Se connecter"You're going to be my wife and that's final." The man Karina had never seen before kidnapped her and forced her to be his wife. Confused, she found out she had been sold by her former boyfriend to cover his debt.After the wedding was finalized, he did everything in his power to ensure she fell in love with him. As time passed by, the truth and the secrets behind their marriage and the past were revealed. "I don't want you." She resisted. "Oh, you will." He promised.
Voir plus“Lantai ini harus cukup bersih sampai kau bisa melihat bayangan wajah menjijikkanmu di sana, Revana.”
Revana Jovanka, gadis cantik berusia 24 tahun itu kini tengah bersimpuh dengan lutut gemetar.
Baru seminggu yang lalu dia berdiri tegak dengan toga wisudanya sambil memegang ijazah sarjana dengan mimpi setinggi langit.
Kini, mimpi itu runtuh. Sebagai ganti nyawa Carlo Leonardo yang tewas dalam kecelakaan sabotase yang didalangi ayahnya, Revana harus menanggalkan harga dirinya.
Seragam pelayan yang dikenakannya terasa terlalu tipis, kasar, dan menghina, potongan kain abu-abu kusam yang menandakan kasta terendahnya di rumah ini.
Damian Leonardo berdiri di hadapannya, menjulang seperti malaikat maut dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Sepatu pantofelnya yang mengkilap menginjak ujung jemari Revana yang sedang memegang kain pel.
“Kau dengar aku, Revana?” Damian menekan sepatunya hingga membuat Revana meringis tertahan.
“D-dengar, Tuan Damian,” bisik Revana parau. Matanya yang sembap menatap lantai karena tak berani mendongak.
“Bicara lebih keras! Di mana harga diri putri tangan kanan ayahku yang hebat itu?” Damian menjambak rambut Revana dan memaksa gadis itu mendongak hingga lehernya terasa ingin patah.
“Ayahmu membunuh ayahku. Dia mengkhianati kepercayaan keluarga ini demi tumpukan uang Moretti. Dan sekarang, kau adalah cicilan pertama dari utang itu.”
“Ayahku tidak mungkin melakukan itu,” rintih Revana. Air mata jatuh melewati pipinya yang memar. “Dia sangat setia pada Tuan Carlo. Dan Anda pun tahu itu, Tuan Damian.”
Pria berusia 34 tahun itu menyunggingkan senyum sinis lalu menekan bahu Revana dengan keras hingga membuat Revana meringis kesakitan.
“Aturan pertama di rumah ini,” Damian membungkuk dan membisikkan kata-katanya tepat di telinga Revana yang berdenging.
“Kau tidak punya hak untuk membela pengkhianat. Kau tidak punya hak untuk bicara kecuali aku memerintahkannya. Jika kau membuka mulutmu lagi tanpa izin, aku akan memastikan adik SMA-mu, Arkan, tidak akan pernah sampai ke sekolahnya besok pagi.”
Revana tersedak isak tangisnya sendiri. Nama adiknya adalah rantai yang mengunci seluruh keberaniannya. Dia tahu Damian tidak main-main. Keluarga Leonardo menguasai polisi, pelabuhan, dan nyawa di kota ini.
“Maafkan aku, Tuan,” bisik Revana dan tubuhnya gemetar hebat. “Aku akan bekerja sebaik mungkin di rumah ini.”
Damian berdiri tegak lalu merapikan jasnya dengan gestur yang sangat tenang, seolah dia tidak baru saja menyiksa seorang wanita.
“Bagus. Habiskan sisa malam ini dengan membersihkan seluruh koridor sayap barat. Jangan berani-berani tidur sebelum semuanya selesai!”
Langkah kaki berat Damian mulai menjauh, namun suara langkah kaki lain terdengar mendekat. Terlalu santai, tidak seperti langkah Damian yang begitu tegas dan menakutkan.
“Wah, wah. Jadi ini 'pembayar utang' yang kau bicarakan, Damian?”
Sebuah suara yang lebih ringan dan bernada ceria terdengar. Revana tetap menunduk, namun dia bisa melihat sepasang sepatu sneakers mahal berhenti di depannya.
Itu Raphael, si bungsu berdiri dengan tangan terlipat di dada, tengah menatapnya dengan ekspresi yang lebih ceria dibanding Damian.
“Namanya Revana, kan? Cantik juga,” Raphael berjongkok di depan Revana bahkan dia mengabaikan tatapan tajam Damian.
Dia lalu mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh dagu Revana yang kotor. “Hei, manis. Jangan menangis begitu, nanti matamu yang indah jadi bengkak.”
“Jauhkan tanganmu darinya, Raphael,” geram Damian dari kejauhan.
Raphael sontak tertawa kecil, suara tawanya terasa seperti musik yang salah di tempat yang salah.
“Ayolah, Damian. Dia pelayan baru kita, kan? Aku hanya ingin menyapa mainan baru di mansion ini. Siapa tahu dia lebih asyik diajak bicara daripada patung-patung di lorong ini.”
“Dia bukan mainan, Raphael,” ucap Damian dengan nada rendah dan tenang. “Dia adalah peringatan. Peringatan tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba menusuk punggung Leonardo.”
Damian kembali mendekat satu langkah hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Revana. “Bersihkan noda-noda sisa kopi itu dari lantai sampai bersih, Revana.”
Revana hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya yang gemetar kembali memeras kain pel di ember yang airnya sudah mulai kotor akibat noda kopi yang tumpah di ruang tengah itu.
Damian kemudian berjalan ke arah adik bungsunya, matanya menyipit tidak suka melihat perhatian yang adik bungsunya itu berikan pada Revana. Dia kemudian mencengkeram bahu Raphael dan menariknya menjauh.
“Jangan pernah menganggapnya lebih dari sampah, Raphael,” tegas Damian dengan nada memerintah.
“Dia ada di sini bukan untuk menghiburmu. Dia adalah anak dari pria yang membuat ayah kita terkubur di bawah tanah. Dia pelayan rendahan yang menanggung dosa ayahnya. Perlakukan dia sebagaimana mestinya seorang budak.”
Raphael mengangkat bahunya dan memberikan kedipan mata sekilas pada Revana saat Damian berbalik.
Raphael kemudian melangkah mendekati Revana dan menatapnya dengan tatapan lekatnya. Tangannya terulur pada pucuk kepala Revana dan mengusapnya seperti peliharaan baru di rumah itu.
“Tentu, Bos. Tapi budak pun perlu diberi makan, kan? Kalau dia mati kelaparan, siapa yang akan membersihkan sepatuku?”
“Dia akan makan jika pekerjaannya selesai. Dan sejauh ini, aku belum melihat lantai ini mengkilap,” potong Damian dingin.
Damian kemudian menatap Revana untuk terakhir kalinya malam itu. “Ingat, Revana. Setiap tetes keringatmu adalah penebusan. Jangan coba-coba melarikan diri, atau kau akan menerima potongan tubuh adikmu di depan pintu kamar pelayanmu!”
"The universe brought us back together this time, I'm never letting go."-Unknown-***It was known throughout history that when a man loved a woman, he would do anything for her. Eden Black was no different. Three years has passed since the last time Eden saw Karina in person.Thanks to technology, he was able to see her everyday through the monitor but it was not enough. How he had long to see her in person.That morning before the sun even rose, he had sent over a car to pick her up, because he wanted her arrival to be special. If he picked her up himself, he would just ruin the surprise.Karina on the other side was feeling the same. She had not seen Eden in years and her heart was beating rapidly.How strange it was to finally see her husband again after all these time. She had her three years old son Zion sitting beside her on the car.Throughout the three years, he often saw Eden and stayed in h
"Happy trails to you, until we meet again."-Dale Evans-***With a heavy heart, Eden watched Karina entered the car with their baby. He did not even get to kiss her goodbye. Only a hug that would not suffice for three years. Truly, it was a horrible experience. He actually cried as he watched her drove away.It would be painful, to be unable to touch her for that long, but he knew everything would be fine. His love for her was strong and he was sure with time, she could learn to love him again.Besides, Karina was going to a house he had prepared for her, meaning, he could see her through the hidden cameras he had placed all over the house.He would still be able to see her, just not in person. It would at least be enough to cover his longing for her and reminded himself that even though she was away, Karina was still his.On her way there, Karina felt a million emotions. The memory of Eden’s warmth fr
"For the most important decisions in your life, trust your intuition and then work with everything you have to prove it right."-Tim Cook-***It was one of the most nerve-wrecking sit down Eden ever had in his life. As a businessman. He had been through several of those sit downs and none of them had ever intimidated him. However, for a particular reason, the one held that evening made him feel so nervous.Karina, Eden, Declan and two lawyers from each side were going to finally have their closure on the matter. After going back and forth on the terms, they decided to settle for a few things, which was decided definitively by Karina and Karina alone.It was all the terms and conditions she had talked with Declan and prepared in advance if she was going to fix her relationship with Eden. It was the only solution for the two of them to maintain their marriage without having to have a divorce. They settled it the familial wa
"The extreme form of passionate love is secret love."-Japanese Proverb-***Eden was in a deep slumber. He did not know how long he had been sleeping for. His body was savoring each second of rest it needed.He barely did anything in the past three days. The other family members had come to visit him, but the person he wanted to see the most was not there and it prevented him from recovering.“What’s the point of living anymore if I couldn’t have her?” He questioned. There was a point in his life where he thought everything was perfect and it was when Karina was by his side. The time he spent together with her was always the happiest time in his life. After experiencing such joy, how could he settle for anything else?“Eden, wake up.” He heard a voice calling his name. The voice was Declan’s. Eden could hear it, but he was not in the mood to open his eyes. Sleeping would be






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
commentaires