MasukUdara dingin yang menyelimuti hutan kecil itu tiba-tiba terasa lebih berat, seolah-olah alam itu sendiri sedang menahan napas. Li Zhen dan Mei Xiang berdiri berdampingan, menghadapi Bayangan Hitam yang semakin mendekat dengan gerakan cepat dan gesit. Mata mereka memantulkan cahaya merah dari bola kristal yang dipegang pria berjubah abu-abu—cahaya yang tampak seperti api yang siap melahap apa pun yang ada di depannya.
Mei Xiang memegang pedang pendeknya dengan erat, sementara Li Zhen mencoba mempersiapkan diri meskipun ia tidak memiliki senjata selain sapu bambu tua yang ia bawa sejak awal perjalanan ini. Ia tahu bahwa pertempuran ini tidak akan mudah. Namun, ada sesuatu dalam tatapan mata Mei Xiang yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang—seolah-olah wanita itu sudah memikirkan rencana untuk keluar dari situasi ini. "Jangan panik," bisik Mei Xiang pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara desiran angin malam. "Aku akan menyerang dari depan, dan kau harus mencari celah untuk melarikan diri." Li Zhen menggelengkan kepala dengan keras. "Aku tidak akan meninggalkanmu," katanya dengan nada tegas. "Kita hadapi ini bersama." Mei Xiang tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Baiklah," katanya. "Tapi ingat, jika aku memberi isyarat, lakukan apa yang aku katakan tanpa ragu." Sebelum Li Zhen sempat menjawab, Bayangan Hitam yang berada di barisan depan mulai bergerak maju, senjata mereka berkilauan dengan cahaya biru aneh yang sama seperti yang pernah dilihat Li Zhen sebelumnya. Pria berjubah abu-abu masih berdiri di belakang mereka, matanya menyipit saat ia mengamati setiap gerakan Li Zhen dan Mei Xiang. "Serang!" teriak pria itu dengan suara yang dingin dan tanpa emosi. Bayangan Hitam langsung meluncur ke arah mereka dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Mei Xiang segera melangkah maju, pedangnya bergerak cepat seperti kilat. Dengan satu ayunan, ia berhasil melukai salah satu dari mereka, namun dua lainnya langsung menyerang balik dengan gerakan yang sangat terkoordinasi. Li Zhen mencoba membantu dengan menggunakan sapu bambunya sebagai tameng, namun serangan-serangan mereka begitu cepat dan kuat hingga ia hampir tidak bisa bertahan. "Ke belakang!" teriak Mei Xiang tiba-tiba, mendorong Li Zhen menjauh dari garis depan pertempuran. Ia melompat ke sisi lain, mencoba mengalihkan perhatian para penyerang agar Li Zhen bisa mendapatkan waktu untuk bernapas. Li Zhen mundur beberapa langkah, napasnya tersengal-sengal. Ia melihat bagaimana Mei Xiang bergerak dengan kecepatan dan presisi yang luar biasa, namun jumlah musuh yang terus bertambah membuat situasi semakin sulit. Ia tahu bahwa mereka tidak bisa bertahan terlalu lama jika terus seperti ini. Namun, tiba-tiba, Mei Xiang mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya—sebuah gulungan kecil yang tampak mirip dengan gulungan tua yang dibawa Li Zhen. Ia membuka gulungan itu dengan cepat, lalu membacakan mantra dalam bahasa kuno yang tidak bisa dimengerti oleh Li Zhen. Begitu mantra itu selesai, cahaya hijau terang meledak dari gulungan tersebut, menyilaukan semua orang di sekitarnya. Para Bayangan Hitam mundur beberapa langkah, mencoba melindungi mata mereka dari cahaya yang menyilaukan itu. Namun, pria berjubah abu-abu tetap berdiri tegak, matanya menyipit saat ia mencoba menembus cahaya. "Kau benar-benar ingin mati hari ini, Mei Xiang?" katanya dengan nada dingin. Mei Xiang tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, pedangnya terangkat tinggi. Cahaya hijau itu mulai memudar, namun bayang-bayang yang tadinya mengelilingi mereka kini tampak lebih redup, seolah-olah kekuatan magis mereka telah melemah. "Kita harus pergi sekarang!" teriak Mei Xiang kepada Li Zhen, lalu menarik tangannya dan mulai berlari ke arah pepohonan yang lebih rapat. Li Zhen mengikuti Mei Xiang dengan susah payah, kakinya terasa lemah karena kelelahan. Namun, ia tahu bahwa mereka tidak bisa berhenti. Para Bayangan Hitam mulai mengejar mereka lagi, meskipun gerakan mereka tampak lebih lambat daripada sebelumnya. Setelah beberapa saat berlari, mereka sampai di sebuah sungai kecil yang mengalir deras. Mei Xiang berhenti sejenak, lalu menunjuk ke arah sebuah batu besar yang tersembunyi di balik semak-semak. "Di sana," katanya dengan nada mendesak. "Kita bisa menyembunyikan diri untuk sementara waktu." Mereka berdua segera bersembunyi di balik batu besar itu, tubuh mereka tertutup oleh dedaunan tebal yang bergoyang tertiup angin. Napas mereka tertahan, dan mereka hanya bisa mendengarkan suara-suara langkah-langkah cepat yang semakin mendekat. Namun, kali ini, para Bayangan Hitam tidak menemukan mereka. Setelah beberapa saat, suara langkah-langkah itu mulai menjauh, meninggalkan mereka dalam keheningan yang sunyi. Li Zhen merasa tubuhnya melemas karena lega, namun Mei Xiang tetap waspada, matanya terus bergerak mencari tanda-tanda bahaya. "Apa yang kau gunakan tadi?" tanya Li Zhen akhirnya, suaranya bergetar karena kelelahan. "Gulungan itu... apakah itu juga bagian dari Silsilah Naga Emas?" Mei Xiang menggelengkan kepala. "Itu bukan bagian dari Silsilah Naga Emas," katanya dengan nada datar. "Itu adalah artefak magis yang aku dapatkan dari seorang penyihir tua beberapa tahun lalu. Aku menyimpannya untuk keadaan darurat seperti ini." Li Zhen mengangguk pelan, namun ia masih merasa ada banyak hal yang belum ia ketahui tentang Mei Xiang. Wanita itu tampaknya menyimpan banyak rahasia, dan Li Zhen mulai merasa bahwa ia tidak sepenuhnya memahami motivasi Mei Xiang dalam membantunya. "Kenapa kau membantu aku?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar lebih lembut daripada biasanya. "Apa kau benar-benar hanya ingin menemukan Silsilah Naga Emas? Atau ada alasan lain?" Mei Xiang terdiam selama beberapa saat, seolah-olah ia sedang mempertimbangkan jawabannya. "Ada banyak hal yang tidak bisa kuberitahukan padamu sekarang," katanya akhirnya. "Namun, yang perlu kau tahu adalah bahwa kita memiliki tujuan yang sama. Aku tidak ingin Silsilah Naga Emas jatuh ke tangan yang salah." Li Zhen merasa ada sesuatu yang tidak diungkapkan dalam kata-kata Mei Xiang, namun ia memutuskan untuk tidak memaksa. Mereka masih memiliki perjalanan panjang di depan, dan ia tahu bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang harus dibangun perlahan-lahan. Setelah beberapa saat, mereka melanjutkan perjalanan menuju Kuil Bulan Hitam. Jalan setapak yang mereka lewati semakin curam dan berbatu, namun udara di sekitar mereka mulai berubah. Ada sesuatu yang magis tentang atmosfer di sini—seolah-olah mereka sedang memasuki dunia lain yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa. Akhirnya, mereka sampai di sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dengan cabang-cabang yang saling bertautan, menciptakan atap alami yang menutupi langit. Di tengah area itu, ada sebuah kuil kuno yang tampak seperti bangunan yang terbuat dari batu hitam pekat. Kuil itu memiliki pintu besar yang tertutup rapat, dengan ukiran-ukiran naga raksasa yang melingkar di sekitarnya. Matanya terbuat dari batu permata merah yang berkilauan dengan cahaya aneh. "Inilah Kuil Bulan Hitam," kata Mei Xiang dengan nada hormat. "Tempat ini dijaga oleh makhluk-makhluk gaib yang tidak kenal ampun. Kita harus hati-hati." Li Zhen merasa bulu kuduknya berdiri saat ia memandangi kuil itu. Ada sesuatu yang tidak wajar tentang tempat ini—seolah-olah kuil itu hidup dan sedang mengamati mereka. Namun, ia tahu bahwa mereka tidak bisa mundur sekarang. Mereka melangkah mendekati pintu kuil, namun sebelum mereka sempat menyentuhnya, suara gemuruh keras terdengar dari dalam kuil. Pintu besar itu mulai terbuka perlahan, memperlihatkan kegelapan yang tak terlihat dasarnya. Dari dalam kegelapan itu, muncul sosok makhluk raksasa dengan tubuh yang terbuat dari asap hitam pekat. Matanya menyala merah seperti bara api, dan suaranya bergema keras seperti guntur. "Siapa yang berani masuk ke wilayahku?" tanya makhluk itu dengan suara yang dalam dan mengguncang. "Kalian tidak akan keluar dari sini hidup-hidup jika kalian tidak membuktikan bahwa kalian layak." Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Makhluk ini jauh lebih besar dan lebih menakutkan daripada apa pun yang pernah ia lihat sebelumnya. Namun, Mei Xiang tetap tenang, pedangnya terangkat tinggi. "Kami datang untuk mencari gulungan kedua," kata Mei Xiang dengan nada tegas. "Dan kami siap menghadapi ujian apapun yang kau berikan." Makhluk itu menggeram keras, lalu mengangkat salah satu tangannya yang besar. Dari dalam kegelapan kuil, muncul tiga bola api besar yang berputar-putar di udara. "Kalau begitu, kalian harus melewati ujian ini," katanya. "Kalahkan bola api ini, dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian cari." Li Zhen dan Mei Xiang saling bertukar pandang, lalu Mei Xiang melangkah maju. "Aku akan menghadapi yang pertama," katanya dengan nada mantap. Bola api pertama mulai bergerak cepat ke arah Mei Xiang, namun ia dengan sigap menghindar dan menyerangnya dengan pedangnya. Bola api itu meledak menjadi percikan-percikan kecil, namun dua bola api lainnya langsung menyerang balik dengan kecepatan yang lebih tinggi. Li Zhen mencoba membantu dengan menggunakan sapu bambunya, namun serangan-serangan bola api itu begitu kuat hingga ia hampir tidak bisa bertahan. Namun, Mei Xiang terus bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, berhasil menghancurkan bola api kedua dan ketiga satu per satu. Setelah bola api terakhir hancur, makhluk raksasa itu menggeram keras, lalu mundur ke dalam kegelapan kuil. Suaranya bergema sekali lagi, "Kalian telah lulus. Ambillah apa yang kalian cari." Pintu kuil mulai terbuka lebih lebar, memperlihatkan ruangan besar di dalamnya. Di tengah ruangan itu, ada sebuah altar batu besar dengan gulungan tua yang tergeletak di atasnya. Gulungan itu tampak lebih tua dan lebih rapuh daripada gulungan yang dibawa Li Zhen, namun ada aura magis yang kuat mengelilinginya. Mei Xiang melangkah mendekati altar itu, lalu mengambil gulungan tersebut dengan hati-hati. Namun, sebelum mereka sempat merasa lega, suara gemuruh keras terdengar lagi dari dalam kuil. Tanah di bawah mereka mulai bergetar, dan pintu kuil mulai menutup perlahan. "Kita harus pergi sekarang!" teriak Mei Xiang, lalu menarik tangan Li Zhen dan mulai berlari keluar dari kuil. Mereka berhasil keluar tepat sebelum pintu kuil menutup sepenuhnya, meninggalkan mereka di luar dengan napas tersengal-sengal. Namun, mereka tahu bahwa perjalanan ini masih jauh dari selesai. Gulungan kedua ini hanya langkah pertama menuju Silsilah Naga Emas—dan ada banyak tantangan yang masih menanti di depan. Saat Li Zhen dan Mei Xiang berdiri di luar Kuil Bulan Hitam, napas mereka masih tersengal-sengal karena kelelahan. Gulungan kedua yang baru saja mereka dapatkan terasa lebih berat daripada gulungan pertama—seolah-olah ia menyimpan beban rahasia yang jauh lebih besar. Namun, sebelum mereka sempat merenungkan arti dari gulungan itu, udara di sekitar mereka tiba-tiba berubah. Ada sesuatu yang tidak wajar—sebuah perasaan dingin yang menusuk tulang, seperti angin malam yang membawa kabar buruk. Tiba-tiba, suara langkah-langkah cepat terdengar dari arah hutan tempat mereka datang. Langkah-langkah itu bukan milik manusia biasa—terlalu ringan, terlalu cepat, seolah-olah makhluk-makhluk itu melayang di atas tanah. Mei Xiang langsung mengangkat pedangnya, siap menghadapi apapun yang akan muncul. Li Zhen, meskipun lelah, mencoba mempersiapkan diri dengan sapu bambunya yang sederhana. Dari balik pepohonan, muncul sosok-sosok berjubah hitam yang sudah mereka kenal—Bayangan Hitam. Kali ini, jumlah mereka lebih banyak daripada sebelumnya, dan di tengah mereka berdiri pria berjubah abu-abu yang sebelumnya memimpin serangan di tepi Kota Tersembunyi. Matanya yang dingin menatap tajam ke arah Mei Xiang, lalu beralih ke gulungan tua yang ada di tangannya. "Kalian benar-benar berhasil mendapatkan gulungan itu," kata pria itu dengan nada dingin, suaranya bergema di antara pepohonan. "Namun, kalian tidak akan bisa membawanya pergi dari sini." Mei Xiang melangkah maju, pedangnya terangkat tinggi. "Aku sudah bilang sebelumnya," katanya dengan nada tegas. "Kami tidak akan menyerah begitu saja." Pria berjubah abu-abu itu tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Kalian pikir kalian bisa melawan kami? Kalian hanya dua orang biasa melawan pasukan yang tak terhitung jumlahnya." Ia melambaikan tangannya sekali, dan Bayangan Hitam mulai bergerak maju, membentuk lingkaran sempit di sekitar Li Zhen dan Mei Xiang. Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Mereka sudah kelelahan setelah melewati ujian di Kuil Bulan Hitam, dan kali ini, jumlah musuh mereka jauh lebih banyak. Apakah ini akhir dari perjalanan mereka? Apakah mereka akan mati di sini, tanpa sempat menemukan Silsilah Naga Emas? Namun, sebelum pertempuran dimulai, Mei Xiang berbisik pelan kepada Li Zhen, "Aku punya rencana. Ikuti aku, dan percayalah padaku." Li Zhen mengangguk, meskipun ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Mei Xiang. Ia hanya bisa mempercayainya, karena ia tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Mei Xiang tiba-tiba melemparkan gulungan kedua ke arah Li Zhen, lalu mengeluarkan sebuah artefak kecil dari balik jubahnya—sebuah manik-manik berwarna biru yang berkilauan dengan cahaya aneh. "Jaga ini!" katanya dengan nada mendesak. "Jika aku memberi isyarat, gunakan mantra yang sama seperti yang aku bacakan di hutan!" Li Zhen merasa bingung, namun ia tidak punya waktu untuk bertanya. Mei Xiang segera melangkah maju, pedangnya bergerak cepat saat ia mulai menyerang Bayangan Hitam yang berada di barisan depan. Gerakannya begitu gesit dan presisi, membuat para penyerang mundur beberapa langkah. Namun, jumlah mereka terlalu banyak, dan Mei Xiang mulai terdesak. Pria berjubah abu-abu itu tertawa dingin, lalu mengangkat bola kristal kecil yang ia pegang. Cahaya merah menyala keluar dari bola itu, menciptakan pola-pola aneh di udara. "Kalian tidak punya kesempatan," katanya dengan nada dingin. "Serahkan gulungan itu, atau kalian akan mati di sini." Li Zhen merasa panik. Ia tidak tahu mantra apa yang harus ia gunakan, namun ia ingat kata-kata Mei Xiang. Dengan ragu-ragu, ia mulai membaca mantra dalam bahasa kuno yang pernah didengarnya dari Mei Xiang sebelumnya. Awalnya, tidak ada yang terjadi. Namun, ketika ia mengulangi mantra itu untuk kedua kalinya, manik-manik biru di tangannya mulai berkilauan dengan cahaya terang. Cahaya itu semakin kuat, hingga akhirnya meledak menjadi sinar biru menyilaukan yang menutupi seluruh area. Bayangan Hitam yang tadinya mengepung mereka mulai mundur, mencoba melindungi mata mereka dari cahaya yang menyilaukan itu. Pria berjubah abu-abu juga terlihat terganggu, matanya menyipit saat ia mencoba menembus cahaya. "Inilah kesempatannya!" teriak Mei Xiang, lalu menarik tangan Li Zhen dan mulai berlari ke arah pepohonan yang lebih rapat. Mereka berdua berlari secepat mungkin, meninggalkan para penyerang di belakang. Namun, suara langkah-langkah cepat mulai terdengar lagi, semakin dekat. Li Zhen merasa kakinya terasa lemah, namun ia tahu bahwa mereka tidak bisa berhenti. Tiba-tiba, Mei Xiang berhenti di depan sebuah tebing curam yang tersembunyi di balik pepohonan. Tebing itu tampak tidak mungkin untuk didaki, namun Mei Xiang tidak ragu. Ia mengeluarkan pedangnya, lalu mulai menggambar simbol-simbol aneh di udara dengan ujung pedangnya. Simbol-simbol itu bersinar dengan cahaya putih samar, dan tiba-tiba, tanah di bawah mereka mulai bergetar. Sebuah celah kecil muncul di permukaan tebing, cukup lebar untuk satu orang melewatinya. "Cepat masuk!" perintah Mei Xiang, mendorong Li Zhen ke arah celah itu. Li Zhen melompat masuk ke dalam celah itu, diikuti oleh Mei Xiang tepat di belakangnya. Begitu mereka berada di dalam, celah itu menutup dengan keras, meninggalkan mereka dalam kegelapan total. Namun, sebelum mereka sempat bernapas lega, suara gemuruh keras terdengar dari dalam kegelapan. Sesuatu di dalam sana sedang mendekat—sesuatu yang jauh lebih besar daripada mereka. Langkah-langkah berat itu semakin dekat, disertai dengan napas yang dalam dan berat. "Apa itu?" tanya Li Zhen, suaranya hampir berbisik karena takut. Mei Xiang tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya, siap menghadapi apapun yang akan muncul dari kegelapan. Namun, ketika sesuatu itu akhirnya muncul, Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Itu bukan manusia—melainkan makhluk raksasa dengan tubuh yang terbuat dari batu dan mata yang menyala merah seperti bara api. Makhluk itu menggeram keras, suaranya bergema di seluruh ruang bawah tanah. "Selamat datang, pencari Silsilah Naga Emas," kata makhluk itu dengan suara yang dalam dan menggelegar. "Namun, kalian tidak akan pergi dari sini hidup-hidup kecuali kalian bisa membuktikan bahwa kalian layak." Li Zhen merasa darahnya berhenti mengalir. Apa yang dimaksud dengan "membuktikan"? Dan bagaimana mereka bisa melawan makhluk sebesar itu? Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab saat makhluk itu mulai melangkah maju, siap menyerang. Namun, sebelum pertempuran dimulai, Mei Xiang berbisik pelan kepada Li Zhen, "Aku tahu apa yang harus kita lakukan. Ikuti aku, dan percayalah padaku." Li Zhen tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. Namun, di dalam hatinya, ia merasa bahwa perjalanan ini baru saja memasuki babak baru—babak yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan. Langkah-langkah mereka semakin cepat, dan Li Zhen merasa bahwa mereka semakin dekat dengan sesuatu yang besar—sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang ia tahu pasti: mereka tidak bisa mundur sekarang. Apapun yang menanti di depan, mereka harus menghadapinya bersama."Kita tidak bisa menunggu lagi," desis Mei Xiang saat kami berkumpul di balik tembok bata dekat pasar. Suara pedagang masih samar dari kejauhan, namun malam ini kota terasa seperti labirin diam. "Jika gudang itu jadi titik transit, mereka akan pindahkan barang sebelum fajar.""Setuju," jawabku. "Tapi kita butuh rencana lebih matang. Cap palsu bisa membuka pintu—atau menuntun kita ke jebakan."Wang Jian mencondongkan tubuh, matanya menyala seperti bara. "Aku akan menyamar sebagai kurir. Bawa surat palsu—capnya akan cukup untuk membuat mereka berpikir ini kiriman resmi. Mei Xiang, kau jadi pendukung luar. Li Zhen—kau menyelinap ke dalam gudang dan cari ruang penyimpanan. Xiao Lan, kau bantu aku tenangkan penjaga."Xiao Lan menggigit bibirnya namun mengangguk. "Aku bisa membuat mereka lengah dengan cerita tentang kegagalan muatan, dan mungkin mencuri kunci." Suaranya kecil, namun penuh tekad."Kita bagi dua tim, lalu bertemu di gudang tengah," aku menambahkan. "Kalau ada keraguan, kita m
“Kita sudah dekat,” bisik Xiao Lan dari haluan, tangannya tak lepas dari dayung. Air memantulkan cahaya lentera seperti serpihan kaca. “Di depan sana ada dermaga selatan—di situlah Wang Jian bilang mereka akan mendarat.”“Apa kau melihat tanda kapal yang mengejar tadi?” tanyaku, menahan suara agar tak pecah. Hatiku masih berdebar dari kejar-kejaran tadi malam.Xiao Lan menyipit. “Ada satu kapal berlayar lambat—layar merah kecil, namanya terukir di haluan: Merah Dara.” Ia menyebutnya seolah mengisyaratkan nama yang penting. “Itu kapal yang biasa dipakai agen… Aku pernah lihat di pelabuhan utara.”“Merah Dara,” ulangku. Nama itu terdengar seperti duri yang menusuk ingatan. “Kalau kapal itu yang membawa kotak tadi, kita bisa cari perawakannya—atau setidaknya cari siapa yang bayar marangkap.”Kami merapatkan perahu di dermaga yang remang. Suasana di sana berbeda; para pekerja tampak panik, beberapa berdiri sambil menunjuk ke arah jalan, beberapa lain membisikkan sesuatu. Dari kejauhan kul
"Apa kau yakin ini tempatnya?" bisik Xiao Lan, suaranya nyaris tertelan angin malam ketika kami bersembunyi di balik tumpukan batu bata tua. Remang lentera dari menara gerbang menyorot seperti mata sipit yang waspada. "Kami di jalur yang benar," jawab Mei Xiang. "Kereta pagi melewati sini kalau lewat rute luar. Kita tunggu sampai jam tiga." Waktu terasa melambat. Angin meniupkan bau laut dan minyak lampu, sementara detak jam di hatiku mendekati sebuah angka yang tak pernah terasa begitu berarti. Aku menghirup napas panjang, merasakan koin perunggu di sakuku seperti obor kecil yang memberi arah. "Bagaimana kalau mereka membawa barang lewat perahu?" bisikku, suara hampir tak terdengar. "Kalau begitu kita kehilangan satu jalur," jawab Wang Jian. "Tapi masih ada kemungkinan. Kita tetap di sini dulu." Xiao Lan menggigil. "Aku takut," katanya kecil. "Mereka punya anjing penjaga. Mereka punya orang yang tak ragu membunuh." Mei Xiang menepuk punggungnya. "Kita tidak sendiri, Lan. Kita p
"Ada bau bensin," bisik Wang Jian saat kami merayap di bawah jendela gudang. Suara ombak jauh seperti denyut yang lambat — latar belakang sempurna untuk lorong-lorong yang menyimpan rahasia. "Kalau kita masuk dari sini, kita bisa sampai ke ruang administrasi.""Kau yakin?" aku membalas pelan. "Kalau ada petugas patroli, kita tercekik sebelum menyentuh cap itu."Wang Jian mengangkat bahu, matanya setajam pedangnya. "Kita tidak punya pilihan lain. Manifest ini harus disalin. Tanpa cap, kita tak punya bukti yang cukup untuk menuduh siapa pun."Aku menatap manifest yang tergulung di saku dalam—tinta memudar tapi jelas: penerima Gudang Tiga, Sekretaris Lu. "Ayo. Ingat kata-katamu: kalau ada masalah, dorong ke laut.""Kau serius ingin menenggelamkanku?" ia menimpali dengan nada sarkastik, namun ada senyum tipis yang membuat kami berdua terselip sedikit ketenangan.Kami merayap masuk lewat celah di bawah pintu belakang; debu menyambut seperti selimut kasar. Ruang administrasi kecil; meja kay
“Apa kau siap?” bisik Mei Xiang di telingaku saat kami berjongkok di balik tumpukan kayu di sisi lorong. Napasnya hangat, tapi suaranya dingin seperti besi.“Siap seperti panah yang terhunus,” aku membalas, berusaha membuat nada yang lebih tenang dari yang kurasa. “Ingat rencananya: kau dan aku masuk lewat pintu samping, Wang Jian menunggu di titik pelarian, Xiao Lan memberi tanda bila ada perubahan.”“Kau yang pertama pegang kotak itu kalau kita nemu gulungan,” ujar Mei Xiang, matanya menyipit. “Jangan berhero-hero.”“Aku bukan tipe hero,” kataku. “Aku lebih mirip orang yang panik efektif.” Kami berdua tersenyum tipis, lalu menghela napas serentak. Suasana malam seperti menahan napas bersama kami.Xiao Lan muncul dari balik keranjang, suaranya nyaris tak terdengar. “Ayo. Pintu besi di sana,” ia menunjuk ke sebuah celah samar antara dua gudang. “Penjaga bergantian tiap tengah malam. Dua menit setelah lonceng, ada jeda. Kita masuk saat itu.”“Kita tunggu tanda darimu,” bisik Wang Jian
Kegelapan pelabuhan seperti selimut tebal yang menelan suara, hanya menyisakan percikan lampu lentera dan riuh rendah pedagang malam. Di antara tumpukan kain dan peti, kami menyelinap dengan langkah ringan—lebih mirip bayangan daripada tiga orang yang bermuatan dendam dan kebingungan. Aku menekan koin perunggu di sakuku sampai lekuknya menyakitkan, sebagai pengingat bahwa ini bukan sekadar barang; ini adalah alasan kami keluar dari desa."Apa rencanamu, Li Zhen?" Mei Xiang berbisik di sampingku, napasnya hangat di udara dingin. Matanya menyapu sekeliling, waspada."Kita biarkan aku dan dia yang berbicara dulu," jawabku pelan. "Kita butuh jembatan—seseorang yang bisa membuka pintu yang biasanya tertutup rapat."Wang Jian mengangguk. "Aku jaga pintu belakang. Kalau ada masalah, aku dorong ke laut."Kami tertawa kecil, namun canda itu cepat pudar ketika kami melihat Xiao Lan. Gadis itu kecil, mungkin masih belia, tetapi matanya tajam seperti pedang kecil. Dia duduk di dekat tumpukan bamb







