarga Adhiyatsa itu pada Sandy.“Sandy, hari ini kakak dateng sama keluarga kecil kakak,” ucap Kara.“Halo, Aunty Sandy. Kenalin… aku Gestara dan Garistha. Dua ponakan aunty yang lucu, imut, dan menggemaskan,” lanjut Diandra, dengan suara imut yang dibuat-buat seolah dirinya adalah kedua bayi kembar itu.“Mereka lucu, kan? Kakak inget banget kalo kamu suka anak kecil. Dan kalo kamu masih ada, kamu juga pasti bakal suka dan sayang banget sama mereka. Garistha cantik, menyenangkan, dan suka menyapa siapa pun, persis kayak maminya. Sedangkan Gestara, dia ganteng, lucu, dan gampang bikin orang jatuh cinta, persis juga sama maminya. Tapi nggak apa-apa, kakak seneng kalo kedua anak kakak ini mirip maminya semua. Karena rumah akan jadi lebih rame, kan?” Kata Sangkara panja
“Aku… nggak… kuat…”Kalimat itu membuat lutut Kara melemah. Ia hampir runtuh, namun tetap menahan dirinya agar tetap bisa berdiri di sisi ranjang. Berusaha tetap kuat, demi istrinya, dan calon anak mereka.Dokter kembali memberi instruksi, “Once again Mrs. Adhiyatsa. Kepala bayi sudah terlihat.”Kara menutup mulutnya dengan tangan, tangisnya nyaris pecah.Sedikit lagi.Kontraksinya datang lagi. Diandra mencengkeram tangannya sendiri sampai buku jarinya memutih. Ia mengumpulkan sisa tenaga dan mendorong sekali lagi. Seluruh tubuhnya menegang. Punggungnya terangkat ke atas, napasnya pendek-pendek, seperti setiap udara yang masuk rasanya selalu kurang.Teriakannya pecah, menggema ke seluruh ruangan, namun ia tak peduli.Kara ikut gemetar, namun tetap mencoba menopang Diandra dari samping. Suara erangan berat keluar lagi dari mulut Diandra. Wajahnya sudah pucat sempurna, namun kontraksinya belum reda. Perjuangannya masih panjang.“Sedikit lagi, sayang. Sedikit lagi. Kamu pasti bisa. Kamu k
“Mas Vincent kapan dateng?” Tanya Diandra setelah melihat Vincent sudah duduk tenang di sofa ruang tamunya.Vincent meletakkan cangkir kopi dari tangannya ke atas meja di depannya sebelum menjawab, “Baru satu jam yang lalu, mba.”Diandra mengangguk dengan mulut membentuk seperti huruf O.“Personal Assistant buat aku udah dapet?” Kali ini Diandra duduk di sofa di seberang Vincent.“Sudah, mba. Ada beberapa kandidat yang menurut saya sudah oke. Saya juga sudah kasih tahu mereka kalau hari ini Mba Diandra akan melakukan wawancara online dengan mereka.”“Aku mau liat portofolionya dulu, dong. Wawancaranya masih satu jam lagi, kan?” Diandra menengadahkan tangan dan mengambil Ipad dari tangan Vincent. Menggeser krusor untuk melihat-lihat portofolio calon PA-nya nanti.“Cuma ada tiga?”“Betul, mba. Dari 150 email yang masuk, hanya tiga it
“Tapi cuma sementara.” Lanjutnya cepat.“Kara—”“Mama tenang aja, aku—kita nggak akan kehilangan Diandra. Karena jujur, aku masih nggak terima dia bikin Diandra mutusin aku kayak gini.”“Mama
‘Sandrina Adhiyatsa. Putri dan adik kami tercinta, malaikat yang akan selalu kami sayangi dan kami ingat dalam hati.’Diandra tidak tahu bagaimana perasaan Kara dan keluarganya saat menuliskan kalimat itu di atas nisan Sandy yang telah tiada. Pasti rasanya sangat berat dan meny
“Apaaaa?” Suaranya pelan disertai desahan, sepertinya Diandra sadar kalau Kara sedang berjuang sekuat tenaga menahan diri, jadi ia sengaja menggodanya.“Berani banget kamu?”“Berani apa?” Tanyanya pura-pura polos.“Please.&rd
Lelaki itu menyingkirkan tangan Gavin, dan dengan cekatan menggendong Diandra dan membawanya ke klinik kampus. Meninggalkan tatapan terkejut dari keempat orang lainnya, Laviena, Claudia, Seno, dan Gavin.“Itu tadi… apa?” tanya Claudia terbata.“Yang barusan







