LOGINOfelia tidak berhenti mendesah di bawah perut sexy pria itu yang basah oleh keringat. Pria yang tidak ia ketahui namanya itu terus bergerak erotis, menghentak, mendorong, dan menghujam dengan begitu dalam, kencang dan intens. Malam itu awalnya Ofelia hanya ingin melepas lelah dan stres. Siapa sangka dia bertemu dengan pria asing dan menghabiskan satu malam penuh gairah dengannya. Tanpa dirinya tahu, pria matang berusia tiga puluh tujuh tahun itu adalah Rhysaka, ayah tirinya. IG Author: distrakzii
View MoreKantor sudah sepi sejak tadi, tetapi Ofelia masih berkutat di depan laptop. Saat melirik penunjuk waktu di sudut layar, dia melihat sudah jam sembilan malam lewat lima belas menit. Ofelia menghela napas panjang, merenggangkan jemarinya yang kaku, lalu melipat laptop. Akhirnya penderitaannya hari ini selesai juga.
"Ofelia, sebelum pulang kerjakan laporan analisis pasar untuk meeting jam 8 besok pagi.” Suara bariton itu mengejutkan Ofelia. Ferdy, atasannya yang ganteng tapi menyebalkan tahu-tahu sudah berdiri di samping mejanya sembari meletakkan sebundel berkas tebal dengan wajah tanpa dosa. Pria itu tampak segar dengan kemeja yang masih rapi, sangat berbanding terbalik dengan Ofelia yang terlihat kusam. "Tapi, Pak, ini sudah jam sembilan malam lewat. Untuk menyelesaikan ini butuh waktu setidaknya dua atau tiga jam. Saya sudah lembur dari jam lima sore tadi.” Ofelia memohon keringanan, berharap bosnya mengerti. "Kamu dibayar untuk menyelesaikan pekerjaan. Bukan untuk mengeluh. Kalau tidak sanggup, besok pagi surat pengunduran kamu sudah harus ada di meja saya." Tanpa memberi waktu pada Ofelia untuk kembali menjawab, Ferdy melangkah santai meninggalkannya. Setelah pria itu menghilang, Ofelia memukul meja sekuat mungkin. "Ferdy brengsek! Di antara banyak orang kenapa cuma aku yang kamu siksa?!" umpat Ofelia meluapkan seluruh emosinya. Air mata frustrasi menetes di pipinya. Rasanya ingin sekali dia melempar berkas tebal itu ke wajah Ferdy dan kabur dari sana. Tetapi ingatan tentang beras yang hampir habis, tagihan listrik, sewa rumah, tumpukan utang, dan wajah ibunya yang membutuhkan uang langsung memancung keberaniannya. Dia miskin, dan Ferdy tahu betul cara memanfaatkan posisinya. "Dasar bos gila kurang belaian! Nggak punya hati nurani!” Ofelia kembali memaki dan menarik kasar kursi kerjanya lalu membuka kembali laptopnya. Sambil menahan tangis dan amarah, Ofelia menghentakkan jarinya kuat-kuat di keyboard dan terus memaki Ferdy. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam ketika akhirnya Ofelia selesai. Kepalanya terasa mau pecah, matanya merah, dan tenggorokannya kering. Saat melangkah keluar dari gedung kantor yang sepi, ponselnya berdenting. Ada chat dari Sita, rekan kerjanya. [Fe, kita lagi di The Velvet. Kalo kerjaan lo udah beres, susul ke sini biar hilang stres lo.] Ofelia memandang layar ponselnya sedikit lama. Sebenarnya dia sangat lelah dan ingin langsung pulang ke rumah. Tetapi dia butuh sesuatu untuk mematikan rasa sakit di kepalanya. Dia butuh melupakan wujud Ferdy, melupakan kemiskinannya, dan melupakan fakta bahwa besok dia harus kembali banting tulang di sini. Ofelia menyetop taksi yang melintas menuju tempat dimaksud temannya. Dentuman bass deep house yang halus namun menggetarkan lantai menyambut Ofelia saat tiba di klub malam. Di salah satu sudut bersofa beludru merah maroon, tiga kawan dekatnya, Sita, Nungky, dan Inez, duduk melingkar dengan gelas di tangan masing-masing. Begitu Ofelia menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas sofa, Sita langsung menghentikan tawa dan menatap wajah kusam sahabatnya itu. “Kecut banget tuh muka.” "Bajingan emang si Ferdy! Bangsat tuh cowok satu! Masa pas gue udah siap-siap mau pulang, dia seenaknya ngelempar laporan setebal kamus? Mana buat meeting besok pagi! Dia pikir gue robot apa?” Inez dan Nungky saling melirik sebelum akhirnya meledakkan tawa. Sita bahkan sampai memegangi perutnya sambil mengusap sudut matanya yang berair karena kegelian. "Aduh, Fe, lo kalo lagi ngamuk makin cantik tahu nggak?" goda Inez. "Lagian lo polos banget sih," timpal Nungky masih dengan tawanya. "Lo nggak pernah mikir apa, kenapa di antara sekian banyak karyawan di divisi kita, cuma lo doang yang selalu ditempelin sampai malam?" Ofelia menatap ketiga temannya dengan tatapan sengit. "Maksud lo apaan? Dia tuh murni cuma mau nyiksa gue!” "Yaelah, Fe, buka mata lo lebar-lebar!" Sita mendekatkan wajahnya sambil menyenggol bahu Ofelia dengan genit. "Itu tuh trik klasik! Aslinya si Pak Bos naksir berat sama lo. Dia bingung cara ngedeketin lo gimana, makanya nyari-nyari alasan biar bisa berdua terus sama lo sampe malam di kantor. Siapa tahu, kan, berawal dari revisi laporan, berujung di pelaminan?" "Setuju. Benci dan cinta tuh bedanya setipis kondom. Jangan-jangan dia sengaja bikin lo kesel biar lo merhatiin dia terus," tambah Inez semakin menjadi-jadi, disambut tawa riuh mereka bertiga. Ofelia mendengkus keras. “Kalo naksir tuh ngajak makan enak, bukannya nimbun tugas sampai jari gue mau putus.” Ketiga temannya kembali tertawa melihat Ofelia yang masih dikuasai emosi. Sita melambaikan tangan memanggil pelayan klub yang melintas. "Mas, tolong bawain satu gelas velvet poison buat temen saya yang paling menderita ini." "Eh, gila ya lo, Sit? Nggak, nggak mau!" ucap Ofelia cepat sambil melambaikan tangan menolak. "Gue pesen air putih aja. Besok masih weekday. Gue harus bangun subuh buat ngadepin si Ferdy bangsat itu lagi. Kalo gue teler, makin mati gue besok.” "Duh, Ofelia sayang..." Sita merangkul bahu Ofelia erat-erat. "Lihat deh muka lo di cermin. Lo tuh udah kerja bagai kuda, dibayar pas-pasan, ditarik ulur sama bos rewel. Senang-senang dikit apa salahnya? Lo berhak dapet reward malam ini setelah disiksa sama si Ferdy." “Ya udahlah.” Ofelia akhirnya pasrah. Jadi, saat cairan berwarna ungu itu diberikan padanya, Ofelia langsung menyesap pelan-pelan. Rasa manis blackberry meleleh di lidahnya, diselingi sensasi sirup vanilla yang lembut bagai beludru. Rasanya yang manis dan dingin begitu menyenangkan di tenggorokan hingga tanpa sadar Ofelia terus menyesapnya. Hanya dalam hitungan menit Ofelia mulai tipsy. Samar-samar dia melihat ketiga temannya melesat ke dance floor. Ofelia ikut bangkit dari duduknya. Dia melangkah terhuyung-huyung mencari toilet dengan kepala semakin berat dan pandangan kian buram. Ofelia tidak sadar, yang dia buka bukanlah pintu toilet, tapi pintu lounge tempat empat orang eksekutif muda berjas mahal sedang menikmati wine tua mereka. Empat pasang mata sontak menoleh ke arah yang sama. Mereka tercengang melihat kehadiran tamu tidak diundang. “Oops, ada yang nyasar,” suara seorang pria berujar geli. ***“Ofelia,” suara Rhysaka terdengar sekali lagi memecah keheningan. Ofelia langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dia tidak ingin berbicara dengan Rhysaka saat ini."Ofelia!" Untuk ke sekian kalinya Rhysaka memanggil gadis itu. Suaranya kini terdengar lebih tegas dari sebelumnya.Ofelia tidak peduli. Dia terus berlari, menyelinap masuk ke dalam kamarnya, lalu membanting pintu.Dengan tangan yang gemetar Ofelia menguncinya. Dia menyandarkan punggungnya sambil memegangi dadanya dengan napas terengah-engah. Hening.Ofelia tidak mendengar suara apa pun. Entah itu suara derap langkah yang mengejar maupun ketukan keras di baliknya. Ofelia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba meyakinkan diri bahwa dia sudah aman di balik pintu tebal ini.Klek.Suara pintu yang dibuka dari luar membuat Ofelia terperanjat.Pintu yang menyangga tubuh Ofelia terdorong ke dalam, memaksa Ofelia melangkah mundur walau dia sudah mencoba menahannya.Rhysaka berhasil masuk ke kamarnya. Lelaki itu melangkah
Ofelia memutuskan untuk menerima tawaran Ferdy. Dia menyambut tangan lelaki itu. Mereka berlari kecil ke ujung gang tempat mobil Ferdy berada.“Sorry, kamu jadi basah,” ucap lelaki itu setelah mereka berada di mobil.“Bukan salah Bapak,” kata Ofelia sembari mengelap wajahnya dengan tisu.“Tapi saya yang ngajak kamu makan di sini. Coba kalau kita makan di tempat yang lebih bagus.”“Nggak apa-apa, Pak, yang penting makanannya enak,” pungkas Ofelia menghentikan Ferdy yang merasa tidak enak hati.Selama perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan. Ferdy terus mencoba menarik perhatian Ofelia yang dibalas gadis itu sekenanya.Ofelia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Pikirannya berkecamuk. Mungkin saat ini Rhysaka sudah lebih dulu tiba di rumah dan menantinya pulang. Apa lelaki itu akan marah?Bodoh amat, pikir Ofelia. Tapi nyatanya semakin mobil Ferdy mendekati tempat tinggalnya semakin kencang debar jantung Ofelia.Gerbang besar itu sudah terlihat dari kejauhan, membuat nyal
Ferdy mengerutkan dahi. Dia menatap Ofelia dengan raut heran. Apa yang terjadi padanya?"Lembur?" “Iya, Pak.”“Semua target minggu ini sudah selesai. Laporan kamu juga sudah sempurna. Nggak ada lagi yang perlu dikerjakan malam ini.""Pasti ada, Pak!" sahut Ofelia cepat. "Kasih saya analisis data lama, recheck kompetitor, apa saja. Saya cuma nggak mau pulang sekarang."Ferdy terdiam. Sebagai orang yang selama ini memperhatikan Ofelia secara diam-diam, Ferdy tahu mungkin Ofelia sedang ada masalah. Dan dia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Dia tidak akan menyia-nyiakannya. Ferdy lalu berdiri, tersenyum tipis dan melangkah mendekat. "Kalau memang kamu nggak mau pulang ke rumah, kita nggak harus mengurung diri di kantor. Ada tempat makan enak nggak jauh dari sini. Tempatnya tenang. Gimana kalau kita ke sana? Kamu bisa cerita, atau kalau cuma mau diam saya siap menemani."Tanpa ragu sedikit pun, Ofelia mengangguk tegas. "Mau, Pak."Mereka berakhir di warung kecil di dalam gang, dengan
Ofelia benar-benar terkejut oleh reaksi yang ditunjukkan lelaki yang dicintainya itu. Tidak sedikit pun terlintas di pikirannya Rhysaka akan bersikap begini padanya."Keluar.” Lelaki itu mendesis dingin di depan Ofelia. Ofelia menatapnya tidak percaya. Bibirnya yang ranum gemetar hebat. "Om, saya cuma mau—""Saya bilang keluar, Ofelia!" Rhysaka memotong perkataan Ofelia sebelum dia sempat menyelesaikannya. "Kamu pikir ini rumah? Kamu pikir tempat ini arena bermain kamu?"Sebelum Ofelia sempat menyusun kata untuk menjelaskan perih di perutnya yang kini kembali terasa, Rhysaka melesat cepat menuju meja kerjanya. Pria itu menyambar gagang telepon interkom dan menekan tombol panggilan ke meja sekretaris dengan gerakan cepat.“I-iya, Pak Rhysaka?” suara Nila terdengar di seberang saluran, sedikit gugup."Aturan apa yang pernah saya buat soal akses masuk ke ruangan saya?"Hening. Mungkin Nila sedang mencerna apa yang terjadi. Kemudian perempuan itu pun menjawab, “M-maaf, Pak, semua tamu at


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews