Home / Fantasi / Silsilah Naga Emas / 3 - Kota Tersembunyi di Balik Kabut

Share

3 - Kota Tersembunyi di Balik Kabut

Author: Lann
last update Last Updated: 2025-02-03 19:17:50

Kegelapan yang menyelimuti lorong bawah tanah itu terasa seperti selimut tebal yang menekan dada. Udara dingin dan lembap memenuhi paru-paru Li Zhen, membuatnya merasa sesak sekaligus gugup. Makhluk raksasa yang terbuat dari batu masih berdiri di hadapan mereka, matanya yang menyala merah seperti bara api menatap tajam, seolah-olah bisa membaca setiap pikiran yang melintas di benak mereka. Suaranya bergema keras, menggetarkan dinding-dinding batu yang rapuh.

"Kalian datang mencari Silsilah Naga Emas," kata makhluk itu dengan suara yang dalam dan mengguncang. "Namun, hanya mereka yang layak dapat melanjutkan perjalanan ini. Jika kalian tidak mampu melewati ujian, maka nyawa kalian akan menjadi milikku."

Li Zhen menelan ludah, tangannya gemetar saat ia memegang tas kecil yang berisi gulungan tua itu. Ia ingin bertanya apa ujian yang dimaksud, namun Mei Xiang lebih dulu melangkah maju, pedang pendeknya siap di tangan. "Kami siap menghadapi apapun yang kau berikan," katanya dengan nada tenang namun tegas. "Tunjukkan jalanmu."

Makhluk itu menggeram pelan, lalu mengangkat salah satu tangannya yang besar dan berbatu. Dengan gerakan lambat, ia menunjuk ke arah sebuah pintu batu yang tampak tertutup rapat di sisi lain ruangan. Pintu itu mulai bergerak perlahan, membuka celah sempit yang cukup untuk satu orang melewatinya. Di balik pintu itu, cahaya redup mulai muncul, memperlihatkan tangga batu yang menuju ke atas.

"Tunjukkan bahwa kalian layak," kata makhluk itu sekali lagi, lalu mundur ke dalam bayang-bayang, tubuhnya yang besar menghilang seperti asap yang tersapu angin. Suara langkah-langkahnya semakin menjauh, meninggalkan Li Zhen dan Mei Xiang sendirian di depan pintu.

Mei Xiang melangkah masuk tanpa ragu, namun Li Zhen masih berdiri diam, hatinya dipenuhi keraguan. "Bagaimana jika kita gagal?" tanyanya pelan, suaranya hampir hilang di antara desiran udara dingin.

"Kita tidak punya pilihan lain," jawab Mei Xiang tanpa menoleh. "Jika kita tidak melanjutkan, maka semua ini akan sia-sia. Kita sudah terlalu jauh untuk mundur."

Li Zhen menghela napas panjang, lalu mengikuti Mei Xiang menaiki tangga batu yang curam. Setiap langkah yang mereka ambil terasa berat, seolah-olah gravitasi sedang menahan mereka agar tidak naik lebih tinggi. Namun, semakin tinggi mereka naik, semakin terang cahaya yang menyinari jalan mereka. Akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan luas yang terbuka ke langit malam. Ruangan itu dikelilingi oleh dinding-dinding batu tinggi, dengan atap terbuka yang memperlihatkan bintang-bintang yang berkilauan di atas kepala mereka.

Di tengah ruangan, ada sebuah altar batu besar dengan ukiran-ukiran aneh yang mirip dengan simbol-simbol pada gulungan tua yang dibawa Li Zhen. Di atas altar itu, terdapat sebuah bola kristal besar yang berkilauan dengan cahaya biru samar. Cahaya itu tampak hidup, berdenyut seperti detak jantung.

"Apa itu?" tanya Li Zhen, matanya terpaku pada bola kristal tersebut.

"Itu adalah Ujian Jiwa," jawab Mei Xiang dengan nada serius. "Bola itu akan menguji niat dan kesucian hati kita. Jika kita layak, maka kita akan mendapatkan petunjuk tentang lokasi gulungan kedua. Tapi jika kita gagal..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, namun Li Zhen bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

Mei Xiang melangkah mendekati altar itu, lalu berlutut di depannya. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan bola kristal dengan hati-hati. Begitu kulitnya menyentuh bola itu, cahaya biru yang berdenyut tiba-tiba berubah menjadi warna merah menyala. Sebuah suara aneh—seperti bisikan banyak orang—terdengar di udara, menggema di seluruh ruangan.

"Kau telah datang mencari kebenaran," kata suara itu, rendah dan bergema. "Namun, kebenaran tidak selalu mudah untuk diterima. Apakah kau siap menghadapi konsekuensinya?"

Mei Xiang menunduk dalam-dalam, lalu menjawab, "Aku siap."

Cahaya merah itu mulai berputar cepat, menciptakan pola-pola aneh yang sulit dipahami. Kemudian, tiba-tiba, sebuah gambar muncul di dalam bola itu—gambar seorang wanita muda yang sangat mirip dengan Mei Xiang, namun wajahnya penuh dengan kesedihan dan kemarahan. Gambar itu mulai bergerak, menunjukkan adegan-adegan yang tidak bisa dimengerti oleh Li Zhen. Ada pertempuran, ada darah, ada tangisan. Mei Xiang tampak terkejut, bahkan mungkin ketakutan, namun ia tetap diam, matanya terpaku pada bola kristal itu.

Setelah beberapa saat, cahaya merah itu berubah kembali menjadi biru, dan suara itu berkata, "Kau telah lulus, namun masa lalumu akan terus menghantuimu. Berhati-hatilah dengan keputusanmu."

Mei Xiang bangkit dari posisi berlututnya, wajahnya pucat namun teguh. "Giliranmu," katanya kepada Li Zhen, suaranya terdengar lebih lembut daripada biasanya.

Li Zhen melangkah mendekati altar itu dengan ragu-ragu. Hatinya dipenuhi oleh rasa takut dan kebingungan. Apa yang akan ditunjukkan oleh bola kristal itu? Apakah ia juga akan melihat masa lalunya? Ataukah sesuatu yang lebih buruk?

Ia berlutut di depan altar, lalu menyentuh permukaan bola kristal dengan ujung jarinya. Segera setelah itu, cahaya biru yang berdenyut mulai berubah menjadi warna hijau terang. Suara yang sama seperti sebelumnya kembali terdengar, namun kali ini lebih lembut, lebih ramah.

"Anak muda," kata suara itu, "kau telah memulai perjalanan yang besar. Namun, perjalanan ini bukan hanya tentang mencari Silsilah Naga Emas. Ini tentang menemukan dirimu sendiri. Apakah kau siap untuk menghadapi kebenaran tentang siapa dirimu?"

Li Zhen menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang bergetar, "Aku... aku siap."

Cahaya hijau itu mulai berputar cepat, menciptakan pola-pola yang lebih kompleks daripada sebelumnya. Lalu, gambar-gambar mulai muncul di dalam bola itu. Pertama, ia melihat dirinya sendiri sebagai anak kecil, bermain di ladang bersama orangtuanya. Kenangan itu begitu jelas, seolah-olah ia sedang mengalaminya kembali. Namun, gambar itu tiba-tiba berubah—ia melihat orangtuanya jatuh sakit, kemudian meninggal dunia, meninggalkannya sendirian di desa Qingyun.

Gambar berikutnya menunjukkan dirinya yang lebih dewasa, bekerja di ladang dan membersihkan kuil tua. Namun, ada sesuatu yang aneh—di belakang setiap gambar, ada sosok bayangan besar yang mengikuti setiap langkahnya. Bayangan itu tampak seperti naga raksasa, namun wujudnya kabur, seolah-olah tidak sepenuhnya nyata.

Suara itu kembali berbicara, "Kau adalah keturunan dari garis darah kuno, anak muda. Darahmu mengalir dari para dewa naga yang pernah menjaga keseimbangan dunia. Namun, warisan ini juga membawa beban besar. Kau harus memilih apakah akan menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan atau untuk kepentingan dirimu sendiri."

Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Apa yang baru saja dikatakan bola itu? Ia adalah keturunan dewa naga? Bagaimana mungkin? Ia hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil. Namun, semakin ia memandangi gambar-gambar di dalam bola itu, semakin ia merasa bahwa ada kebenaran di balik kata-kata itu.

Setelah beberapa saat, cahaya hijau itu berubah kembali menjadi biru, dan suara itu berkata, "Kau telah lulus, namun perjalananmu masih panjang. Jagalah gulungan itu dengan baik, karena ia adalah kunci untuk menemukan jati dirimu."

Li Zhen bangkit dari posisi berlututnya, tubuhnya gemetar karena emosi yang bercampur aduk. Ia tidak tahu bagaimana harus merespons apa yang baru saja ia alami. Namun, Mei Xiang berdiri di sampingnya, menepuk pundaknya dengan lembut. "Kita semua memiliki rahasia yang harus kita hadapi," katanya. "Yang penting adalah bagaimana kita memilih untuk melanjutkan hidup setelah mengetahuinya."

Setelah ujian selesai, mereka melanjutkan perjalanan melalui lorong-lorong bawah tanah yang lain. Lorong-lorong itu semakin terang, dan akhirnya mereka sampai di sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu kuno. Di atas pintu itu, ada ukiran seekor naga yang melingkar, matanya terbuat dari batu permata biru yang berkilauan. Mei Xiang mendorong pintu itu perlahan, dan mereka melangkah keluar ke dunia luar.

Yang mereka lihat adalah sebuah kota besar yang tersembunyi di balik kabut tebal. Kota itu tampak seperti tempat yang berasal dari zaman kuno—bangunan-bangunan tinggi dengan atap melengkung, jalan-jalan berbatu yang dipenuhi oleh orang-orang yang berpakaian tradisional, dan lampu-lampu minyak yang memberikan cahaya hangat di setiap sudut. Namun, ada sesuatu yang aneh tentang kota itu—semua orang tampak seperti bergerak dalam keheningan, seolah-olah mereka tidak menyadari keberadaan Li Zhen dan Mei Xiang.

"Inilah Kota Tersembunyi," kata Mei Xiang, suaranya penuh dengan rasa hormat. "Tempat ini adalah salah satu pusat pengetahuan kuno di dunia. Di sini, kita mungkin bisa menemukan jawaban tentang gulungan kedua."

Mereka mulai berjalan menyusuri jalan-jalan kota, mencoba mencari informasi tentang Silsilah Naga Emas. Namun, semakin lama mereka berada di sana, semakin mereka menyadari bahwa kota ini tidak seperti tempat-tempat lain yang pernah mereka kunjungi. Ada sesuatu yang magis tentang atmosfernya—seolah-olah waktu berjalan lebih lambat, dan setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat ke kebenaran yang mereka cari.

Di salah satu sudut kota, mereka menemukan sebuah toko kecil yang tampak tidak terawat. Di depan toko itu, ada seorang pria tua yang duduk di kursi goyang, matanya tertutup seolah-olah ia sedang tidur. Namun, ketika mereka mendekat, pria itu tiba-tiba membuka matanya dan menatap mereka dengan pandangan tajam.

"Kalian mencari sesuatu yang hilang," kata pria itu dengan suara yang serak namun penuh otoritas. "Namun, apa yang kalian cari mungkin tidak akan membawa kalian kebahagiaan."

Li Zhen dan Mei Xiang saling bertukar pandang, lalu Mei Xiang melangkah maju. "Kami mencari Silsilah Naga Emas," katanya dengan nada hati-hati. "Apakah kau tahu sesuatu tentang itu?"

Pria tua itu tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Masuklah," katanya, menunjuk ke dalam toko. "Ada sesuatu yang mungkin bisa membantu kalian."

Mereka masuk ke dalam toko itu, yang ternyata penuh dengan barang-barang aneh—manuskrip kuno, senjata magis, dan artefak-artefak yang tidak bisa mereka pahami. Pria tua itu mengambil sebuah kotak kayu kecil dari rak, lalu membukanya dengan hati-hati. Di dalam kotak itu, ada sebuah peta tua yang tampak rapuh, dengan tulisan-tulisan kuno yang sulit dibaca.

"Inilah petunjuk menuju gulungan kedua," kata pria itu. "Namun, perjalanan menuju lokasi itu tidak akan mudah. Kalian harus melewati Kuil Bulan Hitam, tempat yang dijaga oleh makhluk-makhluk gaib yang tidak kenal ampun."

Li Zhen merasa jantungnya berdebar kencang. Kuil Bulan Hitam? Apa yang ada di sana? Dan bagaimana mereka bisa menghadapi makhluk-makhluk gaib? Namun, Mei Xiang tampak lebih tenang, seolah-olah ia sudah mempersiapkan diri untuk tantangan apa pun.

"Terima kasih," kata Mei Xiang, lalu mengambil peta itu dengan hati-hati. "Kami akan melanjutkan perjalanan ini."

Pria tua itu mengangguk, lalu menutup kotak kayu itu. "Ingatlah," katanya dengan nada peringatan, "bahwa kekuatan besar selalu datang dengan harga yang besar. Hati-hatilah dengan apa yang kalian inginkan."

Dengan peta di tangan, Li Zhen dan Mei Xiang meninggalkan toko itu, siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Kuil Bulan Hitam. Mereka tahu bahwa tantangan yang lebih besar masih menanti di depan, namun mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa mundur. Perjalanan ini bukan hanya tentang mencari Silsilah Naga Emas—ini tentang menemukan kebenaran tentang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Saat Li Zhen dan Mei Xiang melangkah keluar dari toko tua itu, mereka tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengamati setiap gerakan mereka dari bayang-bayang. Mata itu milik seorang pria berjubah abu-abu dengan tudung yang menutupi wajahnya, membuat identitasnya tak terlihat. Pria itu telah mengikuti mereka sejak mereka memasuki Kota Tersembunyi, namun ia sangat ahli dalam menyembunyikan keberadaannya—begitu ahli hingga bahkan Mei Xiang, yang biasanya sangat waspada, tidak menyadarinya.

Pria itu mengeluarkan sebuah bola kristal kecil dari balik jubahnya. Bola itu mulai berkilauan dengan cahaya merah samar saat ia membisikkan mantra aneh dalam bahasa kuno. Gambar-gambar mulai muncul di dalam bola kristal tersebut—gambar Li Zhen dan Mei Xiang yang sedang berjalan menjauh dari toko, serta peta tua yang Mei Xiang pegang erat-erat di tangannya. Pria itu tersenyum tipis, seolah-olah ia baru saja mendapatkan informasi yang sangat berharga.

"Jadi, mereka sudah menemukan petunjuk menuju Kuil Bulan Hitam," gumamnya pelan, suaranya rendah dan dingin seperti angin malam. "Tapi mereka tidak akan sampai di sana tanpa bantuan... atau pengkhianatan."

Pria itu melangkah keluar dari bayang-bayang, lalu menghilang ke dalam kabut tebal yang menyelimuti Kota Tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang melihatnya pergi—tidak ada yang menyadari bahwa ia ada di sana sama sekali. Namun, langkah-langkahnya membawa dia menuju tempat yang lebih gelap, lebih rahasia—tempat di mana konspirasi besar sedang direncanakan.

Di ujung lain Kota Tersembunyi, di sebuah ruangan bawah tanah yang hanya dikenal oleh segelintir orang, sekelompok individu berkumpul di sekitar meja bundar besar. Di atas meja itu, ada peta raksasa yang menunjukkan seluruh wilayah kerajaan, termasuk lokasi-lokasi penting seperti Kuil Bulan Hitam, Kota Tersembunyi, dan istana kaisar. Setiap lokasi itu ditandai dengan simbol-simbol aneh yang bercahaya redup, seolah-olah peta itu hidup.

Salah satu dari mereka adalah seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi di belakang kepalanya. Matanya tajam dan dingin, penuh dengan ambisi yang tak terbendung. Ia adalah Lady Ru Feng, salah satu bangsawan paling berkuasa di kerajaan. Di sisinya, ada seorang pria paruh baya dengan jenggot tebal dan mata yang menyipit penuh perhitungan—Duke Wei, seorang politisi ulung yang dikenal karena kecerdikannya dalam memanipulasi orang-orang di sekitarnya.

"Apakah kita sudah mendapatkan informasi tentang mereka?" tanya Lady Ru Feng dengan nada dingin, matanya menyapu ruangan dengan ekspresi tidak sabar.

Pria berjubah abu-abu yang mengikuti Li Zhen dan Mei Xiang tiba-tiba muncul dari bayang-bayang di sudut ruangan. Ia membungkuk hormat kepada Lady Ru Feng dan Duke Wei sebelum berbicara. "Mereka telah menemukan petunjuk menuju gulungan kedua," katanya dengan suara datar. "Mereka akan menuju Kuil Bulan Hitam dalam waktu dekat."

Lady Ru Feng tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Bagus," katanya. "Kita tidak bisa membiarkan mereka mendekati Silsilah Naga Emas. Jika mereka berhasil menemukannya, semua rencana kita akan runtuh."

Duke Wei mengangguk setuju. "Aku sudah mengirim beberapa Bayangan Hitam untuk mengawasi mereka," katanya. "Namun, jika mereka benar-benar berhasil sampai ke Kuil Bulan Hitam, kita harus memastikan bahwa mereka tidak keluar dari sana hidup-hidup."

Lady Ru Feng berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekati peta raksasa di atas meja. Tangannya menyentuh simbol Kuil Bulan Hitam dengan lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh sesuatu yang rapuh namun berharga. "Kuil itu dijaga oleh makhluk-makhluk gaib yang tidak kenal ampun," katanya. "Namun, aku tidak ingin mengambil risiko. Kita harus mengirim seseorang untuk memastikan bahwa mereka gagal."

Pria berjubah abu-abu mengangguk. "Aku akan pergi sendiri," katanya. "Aku sudah cukup mengenal mereka, dan aku tahu cara menghentikan mereka."

Lady Ru Feng menatap pria itu dengan pandangan tajam. "Jangan gagal," katanya dengan nada peringatan. "Jika kau gagal, maka kau akan menjadi pengorbanan berikutnya."

Pria itu membungkuk sekali lagi, lalu menghilang ke dalam bayang-bayang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lady Ru Feng dan Duke Wei saling bertukar pandang, lalu kembali memandangi peta itu dengan ekspresi serius.

Sementara itu, di luar Kota Tersembunyi, Li Zhen dan Mei Xiang mulai menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah Kuil Bulan Hitam. Mereka tidak tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil sedang diamati oleh musuh-musuh yang tidak terlihat. Mereka juga tidak tahu bahwa rencana besar sedang dirancang untuk menghentikan mereka sebelum mereka mencapai tujuan mereka.

Namun, ketika mereka melewati sebuah hutan kecil di tepi Kota Tersembunyi, Mei Xiang tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke belakang, matanya menyipit saat ia mencoba melihat melalui kabut tebal yang menyelimuti area itu. "Ada yang mengikuti kita," katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Li Zhen langsung merasakan darahnya berdesir. "Siapa?" tanyanya, suaranya bergetar meskipun ia mencoba untuk tetap tenang.

Mei Xiang tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedang pendeknya, siap menghadapi apapun yang akan muncul dari balik kabut. Namun, sebelum mereka sempat bereaksi lebih jauh, suara langkah-langkah ringan mulai terdengar dari arah pepohonan. Langkah-langkah itu semakin dekat, dan akhirnya, sosok pria berjubah abu-abu itu muncul dari balik kabut.

"Kalian tidak akan sampai ke Kuil Bulan Hitam," kata pria itu dengan suara dingin, matanya menatap tajam ke arah mereka. "Serahkan peta itu, dan aku akan membiarkan kalian hidup."

Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Bagaimana pria ini bisa tahu tentang peta itu? Apakah ada pengkhianat di antara mereka? Ataukah Kota Tersembunyi itu sendiri adalah jebakan?

Mei Xiang melangkah maju, pedangnya terangkat tinggi. "Kami tidak akan menyerah begitu saja," katanya dengan nada tegas. "Jika kau ingin peta itu, kau harus mengambilnya dari kami dengan paksa."

Pria berjubah abu-abu itu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebuah bola kristal kecil dari balik jubahnya. Bola itu mulai berkilauan dengan cahaya merah menyala, dan tiba-tiba, udara di sekitar mereka berubah menjadi dingin menusuk tulang. Dari balik kabut, muncul sosok-sosok berjubah hitam yang bergerak cepat dan gesit—Bayangan Hitam yang sama yang pernah mengejar mereka sebelumnya.

"Kalian tidak punya kesempatan," kata pria itu dengan nada dingin. "Menyerahlah sekarang, atau kalian akan mati di sini."

Li Zhen merasa napasnya tertahan. Ia tahu bahwa mereka tidak bisa melawan begitu banyak musuh sekaligus. Namun, di dalam hatinya, ia juga tahu bahwa mereka tidak bisa menyerah begitu saja. Gulungan kedua adalah satu-satunya harapan mereka untuk menemukan Silsilah Naga Emas—dan mungkin jawaban tentang siapa dirinya sebenarnya.

Sebelum pertempuran dimulai, Mei Xiang berbisik pelan kepada Li Zhen, "Aku punya rencana. Ikuti aku, dan percayalah padaku."

Li Zhen mengangguk, meskipun ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Mei Xiang. Namun, ia tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. Pertempuran besar akan segera dimulai, dan mereka harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi.

Namun, sebelum serangan pertama dilancarkan, pria berjubah abu-abu itu mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada Bayangan Hitam untuk berhenti. "Kalian memiliki satu kesempatan terakhir," katanya dengan nada dingin. "Serahkan peta itu, atau kalian akan mati di sini."

Li Zhen dan Mei Xiang saling bertukar pandang, lalu Mei Xiang tersenyum tipis. "Kami tidak akan menyerah," katanya dengan nada tegas. "Dan kalian akan menyesal telah mencoba menghentikan kami."

Pria berjubah abu-abu itu tersenyum dingin, lalu mengangguk. "Baiklah," katanya. "Mari kita lihat apakah kalian benar-benar sekuat yang kalian kira."

Dengan itu, Bayangan Hitam mulai bergerak maju, siap menyerang. Li Zhen dan Mei Xiang bersiap menghadapi pertempuran yang mungkin akan menjadi yang paling berbahaya dalam hidup mereka. Namun, di dalam hati mereka, mereka tahu bahwa ini bukan hanya tentang bertahan hidup—ini tentang melindungi rahasia besar yang bisa mengubah nasib seluruh kerajaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Silsilah Naga Emas   57 — Wajah di Balik Huruf

    "Kita tidak bisa menunggu lagi," desis Mei Xiang saat kami berkumpul di balik tembok bata dekat pasar. Suara pedagang masih samar dari kejauhan, namun malam ini kota terasa seperti labirin diam. "Jika gudang itu jadi titik transit, mereka akan pindahkan barang sebelum fajar.""Setuju," jawabku. "Tapi kita butuh rencana lebih matang. Cap palsu bisa membuka pintu—atau menuntun kita ke jebakan."Wang Jian mencondongkan tubuh, matanya menyala seperti bara. "Aku akan menyamar sebagai kurir. Bawa surat palsu—capnya akan cukup untuk membuat mereka berpikir ini kiriman resmi. Mei Xiang, kau jadi pendukung luar. Li Zhen—kau menyelinap ke dalam gudang dan cari ruang penyimpanan. Xiao Lan, kau bantu aku tenangkan penjaga."Xiao Lan menggigit bibirnya namun mengangguk. "Aku bisa membuat mereka lengah dengan cerita tentang kegagalan muatan, dan mungkin mencuri kunci." Suaranya kecil, namun penuh tekad."Kita bagi dua tim, lalu bertemu di gudang tengah," aku menambahkan. "Kalau ada keraguan, kita m

  • Silsilah Naga Emas   56 — Dermaga Selatan dan Nama yang Terungkap

    “Kita sudah dekat,” bisik Xiao Lan dari haluan, tangannya tak lepas dari dayung. Air memantulkan cahaya lentera seperti serpihan kaca. “Di depan sana ada dermaga selatan—di situlah Wang Jian bilang mereka akan mendarat.”“Apa kau melihat tanda kapal yang mengejar tadi?” tanyaku, menahan suara agar tak pecah. Hatiku masih berdebar dari kejar-kejaran tadi malam.Xiao Lan menyipit. “Ada satu kapal berlayar lambat—layar merah kecil, namanya terukir di haluan: Merah Dara.” Ia menyebutnya seolah mengisyaratkan nama yang penting. “Itu kapal yang biasa dipakai agen… Aku pernah lihat di pelabuhan utara.”“Merah Dara,” ulangku. Nama itu terdengar seperti duri yang menusuk ingatan. “Kalau kapal itu yang membawa kotak tadi, kita bisa cari perawakannya—atau setidaknya cari siapa yang bayar marangkap.”Kami merapatkan perahu di dermaga yang remang. Suasana di sana berbeda; para pekerja tampak panik, beberapa berdiri sambil menunjuk ke arah jalan, beberapa lain membisikkan sesuatu. Dari kejauhan kul

  • Silsilah Naga Emas   55 — Malam di Gerbang Luar

    "Apa kau yakin ini tempatnya?" bisik Xiao Lan, suaranya nyaris tertelan angin malam ketika kami bersembunyi di balik tumpukan batu bata tua. Remang lentera dari menara gerbang menyorot seperti mata sipit yang waspada. "Kami di jalur yang benar," jawab Mei Xiang. "Kereta pagi melewati sini kalau lewat rute luar. Kita tunggu sampai jam tiga." Waktu terasa melambat. Angin meniupkan bau laut dan minyak lampu, sementara detak jam di hatiku mendekati sebuah angka yang tak pernah terasa begitu berarti. Aku menghirup napas panjang, merasakan koin perunggu di sakuku seperti obor kecil yang memberi arah. "Bagaimana kalau mereka membawa barang lewat perahu?" bisikku, suara hampir tak terdengar. "Kalau begitu kita kehilangan satu jalur," jawab Wang Jian. "Tapi masih ada kemungkinan. Kita tetap di sini dulu." Xiao Lan menggigil. "Aku takut," katanya kecil. "Mereka punya anjing penjaga. Mereka punya orang yang tak ragu membunuh." Mei Xiang menepuk punggungnya. "Kita tidak sendiri, Lan. Kita p

  • Silsilah Naga Emas   54 — Cap, Kebohongan, dan Jejak yang Membeku

    "Ada bau bensin," bisik Wang Jian saat kami merayap di bawah jendela gudang. Suara ombak jauh seperti denyut yang lambat — latar belakang sempurna untuk lorong-lorong yang menyimpan rahasia. "Kalau kita masuk dari sini, kita bisa sampai ke ruang administrasi.""Kau yakin?" aku membalas pelan. "Kalau ada petugas patroli, kita tercekik sebelum menyentuh cap itu."Wang Jian mengangkat bahu, matanya setajam pedangnya. "Kita tidak punya pilihan lain. Manifest ini harus disalin. Tanpa cap, kita tak punya bukti yang cukup untuk menuduh siapa pun."Aku menatap manifest yang tergulung di saku dalam—tinta memudar tapi jelas: penerima Gudang Tiga, Sekretaris Lu. "Ayo. Ingat kata-katamu: kalau ada masalah, dorong ke laut.""Kau serius ingin menenggelamkanku?" ia menimpali dengan nada sarkastik, namun ada senyum tipis yang membuat kami berdua terselip sedikit ketenangan.Kami merayap masuk lewat celah di bawah pintu belakang; debu menyambut seperti selimut kasar. Ruang administrasi kecil; meja kay

  • Silsilah Naga Emas   53 — Lorong Rahasia dan Bukti yang Tertinggal

    “Apa kau siap?” bisik Mei Xiang di telingaku saat kami berjongkok di balik tumpukan kayu di sisi lorong. Napasnya hangat, tapi suaranya dingin seperti besi.“Siap seperti panah yang terhunus,” aku membalas, berusaha membuat nada yang lebih tenang dari yang kurasa. “Ingat rencananya: kau dan aku masuk lewat pintu samping, Wang Jian menunggu di titik pelarian, Xiao Lan memberi tanda bila ada perubahan.”“Kau yang pertama pegang kotak itu kalau kita nemu gulungan,” ujar Mei Xiang, matanya menyipit. “Jangan berhero-hero.”“Aku bukan tipe hero,” kataku. “Aku lebih mirip orang yang panik efektif.” Kami berdua tersenyum tipis, lalu menghela napas serentak. Suasana malam seperti menahan napas bersama kami.Xiao Lan muncul dari balik keranjang, suaranya nyaris tak terdengar. “Ayo. Pintu besi di sana,” ia menunjuk ke sebuah celah samar antara dua gudang. “Penjaga bergantian tiap tengah malam. Dua menit setelah lonceng, ada jeda. Kita masuk saat itu.”“Kita tunggu tanda darimu,” bisik Wang Jian

  • Silsilah Naga Emas   52 — Jejak yang Menghilang

    Kegelapan pelabuhan seperti selimut tebal yang menelan suara, hanya menyisakan percikan lampu lentera dan riuh rendah pedagang malam. Di antara tumpukan kain dan peti, kami menyelinap dengan langkah ringan—lebih mirip bayangan daripada tiga orang yang bermuatan dendam dan kebingungan. Aku menekan koin perunggu di sakuku sampai lekuknya menyakitkan, sebagai pengingat bahwa ini bukan sekadar barang; ini adalah alasan kami keluar dari desa."Apa rencanamu, Li Zhen?" Mei Xiang berbisik di sampingku, napasnya hangat di udara dingin. Matanya menyapu sekeliling, waspada."Kita biarkan aku dan dia yang berbicara dulu," jawabku pelan. "Kita butuh jembatan—seseorang yang bisa membuka pintu yang biasanya tertutup rapat."Wang Jian mengangguk. "Aku jaga pintu belakang. Kalau ada masalah, aku dorong ke laut."Kami tertawa kecil, namun canda itu cepat pudar ketika kami melihat Xiao Lan. Gadis itu kecil, mungkin masih belia, tetapi matanya tajam seperti pedang kecil. Dia duduk di dekat tumpukan bamb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status