MasukMakan malam itu berlangsung hangat dan menyenangkan.Setelah makan, Shanaya hendak menyiapkan buah dan kudapan, tetapi Karlina mencegahnya."Sudah, kamu duduk saja. Ada Bi Rina dan yang lainnya untuk mengurus semua itu.""Aku hanya tinggal memberi arahan," ujar Shanaya tidak berdaya."Memberi arahan juga menguras pikiran."Karlina meliriknya dengan tatapan menegur, lalu menoleh kepada Aurelia. "Aurelia, Rivaldi, kalian duduklah lebih lama. Aku mau melihat beberapa pot bunga di halaman belakang."Jelas dia sengaja memberi ruang kepada anak-anak muda itu untuk mengobrol.Rivaldi dan Aurelia mengiyakan. Bahkan sebelum Karlina pergi jauh, Rivaldi langsung bertanya tanpa sungkan, "Omong-omong, Kak, setelah Reynald mengeluarkan pernyataan itu, apa beberapa kerja sama yang sempat terhenti kembali dilanjutkan?"Aurelia tahu apa yang ditanyakan Rivaldi. "Ya, beberapa perusahaan yang sebelumnya menghentikan kerja sama kembali menghubunginya kemarin sore."Sudah menjadi sifat dasar pengusaha untu
Lucien langsung menyetujuinya. "Kalau begitu, besok aku akan meminta Nayla mengantarkan dokumennya ke sana.""Baik."Aurelia mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, seolah mereka baru saja menyepakati kerja sama yang sangat biasa.Rivaldi yang duduk di samping mengamati keduanya secara bergantian, lalu tidak bisa menahan tawa. "Kalian berdua membicarakan masalah penting bahkan lebih cepat daripada aku memesan makanan.""Kamu yang terlalu banyak maunya saat memesan makanan," balas Lucien datar.Rivaldi seketika terdiam. Tepat saat dia hendak membalas, pintu ruang kerja tiba-tiba diketuk.Suara Shanaya terdengar dari balik pintu. "Lucien, apa kalian belum selesai mengobrol? Nenek bilang sepuluh menit lagi kita bisa makan."Mendengar itu, Lucien berdiri dan berjalan menuju pintu. "Kebetulan baru saja selesai."Dia membuka pintu. Shanaya berdiri di luar sambil membawa sepiring buah yang sudah dipotong.Shanaya menjulurkan kepalanya ke dalam ruang k
Keesokan paginya, langit akhirnya kembali cerah.Rivaldi tiba tepat waktu di Vila Brisa Alam. Dia sedang memijat kaki Nadira, tetapi segera bangkit saat melihat Aurelia turun dari lantai atas. "Kak Aurelia, ayo berangkat. Aku sudah menghubungi Lucien.""Ya."Rambut Aurelia tetap disanggul rapi ke belakang. Penampilannya tampak dingin dan tenang seperti biasa."Pergilah."Nadira tahu mereka hendak mengurus hal penting. "Ingatkan Winona agar menjaga dirinya baik-baik. Saat sudah waktunya melahirkan, jangan lupa meneleponku.""Tenang saja. Meski Ibu tidak berpesan, Kak Aurelia dan aku tetap akan menyampaikannya pada Shanaya."Rivaldi tersenyum, lalu keluar dari rumah bersama Aurelia.Setibanya di samping mobil, Aurelia menatap Rivaldi. "Apa yang kamu katakan pada Lucien?""Aku cuma bilang kamu ingin membicarakan sesuatu dengannya."Rivaldi berjalan mengitari bagian depan mobil, lalu membukakan pintu kursi penumpang. "Tenang saja, aku tidak memberitahunya secara terperinci. Tapi dia sangat
Aurelia menggenggam ponselnya erat dan terdiam cukup lama.Di ujung telepon, Tuan Haryo tidak kunjung mendengar jawabannya. Nada bicaranya pun semakin berat. "Aurelia, kamu mengerti maksudku atau tidak?""Aku mengerti."Aurelia berkata dengan tenang, "Karena menurut Anda sekarang bukan waktu yang tepat, kita tunggu saja."Tuan Haryo tampaknya tidak menyangka Aurelia akan menyetujuinya begitu cepat. Dia justru terdiam sejenak, seolah sedang menilai seberapa jujur ucapan Aurelia.Setelah beberapa saat, barulah dia berkata perlahan, "Baguslah kalau kamu bisa memahaminya. Sebenarnya, bukan Kakek tidak mengizinkanmu bercerai. Tapi kalau kalian bercerai sekarang, itu tidak akan menguntungkanmu ataupun Keluarga Wirantara. Setelah opini publik benar-benar mereda, Kakek tidak akan menghalangi apa pun keputusanmu.""Ya."Aurelia tidak berkata apa-apa lagi dan langsung mengakhiri panggilan itu.Saat hendak meletakkan ponselnya di meja kerja, dia baru menyadari ada satu panggilan tidak terjawab da
Reynald bahkan tidak memberi Arabella kesempatan untuk membalas dan langsung menutup telepon.Meski agak impulsif, Arabella termasuk orang yang hanya berani menindas pihak yang lemah, tetapi takut menghadapi pihak yang kuat.Setelah diberi sedikit peringatan, dia pasti akan menutup mulut dan tidak berani membuat keributan lagi.Begitu telepon ditutup, Arabella mengembuskan napas lega seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.Dia mempelajari trik memancing pengakuan ini dari Caleb, dan ternyata cara tersebut cukup efektif.Tanpa membuang waktu, dia langsung mengirimkan rekaman percakapan telepon itu.Setelah itu, hatinya yang sempat sedikit tenang kembali diliputi kegelisahan.Dia tidak tahu apakah rekaman tersebut akan membuat Caleb puas.Bagaimanapun, Reynald tetap tidak mengakui secara langsung bahwa dialah dalang di balik semua ini.Namun, berdasarkan pengalamannya berurusan dengan Reynald, pria itu terlalu licik. Ini sudah menjadi batas kemampuan Arabella.Untungnya, dia t
Sementara itu, Reynald juga terus memperhatikan arah opini publik setelah pernyataannya dirilis.[Aku sudah menduganya. Putri sulung Keluarga Wirantara dan Pak Reynald terlihat begitu serasi. Mana mungkin mereka benar-benar bercerai?][Pak Reynald sampai turun tangan langsung untuk memberikan klarifikasi. Terlihat jelas bahwa cintanya kepada Nona Aurelia begitu tulus dan mendalam.][Benar. Semoga Nona Aurelia bisa menghargainya! Jangan mentang-mentang punya kedudukan tinggi, lalu ....]Reynald menggulirkan tetikusnya, sementara senyum tipis di sudut bibirnya tak kunjung menghilang.Tok, tok.Alan membuka pintu dan masuk. "Pak Reynald, pernyataan itu memberikan hasil yang cukup baik. Opini publik di internet berkembang sesuai perkiraan kita. Dalam waktu dekat, sepertinya Nyonya tidak akan leluasa mengungkit masalah perceraian lagi. Selain itu, perusahaan yang kemarin lusa menyatakan akan menangguhkan kerja sama baru saja mengirimkan kontrak untuk ditandatangani."Reynald meletakkan cang







