ログイン"Juna!" pekik Tiara. "Kamu ngomong apa sih!""Saya tidak mau Tiara hamil sekarang!" tegas Juna."Jangan dengarkan pria tidak jelas itu, dok!" kesal Tiara.Dokter dan perawat yang sedang bertugas pun kebingungan melihat perdebatan antara Tiara dan Juna."Asal dokter tahu, anak itu bukan anak saya dan saya tidak mau, Tiara hamil anak pria lain!" ucap Juna terbawa emosi. "Bisa kan, dok?""U-untuk kehamilan Ibu Tiara yang masih muda memang masih bisa tapi saya tidak berani melakukan hal keji itu. Apalagi, kondisi janin nya dalam keadaan sehat. Saya tidak bisa mengambil resiko. Dan lebih baik, kalian bicarakan hal ini lebih dulu." pinta dokter."Kamu gila, Jun! Aku tidak mau membunuh anak ini. Kamu tidak berhak, Jun!" teriak Tiara."Aku benci anak itu, Tiara!" pekik Juna."Tapi kamu tidak berhak membuat keputusan sendiri. Apalagi kamu bukan siapa-siapaku! Hubungan kita sudah berakhir. Dan aku sudah menikah dengan pria yang menjadi ayah dari calon anakku." kesal Tiara."Dok, sebenarnya dia
Ryan mengambil ponselnya dan menghubungi Gery.Di tempat kerjanya.Gery melihat ponselnya yang menyala "Ayah?" gumamnya kemudian menggeser tombol hijau di layar ponsel."Ada apa Ayah menelfonku, aku sedang sibuk?" tanya Gery sembari menatap langit-langit kantor."Cepat pulang! Ayah ingin bicara denganmu!" geram Ryan.Gery menghentikan jarinya yang sedang menari di papan keyboard laptopnya. 'Jangan-jangan Sindy sudah mengatakan semuanya.' batin Gery."Aku akan pulang satu jam lagi." jawab Gery."Kenapa harus 1 jam lagi, ha? Apa kamu mau menemui wanita pelakor itu!" bentak Ryan. "DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI! Cepat pulang!" pekik Ryan lagi yang kemudian mematikan telfonnya."Mas, kamu yang sabar, dong. Ingat, wajahmu sudah banyak kerutan apalagi di setiap sudut mata. Tolong jangan tambah kerutan halusmu lagi. Kamu kan seorang pemimpin perusahaan, jadi jaga penampilan dan fisikmu." ucap Natalia sembari mengusap lembut pundak Ryan.Ryan menjatuhkan pantatnya di sofa. "Aku tidak bisa berdiam
Di sisi lain.Tiara baru saja mengunci pintu rumahnya, dia melangkahkan kakinya dengan sesekali menghapus air matanya.Tangannya melambai saat melihat taksi online yang melewatinya."Pak, tolong antarkan saya ke rumah sakit." titah Tiara."Baik, Pak." jawab supir taksi online.Tak memakan waktu lama, taksi online yang ditumpangi oleh Tiara sudah terparkir di depan lobby rumah sakit."Ini uangnya, Pak!" ucap Tiara kemudian keluar dari mobil. Dia masuk kedalam rumah sakit. "Saya mau periksa kehamilan." ucapnya ke tempat pendaftaran."Baik, silahkan tunggu. Nanti kami akan panggil nomer antrian." jawab suster yang menyodorkan nomer antrian kepada Tiara.Tiara melihat kertas yang bertuliskan 10. Dia duduk di bangku yang sudah disediakan.Sembari menunggu nomernya dipanggil, Tiara menyempatkan diri untuk membuka ponselnya dan dia melihat notifikasi pesan masuk dari mantan kekasihnya.'Untuk apa kamu di rumah sakit?' ucap Tiara yang sedang membaca pesan dari Juna."Juna tahu kalau aku lagi
Gery masuk kedalam kantor tanpa mendengarkan ucapan Sindy."Please Gery, kita perlu bicara!" pekik Sindy menarik lengan Gery.Gery menghentikan langkahnya, ekor matanya melirik ke sekitar ruangan yang ramai."Ini masalah penting. Ini masalah pernikahanmu dengan Tiara." ucap Sindy.'Kenapa dia bisa tahu tentang pernikahanku. Atau jangan-jangan Tiara yang membongkar semua atau wanita bayarannya yang memberitahunya?' batin Gery."Aku sudah tahu semuanya dan aku butuh penjelasan darimu. Bisa-bisanya kamu menikah dengan wanita gila harta dan haus belaian itu. Padahal, sebentar lagi kita akan menikah!" ucap Sindy emosi.Gery menghembuskan napasnya panjang, dia membawa Sindy masuk kedalam ruangannya."Kenapa, kamu malu kalau semua karyawanmu tahu tentang pernikahanmu dengan Tiara?" sindir Sindy."Kamu tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan ikut campur urusan pribadiku." tegas Gery."Jelas aku harus ikut campur. Kita mau menikah, Gery. Bahkan, persiapan pernikahan kita hampir selesai. Aku tidak ter
"Apa? Saya di pecat? Ta-tapi apa alasannya, Pak? Saya tidak pernah melanggar peraturan atau perintah dari anda?" tanya Renata syok. "Jangan pecat saya, Pak. Saya butuh pekerjaan ini. Saya mohon." pinta Renata memohon. "Jangan pecat Renata. Kamu bisa menegurnya kalau dia buat kesalahan." titah Tiara. "Diam. Tidak ada yang mengajakmu bicara." ketus Gery. Renata bersujud dihadapan Gery. "Pak, saya mohon, jangan pecat saya. Saya tidak tahu lagi, harus mencari pekerjaan kemana lagi." Gery memicingkan matanya. "Kau sudah bolos kantor." "Tapi saya tidak bolos kantor. Saya hanya ingin mengecek kondisi Tiara. Bukankah Pak Gery yang meminta saya untuk memantau keadaan Tiara?" jawab Renata sembari mengatupkan tangannya di dada. "Itu dulu." ketus Gery. "Untuk sekarang dan seterusnya, dia bukan tanggung jawabmu!" ujar Gery. Tiara menundukkan wajahnya sembari menghapus air mata yang hampir saja menetes. "Ta-tapi, Pak—" "Saya tidak mau mendengar apapun lagi. Kalau kamu masih m
"Aku tidak tahu tapi kita tidak boleh menuduh orang tanpa bukti." jawab Tiara.Di sisi lain.Juna menjatuhkan pantatnya di warung makan pinggir jalan."Es teh satu!" ucapnya kepada ibu penjual."Huh, dasar wanita pengkhianat. Bisa-bisanya dia hamil dengan Bos nya sendiri. Mentang-mentang, aku tidak sekaya bos nya, jadi dia tidak mau hamil anakku. Awas saja, Tiara. Sampai kapanpun aku akan tetap menerormu. Kamu harus menerima pembalasanku." gumam Juna sembari memainkan ponselnya.Sindy menghentikkan mobilnya di perempatan. Tak sengaja dia melihat Juna yang sedang bersantai."Kebetulan, ada pria itu." gumamnya lalu memarkirkan mobilnya di depan warung makan.Juna melototkan matanya saat melihat seorang wanita turun dari mobil."Dia … bukankah dia wanita—" ucapan Juna terhenti saat melihat Sindy berdiri di hadapannya."Es teh nya, Mas." ucap ibu pemilik warung."Oh iya," jawab Juna lalu menyeruput es teh nya.Sindy tersenyum sinis, "Tolong bersihkan tempat duduk itu!" pintanya sembari me







