로그인Tidak pernah diperlakukan layaknya sebagai seorang anak, diusianya yang ke dua puluh tahun Aura Arabella dijual oleh ayahnya pada seorang CEO kejam, demi melunasi hutang perusahaan dan kepentingan pribadi keluarganya yang serakah. Aura yang rapuh akhirnya berubah drastis menjadi seorang wanita yang tangguh dan pandai memainkan topeng kepalsuan. Ia berusaha untuk menaklukkan Xavier Valerius Sang CEO kejam, untuk mencaritahu kebenaran tentang dirinya. Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya oleh Aura, ternyata Xavier justru menjadi pelindung baginya. Ada satu fakta yang baru terungkap oleh Aura, yakni tentang siapa Xavier Valerius sebenarnya.
더 보기Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yang melilit dan menyesakkan napasnya.
Di depannya, duduk seorang pria berwajah arrogant yang namanya bahkan tidak ada yang berani menyebut secara lantang. Xavier Valerius.
Pria itu duduk tenang dengan menyilangkan kakinya, mengenakan setelan jas custom made berwarna hitam gelap. Matanya tajam, dengan tatapan sedalam palung laut dan memancarkan aura predator yang membuat suhu di ruangan itu terasa seperti kekurangan oksigen.
Di atas meja jati di hadapannya tergeletak sebuah map dokumen, dan sebuah cek dengan sepuluh angka nol yang tertulis nyata. Ya, angka senilai sepuluh miliar.
“Tandatangani sekarang juga, Bramasta!” Suara Xavier rendah, namun memiliki otoritas yang mutlak.
Bramasta Wijaya, pria yang selama dua puluh tahun dipanggil dengan sebutan ayah oleh Aura, segera meraih pulpen yang tergeletak di samping map dengan tangan yang gemetar. Ia tidak sedikitpun menoleh pada Aura, seolah dirinya tidak sanggup menatap manik mata hitam gadis itu yang kini sudah berkaca-kaca menahan tangisnya.
“Aku mohon jangan lakukan itu, Pa.” Aura memohon dengan suara yang bergetar menahan tangisnya yang hampir pecah.
Sarah—sang ibu, mencekal erat tangan Aura. “Dengar, Aura. Jika ayahmu tidak menandatangi perjanjian ini, maka perusahaan kita akan bangkrut dalam hitungan jam saja. Apa kau mau melihat orangtuamu ini hidup menjadi gelandangan dan tidur di kolong jembatan?” bisik Sarah dengan menekan setiap kalimat yang dilontarkannya.
Detik itu juga dunia Aura seakan runtuh. Ia bukan lagi seorang putri dari keluarga Bramasta yang terpandang. Ia hanya sebuah aset yang sedang dipindahtangankan untuk melunasi hutang perusahaan keluarganya, dan memenuhi keserakahan orangtuanya yang tidak mempunyai belas kasihan terhadap dirinya.
“Ma—“ Suara Aura tercekat.
Sorot matanya penuh dengan permohonan, berharap Sarah dan Bramasta akan berubah pikiran untuk membatalkan semuanya.
“Sudah, tidak perlu banyak drama. Mama sudah siapkan semua baju-baju dan barang pribadimu itu di dalam koper,” ujar Sarah tanpa ada rasa bersalah dan belas kasih sedikitpun.
Hati Aura berdenyut nyeri. Ia menoleh ke arah pintu, di sana terdapat satu koper berukuran kecil berwarna merah yang berisi baju dan barang pribadi miliknya yang sudah dikemas oleh Sarah.
“Bawa dia ke mobil!” titah Xavier dengan tenang, tanpa emosi sedikitpun.
Suara guntur menggelegar di atas langit Jakarta, getarannya merambat hingga ke lantai yang dipijak oleh Aura. Namun kebisingan di luar sana terasa sunyi, dibandingkan dengan hancurnya harga diri yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.
Dua orang pengawal Xavier siap menyeret Aura ke arah mobil. Cengkeraman mereka terasa dingin dan kuat di lengan gadis itu. Aura tidak melawan. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh tulang di tubuhnya kini berubah menjadi abu.
Gadis itu menoleh ke arah belakang untuk terakhir kalinya, melihat wajah kedua orangtuanya.
Lelaki yang selama ini dia sebut dengan panggilan ayah itu, nampak sedang menggenggam cek dari Xavier di tangannya dengan mata yang berbinar, sebuah tatapan yang penuh gairah atas kemenangan.
“Lepaskan aku,” lirih Aura saat dua pengawal itu menyeretnya untuk melewati ambang pintu, suaranya serak dan pecah oleh tangis kesedihan. “Aku bisa jalan sendiri.”
Xavier Valerius berdiri dari kursi yang di dudukinya. Gerakannya tenang, terkesan malas namun nampak mematikan. Ia berjalan keluar mengikuti langkah para pengawalnya, mengabaikan Bramasta—lelaki serakah yang tengah sibuk memuja barisan angka di atas kertas berharga itu.
Bagi Xavier, transaksi ini sudah selesai. Barang sudah dibeli, dan dia tidak punya waktu lagi untuk berbasa-basi dengan penjualnya yang serakah itu.
Langkah kaki mereka bergema di atas lantai rumah tersebut. Setiap lukisan dan foto-foto yang terpajang di dinding yang mereka lewati, seolah menertawakan nasib buruk Aura yang menyedihkan.
Udara malam yang basah langsung menerpa wajah Aura saat pintu depan di buka dengan paksa. Hujan badai yang belum juga kunjung reda, menyapu gaun putih yang dikenakannya. Kain halus itu berubah menjadi berat dan semakin melekat di tubuh ramping Aura.
Sebuah Rolls-Royce hitam mengkilat sudah menunggu di depan teras rumah Kediaman Bramasta, mesinnya menderu rendah seperti geraman binatang buas yang siap untuk menerkam mangsanya.
“Masuk,” perintah Xavier, yang berdiri di bawah payung besar yang di pegang oleh Kenzo, asisten pribadi yang sekaligus menjadi orang kepercayaannya.
Cahaya dari lampu taman yang temaram, menonjolkan fitur wajah Kenzo yang kejam, tidak berbeda jauh dengan tuannya—Xavier Valerius.
Tubuh Aura sedikit di dorongnya untuk masuk ke kursi belakang yang luas. Sesaat kemudian, Xavier menyusul masuk dan duduk di sampingnya. Pintu mobil pun tertutup dengan suara gedebuk yang solid, seketika memutus suara bising hujan di luar.
Keheningan di dalam kabin mobil itu jauh lebih menakutkan daripada suara guntur dan badai. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal melekat di tubuh tegap Xavier memenuhi ruangan sempit itu, memenuhi indra penciuman Aura.
Mobil mulai melaju, membelah banjir yang menggenangi Jakarta. Aura menempelkan keningnya pada kaca mobil, menatap pada lampu-lampu kota yang buram oleh air hujan.
“Kau tidak bertanya kemana aku akan membawamu?” Suara rendah Xavier memecah keheningan diantara mereka.
Aura tidak menoleh, pandangan matanya terus tertuju ke arah luar kaca jendela mobil. “Untuk apa? Tidak ada gunanya aku tahu kemana kau akan membawaku pergi. Bukankah barang tidak punya hak untuk bertanya ke mana pemiliknya akan membawanya?”
Xavier Valerius menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang lebih menyerupai tarikan otot daripada sebuah senyuman. “Barang yang mahal biasanya lebih cerewet. Kau memiliki keberanian yang cukup menarik, Aura ... tapi sayangnya, keberanianmu itu tidak akan berguna ditempatku nanti.”
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Aura dengan sorot matanya yang penuh amarah, menggantikan sisa-sisa rasa sedih. “Kau punya segalanya. Kau bisa mendapatkan wanita manapun di dunia ini ... tanpa harus membeliku dari pria bangkrut seperti ayahku.”
Jemari Xavier bergerak naik ke leher Aura, menyentuh garis rahangnya dengan ujung kuku yang tajam. “Satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak pernah membeli sesuatu yang tidak aku inginkan secara obsesif. Dan kau sekarang adalah milikku. Bukan karena hutang itu, tapi karena aku memutuskan ... bahwa kau adalah milikku sejak pertama kali aku melihat fotomu di atas meja kerjaku.”
Aura memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh perlahan melewati pipinya. Ia adalah seorang gadis malang, yang dilempar oleh orangtuanya ke dalam pelukan Xavier, seorang CEO kejam. Di balik matanya yang memancarkan kesedihan, nampak sebuah api yang mulai menyala, yang suatu saat akan membakar habis kerajaan gelap Xavier.
“Aku bersumpah, jika aku harus hidup sebagai tawanan pria ini ... aku tidak akan hancur sebagai korban.” Aura bersumpah dalam diamnya.
Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap kerlip lampu kota dari kejauhan. Terbersit rasa rindu akan rumah yang pernah ia huni semenjak kecil bersama orangtuanya, tapi beberapa detik kemudian perasaan itu pun menguap saat mengingat kembali semua perlakuan orangtuanya terhadap dirinya selama ini.Dadanya bergemuruh, kata-kata Xavier siang tadi tentang asal-usulnya dan kepalsuan, terus berdengung di kepalanya seperti suara ribuan lebah yang tengah merasa terusik. “Rahasia apa yang sebenarnya kau ketahui tentangku, Tuan Valerius?”Gaun malam berbahan satin hitam dengan potongan punggung terbuka yang sengaja ia pakai malam ini, terasa dingin di kulitnya. Ini adalah malam penentuan, Aura harus memenangkan permainan dan menaklukkan pria
Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memutar tubuhnya untuk menghadap pada pemilik suara tadi. “Kau mengagetkanku, Tuan Ken ... zo. Hmm, namamu Tuan Kenzo, kan, kalau tidak salah?”Gadis itu membiarkan punggungnya bersandar pada dinding dekat pintu ruang kerja Xavier yang sedikit terbuka.Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, lalu menatap Kenzo dari pucuk kepala hingga ke ujung kaki. “Aku ada di sini hanya untuk memastikan kalau pemilikku saat ini dalam keadaan baik dan penuh semangat ... tapi sepertinya dia sedang sibuk.”Mata gadis itu mengunci pandangan Kenzo. Ia sangat tahu betul kalau pria yang saat ini ada di hadapannya bukan hanya sekedar asisten pribadi saja, melainkan ia pun adalah mata dan telinga bagi X
Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjadi pribadi yang dingin dan mungkin mulai belajar untuk kejam.Ia berusaha untuk berdiri dengan tenaga yang tersisa, mengabaikan rasa pening di kepalanya akibat kurang tidur.Di depan cermin besar di pojok kamar, Aura berdiri menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu lemah dengan wajahnya yang pucat. Luka di hatinya tidak mungkin bisa hilang hanya dalam satu malam saja. Ia akan membungkusnya dengan sutra yang terlihat cantik di pandang mata.“Selamat datang di neraka yang baru, Aura,” gumamnya dengan dibarengi seringaian devil yang menakutkan.Ia melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar pribadinya, lalu membiarkan air hangat membasuh debu penolak
Mansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangunan itu di dominasi oleh kaca yang gelap dan beton ekspos. Di kelilingi oleh hutan pinus, yang seolah membentengi rahasia di dalamnya dari dunia luar yang penuh dengan kemunafikan.Mobil terhenti tepat di depan lobi utama yang diterangi oleh cahaya lampu yang temaram. Aura turun dengan langkah kaki yang gontai. Kakinya yang beralas sepatu pantofel tipis terasa gemetar saat menyentuh lantai granit yang dingin. Hujan telah mereda, menyisakan rasa dingin yang seakan menusuk hingga ke tulang sumsum, membuat Aura memeluk dirinya sendiri.“Ikut aku,” perintah Xavier singkat dan acuh. Mereka berjalan melewati lorong-lorong yang dijaga oleh barisan pria dan wanita yang berpakaian serba hitam, denga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.