LOGIN“Ya,” Miranda mengangguk.
“Kara masih SMA, kan, ya? Kok udah… punya PA?” tanyanya lagi.
“Kara itu cover-nya aja yang anak SMA.”
“Hah? Gimana, tante?”
Miranda tersenyum, seperti tengah menggoda gadis itu.
“Nanti juga kamu tahu.”
“Len, Di, besok malam kalian bisa, kan, datang ke sini untuk makan malam?”
“Ada acara apa nih?” Tanya Helena.
“Makan malam biasa aja. Sebagai perayaan karena hari ini akhirnya kita ketemu lagi setelah sekian lama, dan juga ucapan terima kasih karena Diandra udah mau nganterin aku pulang.”
“Tante… aku ikhlas loh, serius.”
“Iya, tante percaya.”
Diandra tersenyum hingga kedua matanya menyipit.
“Gimana? Kalian bisa, kan?”
“Aku sih bisa aja, ya. Kebetulan lagi nggak ada acara juga. Kalo kamu gimana, Di? Biasanya, kan, kamu yang paling jarang ada di rumah?”
“Hm? Aku bisa kok, mom. Bisa banget!” Jawabnya cepat, seolah tak ingin melewatkan momen berharga ini.
“Oke kalo gitu, besok aku tunggu ya buat makan malam di rumah.”
“Iya, Mir.”
“Iya, tante.”
Jawab ibu dan anak itu berbarengan.
***
Setelah selesai berkeliling dan mengobrol sebentar. Diandra dan mommy-nya pamit pulang pada sore harinya. Membuat Miranda sedikit enggan, karena ia merasa masih banyak hal yang ingin dibahas dengan sahabat lamanya itu.
“Kamu, kan, masih lama di sini, Mir. Masih banyak waktu juga, kita masih bisa ketemu lagi nanti,” ucap Helena saat mereka sudah sampai di halaman rumah.
“Rasanya waktu tuh cepet banget kalo lagi ngobrol sama kamu ya, Len.”
Helena mengelus lengan Miranda lembut.
“Tante, aku pamit pulang dulu, ya.”
“Jangan lupa besok dandan yang cantik buat acara makan malam.”
“Siap, tante.”
Setelah berpamitan, Diandra beserta mommy-nya masuk ke dalam mobil untuk pulang. Hari ini ia seperti baru saja mendapatkan harta karun yang besar. Tante Miranda, selain sahabat lama mommy-nya, ternyata ia juga adalah orang tuanya Sangkara. SANGKARA!
Diandra tidak pernah merasa seberuntung ini sebelumnya.
***
Malam berikutnya…
“Emangnya siapa sih tamu agung mama tuh? Sampai aku harus rapi begini dan ngosongin jadwal segala?” Tanya Kara dengan sebelah alis terangkat.
“Ada… nanti juga kamu tau.”
“Papa tau?”
Papanya menggeleng.
Pasalnya malam ini pun dirinya juga hanya disuruh hadir dan bersiap-siap untuk menjamu tamu kehormatan istrinya itu.
Ting. Tong.
Suara bel rumah berbunyi. Miranda melarang Bik Rina membuka pintu. Ia ingin menyambut sendiri kedatangan sahabat lamanya sekeluarga.
“Kalian tunggu di sini, mama buka pintu dulu.”
“Tamu penting kayaknya,” ucap sang papa.
Sementara Kara hanya mengedikkan bahu acuh.
“Malam, Mir,” sapa Helena pertama kali.
“Malam, Helena. Makasi loh udah nyempetin buat dateng, paket lengkap lagi,” Miranda melihat ke samping dan mendapati Rasya—suaminya, lalu Diandra yang berdiri di belakang orang tuanya.
“Malam, tante.”
“Diandra, kamu cantik sekali malam ini.”
“Emang yang kemarin nggak cantik ya, tante?”
“Selalu cantik, cuma malem ini kayak ada yang beda gitu. Kayak ada aura-aura magisnya.”
“Tante nih bisa aja,” Diandra merasakan pipinya memanas karena malu.
“Yuk, masuk. Anak dan suami aku udah nunggu di dalem.”
“Elo?” Kara tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendapati Diandra—gadis yang tiga tahun ini selalu mengganggu ketenangan dan ketentramannya—ada di sini, di rumahnya.
“Malam, Kara.”
Diandra tersenyum lebar. Matanya mengamati penampilan Kara yang luar biasa tampan malam ini. Kara mengenakan pakaian semi formal, celana jeans biru yang dipadukan dengan kemeja putih polos dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, menampakkan dadanya yang bidang dan kecokelatan.
‘Ini cowok bener-bener, ya. Gantengnya nggak ada obat. Ya kali gue disuruh move on dari dia. Mana bisa,’ cercanya dalam hati.
“Kok lo bisa ada di sini?” Tanya Kara lagi, wajah bingungnya masih belum hilang.
“Diundang sama Tante Miranda,” Diandra tersenyum puas.
Merasa privilege-nya kali ini tidak main-main.
“Kok bisa?” Alis lelaki itu mengerut.
“Iya, mama yang undang Diandra sekeluarga karena kemarin Diandra udah mau anter mama pulang,” sahut Miranda.
“Kok bisa?” Kara memalingkan pandangan ke arah mamanya.
“Ya, bisa. Siapa suruh kamu sibuk banget sampai telepon mama aja nggak diangkat kemarin.”
“Kan, aku udah bilang kalau—”
“Iya, iya. Mama tahu. Makanya jangan banyak nanya,” potong mamanya cepat.
“Mam…”
“Btw, kalian udah saling kenal? Kok kayak asyik banget ngobrolnya?” Miranda melihat Diandra dan putranya bergantian.
“Iya, tante. Udah,” jawab Diandra pertama kali.
Sementara Kara hanya bergumam tak jelas.
“Kara… nggak boleh kayak gitu sama tamu. Apalagi sama cewek cantik begini, sayang banget, kan, dianggurin. Digandeng sana ke ruang makan,” Miranda menarik lengan Kara agar menurutinya.
Kara menarik napas dalam, lalu berjalan di samping Diandra menuju meja makan. Wajahnya setengah hati, namun Diandra tidak peduli. Baginya, begini saja sudah cukup. Ia hanya ingin dekat dengan Kara seperti ini.
“Kenapa, Di?” Tanya Miranda saat melihat Diandra yang melirik ke kanan dan kiri.
“Itu… Sandrina di mana, tante? Dia nggak ikut makan malam?” Tanya Diandra penasaran.
“Dia…” Miranda menggantung kata-katanya, wajahnya mendadak muram dan menunduk.
“Sandy masih di Swiss,” sahut Kara cepat saat menyadari air muka mamanya yang berubah.
“Oh,” Diandra tidak bertanya lagi, dan memilih menikmati makan malamnya dengan pemandangan paling indah di hadapannya—Sangkara.
***
Selesai makan malam, para orang tua berkumpul dan duduk di ruang tengah untuk ngobrol santai. Sementara Miranda menyuruh Kara untuk membawa Diandra ke taman agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua dan ngobrol santai juga.
“Aku nggak nyangka deh, ternyata orang tua kita udah temenan dari jaman kuliah. Dan yang bikin lebih nggak nyangka lagi, ternyata anaknya Tante Miranda itu kamu,” Diandra memulai percakapan.
Ia duduk di kursi taman panjang berwarna putih, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai di sana.
“Hm,” Kara hanya menanggapi dengan gumaman kecil.
“Kara…”
“Hm?”
“Kenapa kamu nolak aku?” Diandra melirik ke samping, bertanya dengan nada takut-takut.
Namun Kara masih diam, tanpa ekspresi. Seolah lelaki itu tidak mendengar apa pun.
“Dari sikap dan perilaku yang selalu aku tunjukin ke kamu selama ini, itu bukti kalo aku serius, dan tulus cinta sama kamu,” Diandra menarik napas dalam sebelum lanjut berbicara.
“I love you, Sangkara. I love you so much,” Diandra dengan berani meletakkan kedua tangan di wajah Kara.
Memaksa lelaki itu menatap ke arahnya saat ia menyatakan cinta.
‘Ayo jawab I love you, too,’ batin Diandra penuh harap.
Diandra mendongak tak percaya.Meskipun dirinya yang lebih dulu minta putus, tapi tetap saja rasanya sedih luar biasa saat Kara akhirnya meng-iya-kannya.“Aku akan pergi sekarang. Aku akan kasih kamu ruang untuk berpikir dan menenangkan diri. Kapan pun kamu butuh aku, bilang aja. Aku akan selalu ada, di sini, buat kamu, cintaku.”“Dan setelah itu, aku harap kamu nggak akan pernah kepikiran kata-kata itu lagi. Demi Tuhan, apa pun boleh kecuali yang satu itu. Kalau kamu ninggalin aku, itu bisa bikin aku mati pelan-pelan.”Setelah mengatakan itu, Kara berdiri dan berlalu pergi. Meninggalkan Diandra sendiri. Menangis dan memeluk dirinya sendiri.Ia tidak tahu apakah keputusannya ini sudah benar atau belum. Namun yang pasti, sekarang ini hatinya sangat hancur. Ia tidak tahu kalau berpisah dengan Sangkara akan terasa semenyakitkan ini.“Non Diandra… non, kenapa?” Tanya Bik Asih, panik saat mendapati Diand
“Kamu masih aja keras kepala. Disaat seperti ini, bukankah harusnya kita ini saling menjaga dan melindungi? Bukan cuma kamu yang kehilangan. Tapi tante juga. Anak tante—calon adik lelakimu juga.”“Stop it! You’re not my mom, and this shit baby, not my brother!” Diandra masih konsisten menolak kehadiran dua orang itu dalam hidupnya.“Diandra, jaga bicara kamu. Dia bahkan belum lahir, tapi kamu sudah sekasar itu ngomongnya,” Arunika mendelik melihat penolakan Diandra.“Kenapa? Kamu nyari apa? Pengakuan? Warisan?” Diandra tertawa meremehkan.“Kamu nggak akan dapet satu pun dari keduanya. Jadi lebih baik sekarang kamu pergi. Jangan kotori rumah saya dengan kehadiran kamu di sini.”“Diandra!” Arunika baru saja akan mengangkat tangan untuk memukul Diandra, namun Kara lebih cepat datang dan menepisnya.“Tolong jangan kasar,” ucapnya tenang, namu
“Enggak, ampun. Gue nggak sengaja,” ucapnya di tengah erangannya.“Tangan lo itu udah lancing, dan lo tau itu artinya apa?”Lelaki itu menggeleng, meringis, bahkan teman-teman satu geng-nya pun tak ada yang berniat membelanya, apalagi menolong.“Makanya, kalo tolol jangan mabok. Apalagi sampe berani sentuh cewek gue sembarang.”“Ampun. Gue salah, maafin gue.” Ucapnya lagi.Ia sadar kalau Kara sedang marah besar sekarang, dan ia tidak berniat membuat lelaki itu semakin murka kalau dirinya tidak segera minta maaf.Sementara Diandra hanya diam, sibuk mencerna kejadian di depannya saat ini.“Vince,” panggil Kara.Dalam hitungan detik, Vincent sudah muncul di sisinya.“Bawa dia ke rumah sakit. Bayar semua pengobatannya sampe sembuh,” setelah mengatakan itu, Kara langsung menarik pergelangan tangan Diandra dan membawanya pergi dari club.“Aduh
Gadis itu membuka mulut, menikmati buah melon hasil suapan Kara, namun pandangannya masih belum berubah. Untuk melirik pun ia enggan.***Malamnya, Lavie memberitahu kalau Diandra ingin pergi ke party tanpa dirinya. Kara setuju tanpa kompromi, membuat gadis itu bertanya-tanya. Selama ini Kara cukup posesif dengan tidak membiarkan Diandra pergi ke party tanpa dirinya. Tapi sekarang, Kara malah berbuat yang sebaliknya.“Gue akan ada di sana, tenang aja.” Ucap Kara lagi.Lavie mengangguk paham. Mungkin lelaki itu akan tetap hadir, namun memberikan jarak aman agar Diandra tidak merasa terganggu.***Diandra pergi ke club bersama teman-temannya. Lavie, Claudia, Gavin, dan Seno, semuanya ada di sana. Hanya Kara yang tidak kelihatan batang hidungnya.Diandra melarangnya, tidak ingin lelaki itu ada di pesta malam itu. Dan Kara menghargai keputusan kekasihnya, namun ia tetap tidak akan membiarkan gadis itu pergi s
“Aku nggak akan pergi. Aku akan selalu di sini. Di samping kamu, nemenin kamu.” Katanya dengan penuh kelembutan.Kara menariknya ke dalam pelukan. Memberikan kehangatan dan kenyamanan yang dibutuhkan gadis itu. Tidak membiarkan Diandra merasa bersalah untuk sesuatu yang memang bukan salahnya.“I love you, sayang.”***Suara alarm berdenting lirih, layar ponselnya menunjukkan angka jam empat pagi. Sunyi, hanya sesekali terdengar napas teratur Diandra yang masih terlelap di sisinya.Kara masih terjaga memeluk kekasihnya, menatap sejenk wajah damai gadis itu saat sedang tidur. Ada sesuatu di sana yang membuatnya enggan untuk beranjak. Ia tahu dirinya tak akan bisa tidur lagi malam ini.Perlahan, ia melepaskan genggaman tangan Diandra, meraih ponselnya, lalu melangkah ke luar kamar.“Kara,” lelaki itu menoleh saat seseorang memanggil namanya.Itu Lavie, yang berdiri dari sofa dan mengham
‘Kara,’ batinnya.Matanya hanya tertuju pada lelaki itu. Ia melangkah mengikuti instingnya untuk menuju ke arahnya. Mereka berdiri berhadapan. Tidak ada suara, namun tatapan keduanya sudah menunjukkan semuanya.Kerinduan. Kesedihan. Kehancuran.Kara mengulurkan tangan, mengelus anak rambut Diandra yang berantakan.Sementara gadis itu malah memukulinya berkali-kali. Mulai dari wajah, dada, hingga ke lengannya. Ia memukul seolah menyalurkan emosinya di sana. Kara tidak bergeming, membiarkan saja saat Diandra justru semakin brutal memukulinya.Ia tahu, ia bersalah. Dan ia bersedia menerima konsekuensinya.“Jahat. Kamu jahat.” Setelah lelah memukuli Kara, Diandra menangis sekencang-kencangnya.Tubuhnya nyaris merosot kalau saja Kara tak segera menangkapnya dan mendekapnya dalam pelukan yang erat.“Maaf… maaf,” sebutir air mata Kara lolos melewati garis rahangnya.Ia mendekap erat ke







