MasukThe only thing that Raviora Martin has done is to borrow an enormous sum of money which led her into the gate of the lion's den. Adam Vitiello only wanted to accomplish is to find the one who slaughtered his entire family, until a rainy day occurred and she bumped with this enticing, prim and proper yet a kick-ass Raviora Martin. Adam never thought he would think of settling down with Raviora, but as their relationship became serious, multiple drawbacks began to happen as well as the twist and turns they unleashed in their chaotic lives.
Lihat lebih banyak"Halo, Mbak Jihan, perkenalkan, aku Ralin, kekasih suamimu."
Mendadak ruangan yang diperuntukkan bagi talent berdandan itu hening. Tempat yang tadinya ramai oleh canda dan tawa menjadi senyap seketika. Ruangan itu sempurna tanpa suara. Hanya terdengar pendingin ruangan yang berdesing pelan menandakan benda itu bekerja secara maksimal. Hampir secara bersamaan, semua orang yang ada di ruangan itu menoleh pada gadis muda yang berdiri santai di samping meja rias Jihan. Wanita itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangan pada Jihan yang masih terpaku menatapnya dengan wajah kebingungan. Ketukan di pintu membuat kesibukan yang sempat terhenti menggeliat kembali. “Jihan, siap-siap yuk. Giliran kamu perform lima menit lagi.” “Oke, Mas Galang.” Jihan mengangkat jempol sambil mengedipkan mata pada crew stasiun televisi swasta itu. “Sudah, Kak?” Jihan menoleh pada Sisi, MUA yang sejak tadi memoles wajahnya dengan riasan dan memastikan pakaian yang dia kenakan menempel dengan sempurna di tubuh langsingnya. “Yap, sudah!" Sisi menjawab kikuk. "Yuk-yuk do’a dulu.” Sisi memanggil tim yang lain. Delapan orang yang tadi sibuk dengan urusan masing-masing langsung membentuk lingkaran. Mereka berdo’a seperti kebiasaan Jihan sepuluh tahun yang lalu setiap akan tampil. “Yuk, Bu, langsung mendekat ke stage saja." Nia langsung mempersilakan Jihan dan membantunya berdiri. Jihan mengangguk pada managernya sambil mengucapkan terima kasih. Dia berkaca sekali lagi, memastikan penampilannya sudah rapi. Sebelum melangkah, Jihan menatap Ralin yang masih berdiri di dekatnya. "Bu Jihan? Ayo!" Nia langsung menarik tangan Jihan pelan agar segera meninggalkan tempat itu. "Sebentar lagi Ibu tampil, pastikan semua terpukau seperti sepuluh tahun lalu." Jihan menarik napas panjang. Dia bergegas melangkah keluar dari ruangan. Sebelum berbelok di ujung lorong, dia melirik sekilas pada Ralin yang dihampiri oleh beberapa wartawan. Senyum tipis gadis itu tertangkap jelas di mata Jihan. "Fokus, Bu, biar aku yang urus wanita tidak jelas itu." Nia mengelus punggung Jihan pelan saat menyadari modalnya sesekali menoleh ke belakang. Jihan menarik napas panjang saat dentum musik mulai terdengar. Irama yang hanya diputar saat dia akan tampil. Instrumen miliknya. Hanya dia. Musik itu seakan melekat pada Jihan, menjadi ciri khas tersendiri yang selalu dinanti. "Setelah sepuluh tahun vakum dari dunia modeling yang melambungkan namanya, malam ini, sang supermodel kembali ke panggung kejayaannya." Jihan menarik napas panjang mendengar suara MC. Dia memejamkan mata, berusaha menyerap semua energi dan euforia yang ada disekitarnya. Saat buncah itu memenuhi dada, Jihan membuka mata sambil sedikit mengangkat dagu. Ya, wanita itu sudah mendapatkan kembali seluruh kepercayaan dirinya. "Sambutlah, bintang yang akan membuat trend baru di dunia fashion. Seseorang yang menjadi kiblat dunia model di negeri ini. Wanita yang diberi gelar Matahari Terbit Dari Timur oleh para perancang busana karena pesonanya. Jihan Qirani!" Suara tepukan tangan dan teriakan nama Jihan langsung memenuhi ruangan itu. Gegap gempita terasa seperti menggetarkan dinding mendengar keriuhan yang tercipta. Jihan tersenyum lebar menyambut panggung miliknya. "Jihan! Jihan! Jihan!" Lampu sorot dan blitz kamera langsung melahap rakus tubuh Jihan saat dia melangkah untuk pertama kali di atas panggung. Dengan anggun, Jihan melambaikan tangan beberapa kali. Sebelum memutar badan di ujung panggung, Jihan tersenyum lebar hingga giginya sedikit terlihat. "Gaun rancangan dari Latifah Wulandari yang dikenakan Jihan hari ini, cocok untuk dikenakan saat …." Jihan berhenti tepat di tengah panggung saat MC memperkenalkan gaun tosca yang dia kenakan. Dia meletakkan kedua tangan di pinggang seperti gaya para Puteri Indonesia di ajang bergengsi itu. Sesekali, Jihan membenarkan ujung jilbabnya yang jatuh ke dada. Dia menatap ke seluruh ruangan. Dadanya berdebar kencang merasakan kemewahan atmosfer panggung lagi. Sepuluh tahun dia istirahat dari dunia modeling yang melambungkan namanya. Hari ini, Jihan kembali. Bisnis fashion yang sempat redup belakangan langsung menggeliat saat wajah Jihan bertebaran di spanduk dan poster seluruh kota. Dulu, apapun yang dia kenakan selalu menjadi trendsetter hingga para perancang busana dan pemilik usaha fashion berlomba-lomba menjadikannya sebagai brand ambassador mereka. "Alhamdulillah." Nia, Sisi dan anggota tim langsung menyambut Jihan saat dia turun dari panggung. Malam itu, semarak tak hanya disana saja, tapi menyebar ke seluruh kota. Pesona Jihan tak luntur. Dia tampil memukau seperti sepuluh tahun lalu di masa-masa keemasannya. "Selamat, Sayang." Jihan menoleh saat mendengar suara Aditya Buana, suaminya. Senyumnya mengembang saat lelaki itu menyerahkan sebuket besar mawar merah dan mencium pipinya. "Aduuuuh, meleleh deh." Yang lain langsung berseru-seru melihat adegan romantis yang terjadi tepat di hadapan mereka. "Kapan pulang?" Jihan menerima buket bunga dan langsung menyelipkan tangan di lengan Aditya. Wangi maskulin langsung memenuhi hidungnya. Aroma yang selalu dia rindukan. "Baru saja tiba, dari bandara saya langsung kemari." Jihan tersenyum lebar menatap mata sendu suaminya. Aditya Buana, seorang pengusaha air minum dan pemilik tempat wisata yang cukup terkenal di kota mereka. "Mama, Mama." Jihan langsung menoleh pada suara yang sangat dia kenal. Rayna dan Damar, kedua anaknya itu berlari kecil menghampirinya. Jihan tertawa sambil merentangkan tangan. "Mama cantik sekali." Rayna mencium pipi Jihan. "Terima kasih, Anak manis." Jihan menoel hidung bangir putrinya yang bulan lalu genap berusia sepuluh tahun. "Damar bangga sekali sama Mama." Damar menyerahkan setangkai mawar merah lengkap dengan daunnya. "Mama juga bangga sama Kakak dan Adik." Jihan menerima bunga kesukaannya dan mencium kening Damar. Setelahnya, kedua anak itu langsung menempel pada Aditya. Seminggu di luar kota untuk mengontrol salah satu usahanya, membuat kerinduan kedua anak itu membuncah pada Papa mereka. Jihan tersenyum tipis menatap kehangatan anak dan ayah itu. Malam ini sempurna menjadi miliknya andai Ralin tidak menemuinya tadi. Dia sungguh tidak menyangka gadis yang usianya sepuluh tahun di bawahnya itu akan mengatakan sesuatu yang sangat memalukan sekaligus menyakitkan walau kebenarannya belum pasti. Jihan tidak habis pikir wanita itu bisa berkata dengan sangat lantangnya di depan semua orang. Bahkan, Ralin seolah sengaja benar menunggu momen ketika wartawan menyambangi ruangan tempatnya sedang dirias. "Halo, Mbak Jihan, perkenalkan, aku Ralin, kekasih suamimu." Ucapan Ralin terus memenuhi otak Jihan saat menatap wajah tampan suaminya yang penuh senyuman. "Saya bangga sekali bisa menjadikanmu sebagai seorang istri." Aditya melingkarkan tangan di pinggang Jihan saat blitz kamera wartawan dengan beringas mengabadikan kebersamaan mereka berempat. Jihan tersenyum tipis. Ini pertama kalinya Aditya mau tampil hangat dan mesra dengannya di depan publik setelah dia melahirkan Rayna. Mereka tampil mesra hanya di tahun pertama pernikahan. Setelah kelahiran Rayna, Aditya seolah tenggelam dalam dunia dan kesibukannya sendiri hingga Jihan seringkali memeluk sepi. Seharusnya, malam ini menjadi malam terindah bagi Jihan. Setelah tidur panjangnya selama sepuluh tahun, Aditya yang dulu kembali. Lelaki yang membuat cinta Jihan begitu dalam karena kehangatan dan kelembutan sikapnya. Ya, seharusnya.Raviora's Point of View“Hello, Lily!” I first said before looking at her. Lily, who's cooking breakfast, immediately looked at me. Beside her is also a young lady like me, the girl who’s after the kid yesterday! I also smiled at her. “There you are,” Lily smiled.The smell of fish she was cooking lingers in the kitchen. It’s currently 9 in the morning and all of them are still sleeping. Right after what happened between Adam and me, he went back to sleeping hugging me. Even Duncan is still sleeping. My eyes went to a woman beside her. She looks young, like me, probably my age. “Hello,” I said using my friendly voice. Her gazes went up and gave me a small smile, “You must be Raviora,” My eyebrows arched, a little bit shocked. “Oh. You know my name,” Slowly, she nodded. “Yes. Viscount told me Big boss’ girlfriend is also here,” I winced, “Oh. I-I’m not his girlfriend,” I corrected her. “But that’s what Viscount told me,” confusion filled her tone. “Maybe Viscount misunderstood
Raviora's Point of ViewThe whole plantation was under this old man’s hands. He was the one who was managing it since the only heiress of this went missing for years. Standing up beside them while fascinated by the whole land, I couldn’t help but admire it. The sun was already covered by some clouds. It’s not that hot anymore like what it always does from 1 PM to 3 PM. “It’s quite good, Sir,” Leandro complimented the area. Gradually, the old man chuckles before taking off his hat. “Yes. It is because it was taken care of by the del Rio’s family back then,” My eyebrows arched. “del Rio’s? Isn’t that the well-known family before?” “Yes, my dear. After Don and Doña got into an accident and died, their family and business started running and later on got bankrupt,” the old kind man explained. All of us were just listening. Even with the men whom I am with, his story piqued their interest. I know the del Rio’s. I have met them once since my grandfather is still alive. Well, I was ju
Raviora's Point of View The whirlwind oozes. Sometimes, I dreamed of living on the farm. The wind is fresh, quiet life, no city lights and you can do whatever you want. I completely disregarded what Tori said earlier when she called. I got scared, yes, it sent shivers to my body down to my spine. Not gonna lie, it’s a fifty-fifty feeling for me. Knowing Adam, he wouldn’t let me go out without Maxwell beside me. That’s what he always does. And Maxwell being obedient to him, he’s always beside me whenever I go out. “Do you know how to ride a horse?” one of Adam’s underbosses asked, it must be William if I’m not mistaken. A friendly smile came out of my lips. Earlier, Adam told me we’ll go to a farm near here that is owned by someone he knew. I expected it was only the two of us, but got stunned when I saw a few more men coming with us. He’s currently talking to a worker here on a farm while seven horses were already out. The sun is no longer bright as the wind oozes go my skin gi
Raviora's Point of ViewMy hands were wrapped around his neck while his hands are on my waist. Our position is still the same. He’s still sitting on the sofa while I’m sitting above his lap. I pouted, trying to think whether to say yes or not. “We’ll be having a meeting at five. Do you wanna go outside later and ride a horse?” My forehead creased, he completely got my attention because of his question. “Horse riding?” “Yes, Raviora.” “Later?” “Yes.” “What time are we going home later?” I asked. Adam rested his face on my neck. I can even feel him sniffing and kissing it. “I’m not going home today.” He informed me. I held his shoulders and pushed him away a bit. Adam lifted his gazes and looked at me. For the second time around, he leaned on the sofa and genuinely looked at me. “Huh?” I said, a bit worried. “Duncan has no bottles and milk. I’m planning to buy him later when we go home.” Adam shook his head, “No need. Just give me a list regarding what you need. I’ll let L






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.