MasukBeberapa hari kemudian, Greyson dan Winter kembali mengunjungi Sandra di rumah sakit jiwa.Kali ini mereka tidak berada di dalam ruang perawatan, melainkan di taman rumah sakit. Udara sore terasa sejuk. Beberapa pasien berjalan santai bersama perawat, sementara yang lain duduk menikmati sinar matahari di bangku-bangku taman. Suasananya tenang, jauh dari kesan menyeramkan yang sering dibayangkan orang tentang rumah sakit jiwa.Sandra duduk di bangku panjang dengan boneka capybara yang kini hanya dipangkunya, tidak lagi dipeluk erat seperti sebelumnya. Di sisi kanannya duduk Greyson, sedangkan Winter berada di sisi kirinya.Tidak banyak percakapan di antara mereka. Keheningan yang tercipta justru terasa lebih nyaman dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya.Perubahan Sandra memang belum besar, tetapi cukup terlihat. Tatapannya tidak lagi terus-menerus kosong. Sesekali ia memperhatikan orang-orang yang berlalu di hadapannya, lalu mengalihkan pandangan ke pepohonan yang bergoyang pelan te
Greyson menoleh ke Winter. Ada jeda singkat. Tarikan napas yang tidak terlalu dalam, tapi cukup memberi tahu Winter bahwa kalimat berikutnya bukan kalimat ringan.“Istriku,” kata Greyson.Sandra membeku satu detik, lalu wajahnya berubah cerah. Senyumnya melebar, tulus, tanpa beban. “Istrimu?” ulangnya. “Oh… pantas saja.”Ia mendekat ke Winter, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, seperti seorang ibu yang menilai menantunya untuk pertama kali. Tidak menghakimi, hanya ingin mengenal.“Kau cantik,” ucap Sandra. “Kenapa Gaffin tidak mengenalkanmu lebih awal?”Greyson menunduk sedikit. Tidak menjawab.Winter tersenyum kecil, canggung. Ia tidak tahu harus merespons dengan cara apa yang benar.“Saya… Winter,” katanya akhirnya. Nada suaranya pelan. “Senang bertemu dengan Mama.”Sandra tampak senang mendengarnya. Ia mengangguk-angguk kecil, lalu mengulurkan boneka capybara yang sedari tadi dipeluknya.“Pegang ini sebentar,” katanya. “Tanganku pegal.”Winter ragu sejenak sebelum menerima
Hari itu apartemen Greyson terasa lebih terang dari biasanya, meski suasananya justru hening. Winter berdiri di dekat meja makan, menata beberapa wadah makanan yang baru saja datang. Bukan masakannya karena ia tahu batas kemampuannya, tapi ia memastikan semuanya makanan sehat, sesuai anjuran dokter.Greyson duduk di kursinya, tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Ia memperhatikan Winter sekilas. Perempuan itu bergerak tenang, efisien, tanpa banyak bicara. Kepedulian yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bukan karena perasaan, melainkan karena rasa kemanusiaan. Greyson tahu itu, yang membuatnya tidak ingin berharap terlalu jauh.Greyson mengambil sendok, menyuap sup pelan. Winter akhirnya duduk di kursi seberang.Beberapa suapan berlalu dalam diam. Greyson meletakkan sendoknya. Gerakan kecil itu cukup membuat Winter berhenti makan dan menoleh. “Apa makanannya tidak enak?” tanyanya spontan. “Tidak sesuai seleramu?”Greyson tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuhnya sedikit, men
Greyson tidak langsung menjawab. Untuk sepersekian detik raut wajahnya berubah. Bukan panik, bukan takut. Lebih seperti seseorang yang tersentuh tepat di titik yang jarang disentuh orang lain.Stella melihatnya. Dan ia yakin itu pukulan telak.Ruangan terasa menyempit.Greyson menarik napas pelan. “Kau tahu,” katanya akhirnya, tenang tapi padat, “banyak orang di industri ini menyamakan privasi dengan kebohongan.”Ia menatap Stella lurus-lurus. Tatapan yang tidak meminta pengertian, tidak juga pembelaan.“Aku tidak takut jika publik tahu,” lanjutnya. “Tapi tentu saja kau cukup cerdas untuk memahami perbedaannya.”Greyson mengangkat ponsel rusak itu sedikit lebih tinggi, lalu menurunkannya kembali ke samping tubuhnya. Gestur kecil, tapi penuh kendali. “Menyembunyikan,” katanya, “dan melindungi itu dua hal yang berbeda.”Stella tidak tersenyum kali ini.“Aku ada di industri ini bukan untuk menjual luka keluargaku,” ucap Greyson. Suaranya tetap datar, namun ada sesuatu yang mengeras di sa
Diamnya Greyson justru membuat senyum Stella mengembang perlahan. Ia berhasil. Reaksi itu terlalu jelas untuk disangkal. Stella kini semakin yakin Greyson dan Winter bukan sekadar saling mengenal. Ada kedekatan yang lebih dalam, lebih personal.“Masuklah,” ucap Greyson akhirnya. Nada suaranya datar, tapi keputusan itu terasa berat.Stella melangkah masuk ketika Greyson menggeser tubuhnya ke samping. Begitu pintu tertutup, Stella sempat menoleh, mengamati punggung Greyson yang bergerak tertatih menuju ruang tengah, satu kruk menopang langkahnya. Dugaan di kepalanya semakin menguat.“Apa yang ingin kau bicarakan tentang Winter?” tanya Greyson.“Hm.” Stella bergumam pelan, lalu melangkah santai ke sofa dan duduk seolah ini apartemennya sendiri. “Apa yang ingin kau tahu?” katanya ringan. “Keluarganya? Kekasihnya?” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. “Atau skandal-skandalnya?”Greyson menatapnya tajam. Ada sesuatu yang terasa keliru sejak awal. “Keluar,” ucapnya dingin. “Jika kau ti
“Tubuhmu panas. Apa kau demam?” ucap Winter.Ucapannya nyaris refleks, diikuti gerakan yang tak disengaja. Jemarinya menyentuh kulit Greyson, lalu punggung tangannya menempel di kening pria itu, mengukur suhu dengan kebiasaan sederhana yang lahir dari kepedulian.Greyson menegang seketika.“Aku baik-baik saja,” katanya cepat. Tangannya terangkat, menjauhkan tangan Winter dari keningnya, mungkin sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan.Winter terdiam sesaat, tapi kerut di dahinya tak menghilang. “Aku yakin tubuhmu panas…” gumamnya. Kekhawatiran itu nyata. Pikirannya langsung melompat ke kemungkinan terburuk, luka bekas operasi, air yang mungkin tak sengaja mengenai perban, infeksi yang terlambat disadari.Ia menatap Greyson lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik sikap defensifnya. “Jangan bohong. Kau sering begitu kalau tak mau merepotkan orang lain.”Greyson menarik napas dalam-dalam. Ini justru alasan kenapa ia harus menghentikan semua ini sekarang.“Aku tidak demam,”
Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi di apartemen itu terasa menekan, berbeda dengan sunyi yang biasa ia nikmati. Sunyi kali ini penuh gema nama Winter, suara Winter, dan kata tidak yang diucapkannya dengan tegas.Nyaman, Greyson mengulang kata itu dalam kepalany
Stella sudah melangkah pergi ketika tinggal dua langkah lagi menuju pintu. Tangannya terangkat hendak meraih gagang, lalu ia berhenti.Ia menoleh pelan, ekspresinya berubah seolah baru mengingat sesuatu yang nyaris terlupa. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.“Ah,” gumamnya ringan. “Aku hampir l
Greyson berbalik menuju kamar dengan langkah senyap. Tepat sebelum pintu menutup, ia menoleh sekali lagi sekilas, tanpa kata.Hening belum sempat benar-benar mengendap ketika ketukan kembali terdengar.Lebih keras.Winter menarik napas panjang, merapikan rambutnya dengan cepat. Tangannya sempat gem
Winter duduk di sofa, menyusuri galeri ponselnya dengan serius. Beberapa foto endorse tersusun rapi di layar, hasil pemotretan barusan. Ia sedang menimbang mana yang paling layak diunggah ketika bunyi pin pintu apartemennya terdengar.Winter menoleh sekilas.Tak perlu menebak lama. Hanya ada dua or







