INICIAR SESIÓNsilahkan masukan ke daftar baca😘
"Mbak Lilis, beneran gak mau Mas Brandon jadi ayahnya Juna?" tanya Bu Siska pelan saat Lilis duduk terdiam di tepi ranjang. "Iya, Mbak Siska?" sahut Lilis melamun. "Saya kan sudah belasan tahun kerja di rumah orang-orang kaya dan konglomerat," tutur Bu Siska lembut, melangkah mendekati Lilis. "Jarang sekal, Mbak... bahkan hampir tidak pernah saya lihat ada bos besar yang mau menurunkan gengsinya demi memanjakan anak orang lain seperti yang Pak Brandon lakukan pada Mas Juna." Lilis menoleh. "Mbak Siska mikir gitu juga?" "Pria sekelas Pak Brandon itu kalau tidak punya perasaan tulus, tidak akan mau repot-repot, Mbak," lanjut Bu Siska mantap. "Sepertinya Pak Brandon sangat menyukai Mbak Lilis... dan juga sangat menyukai anak-anak. Kalaupun nanti Mbak Lilis dan Pak Brandon akhirnya jadi keluarga beneran, Mbak Lilis harus beri kesempatan buat Pak Brandon." Lilis tertawa kecil yang terdengar canggung. "Aduh Mbak Siska, jauh banget mikirnya. Aku ini cuma mantan korban KDRT dan jand
"Papa Brandon!" panggil Juna tiba-tiba, berlari mendekat dari arah kasur sambil memeluk kaki Brandon. Suara kecil Juna seketika membuat Lilis membeku di tempat. Matanya terbelalak menatap Juna, lalu bergantian menatap Brandon. "Ju-Juna? Kamu panggil Om Brandon... apa tadi?!" tanya Lilis kaget, jantungnya mendadak berdegup kencang. Juna langsung menutupi mulut kecilnya dengan kedua tangan, teringat 'janji rahasia' yang ia buat dengan Brandon kemarin. Anak polos itu bersembunyi di balik tungkai kaki Brandon. Brandon terkekeh pelan, mengusap kepala Juna dengan tenang tanpa raut panik sedikit pun di wajahnya. "Nggak apa-apa, Juna. Mama udah dengar kok," goda Brandon, lalu menatap Lilis yang wajahnya mulai memerah padam. "Kak Brandon! Kok Juna bisa panggil Kakak 'Papa'?!" desak Lilis dengan nada heran sekaligus malu. "Kakak ngomong apa sama Juna kemarin?!" Brandon menyunggingkan senyum tipis yang penuh pesona. "Saya cuma menawarkan. Lagipula, Juna kelihatannya suka banget pun
Malam itu juga, video rekaman keributan yang diambil oleh salah satu penghuni apartemen mendadak diunggah ke TikTok dan Twitter. Video berdurasi satu menit itu memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana Puji berteriak-teriak seperti orang kesurupan, Wulan yang memaki-maki petugas, dan Rendy yang diseret paksa oleh empat orang satpam.Judul videonya viral dalam hitungan jam, ‘Dramatis! Satu Keluarga Labrak Mantan Istri di Apartemen Mewah, Akhirnya Diangkut Satpam!’Keesokan harinya, Wulan yang merupakan pengagum berat media sosial dan selalu memantau isu viral mendadak menjerit histeris di dalam kamar rumah berlantai dua milik Rendy dan Lilis."MAS RENDY!! IBU!! LIHAT INI!!" teriak Wulan dengan suara melengking.Puji yang sedang menyeduh teh instan di dapur berlari panik ke kamar. "Ada apa, Wulan?! Ada apa?!"Wulan menyodorkan layar ponselnya dengan tangan gemetaran. "Muka kita viral, Bu! Muka kita masuk akun gosip besar! Komennya udah puluhan ribu!"Puji memicingkan matanya membaca
"Lilis! Buka pintunya! Kamu benar-benar anak jahat ya! Buka!" kini suara Puji yang melengking ikut berteriak dari balik pintu. "Kak Lilis! Jangan sok sembunyi di dalam! Keluar lu!" timpal Wulan tak kalah kencang. Lilis seketika pucat pasi. Seluruh tubuhnya mendadak gemetar hebat. Bagaimana bisa mereka bertiga menemukan lokasi apartemen privat milik Brandon ini? "Kok... kok mereka bisa ada di luar?!" bisik Lilis panik, napasnya memburu kencang. Brandon berdiri dengan tenang, wajahnya seketika berubah dingin dan berbahaya. Ia melirik jam tangannya, lalu menatap Lilis yang hampir menangis karena trauma masa lalunya mendadak terpicu kembali. "Lis, tenang. Masuk ke kamar, kunci pintunya dari dalam bersama anak-anak dan Bu Siska," perintah Brandon dengan nada datar namun penuh wibawa. "Tapi Kak... Rendy pasti nekat! Mereka bertiga keras kepala banget!" rengek Lilis ketakutan, tangannya gemetaran saat memegang lengan jas Brandon. Brandon memegang kedua bahu Lilis, menatap mata
Di ruang tengah apartemen yang luas itu, suara gelak tawa bocah laki-laki terdengar menyatu dengan alunan lembut televisi. Lilis berdiri sebentar di ambang pintu kamar, mengamati pemandangan di depannya. Di atas karpet bulu yang empuk, Brandon tampak bertekuk lutut, sibuk menyusun pasukan robot mini berbentuk pahlawan Avengers bersama Juna. Lilis tersenyum tipis. Pemandangan itu terasa begitu hangat. Namun, ia menyimpulkan sederhana bahwa Brandon hanya sedang bersikap ramah sebagai tuan rumah yang baik. Lilis sama sekali tidak tahu kalau di balik tawa hangat itu, otak pengacara Brandon sedang bekerja menyusun strategi besar. "Mbak Lilis, yuk saya bantu tidurkan Dek Vivian," bisik Bu Siska pelan agar tidak mengganggu fokus Juna. Lilis mengangguk. "Iya, Mbak Siska. Makasih ya." Begitu pintu kamar tidur tertutup rapat dan Lilis tak lagi terlihat, Brandon langsung melancarkan aksinya. Pria itu memajukan duduknya, mendekati Juna yang sedang memegang robot Iron Man. "Juna," pangg
"Lilis, kan?" tanya Meghan. Menyebut nama Lilis dengan nada meremehkan. "Tante rasa... Tante tidak perlu bicara panjang lebar atau berbelit-belit. Tante sudah tahu semua tentang kamu. Statusmu, latar belakang keluargamu yang berantakan, sampai dua anak balita yang kamu bawa dari pernikahan gagalmu." Lilis menahan napas. Jari-jarinya saling bertaut rapat di bawah meja. "Tante menolak kamu," ucap Meghan tanpa keraguan sedikit pun. "Tante tidak akan pernah merestui kamu berada di dekat anak Tante. Keluarga kami punya standar, dan kamu... sama sekali tidak masuk dalam kriteria itu." Atmosfer di meja makan itu mendadak menjadi sangat dingin. Penolakan secara mentah-mentah dari Meghan terasa bagaikan tamparan keras yang menghantam wajah Lilis. Lilis baru saja hendak membuka suara untuk merespons dengan sopan, namun Brandon lebih dulu memotong. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap ibunya dengan sorot mata yang tak tergoyahkan. "Mommy boleh menolak Lilis dengan alasan apa pun," tutur Bran







