Share

Aku Tidak Gila!

"Iya, tapi enggak sekarang juga ‘kan, Om! Tuh, anak Om lagi dirawat, kasihan enggak ada yang jenguk,” tegas Laras sambil berjalan menuju kantin dan di-ikuti oleh Pak Hadi di belakangnya.

Pak Hadi dan Laras memang menjalin hubungan terlarang di belakang Elena. Hal itu dilakukan Laras, karena dia butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya di kota. Dia pun baru mengetahui sekitar tiga bulan yang lalu kalau Pak Hadi, sang sugar daddy-nya itu adalah ayah Elena, sahabatnya sendiri.

Selesai makan di kantin, Laras dan Pak Hadi pergi menuju ruangan Elena dirawat. Suasana rumah sakit tampak ramai dengan para pembesuk, terkecuali ruang Dahlia yang ditempati Elena. Hening sekali, sesekali terdengar kicauan burung gereja yang hinggap di atas balkon ruangan yang catnya mulai pudar itu, menambah suasana terasa asing.

“Ini Om, ruangannya El. Ayo masuk, Om!” Laras membuka pintu dengan pelan agar tak mengganggu tidurnya Elena.

Pak Hadi mengikuti di belakangnya, perlahan mendekati ranjang Elena, ditatapnya dalam wajah putri sulungnya itu. Walau pun dia tidak pernah dekat dengan putrinya itu, tapi perasaan seorang ayah tak bisa dibohongi. Dia merasa semua yang terjadi pada Elena adalah karena kesalahannya. Namun, sepertinya susah sekali menyadarkannya dari tabiat buruk yang suka main perempuan, termasuk untuk mengakhiri hubungan dengan sahabat anaknya sendiri.

“Ras, Om titip El, ya. Om enggak bisa lama-lama di sini, Om akan transfer sejumlah uang ke rekeningmu untuk keperluan El di sini,” pungkas Pak Hadi sambil membuka ponselnya.

Begitulah Pak Hadi sedari dulu, abai terhadap anaknya. Apalagi setelah menikahi sekretarisnya itu, dia terkesan menjaga jarak dengan anak-anaknya. Sang istri muda tak menyukai Elena dan adiknya.

“Loh, enggak nunggu El bangun dulu, Om?” tanya Laras merasa heran.

“Enggak, Ras, Om masih ada kesibukan yang lain hari ini.”

Pak Hadi segera keluar dari ruangan sambil membisikkan sesuatu di telinga Laras. 

“Om tunggu minggu depan, ya, di tempat biasa,” bisik Pak Hadi sambil mengedipkan matanya.

Laras hanya menanggapi datar ajakan Pak Hadi itu. 

‘Lama-lama kok gue ilfil sih sama nih laki, anaknya sakit masih sempat aja mikir begituan,’ batin Laras sambil memandang sinis ke arah Pak Hadi.

Sepulangnya Pak Hadi, Laras menutup pintu ruangan lalu melihat Elena sudah mulai sadar tapi masih tampak lemas.

“El, lu sudah sadar?” sapa Laras dengan tersenyum seraya mendekat ke Elena.

“Gue mau pulang, pokoknya pulang!” Elena merengek sambil menarik selang infus yang mengakibatkan darah kembali keluar dari tangannya.

Melihat Elena mulai mengamuk lagi, Laras memencet tombol darurat tanda meminta pertolongan perawat.

Tidak lama, dua orang perawat laki-laki datang ke ruangan.

“Tolong, Mas! Pasien mengamuk lagi,” ujar Laras panik.

“Gue cuma mau pulang, Ras!” Elena kembali menarik-narik selang infus, matanya pun setengah terpejam karena masih ada pengaruh obat penenang, sehingga tenaganya masih belum terlalu kuat.

“Sabar, El! Entar juga kita pulang.”  celetuk Laras sambil menenangkan sahabatnya itu.

“Maaf, Mbak, permisi sebentar, kami mau membetulkan infusnya dulu,” sela perawat itu.

Kedua perawat mendekat untuk memperbaiki selang infus yang tersendat akibat amukan Elena.

“Kalau ada apa-apa, panggil lagi kami, Mbak,” pesan perawat ketika akan meninggalkan ruangan.

“El, lu mau cepat pulang ‘kan?” tanya Laras.

“Kalau lu mau cepat pulang dari sini, lu kudu nurut apa kata dokter dan perawat. Jangan mengamuk kayak tadi siang, dong!” timpal Laras lagi.

Elena hanya diam, pandangan matanya terlihat kosong seperti tak ada pancaran kebahagiaan dalam dirinya.

“Lu mau mandi, El? Biar segar badan lu,” tanya Laras.

Elena tidak menjawab sepatah kata pun, dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu makan, ya, dari kemarin lu belum ada makan,” tawar Laras.

“Gue enggak mau apa-apa! Gue cuma mau pulang!” Mata Elena menatap tajam ke arah Laras, seperti ada luapan emosi yang tertahan.

“Oke ... oke ....

Kalau lu maunya begitu, oke! Besok kita pulang, tapi besok, bukan sekarang. Sekarang sudah malam waktunya istirahat,” tegas Laras dengan nada yang ketus. 

Hatinya terasa dongkol karena tidak sedikit pun Elena mau mendengarkan nasihatnya.

Laras menjauh dari Elena, lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

“Gue mau tidur, El, kalau ada apa-apa, bangunin aja gue!” ucap Laras sambil memejamkan mata.

***

Hari ini adalah hari ketiga Elena dirawat namun, belum menunjukan perkembangan yang berarti. Elena masih seperti orang linglung, bahkan kadang tiba-tiba mengamuk tanpa sebab. Badannya terlihat lebih kurus karena menolak untuk makan. Hanya sesekali meminum jus buah yang dibelikan Laras di kantin rumah sakit.

“Assalammualaikum.” Terdengar suara Bu Ratna dari luar. Wanita setengah baya itu menyempatkan datang untuk membesuk.

“Waalaikumsalam, masuk, Bu,” jawab Laras sambil membuka pintu.

“Bagaimana, Ras, keadaan Elena? tanya Bu Ratna, “kapan bisa pulang?” imbuhnya lagi. 

Bu Ratna langsung mendekat ke ranjang Elena. Dipandanginya wajah gadis yang baru beberapa bulan dikenalnya itu. Rasa keibuannya muncul, ketika melihat Elena terbaring sendiri tanpa ditemani orang tuanya walaupun keduanya masih hidup.

“Belum tahu, Bu, anaknya sudah rewel minta pulang aja. Nanti akan coba Laras tanyakan, saat dokter datang nanti,” jawab Laras.

“El, bagaimana keadaan kamu?” tanya Bu Ratna pelan sambil membelai rambut Elena. Rambut yang tak lagi tergerai indah, kusam, dan acak-acakan. Diambilnya sisir yang ada di laci nakas kecil di samping ranjang Elena. Dengan lembut disisirnya rambut gadis itu sampai rapi kembali.

“Pulang! El enggak betah di sini, Bu,” lirih Elena. Tiba-tiba air matanya jatuh saat memandang Bu Ratna. Haru sekaligus sedih bercampur baur di pikirannya. Teringat sosok ibunya di rumah yang sedang mengalami depresi berat. 

“Ibu, El kangen ibu.” Tangis Elena pecah seketika.

Laras dan Bu Ratna mencoba untuk menenangkannya, tetapi entah kenapa tangisan itu berubah menjadi amukan yang penuh amarah. Seperti ada api kebencian di hatinya yang belum padam selama ini.

“Ibu ... aku mau ketemu ibu, kasihan ibuku!” Elena terus berteriak dan membuat Bu Ratna ketakutan. Dengan cepat Laras memencet bel darurat. Tidak berselang lama datang Dokter Andreas dan perawat ke ruangan itu.

“Tenang, ya, Mbak harus tenang!” bujuk Dokter Andreas sambil memberikan aba-aba kepada perawat untuk menyuntikkan obat penenang pada Elena.

Tidak lama, Elena terlihat tenang. Matanya terlihat sayu, bibirnya kering, rambutnya acak-acakan. Seperti bukan Elena yang sebenarnya, cantik dan menawan. Karena parasnya itu pula, banyak laki-laki yang tergila-gila dengannya. Namun, tak satu pun yang mampu menaklukkan hatinya. Bahkan, Elena cenderung dingin ketika menghadapi laki-laki.

“Dia bakal tidur kayak kemarin lagi, Dok?” tanya Laras.

“Tidak, ini saya coba turunkan dosisnya. Kita akan lihat nanti perkembangannya sampai besok. Kalau masih impulsif seperti ini, terpaksa kita rawat di bangsal jiwa,” terang Dokter Andreas.

Apa yang dikatakan Dokter Andreas itu rupanya diam-diam disimak oleh Elena. Mendengar dia akan dipindahkan ke bangsal jiwa, Elena terlihat marah dan tak terima.

“Aku enggak mau dipindah ke tempat yang Dokter katakan, aku tidak gila!” teriak Elena kepada Dokter Andreas.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status