LOGINEvelyn Hart has spent her life staying out of sight, focused, disciplined, and in control. But one spilled coffee breaks her routine and places her in the path of Alexander Drake, the icy and intimidating CEO of Drake Enterprises. Alexander is not used to being surprised, especially not by a quiet junior staffer who refuses to flinch under pressure. Intrigued by her quiet strength, he draws her into his orbit, where ambition and emotion dangerously intertwine. As professional boundaries blur and tension simmers, Evelyn and Alexander must confront the risk of a connection that could unravel them both.
View MorePertanyaan itu selalu menggelayut di pikiran Diandra. Mengapa aku dilahirkan? Mengapa mama membenciku, apakah salahku ?Setiap aku berbuat kesalahan segala sumpah serapah keluar dari mulut mama.
Tiada hari tanpa ada cinta, tak ada senyum yang ada hanyalah muka datar, dingin ,bibir tipis mengurat kuat menjadi satu garis, mulut terbuka jika mama mengamuk karena aku melakukan kesalahan.itu selalu bertarung di pikiran Dandra. “Kamu seperti laki-laki itu, malas, tidak mau bertanggungjawab!”Teriak mama dan Diandra langsung mengerutkan keningnya, kata-kata itu lagi keluar dari mulut mama membuat Diandra bingung. “Uang? Setiap hari uang! Aku mau kuliah tidak bisa, bahkan harus melupakan cita-citaku karena kamu!”Teriak mama sambil membanting benda yang dipegangnya jika Diandra minta uang untuk kegiatan sekolah. Kekerasan mental baik verbal maupun tindakan membuat Diandra tidak sanggup menghadapinya, Diandra sangat tersiksa hidupnya, membuat Diandra depresi, melakukan tindakan menyakiti dirinya atau bahkan ada keinginan untuk bunuh diri. Kepingan pertanyaan, siapakah ayahku, siapakah aku? Apakah aku anak yang tidak diakui kehadirannya? Dingin dan sepi menyerap di kamar tidurnya menyisakan pertanyaan-pertanyaan, bentrok dengan mamanya ketika Diandra mendapati mamanya mabuk, mengoceh , memaki laki-laki yang disebut bajingan yang tidak mau bertanggungjawab. “Seburuk apakah masalah yang mama hadapi hingga mama selalu mabuk?" Bisiknya lirih. "Setiap aku melarang mama untuk tidak minum alkohol mama memarahiku kata -kata, bukan urusanmu!Bertahun-tahun aku bisa mengatasinya sendiri." bisik Diandra mengusap dadanya yang bergetar hebat menahan tangisnya. Pertengkaran hebat dengan mamanya kembali terjadi ketika Diandra minta uang untuk bayar uang praktikum. "Uang uang... yang selalu di otakmu! Kamu kira laki -laki itu kasih uang? No! Kalau tidak ada tante Deasy kita tidak bisa makan." “Mama hanya memikirkan hidup mama sendiri. Tahukah mama aku selalu merasa bersalah karena mama selalu mengatakan karena aku, mama tidak bisa meraih cita-cita yang mama impikan?” jawab Diandra. “Seharusnya kamu harus sadar mengapa mama jadi begini.” “Kalau begitu mengapa mama tidak menggugurkan saja waktu mama tahu mengandung aku?” “Bajingan itu berjanji akan mengawini ku, dia mengkhianati janjinya. Menikah dengan wanita yang lebih kaya." “Lebih baik aku pergi dari rumah ini!”Teriak Diandra. “Pergi? Silahkan! Lebih baik mama tidak melihatmu. Melihatmu seperti melihat bajingan itu!”Teriak mamanya. Ada tatapan benci yang ditunjukkan mamanya kepada Diandra disertai melempar gelas dan botol minuman ke arah Diandra. Diandra benar-benar pergi meninggalkan rumah, meninggalkan mamanya yang terus berteriak bagaikan orang gila ditatap para tetangga. Semua tetangga tahu betapa tersiksanya Diandra yang selalu dicaci maki mamanya. "Anak haram itu dimarahin mamanya lagi," "Kasihan, setiap hari dimarahin." "Mau kemana anak haram itu pergi?" Cicit tetangganya, hanya sekedar prihatin dimulut , mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ketidakmampuan mereka untuk turut campur masalah ibu dan anak. *** Setelah jauh dari rumahnya Diandra baru sadar kemana ia tidak tahu kemana akan pergi, teringat akan tante Deasy teman mama yang setiap bulan datang ke rumah membawa uang dan sembako. Diraihnya ponsel jadul yang ada dalam tas kemudian menghubungi tante Deasy. Tidak tersambung. Hujanpun turun, semula rintik-rintik akhirnya hujan deras menyirami kota Surabaya, dalam keadaan basah kuyup dan mata memerah, Diandra sulit mencari lokasi tempat tinggal tante Deasy. Dicarinya tempat berteduh, dengan harapan hujan akan berhenti. Malam semakin larut, hujan bukannya berhenti malah semakin deras disertai petir dan kilat membuat Diandra ketakutan. Diraihnya ponsel, kembali mencoba menghubungi tante Deasy. "Hallo, Ndra, ada apa menelpon tante,"terdengar suara dari seberang. "Tante, Diandra diusir mama dari rumah." "Fiona mengusir mu? Kamu dimana sekarang ?" "Tidak tahu tante, Diandra tersesat. Hujan deras Diandra tidak bisa melihat arah jalan ke rumah tante Deasy. Diandra terpaksa berteduh." "Berikan alamat tempat kamu berteduh." Diandra memberitahukan alamatnya, "Oh, kamu jalan terus saja. Keluar dari gang Kelinci, di depan gang ada toko kelontong. Nah... di seberang toko kelontong...." "Baik tante," "Nanti Yu Nem menunggumu di pintu gerbang," **** Berlari-lari Diandra menerjang hujan, petir dan kilat dihiraukan yang penting cepat sampai ke rumah tante Desay, satu-satunya harapan yang ada di hatinya. Kepercayaannya bahwa tante Deasy yang baik hati pasti akan menerimanya , bahkan menampung di rumahnya. Penjaga rumah dan yu Nem sudah menunggunya di depan pintu gerbang, menyodorkan payung yang sebenarnya tidak perlu karena Diandra sudah basah kuyup. "Ayo masuk, lalu mandi, " perintah yu Nem, pembantu rumah tangga tante Deasy yang kadang-kadang menggantikan tante Desay membawa sembako bahkan makanan sisa pesta di rumah tante Deasy. "Kamu pergi dari rumah mamamu? Dasar anak nakal!"tegur tante Deasy begitu melihat Diandra setelah mandi mencari tante Deasy yang menunggunya di ruang makan. Diandra menunduk,ada ketakutan jika tante Deasy menyuruhnya kembali ke rumah, "Saya tidak tahan tinggal sama mama, bisakah saya tinggal sama tante? Saya dengar tante punya tempat kost dengan duapuluh pintu, saya akan bekerja untuk tante, asal saya ada tempat tinggal ...." "Tante tidak keberatan kamu tinggal sama tante. Mengenai apa yang akan kamu kerjakan, kita bicarakan besok pagi. Kamu pasti lapar?" tanya tante Deasy. Diandra mengangguk, " Ayo temanin tante makan, jangan sungkan-sungkan anggap rumah tante , rumahmu juga." "Terima kasih tante." Sejak pergi dari rumah meninggalkan mamanya kehidupan Diandra berubah drastis, ia mendapatkan kehidupan yang penuh kemewahan yang tidak pernah ia bayangkan. Dari anak yang tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dia mendapatkan perhatian dari tante Deasy yang Diandra percaya menyayangi dirinya. Sebulan lebih Diandra tinggal di rumah tante Deasy, mamanya tidak pernah mencarinya. Diandra semakin yakin bahwa mamanya tidak mencintainya, hanya mencintai dirinya dan sibuk mengutuk pria yang mungkin adalah ayah kandungnya, ayah biologis yang meninggalkannya. Diandra setelah dirawat tante Deasy terlihat kecantikan yang semula tersembunyi dalam kekurusan tubuhnya dan kusamnya penampilan, telah berubah menjagi gadis cantik yang ceria . Anak kost yang kost di rumah tante Deasy sering membelikan Diandra baju, tas dan kue kesukaan Diandra.Mereka menjuluki Diandra, "Malaikat kecil tante Deasy." Diandra yang semula jarang tertawa bahkan tersenyum, mulai kelihatan energik. Tawa terkikik -kikik melihat para anak kost yang menggodanya bahkan tanpa mereka sadari mereka menceritakan masalahnya dengan boss nya. "Oom Harley memberikan mbak Yani uang banyak karena sukses membuatnya puas." "Mbak Yani kerja apa di kantor?" " Mbak cuma melayani dan merayu boss." "Terus dapat uang?" tanya Diandra menatap wajah mbak Yani dengan antusias. "Hmm...uang, tas dan ini jam tangan juga dikasihkan ke aku," kata mbak Yani. "Aku nanti mau jadi desainer perhiasan, apakah bisa dapat banyak uang?" "Bisalah,tapi dik Diandra harus belajar dulu," "Mbak Yani belajar juga?" Yang ditanya tidak langsung menjawab, menatap wajah mungil penuh kepolosan,"Orang tua mbak tidak mampu membayar uang kuliah,mbak tidak sampai kuliah." "Kok bisa dapat uang?" tanya Diandra dengan polosnya. "Tante Deasy yang mengajar mbak bisa dapat uang banyak." "Tante Deasy memang hebat, " jawab Diandra. "Dik Diandra harus pandai mengambil hati tante Deasy, pasti tante Deasy akan membuat dik menjadi kesayangan boss -boss," bisik mbak Yani di telinga Diandra. Gadis kecil itu tidak tahu telah dicekoki kata -kata tentang kehebatan tante Deasy, sejak itu tante Deasy menjadi panutan Diandra. ' Aku harus pandai mengambil hati tante Deasy,aku tidak boleh mengecewakannya biar mama melihat tanpa campur tangan mama aku bisa disayangi boss -boss.' batin Diandra dan itu tertanam dalam pikiran dan hatinya.Years later, when people spoke about the transformation of Drake Industries, they rarely mentioned names.They talked instead about practices.They spoke of how meetings changed shape. How questions were asked earlier rather than later, before momentum hardened into inevitability. How silence lost its authority and transparency stopped being treated as risk. They referenced frameworks, councils, long view planning, and cultures that refused to reward fear disguised as efficiency. They talked about patience as a skill that could be taught. Listening as a requirement rather than a courtesy. Accountability as something sustained, practiced daily, rather than invoked only in crisis.They talked about how decisions slowed, and how nothing collapsed because of it.
The morning arrived without ceremony.Sunlight slipped through the curtains, soft and unhurried, warming the quiet room. Evelyn woke before Alexander and lay still for a moment, listening to the steady rhythm of his breathing. There was no sense of anticipation pressing against her chest. No mental inventory of tasks. Just awareness.This was the life they had chosen.She rose quietly and moved through the house, opening windows, letting air and sound drift in. The city was awake but gentle. Somewhere below, a delivery truck rumbled past. A voice laughed. Ordinary life unfolding without demand.By the time Alexander joined her in the kitchen, coffee already brewing, the day had found its shape.“You are up early,” he said.
Time changed its behavior once Evelyn stopped tracking it as an adversary.Days no longer blurred together in defensive urgency. Weeks did not collapse under the weight of anticipation. Instead, time stretched and contracted naturally, like breath. Some moments passed unnoticed. Others lingered, quietly shaping her. She no longer measured progress by survival alone, but by steadiness.She noticed it one afternoon while reviewing a long term projection with the advisory council. The conversation moved slowly, deliberately. No one rushed toward consensus. No one sought the relief of closure. Silence was allowed to do its work.“This may take years,” someone said.Evelyn nodded. “Then we should let it.”The comment landed without
Morning broke with a low ceiling of clouds that turned the city to silver. Evelyn arrived early at Drake Tower, the lobby hushed and reflective, the security staff watching her with the tense courtesy that follows a night of quiet alarms. On her secure phone, Noah’s last message glowed like a sma
Evelyn sat at her desk well past midnight, the warm light of her reading lamp casting shadows on the walls. The flash drive Mason had given her sat plugged into her laptop, its contents unfolding like a map of betrayal.At first, it was just documents, internal memos, audit trails, unsigne
Evelyn moved through Thursday like a woman with a target on her back. The audit report had landed in Compliance first thing that morning, and the air around her had grown tense with anticipation. The truth was on paper now, undeniable and damning. All that remained was for the right people to rea
Evelyn didn't expect to find Alexander's grandmother, Celeste Drake, waiting for her in the sunroom of the townhouse that morning. The older woman sat perfectly composed, her posture regal despite the soft light slanting across the pale furniture. A tea tray sat untouched on the table beside her, t






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews