MasukKetika menghancurkan para putri duyung tadi, Jiang Xin sempat melihat jalan keluar muncul pada dinding di tepi sungai. Ia mendatangi lokasi tersebut dan menekan permukaan dinding. Benar saja, batunya longgar. Jiang Xin langsung melayangkan pukulan. Batu-batu besar yang menghalangi jalan hancur, memperlihatkan lorong keluar yang memancarkan cahaya. Duan Hao tersentak. Kapan Kakak Jiang menemukan jalan keluar itu? Selain kekuatan dan bakat, pengamatannya juga sedemikian tajam. Aku benar-benar masih jauh darinya! Jiang Xin tidak menyadari bahwa Duan Hao kembali sibuk merendahkan kemampuan dirinya sendiri. Ia berjalan memasuki lorong. Duan Hao mengikuti dari belakang. Keduanya bergerak menuju cahaya dan segera tiba di sebuah aula. Dari pintu masuk lain, para kultivator berdatangan dalam kelompok kecil. Tubuh mereka dipenuhi luka dan aura mereka sangat lemah. Jelas, mereka baru saja melalui pertempuran sengit. Tak ada kegembiraan di wajah mereka. Mereka pasti mengalami
Namun, mereka tidak memiliki kesadaran dan hanya mengenal pembantaian. Alih-alih menghindar, mereka justru menyerbu ke arah Jiang Xin dengan wajah buas dan cakar terulur. Putri duyung yang bertarung melawan Duan Hao turut melesat ke udara. Duan Hao semula hendak mengejarnya. Namun, ketika merasakan kekuatan Segel Kaisar Manusia, ia langsung berubah pikiran dan melompat ke dalam sungai hitam. Byur! Ia tidak ingin dihancurkan oleh serangan orang yang begitu dikaguminya. Bahkan setelah masuk ke sungai dan merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, Duan Hao tidak berani muncul. Ia terus menyelam sambil melapisi tubuh dengan qi darah keemasan. Pada saat itulah Segel Kaisar Manusia akhirnya jatuh. Retak! Retak! Retak! Ruang hampa pecah menjadi serpihan tak terhitung jumlahnya. Seluruh gua berguncang hebat. Para putri duyung yang menyerang ditekan oleh kekuatan segel bahkan sebelum sempat mendekati Jiang Xin. Sesaat kemudian, segel sebesar gunung itu menghantam tanah. B
Dalam sekejap, keduanya telah tiba di depan Jiang Xin. Cakar tajam menebas ke arah tenggorokannya dengan kekuatan yang menyerupai runtuhan gunung. Mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan spiritual. Seperti monster-monster sebelumnya, mereka mengandalkan tubuh fisik untuk menghancurkan segala sesuatu. Mata Jiang Xin menyipit. Dengan Metode Pemurnian Darah, ia membentuk sebilah pedang merah. Desir! Qi pedang meledak. Cahaya pedang merah darah menebas dua putri duyung tersebut. Dentang! Percikan api beterbangan ketika pedang menghantam sisik mereka. Suaranya seperti logam beradu dengan logam. Sisik kedua makhluk itu luar biasa keras. Jiang Xin telah menguasai Niat Pedang. Namun, pedang darah yang diperkuat oleh Niat Pedang sekalipun tidak mampu menembus sisik mereka dalam satu serangan. Tebasannya hanya meninggalkan dua bekas putih. Meski gagal melukai, kekuatan serangan itu tetap memaksa keduanya mundur. Kedua putri duyung itu menyerupai hantu jahat. Niat memb
Jika tempat ini benar-benar memiliki Ilusi Medan Perang, mereka cukup mencari lokasi lain. Bukankah lebih baik mencari kesempatan yang lebih aman? Bahkan mengikuti para ahli dan memungut sisa-sisa mereka masih lebih baik daripada mati sia-sia. Sebagian besar orang yang mengikuti Jiang Xin adalah kultivator lepas. Mereka tidak memiliki pemimpin dan tak perlu mematuhi perintah siapa pun. Begitu merasakan bahaya, melarikan diri merupakan pilihan paling masuk akal. Dalam sekejap, hanya sekitar selusin orang yang tersisa, termasuk Jiang Xin dan Duan Hao. Jiang Xin justru maju mendekati sungai yang telah berubah merah. Ia telah merasakan aura makhluk-makhluk di bawah permukaan air. Hal itu dapat diketahui berkat para kultivator yang telah dimangsa. Qi darah mereka membuat Jiang Xin mampu menangkap keberadaan makhluk aneh yang bersembunyi di dasar sungai. Ia mengulurkan tangan dan menjepit udara dengan dua jari. Dengung rendah terdengar. Sejumlah besar qi darah bangkit dari sun
Begitu memasuki lorong, hembusan angin dingin menerpa mereka. Angin tersebut membawa aura darah yang kental. Jiang Xin sangat peka terhadap qi darah, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ini adalah Medan Perang Kuno, tempat makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya tewas dalam pertempuran. Warisan dari para pendahulu mungkin memang ada, tetapi jumlahnya pasti sangat sedikit. Tempat semacam ini lebih sering dipenuhi roh pendendam yang tak mampu bereinkarnasi serta qi darah yang menumpuk selama bertahun-tahun. Menemukan pendahulu baik hati yang dengan mudah menyerahkan warisan hanya terjadi dalam cerita. Jiang Xin memahami hal itu dengan sangat baik. Semakin dalam mereka memasuki gua, semakin pekat aura darah yang tercium. Duan Hao yang berjalan di sampingnya mulai mengerutkan kening. Ia memiliki Tubuh Penguasa yang mampu menghancurkan segala ilusi. Namun, aura berdarah di tempat ini membuat qi dan darah di dalam tubuhnya terus bergejolak. Jika tidak menekannya dengan pa
Wus! Wus! Wus! Para kultivator mengejar Jiang Xin dengan kecepatan tinggi. Namun, saat mereka mengerahkan qi spiritual, batu-batu bercahaya di sekeliling mereka mendadak pecah. Krak! Krak! Dari dalam batu-batu itu, tumbuhan air menyeramkan menyembur keluar dan langsung menjerat beberapa kultivator terdekat. “Sial! Benda apa ini?!” Mereka buru-buru mengayunkan senjata untuk menebas tumbuhan tersebut. Perpaduan bilah tajam dan qi spiritual dengan mudah memotong sulur-sulur tumbuhan air. Namun, semakin banyak sulur yang muncul dan melilit tubuh mereka. Seseorang akhirnya menyadari sumber masalahnya. “Benda-benda ini dapat merasakan qi spiritual! Jangan melawan dengan qi spiritual!” Mendengar peringatan itu, para kultivator yang terjerat segera menarik seluruh qi spiritual mereka. Mereka mengeluarkan senjata biasa dari cincin qiankun dan memotong sulur-sulur yang membelit tubuh. Jika dibiarkan, tumbuhan itu akan membungkus mereka menjadi kepompong. Sebagian sempat be







