Step Daddy’s Naughty Girl

Step Daddy’s Naughty Girl

last updateLast Updated : 2026-04-26
By:  BuellaaldamaUpdated just now
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
26Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

I never thought I could find myself sucking the dìck of a man I should call father and made him moan out so loud. I found myself going back to have him finger and pound my clit, ripping moans off my throat as day passed by. I found myself moaning to him every single day, taking all his sexual command and fantasies, being daddy’s naughty girl and wishing for nothing other than his 8 inches dick buried deep into my wet clit. I grew up invisible, the illegitimate daughter of a woman who valued status more than motherhood. While she chased elite society, I learned to survive on my own, retreating into art and quiet fantasies of being chosen by someone who would finally see my worth. Everything changes when my mother marries Calder Rhys, a billionaire widower seeking stability, not love. Thrust into a world of wealth and rigid expectations, I moved into the Rhys mansion and met Wells, Calder’s polished and charismatic son. Drawn to him despite knowing he is unavailable, I mistake attention for affection, unaware that my longing is about to pull me into something far more dangerous. A single mistake blurs boundaries that should never be crossed. Caught between a mother who sees me as a liability, an elite society eager to destroy me, and a man whose influence could either protect or ruin me, I must decide who I want to become.

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Dia Lana, kan? Siswa terpintar di SMA kita dulu? Nggak nyangka banget kalau sekarang cuma jualan nasi kuning!" pekik seorang perempuan yang wajahnya tak asing bagiku. Aku masih ingat betul siapa dia. Riana, siswa tercantik dan terpopuler di SMAku dulu.

"Iya, dia Lana. Saingan terberatmu untuk mendapatkan Dikta," seru perempuan di sampingnya yang masih kuingat pula siapa namanya. Ratna, salah satu sahabat terbaik Riana.

"Videoin, Rat. Nanti kita kirim ke grup alumni. Biar mereka semua tahu, kalau nasib siswa paling berprestasi di sekolah kita dulu ternyata mengenaskan. Kita pikir setelah lima tahun menghilang, dia sudah kerja kantoran dengan ruangan berAC, berseragam dan dengan gaji jutaan seperti kita. Ternyata ... oh My God! Cuma menjadi penjual nasi kuning!" Riana kembali menutup mulutnya dengan telapak tangan sembari geleng-geleng kepala, seolah pemandangan di depannya kali ini benar-benar membuatnya shock dan tak percaya.

"Bukannya ibunya dulu juga penjual nasi uduk, Rat? Wah, ternyata dia mewarisi bakat ibunya!" ucap perempuan dengan dres selutut itu lagi. Kedua perempuan yang masih berdiri beberapa langkah di depanku itu masih saling bicara, merekam aktivitasku yang mulai sibuk melayani beberapa orang yang datang ke lapak.

Satu persatu kuberikan sebungkus nasi kuning itu pada mereka. Senyum bahagia pun terpancar di wajah-wajah mereka seperti biasanya. Tiga puluh nasi kuning sudah habis tak bersisa. Kuhela napas lega tiap kali melihat antusias mereka saat melihatku sudah berdiri di tempat ini setiap paginya. Mereka yang sudah kuanggap bagian dari keluarga setelah ibu tiada setahun yang lalu.

"Hai, Lan. Masih kenal aku kan?" Riana mulai mendekat saat aku membereskan keranjang nasi kuningku lalu meletakkannya di samping motor.

"Hai, Ri, Rat. Tentu aku masih kenal dan ingat. Bagaimana kabar kalian berdua?" balasku sembari mengulurkan tangan.

Namun, kedua perempuan di depanku itu hanya saling pandang lalu mengedikkan bahu. Sama-sama mundur selangkah sebagai penolakan uluran tanganku. Cukup tahu diri, aku pun menarik tanganku kembali.

"Maaf ya, Lan. Bukannya menolak uluran tanganmu, hanya saja tanganmu pasti kotor. Belum cuci tangan kan? Sekali lagi maaf, kalau terkesan sok higienis, tapi--

"Aku ngerti kok, Ri. Tak apa, santai saja," balasku lagi dengan senyum tipis.

"Oh, oke kalau kamu ngerti." Aku mengangguk lalu kembali melempar seulas senyum pada mereka berdua.

"Kok bisa sih kamu jadi penjual nasi kuning, Lan? Bukannya kamu dapat beasiswa buat lanjutin kuliah?" Ratna menimpali.

"Iya, memang saat itu aku dapat beasiswa, Ri. Hanya saja--

"Nggak ada biaya buat kost, makan dan lain-lain? Aku ngerti kok kalau kamu kesulitan ekonomi. Bahkan aku juga tahu kalau saat SMA kamu harus bantuin ibu kamu jualan nasi uduk demi bisa bayar buku-buku dan uang saku kan?" Belum sempat menjelaskan, lagi dan lagi mereka memotong pembicaraan. Mau tak mau aku pun mengiyakan saja jawaban mereka yang memang ada benarnya.

Aku sengaja tak mengambil beasiswa itu karena harus kuliah ke Jogjakarta, sementara saat itu kondisi ibu mulai sakit-sakitan. Tak mau ambil resiko, aku pun memilih kuliah di universitas swasta sembari bekerja membantu perekonomian keluarga. Aku tak mungkin tega membiarkan ibu bekerja sendirian di tengah sakit diabetes dan hipertensinya.

"Sayang banget ya, Lan. Padahal kamu pinter, selalu juara kelas bahkan sering mengikuti lomba antar sekolah. Ternyata masa depan seseorang itu tak tergantung dengan nilai akademiknya di sekolah. Buktinya sekarang kamu cuma penjual nasi kuning, mengikuti jejak ibu kamu yang hanya jualan nasi uduk waktu itu. Sementara aku dan Ratna yang nilainya di bawah kamu justru bisa kerja kantoran dengan gaji jutaan. Kami juga bisa melanjutkan kuliah di kampus negeri seperti yang diidamkan banyak siswa," celoteh Riana dengan bangganya. Aku kembali tersenyum lalu menganggukkan kepala.

"Benar kata kamu, Ri. Kita memang nggak bisa memprediksi masa depan. Dari sini kita bisa petik hikmahnya kalau nggak semua siswa berprestasi itu akan sukses di masa depan. Begitu pun sebaliknya."

Kedua perempuan itu saling menimpali untuk menyudutkan dan mengejekku dengan sengaja. Lirikan mata dan senyum tipis mereka cukup membuatku paham bahwa lima tahun tak bersua ternyata tak mengubah sikap angkuh mereka berdua.

"Eh, Lan. Minta nomor handphone kamu dong. Di kelas kita, cuma kamu saja yang nggak masuk grup W******p loh. Tiap habis lebaran kami selalu ada reuni kecil-kecilan, kali aja nanti kamu bisa ikut. Teman-teman yang lain pasti heboh kalau kamu bisa menyempatkan waktu buat datang ke acara itu. Secara, selama ini kamu menghilang seperti ditelan bumi. Dengar-dengar kamu juga sudah nggak tinggal di rumah yang lama kan? Rumahmu terpaksa dijual demi pengobatan ibu kamu, benar?" Tak menyangka jika Riana juga tahu soal penjualan rumah itu. Mungkin dia sempat ke rumah dan tanya ke tetangga soal rumah penuh kenangan itu, entahlah.

"Iya, Ri. Maklumlah, saat itu kondisi ibu memang cukup parah dan aku nggak ada tabungan lain untuk biaya pengobatannya. Jadi, daripada menumpuk hutang lebih baik jual yang ada saja."

"Kasihan hidup kamu ya, Lan. Semoga saja nanti kamu dapatkan ganti yang lebih daripada itu dan bisa dapatkan pekerjaan yang lebih baik juga. Btw, kami pergi dulu ya. Mau ke salon buat perawatan badan. Biasalah, tiap bulan wajib nyalon supaya badan terawat dan enak dipandang," balas Riana lagi sembari mengusap lenganku yang tertutup hijab panjang.

"Kamu juga harus nyisihin dana buat nyalon, Lan. Biar kelihatan fresh dan nggak tua sebelum waktunya." Ratna menimpali dan kujawab dengan anggukan kepala.

"Ohya, Lan. Kapan hari aku ketemu Dikta. Dia baru balik dari Jogja. Sempat tanya kabar kamu, tapi aku jawab nggak tahu. Nggak masalah kan ya misal nanti aku telepon dia dan kasih tahu soal kamu yang sekarang cuma jualan nasi kuning?" Riana tersenyum tipis ke arahku yang baru saja naik di motor matic andalanku.

Aku hanya tersenyum tipis saat dua perempuan itu masuk mobil yang terparkir di seberang jalan. Andai mereka tahu apa pekerjaan dan berapa penghasilanku tiap bulan, mungkinkah mereka masih merendahkanku seperti ini?

Apalagi jika mereka tahu hadirku di sini bukan untuk menjual nasi kuning melainkan memberi nasi kuning gratis tiap hari, mungkin sikap mereka tak akan seperti tadi.

***

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
26 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status