LOGIN“Kak Kara, hari ini jadi nemenin gue keliling sekolah?” Seorang gadis tiba-tiba menghampiri Kara, berbicara padanya dengan suara lembut dan cenderung manja.
Senyum cantik di wajah Diandra memudar, alisnya berkerut, dan matanya menatap tajam pada dua orang yang tengah berbicara santai tak jauh darinya.
Itu adalah Salsa, seorang siswi pertukaran pelajar dari sekolah lain. Yang entah bagaimana bisa menjadi tanggung jawab Kara selama Salsa berada di sekolah ini.
“Sure,” jawab Kara singkat, namun… Diandra bersumpah ia melihat seulas senyum tipis di sudut bibir lelaki itu.
Diandra kesal bukan main saat melihat Kara bisa setenang itu berbicara dengan gadis lain. Bahkan tersenyum. Tersenyum!
Diandra merasa iri luar biasa. Merasakan panas perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya saat melihat kedekatan mereka berdua, berjalan bersama keluar lapangan, meninggalkan Diandra sendiri di sana.
Gadis itu mendesah menatap punggung Kara yang perlahan menjauh, lalu menghilang.
“See?” Ujar Lavie yang berdiri di sisi kanannya.
“Beneran cewek dari sekolah lain?” Lanjut Claudia yang berdiri di sisi kirinya.
“Astaga, kalian berdua ngagetin aja. Muncul dari mana sih?” Diandra mengelus dada sambil menatap sahabatnya itu dengan dramatis.
“Dari tadi juga kita di sini, elo-nya aja yang sibuk liatin crush sampe nggak sadar,” Lavie memutar bola matanya malas.
“Hehe, sorry. Habisnya Kara tuh ganteng banget. Gue mana sempet merhatiin yang lain kalo ada dia di depan gue,” Diandra mencoba tersenyum, meskipun sorot matanya jelas menunjukkan kesedihan.
“Jadi gimana?” Tanya Claudia.
“Apanya?”
“Mundur atau lanjut?”
“Meskipun kayaknya dia udah muak banget sama gue, tapi gue masih sanggup buat lanjut,” jawab Diandra penuh tekad.
Lavie merangkul Diandra.
“Semangat ya, babe.”
“Always,” lanjutnya diakhiri desahan kecil.
“I hope, someday Kara akan punya perasaan yang sama ke elo.”
“I hope so.”
“Pokoknya Diandra harus tetap semangat mengejar cinta Kara,” sahut Claudia sambil mengangkat satu tangannya ke udara.
Mereka tertawa bersama, lalu berpelukan untuk menunjukkan dukungan sepenuhnya pada Diandra.
“Lo sendiri gimana?” Diandra menoleh pada Lavie.
“Hah?” Tanya Lavie bingung.
“Seno.”
“Kenapa dia?”
“Lo udah move on atau ada niat lanjut part dua?”
“Dih, kenapa jadi malah bahas gue?” Lavie mengernyit.
“Seno itu masa lalu, ya. Udah mantan,” lanjutnya.
“Kan, bisa balikan. Lagian mantan mana yang ke mana-mana masih barengan, yang dikit-dikit minta peluk, minta puk-puk,” ucap Diandra lagi.
“Ih, kok jadi ngeledekin gue sih? Mikir tuh gimana cara buat deketin Sangkara lagi. Karena saingan lo bukannya berkurang, tapi malah nambah tiap harinya,” sahut Lavie tak mau kalah.
“Tau deh, gue juga bingung. Kenapa banyak banget sih yang suka sama dia tuh. Padahal, kan, masih banyak cowok keren lain di sekolah ini. Seno misalnya—”
“Stop bawa-bawa Seno dalam urusan percintaan lo ya, Di,” Diandra tertawa puas saat melihat Lavie melotot kesal padanya.
Diandra berjalan cepat menuju kelasnya, sementara Lavie dan Claudia menyusul di belakangnya. Mereka hendak kembali ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Setelah ini adalah jam mata pelajaran Mr. Jo, kalau sampai terlambat, tamatlah mereka semua.
“Lo dari mana?” Tanya Gavin—satu-satunya—sahabat cowok Diandra, saat gadis itu baru saja duduk di bangku sebelahnya.
“Biasa,” Diandra tersenyum sambil memainkan alisnya naik turun.
“Sangkara lagi?”
Diandra tersenyum melihat wajah malas Gavin. Ia sudah terbiasa dengan respons teman-temannya tiap kali dirinya menghabiskan waktu untuk mengejar cinta Sangkara selama tiga tahun masa SMA-nya.
“Mundur deh kata gue, Sangkara udah terang-terangan nunjukin kalo dia nggak tertarik sama lo,” ujar Gavin.
“Masih ada waktu, Vin.”
“Mau sampai kapan?”
“Sampai gue capek, maybe.”
Diandra mengedikkan bahu, merasa tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
“Lo cantik, baik, nyenengin. Nggak pantes ngejar-ngejar cowok sampai segitunya,” lanjut Gavin, masih belum menyerah dalam misi menyadarkan sahabatnya.
“Semua itu percuma kalo Kara sendiri nggak suka,” Diandra mendengus pelan, lalu menekuk tangannya dan menyandarkan kepala di atasnya.
“Terserah lo deh,” Gavin menatap malas sebelum akhirnya memfokuskan diri pada mata pelajaran matematika yang akan segera dimulai.
Cantik, kaya, dan populer, adalah tiga kata penting yang menggambarkan sosok Diandra Wiratama. Selain terkenal karena parasnya yang cantik dan mencolok, Diandra juga adalah seorang putri tunggal dari pengusaha kaya raya—Rasya Wiratama. Tak heran penampilannya selalu menjadi nomor satu, sekaligus trendsetter di antara teman-temannya yang lain.
Selain itu, Diandra sendiri memiliki kepribadian extrovert yang menyenangkan, ramah, dan mudah bergaul. Diandra kenal dan berteman dengan siapa saja, sama sekali tidak membatasi diri soal lingkup pergaulannya. Hanya saja untuk sahabat, ia memang cukup selektif, tidak ingin menambah orang lain selain Laviena, Claudia, dan Gavin.
Soal akademik, namanya masih selalu masuk ke dalam lima puluh besar peringkat sekolah. Kedua orang tuanya juga tidak terlalu mempermasalahkan soal nilai pelajarannya. Mereka selalu mendukung apa pun yang ingin dilakukan oleh putrinya.
Dan hal tersibuk serta paling menyita masa muda Diandra adalah…. Kara—Sangkara Adhiyatsa, si introvert jenius, yang mampu memikat hati para gadis seantero sekolah.
“Dia baca teks gue nggak, ya?” Diandra mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja.
Ia lalu menoleh ke samping dan mendapati Claudia yang juga tengah menatap ke arahnya dan bertanya, “Kenapa?”, tanpa suara. Namun Diandra masih dapat membaca gerakan bibirnya dengan jelas.
“Kara,” jawab Diandra dengan bahasa bibir yang sama.
Diandra meringis tanpa dosa saat melihat wajah muak Claudia.
Tring.
Senyumnya merekah saat akhirnya ponselnya bergetar, menunjukkan sebuah notifikasi masuk. Diandra buru-buru melihat ponselnya, matanya mengernyit… itu bukan Kara, melainkan mommy-nya.
***
Dan saat bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, Diandra buru-buru memasukkan buku dan peralatan sekolahnya ke dalam tas, lalu menjadi orang pertama yang meninggalkan kelas. Ia melangkah cepat menuju parkiran, mengabaikan langkah kaki teman-temannya yang menyusul di belakangnya.
“Buru-buru banget, mau ke mana sih?” Tanya Lavie saat berhasil menyamai langkah kakinya.
“Jemput mommy. Mobilnya bermasalah katanya, jadi gue yang disuruh jemput deh.”
“Oh.”
“Gue duluan, ya. Bye!”
Diandra kembali melangkah cepat, menuju Mercedes-AMG GTR maroon miliknya. Lalu melesat secepat kilat ke tempat arisan mommy-nya.
***
“Diandra, kita nganterin temen mommy dulu, ya? Nggak apa-apa, kan?”
“It’s oke, mom.”
Diandra mengedikkan bahu. Setuju-setuju saja dengan permintaan mommy-nya.
“Mir, ini Diandra anak aku,” ucap Helena—mommy Diandra—pada teman sejawatnya.
“Halo, Diandra. Miranda, nice to meet you,” wanita itu tersenyum ramah.
Diandra ikut tersenyum dan balas memperkenalkan diri.
“Halo, tante. Diandra.”
“Anak kamu cantik, ya,” puji Miranda.
“Iya, dong. Siapa dulu mommy-nya.”
Mereka bertiga pulang bersama satu mobil, sambil sesekali mengobrol untuk mencairkan suasana.
“Diandra pulang sekolah, ya?” Tanya Miranda.
“Iya, tante.”
“Sekolah di mana?” Tanyanya lagi.
“Central School, tante.”
“Waaah, sama dong kayak anak tante. Anak laki-laki tante juga sekolah di sana loh.”
Saat matahari mulai terbenam, perayaan berpindah ke Loggia Segre untuk resepsi yang lebih intim dan romantis. Cahaya senja yang lembut menambah keanggunan vila dan menciptakan suasana hangat dan magis untuk makan malam dan pesta.Kara mengangkat gandengan tangan Diandra tinggi-tinggi. Memamerkan istrinya yang tampak luar biasa dengan balutan dress warna merah marun yang pekat dengan kilau khas kain satin yang jatuh mengikuti lekuk tubuh. Gaun itu memiliki tali bahu yang sangat tipis dengan potongan square neck, memberikan kesan minimalis namun tetap seksi.Bagian pinggngnya terdapat kerutan artistik yang memberikan dimensi pada kain, sebuah potongan sempurna untuk menonjolkan siluet tubuh Diandra. Gaun itu juga memilki belahan tinggi di satu sisi, menampilkan kaki jenjang Diandra yang tampak cantik dibalut sepatu hak tinggi berwarna senada.Sementara Kara, tetap setia dengan stelan serba hitamnya. Menurut Diandra, Kara tidak memiliki warna lain
Diandra berdiri!Benar-benar berdiri.Ia bahkan mulai melangkah pelan ke arahnya.Kara refleks hendak melangkah maju, namun lengannya segera ditahan oleh Seno yang berdiri tak jauh darinya, berperan sebagai groomsmen untuknya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Seno menggeleng pelan padanya. Kara berdeham sekali, membenarkan letak jasnya, dan kembali berdiri tegak di posisinya semula.Matanya tak luput dari memandangi Diandra yang berjalan seorang diri dengan anggun menuju ke arahnya. Gadis itu sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna off-white yang menampilkan kesan romantis dan klasik. Gaun itu memiliki potongan A-line yang memberikan siluet ramping pada bagian pinggang dan melebar secara anggun ke bawah.Bagian atasnya menggunakan desain kerah V-neck yang rendah dengan ilusi kain transparan pada bagian bahu dan lengan panjang, yang mana seluruh bagiannya dihiasi bordir renda floral, memberik
“Baru deket,” ucap Gavin akhirnya.“Baru?” Diandra bertanya lagi.Gavin mengangguk.“Cepet juga ya progressnya,” semua orang menatap Lavie dengan penasaran.“Maksudnya?” Gavin bertanya.“Nggak… bukan apa-apa,” Laviena menolak jujur.“Arena balap, seminggu yang lalu, di parkiran,” Kata Seno asal.Deg.Tidak ada yang tahu itu suara jantung siapa. Yang pasti, ada empat orang yang sadar diri tengah dibicarakan di sana.“Lo… liat?” Tanya Gavin gugup.Seno dan Laviena mengangguk bersamaan.Gavin mengusap wajahnya gusar, merasa malu karena tertangkap basah oleh sahabat beserta pacarnya juga.“Ya udah sih, nggak perlu malu juga. Kayak sama siapa aja.”“Sejak kapan?” Tanya Diandra penasaran.“Udah dong, kok malah jadi bahas gue sih. Harusnya kan sekarang kita seneng-seneng bareng, dan mungkin juga kita bisa bantuin Diandra buat persiapan pernikahannya. Iya, kan?” Kata Claudia, berusaha berbicara dengan normal.“Iyaaaa.” Jawab mereka semua bersamaan.Sementara Miranda, Marcel, dan juga Lucyana
“Kayaknya sih iya. Balapannya udah selesai juga,” sahut Seno yang berdiri di sampingnya.“Mereka ciuman,” lanjut Lavie.“Mungkin buat ngerayain kemenangan,” Seno mengedikkan bahunya acuh.“Di tempat kayak gini?”“Kayak baru pertama liat aja. Bukannya mereka emang sering kayak gitu, ya? Kita bahkan liat mereka ciuman pertama kali di tempat pesta.”Laviena dengan cepat menatap ke arah kekasihnya. Merasa ada kesalahpahaman dalam obrolan mereka.“Ini kita lagi ngomongin orang yang sama, kan?” Tanya Lavie.“Emangnya enggak?" Seno menggaruk lehernya, tersenyum canggung bahkan tanpa ia tahu alasannya.“Kamu lagi ngomongin siapa kutanya?”“Tuh, Diandra sama Kara, kan?” Seno menunjuk Kara dan Diandra yang tengah berciuman di dalam mobil, dengan dagunya.Laviena mengarahkan pandangannya ke arah mobil Diandra. Dan benar, ked
“Yakin, aku juga nggak mau kalah dong dari kamu.”“Tapi… ini bahaya, sayang. Kamu nggak bisa lakuin ini hanya karena alesan itu.”“Aku bisa dan aku akan buktiin. Lagipula ada kamu ini di sini, seenggaknya kamu bisa jadi navigator aku." Ucapnya, membuat Diandra seketika mengangguk dan tersenyum.“Di depan nanti ada tikungan, kurangi kecepatan dan ambil bagian kiri jalan sebelum belok ke kanan,” Kata Diandra saat mobil mereka baru saja melaju di tengah arena.Kara menambah kecepatan, mengatur ritme, dan melaju kencang di lintasan. Beberapa kali bahkan lelaki itu tampak bersorak bahagia saat berhasil melampaui satu orang lawannya. Kemudian menambah kembali kecepatannya untuk menyalip lawan yang lainnya.Setelah melewati dua tikungan panjang, akhirnya mereka berhasil mencapai finish di urutan kedua. Kara refleks berteriak sambil memukul kemudi di depannya, ekspresi kepuasan jelas sekali terlihat
“Kamu! Kamu alasannya. Karena aku mau jaga perasaan kamu, aku nggak mau kamu sampe mikir kalau aku masih punya perasaan ke Diandra.”Claudia menggeleng, air matanya mengalir begitu saja di pipinya.“Aku nggak nyangka kamu sejahat ini menilai aku. Jadi selama ini, kamu selalu mikir kalo aku orang yang kayak gitu? Iya?”“Clau…” Gavin kehilangan kata-kata.Melihat Claudia semarah ini, cukup membuatnya panik juga.“Jangan sentuh aku, Vin!” Claudia menepis kedua tangan Gavin yang hendak mendarat di lengannya.“Kita udah temenan lama. Aku, kamu, Diandra dan Laviena. Kita semua punya komitmen untuk saling jaga dan saling sayang sampe kapanpun. Jadi nggak ada alasan buat aku berubah sikap ke Diandra hanya karena kamu pernah punya perasaan ke dia. Kamu pernah mikir nggak, kalo emang aku sepicik itu, aku pasti udah punya niat jahat ke Diandra dari dulu. Dari saat kamu masih cinta banget sama
“Selama itu?” Tanyanya memastikan.Diandra mengangguk yakin.“Kenapa? Kan, ada Vincent yang jagain kamu?” Tanyanya lagi.“Nggak asyik, ah, kalo party diikutin Mas Vincent tuh. Aku gaboleh pake baju pendek, gaboleh minum minuman yang ada
“Eh, udah-udah. Kenapa malah pada ribut, sih? Ini gue lagi deg-degan parah, loh, karena bentar lagi mau Sempro. Kalian malah sibuk berdebat.”“Dia duluan tuh yang mulai!” Seru Lavie tak mau kalah.“Ya, lo ngatain gue sombong,” Gavin tak mau kalah.
‘Mati gue.’“M-masih, kok.”“Terus?”“Masih suka shopping kok dia. Kamu liat aja di kamarnya tuh, masih banyak baju, tas, dan sepatu yang masih ada tag harganya,” sahut Helena.“Tapi beneran aku ng
‘Sandrina Adhiyatsa. Putri dan adik kami tercinta, malaikat yang akan selalu kami sayangi dan kami ingat dalam hati.’Diandra tidak tahu bagaimana perasaan Kara dan keluarganya saat menuliskan kalimat itu di atas nisan Sandy yang telah tiada. Pasti rasanya sangat berat dan meny







