Share

Dihina Kakak Ipar

Status W* Mantan Suami (2)

________________________

 

 

Prang!

 

 

"Tempe terus ... tempe terus ....!" Mas Ari melepar wajan berisi tempe yang baru saja aku tiriskan.

 

 

Aku berjingkat, air mata mengalir begitu saja melihat wajan kecil yang sudah menghitam itu tergeletak di lantai dengan minyak goreng yang tentu saja sudah bertumpah ruah.

 

 

Hatiku berdenyut nyeri, tapi aku bisa apa? Aku masih membutuhkan Mas Ari sekalipun uang yang dia berikan tidak seberapa. Aku tidak memiliki penghasilan lain.

 

 

"Sekali-kali beli ayam, Han. Aku ini kerja ... capek ... masa tiap hari kamu suguhi tempe?"

 

 

Aku menghela napas kasar, "Ayam mahal, Mas. Uang lima ratus ribu benar-benar aku hemat agar cukup sampai gajian bulan depan," sahutku berterus terang.

 

 

"Persetan!" Mas Ari menginjak-injak beberapa potong tempe yang berhamburan di lantai, dan ....

 

 

Brugh!

 

 

Suamiku terpeleset minyak goreng yang belum sempat aku bersihkan. Dia meringis kesakitan bahkan aku pun ikut meringis karena jatuhnya sangat keras. Saat tanganku terulur hendak membantunya, Mas Ari menepis dengan kasar.

 

 

"Sialan! Istri pembawa sial! Dulu aku kira menikahi gadis kampung itu enak ... bisa hidup hemat ... cantiknya alami, tapi ternyata ... aku malah menikahi wanita jelek dan boros sepertimu!" umpat Mas Ari.

 

 

Tanganku terkepal kuat. Jika saja aku punya penghasilan sendiri ... tentu aku tidak sudi bersama dengannya lagi.

 

 

"Kalau kamu mau makan ayam, beri aku tambahan uang." Kuberanikan diri berbicara. Kulihat kilatan amarah di mata Mas Ari, tapi seketika dia tersenyum saat Mbak Risa memanggil namanya dan masuk ke dalam rumah menyaksikan kerusuhan di dapur.

 

 

"Astaga, Hana! Istri macam apa kamu? Masak aja sampai berantakan begini, nggak becus!" cibir Mbak Risa, "Gimana suamimu bisa betah di rumah kalau kamu nggak bisa buat seger matanya. Udah masak cuma tempe goreng, baju juga daster udah pada bolong ... itu rambut minimal smothing lah, biar rapi," cerocos Mbak Risa seraya mengibaskan rambut indahnya di depanku.

 

 

"Kamu masih betah aja sama dia, Ar?" 

 

 

Mas Ari mengedikkan bahu, "Biarin aja, kalau dia udah nggak kuat pasti pergi dari sini. Sayang dong, Mbak, kalau uangku dipakai buat beli surat cerai. Mending kita ...." 

 

 

Hatiku rasanya diremas begitu kuat. Kulihat dengan jelas Mas Ari mengedipkan satu matanya pada Mbak Risa. Kakak iparku itu tersenyum sembari menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.

 

 

"Mas!" teriakku lantang. "Apa-apaan kamu, hah? Mbak Risa itu istri kakakmu, bisa-bisanya kamu pakai segala main kedip-kedip mata di depanku pula!" sambungku dengan nafas memburu.

 

 

Mas Ari melengos. Dia berlalu meninggalkanku di dapur berdua dengan Mbak Risa. Wanita itu tertawa lantang dengan berkacak pinggang.

 

 

"Sadar diri dong, Han. Kamu itu jelek, kusam ... nggak ada seujung kukunya sama aku. Jadi ... jangan salahkan aku ya kalau Ari ...." Mbak Risa memainkan ujung lidahnya di bibir.

 

 

Tanganku terkepal kuat. Kulayangkan tangan di udara dan mendarat tepat di pipi Mbak Astri yang mulus.

 

 

Plak!

 

 

Mbak Risa tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya dan menangis keras. Tidak lama setelah itu Mas Ari datang. Dia membantu Mbak Risa untuk duduk di ruang tamu. Aku tidak peduli ... kubereskan kerusuhan yang sudah Mas Ari perbuat di dapurku.

 

 

"Hana!"

 

 

"Ada apa?"

 

 

"Kamu apakan Mbak Risa, hah?!" Dia mencengkeram daguku dengan kuat. Kulirik Mbak Risa tersenyum tipis dan memainkan satu alisnya ke hadapanku.

 

 

"Aku tampar. Memang kenapa?" 

 

 

Dihempaskannya daguku dengan kasar, bahkan aku hampir saja limbung jika tidak segera menguasai diri.

 

 

"Istri nggak tau diri! Dia itu kakak iparku, Han. Berani-beraninya kamu menamparnya?"

 

 

"Tanya dia, Mas! Berani-beraninya dia berbicara tidak senonoh di depanku. Harusnya Mbak Risa tau, kamu itu adik iparnya ... tidak pantas dia berpikiran ingin menggodamu!" ujarku dengan napas memburu.

 

 

Mas Ari membuang muka. Dia meremas rambutnya frustasi dan mengamit tangan Mbak Risa untuk membawanya keluar.

 

 

"Ar! Marahin Hana dulu dong! Dia udah nampar aku nih!" rengek Mbak Risa dengan manja.

 

 

Mas Ari berbisik, entah mengatakan apa aku tidak mendengarnya. Keduanya pergi menuju rumah Ibu Mertua. Aku menggigit bibir bawah, sebentar lagi sudah pasti suasana semakin panas jika Ibu tau aku sudah menampar pipi menantu kesayangannya.

 

______________________________

 

 

"Lihat deh, Mbak Juli ... kalungku baru loh ini," tutur Mbak Risa di depan gerobak sayur daganganku. Dia memamerkan kalung barunya di depan Mbak Juli, tetangga depan rumahku dulu.

 

 

"Wah, pasti mahal ya, Ris?"

 

 

Mbak Risa mengangguk mantap, mata kami bersiborok saat aku melirik ke arahnya, begitupun Mbak Risa, dia diam-diam menatapku dengan senyuman tipis.

 

 

"Mahal dong. Suamiku kan kerja di luar pulau ... belum lagi jatah dari adik ipar ... ya ... Mbak Juli tau kan, semenjak menjadi duda, Ari kebingungan ngasih jatah bulanan ke siapa. Jadinya aku bantu dia buat mengatur keuangan," sahut Mbak Risa pongah.

 

 

"Emang kamu dikasih berapa sama Ari, Ris?" Kali ini Yu Atikah yang berbicara. 

 

 

"Banyak lah, Yu. Dilarang kepo!" seloroh Mbak Risa.

 

 

"Bukannya kepo sih. Tapi dulu kan dia suka ngasih uang belanja yang nggak seberapa ke mantan istrinya, masa ke kamu berubah jadi royal. Kan kita jadi curigen ... eh curiga gitu," tutur Yu Atikah, si biang gosip di komplek ini.

 

 

Bukan rahasia umum lagi di komplek ini tentang seberapa banyak uang bulananku dulu yang diberikan oleh Mas Ari. Karena hampir setiap menjelang gajian, kami akan bertengkar dan tentu saja mengundang kasak-kusuk para tetangga. Hingga entah bagaimana awalnya, mereka menaruh kasihan padaku setelah tau jika Mas Ari begitu pelit namun royal pada ibu dan iparnya.

 

 

"He ... Yu Tikah! Kalau ngomong hati-hati ya. Aku ini iparnya Ari, jadi wajar dong dia mau ngasih aku uang berapapun. Mantan istrinya aja yang lebay. Udah jelek, boros, suka sakit hati lagi sama aku. Maklum sih, penyakit orang jelek ya gitu ... suka insecure sama orang lain, apalagi orang lainnya itu aku. Auto kabur dia."

 

 

Aku berpura-pura tidak mendengar. Semakin diladeni, justru semakin gencar Mbak Risa membuatku terlihat sangat buruk di depan semua orang.

 

 

"Ya kan, Han? Kamu pasti insecure kan punya ipar secantik aku?"

 

 

 

Bersambung

 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status