MasukMissy segera sadar setelah mendengar teriakan Mike. Ia nyaris saja terbuai pesona Morgan. Pria itu memang tampan, bahkan lebih tampan dibandingkan Mike maupun pria mana pun yang ia kenal selama ini.
“Ya, dia mencuri kartu kekasihku!” pekik Missy.
Si manajer menghampiri Mike dan Missy. “Jika kalian masih bersikap kasar pada tamu istimewa Luxury Outlet, aku akan mengusir kalian berdua dari tempat ini!”
“Apa maksudmu, Tuan? Sampah itu sudah mencuri kartuku. Kau seharusnya melapor pada polisi sekarang juga!”
“Apa kau memiliki bukti jika kartu itu adalah milikmu?” tanya si manajer.
Mike sontak terdiam, mendadak kikuk. “Semua orang pasti akan percaya jika kartu hitam itu adalah milikku. Bagaimana mungkin sampah itu memiliki kartu hitam itu?”
Missy mengentak lantai. “Kau sudah bersikap tidak sopan pada kekasihku, Tuan. Aku akan melaporkan tindakan burukmu pada semua orang!”
“Kartu hitam itu memang milik Tuan Morgan. Aku sudah memeriksa kartu hitam itu berkali-kali, dan aku tidak mungkin salah! Kartu itu memuat informasi detail sekaligus foto pemiliknya, dan aku melihat wajah Tuan Morgan, bukan wajahmu.”
Mike dan Missy sontak terdiam. Para pengunjung berbisik, membicarakan mereka.
“Sialan! Aku tidak boleh membiarkan sampah itu menghinaku.” Mike mengepalkan tangan erat-erat, tidak memedulikan tangannya yang kesakitan.
Missy menepuk-nepuk tangan Mike. “Bagaimana mungkin Morgan bisa memiliki kartu hitam itu, Mike? Bukankah dia hanya pria miskin?”
“Aku yakin pasti ada kesalahan.” Mike tidak yakin dengan ucapannya sendiri sebab si manajer tidak mungkin salah memeriksa.
“Semua barang Anda sudah siap, Tuan,” ujar si manajer sembari memberikan kartu hitam pada Mogan sehati-hati mungkin, “apa yang bisa kami lakukan untuk Anda sekarang? Apakah Anda masih membutuhkan sesuatu?”
“Sepuluh juta dolar,” ujar seorang pengunjung saat melihat total harga di layar. Semua orang seketika menoleh, terkejut.
Mike dan Missy tercengang hingga tidak bisa berkata-kata. Missy bahkan nyaris terjatuh saking tidak mempercayai semua ini.
Morgan berusaha menutupi keterkejutannya. “A-aku menghabiskan sepuluh juta dolar hanya dalam waktu kurang dari satu jam? Ini sungguh gila,” gumamnya.
Mike, Missy, dan para pengunjung terdiam saat melihat tas-tas belanja di tangan para pegawai.
Morgan berdiri kursi, menatap si manajer dan para pegawai yang membungkuk padanya. Ia menahan tawa saat melihat Mike dan Missy.
Morgan mengecek layar hologram. “Masih ada dua menit sebelum waktu misi selesai, tetapi sistem belum memberikan notifikasi. Aku masih harus mempermalukan Mike dan Missy,” gumamnya.
“Bawakan aku barang paling murah di outlet ini secepatnya.”
Para pegawai saling berbisik. Salah satu dari mereka berlari menuju ujung ruangan hingga nyaris tersandung. Ia kembali dengan sebuah sapu tangan kecil.
“Berikan sapu tangan itu pada wanita itu.” Morgan menunjuk Missy.
Mike dan Missy terperangah, begitu pun dengan yang lain.
“Apa maksudmu, brengsek? Apa kau ingin menyuap kekasihku?” bentak Mike sembari menghalangi pegawai untuk memberikan sapu tangan itu pada Missy. “Apa kau pikir kekasihku akan tertarik denganmu setelah kau memberikan sapu tangan itu padanya?”
Missy menatap sapu tangan di tangan si pegawai. “Sapu tangan itu berharga lima ribu dolar. Sapu tangan itu memiliki kualitas terbaik meski harganya yang paling murah.”
Missy merebut sapu tangan itu dari si pegawai. “Apa maksudmu dengan memberikan sapu tangan ini padaku, Morgan?”
“Aku sudah berjanji untuk memberikan hadiah di ulang tahunmu. Aku memberikan sapu tangan itu untukmu. Jadi, aku tidak memiliki janji apa pun lagi padamu.”
Mike dan Missy terdiam.
“Dasar brengsek! Kau sudah menghinaku! Kau pikir aku tidak bisa membelikan hadiah bagus untuk kekasihku?” Mike berlari ke arah Morgan, tetapi dua penjaga mendorongnya hingga ia terjatuh. “Sialan! Apa yang kalian lakukan?”
Missy menatap Morgan hingga nyaris tidak berkedip. Wanita itu menunduk, mengamati sapu tangan. “Morgan masih mengingat janjinya.”
Mike bergegas berdiri, melempar sapu tangan di tangan Missy ke lantai. “Kita sebaiknya pergi dari tempat sialan ini secepatnya, Missy.”
Morgan tersenyum. “Kalian berdua melupakan taruhan kita. Cium sepatuku sekarang juga! Jika kalian menolak, aku akan melaporkan kalian pada polisi.”
“Dasar bajingan!” Mike memekik kencang. Wajahnya memerah menyala. “Aku tidak pernah setuju dengan taruhanmu, brengsek! Aku lebih baik mati dibandingkan harus mencium sepatumu! Enyahlah ke neraka!”
Mike mengendalikan napas yang terengah-engah, terdiam saat para pengunjung mulai mencibirnya. “Sialan!”
“Aku ingin melaporkan kedua orang itu ke polisi,” ujar Morgan.
“Aku mengerti, Tuan.” Si manajer menoleh pada para penjaga. “Penjaga, bawa mereka ke kantor polisi sekarang juga!”
Para penjaga segera menahan Mike dan Missy.
“Dasar sialan! Berani sekali kalian menyentuhku dan kekasihku! Lepaskan aku sekarang juga! Kalian tidak tahu siapa yang kalian sakiti sekarang!” Mike memberontak.
Missy berpura-pura terjatuh, mengambil sapu tangan di lantai. Ia tentu tidak ingin membuang sapu tangan itu begitu saja. “Lepaskan aku! Jauhkan tangan kotor kalian dari tanganku!”
“Dasar brengsek! Aku pasti akan membalas perbuatanmu, Morgan!” Mike berteriak.
“Apa kau ingin pergi ke kantor polisi atau kau ingin mencium sepatuku di hadapan semua orang sekarang, Mike? Kau bebas memilih.” Morgan tersenyum.
“Sialan! Aku tidak menerima penghinaan ini!”
“Kau sudah keterlaluan, Morgan.” Missy berpura-pura menangis, berharap Morgan iba. “Mike, lakukan sesuatu! Aku tidak menerima penghinaan ini!”
Para penjaga menyeret Mike dan Missy ke luar outlet.
Mike dan Missy terkejut saat dua mobil polisi sudah berada di sisi jalan. Para polisi bergegas keluar, menahan Mereka. Para pengunjung dan pejalan kaki menonton dengan penasaran, berbisik-bisik.
Morgan tertawa, menyentuh dadanya. “Rasa sesak di dadaku menghilang dan berganti dengan rasa lapang. Inikah yang dinamakan membalas dendam?”
“Apakah ada hal lain yang bisa kami lakukan untukmu, Tuan?” tanya si Manajer.
Morgan menoleh pada para pengunjung. “Aku benar-benar mendapatkan pengalaman sangat buruk di outlet ini. Selain para pegawai yang kasar, aku juga mendapat tindakan tidak menyenangkan dari para pengunjung. Aku pasti akan mencari informasi mereka dan mengabarkan pada keluarga dan teman-temanku mengenai tindakan mereka.”
Si manajer, para pegawai dan pengunjung menunduk, tampak ketakutan.
Morgan meninggalkan outlet. Si manajer dan para pegawai segera mengikutinya. Mike dan Missy terus memberontak saat polisi memaksa mereka memasuki mobil.
“Aku akan membalas perbuatanmu, Morgan! Jangan berpikir kau bisa lolos dariku! Kau hanya beruntung sekarang!” Mike berteriak saat polisi mendorongnya. Ia masih berteriak meski pintu mobil sudah tertutup.
“Kenapa kau sangat jahat padaku, Morgan? Bukankah kau mencintaiku?” teriak Missy dengan air mata yang bercucuran. Ia sangat malu menjadi tontonan semua orang.
Morgan melirik para pegawai sesaat. “Aku tidak akan datang ke Luxury Outlet mana pun lagi setelah kejadian ini.”
Manajer dan para pegawai sontak membungkuk. “Kami sungguh meminta maaf, Tuan. Kami menyadari kesalahan kami. Kami berjanji kejadian ini tidak akan terulang lagi.”
Mike dan Missy melihat kejadian itu dari mobil.
Morgan menatap Mike dan Missy, tersenyum. “Aku ingin kalian memasukkan dua orang itu ke dalam daftar hitam di seluruh cabang Luxury Outlet. Jika kalian menolak, aku akan menuntut kalian semua.”
“Ka-kami akan segera melakukannya, Tuan.”
Morgan menatap para pengujung yang berada di belakang para pegawai. “Apa kalian ingin bernasib seperti dua orang itu?”
“Tolong maafkan kami, Tuan.”
Morgan tersenyum, mengepalkan tangan erat-erat. “Aku merasa sangat senang sekarang. Jadi, inilah kekuatan uang sebenarnya? Aku bisa membuat semua orang tunduk dan menghormatiku. Aku mengerti kenapa semua orang tergila-gila dengan uang.”
[Selamat]
[Host berhasil menyelesaikan misi]
[Host menerima $10.000 dan 10 EXP]
[Host : Morgan Mayler][Level : 1 (100/100)][Saldo : $479.978.000]“Aku berhasil menyelesaikan misi tepat waktu.”Morgan ambruk di tanah, mengendalikan napas yang terengah-engah. Ia mengamati langit yang bertabur bintang.Morgan menoleh ke samping, mengamati para berandal yang tidak sadarkan diri. “Aku sempat khawatir aku tidak bisa mengalahkan mereka karena kondisiku yang sudah kelelahan.”Morgan meringis kesakitan ketika memaksakan berdiri. Ia menyeka darah di dahi dan bibir, mengembus napas panjang. “Aku berlatih bela diri sejak anak-anak di panti asuhan. Aku tidak memiliki pilihan selain terus berlatih dan bertambah kuat karena aku hidup sendiri.”Morgan terjatuh, mengendalikan napas yang terputus-putus. “Aku harus segera pergi ke rumah sakit sekarang. Aku yakin Mike mengawasiku dari suatu tempat sekarang.”Morgan kembali berdiri, berjalan terhuyung-huyung menuju mobil. Ia memijat kepala beberapa kali, nyaris terjatuh beberapa kali.“Dasar brengsek!” pekik Mike saat melihat semua
“Dasar sialan! Kau bertarung dengan curang!” teriak seorang berandal sembari mengayunkan pipa besi pada Morgan.“Kalian semualah yang bertindak curang! Kalian menyerangku secara berkelompok sekaligus memakai senjata!” sahut Morgan sembari menghindari serangan. “Aku hanya menggunakan tongkat, sarung tangan, dan petasan kecil! Tapi, kalian datang bergerombol dan menyerangku secara tiba-tiba!”“Tutup mulutmu, sialan!” bentak seorang berandal sembari berlari ke arah Morgan.Morgan menendang berandal itu hingga berandal itu terlempar dan menubruk berandal lain. Ia menghajar para berandal yang berdatangan, mengalahkan mereka satu per satu.Morgan memukul beberapa berandal yang akan kembali berdiri. Ia mengamati para berandal yang sudah tergeletak di tanah, mengembus napas panjang.[Waktu penyelesaian misi : 10 menit 10 detik]“Para berandal itu cukup lemah. Meski begitu, mereka membuatku kelelahan. Aku harus tetap waspada karena berandal lain akan muncul sebentar lagi.”Morgan terkejut saat
“Apa maksudmu, Missy? Kenapa kau tiba-tiba mengakhiri hubungan denganku?” Mike terkejut dan marah di waktu yang sama. “Apakah semua ini karena kau menyukai Morgan?”“Tidak!” Missy menggeleng beberapa kali, terdiam sesaat. “Aku merasa kita tidak lagi cocok satu sama lain, Mike. Aku tidak bisa bersamamu lagi. Aku mohon mengertilah. Kita masih bisa berteman, dan mulai melupakan semuanya mulai sekarang.”“Aku tidak menerima keputusanmu, Missy. Kau mendadak berubah dan mengambil keputusan yang salah.” Mike mencengkeram tangan Missy. “Jangan bermain-main denganku atau kau akan menyesal, Missy!”“Lepaskan tanganmu dari tanganku, Mike. Kau menyakitiku.” Missy menarik tangannya, tetapi Mike semakin keras mencengkeram tangannya. “Aku akan berteriak jika kau apa tidak melepas tanganmu, Mike.”Mike melepas tangannya perlahan. “Missy, kita masih bisa ....”Missy bergegas meninggalkan kafe, melirik Mike sekilas. “Aku melihat Morgan berada di hotel saat aku menemui temanku di sana. Dia ternyata adal
[Host : Morgan Mayler][Level : 1 (050/100)][Saldo : $479.928.000]Morgan keluar dari kantor polisi, memasuki mobil, mengembus napas panjang. Ia mengamati lalu lalang kendaraan di jalan raya. Langit tampak sangat cerah sore ini.Morgan melajukan mobil, menyalip beberapa kendaraan. “Polisi dan pemadam kebakaran tidak tahu informasi mengenai pria misterius itu. Pria itu muncul dan menghilang dengan cepat.”“Aku sudah mencari pria itu ke seluruh sudut kota, tetapi aku tidak mendapatkan petunjuk apa pun. Siapa dia sebenarnya?”Mobil berhenti saat lampu merah. Beberapa berandal berlarian karena para polisi mengejar mereka. Mereka menabrak beberapa pejalan kaki, memasuki lorong.Morgan mengamati beberapa pria berpakai hitam di trotoar. “Aku kembali ke bekas gedung tua pagi dan siang tadi, tetapi aku juga tidak mendapatkan petunjuk mengenai pria itu.”“Mondy mengatakan Mike mengumpulkan banyak berandal untuk menghajarku. Aku tahu Mike tidak akan berhenti begitu saja.” Morgan mencengkeram ke
“Dasar bajingan tengik!” bentak Mondy sembari menahan kesakitan di pinggang kirinya. “Aku hanya melihat seorang pria berpakaian hitam memasuki gedung yang terbakar. Aku tidak melihat wajahnya.”“Seorang pria berpakaian hitam?” gumam Morgan.“Pria itu tampaknya gila. Dia berjalan ke dalam kobaran api tanpa takut.” Mondy mengawasi keadaan sekeliling, mendengkus kesal.Mondy berjalan terseok-seok, meninggalkan Morgan. Akan tetapi, pria itu tiba-tiba berhenti dan berbalik. “Aku mengatakan ini karena kau sudah mengalahkanku. Aku mendengar Mike mengumpulkan para berandal malam kemarin. Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan.”“Jangan menggangguku lagi, brengsek! Jika kita kembali bertemu, aku akan menghajarmu tanpa ampun!” Mondy meninggalkan Morgan, berlari ke sebuah gang.Morgan mengembus napas panjang, menoleh pada sisa gedung. “Mike dan Missy benar-benar membuatku marah! Mereka berniat membunuhku sejak awal!”Morgan memasuki kawasan gedung, mengamati beberapa potongan kayu, besi, dan bar
[Ding][Misi 3 : Mengalahkan si Raja Arena][Durasi : lima menit][Hadiah : 10 EXP dan $10.000]“Sebuah misi baru?” Morgan tersenyum. “Sistem memberikan misi di waktu yang tepat. Aku mendapatkan sepuluh ribu dolar jika berhasil mengalahkan si Raja Arena.”“Aku mencari informasi mengenai si Raja Arena alias Mondy di internet semalam. Dia memang kuat, tetapi dia memiliki kelemahan di pinggang kiri.”“Dasar bajingan tengik! Kenapa kau tiba-tiba tersenyum, brengsek?” Mondy berteriak seraya memutar-mutar pipa besi. “Apa kau tidak sabar untuk mati? Aku dengan senang hati mengirimmu ke neraka!”“Aku melihat sebuah sepeda listrik di dekat gang. Kau juga memiliki pakaian yang bagus. Aku akan menjual sepeda listrik dan pakaianmu setelah kau kalah.”“Kau bisa membawa sepeda dan pakaianku jika kau memang berhasil mengalahkanku. Sayangnya, aku tidak berniat untuk kalah.” Morgan berlari sekencang mungkin, melompat tinggi, melayangkan sebuah tendangan ke arah dada Mondy.Mondy menahan tendangan deng







