Beranda / Semua / Suami Flash Sale / Bab 1. Jejak Masa Lampau

Share

Suami Flash Sale
Suami Flash Sale
Penulis: Salbiyah Nurrohmah

Bab 1. Jejak Masa Lampau

last update Tanggal publikasi: 2021-10-25 19:06:02

Di seberang jalan, ada seorang pemuda yang sedang membantu pria paruh baya yang kesusahan untuk menyebrang. Dengan gerak gesit pemuda itu menggandeng dan membantu pria paruh baya itu.

"Tuan, anda sebenarnya mau ke mana?" tanya Sakha menatap lelaki paruh baya itu dengan kening mengerut.

Lelaki paruh baya itu tersenyum kecil. "Saya ingin membeli sebuah bunga untuk cucu perempuan saya. Anak muda, kamu bisa bantu saya?" tanya lelaki paruh baya itu.

Sakha menganggukkan kepalanya cepat. "Sangat bisa, Tuan. Mari, saya bantu anda menyebrang ke toko bunga itu."

Sakha menggandeng pria paruh baya itu. Bunyi klakson mobil pun saling bersahutan, padahal terik matahari sangat menyengat sekali. Dan mereka menyebrang dengan selamat.

Pria paruh baya itu menepuk bahu Sakha pelan. "Terima kasih, anak muda."

"Kembali kasih, Tuan. Kalau begitu saya pergi dulu," pamit Sakha.

Kalinda, nama dari pria paruh baya itu. Ia tersenyum simpul dengan mata berbinar menatap Sakha.

Kalinda tersenyum sambil bergumam dalam hatinya. "Hem, dia bisa masuk salah satu kandidat calon suami untuk cucu perempuan ku."

Tring ...!

Bunyi lonceng yang bergetar akibat goyangan pintu berdengung di dalam toko bunga. Seorang penjaga toko langsung menghampiri Kalinda penuh dengan hormat

"Selamat datang, Tuan besar Mahesa. Sungguh penghormatan bagi toko saya didatangi oleh Tuan besar Mahesa," sapa penjaga toko sambil membungkukkan tubuhnya penuh hormat.

Kalinda hanya merespon dengan berdeham dingin. "Aku butuh bunga Lily. Cepat, cari 'kan bunga Lily terbagus yang kamu punya!"

Penjaga toko bunga tubuhnya bergetar ketakutan. Ia pun lantas langsung bergegas mencari bunga Lily yang dipesan oleh tuan besar Mahesa.

Siapa orang tidak mengenal Kalinda Mahesa? Sosok lelaki bagaikan seorang raja dalam segala hal apa pun.

Kekayaannya sungguh diluar batas, tetapi masih kalau jauh di bawah atas nama keluarga besar Munthe.

Keluarga Munthe bagaikan naungan seluruh kekayaan yang di tampung dari kota A dan kota B. Sedangkan kekayaan keluarga Mahesa adalah cabang dari kekayaan keluarga Munthe.

Namun, sayang. Telah dikabarkan bahwa penerus keluarga Munthe sudah hilang dan tidak ada lagi penerus perusahaan dan kekayaan yang mereka miliki.

Padahal Kalinda Mahesa sudah memiliki maksud untuk melakukan kerja sama dengan menjodohkan salah satu cucunya pada keluarga Munthe. Namun, semuanya akan menjadi sia-sia.

"Tuan besar Mahesa, ini bunga Lily yang kami punya di toko ini. Anda tidak perlu membayarnya, karena kami memberikan bunga Lily ini secara percuma," kata penjaga toko sambil menyodorkan sebuket bunga Lily pada Kalinda Mahesa.

Kening Kalinda Mahesa mengerut hingga bergelombang. Mata tajamnya menatap dingin penjaga toko bunga itu. Lalu, ia berkata dengan ketus. "Kamu kira saya ini orang tidak mampu yang suka meminta-minta seperti pengemis, hah?!"

Penjaga toko bunga hampir tersedak ludahnya. "Tuan besar Mahesa, saya tidak bermaksud seperti itu," ucap penjaga toko bunga yang menggigil ketakutan.

"Baiklah, kalau begitu kau tunjukan rumah orang yang baru saja membantuku menyebrang!"

***

Kejadian empat tahun lalu terkenang di otak Sakha. Ia meremas gugup kedua tangannya untuk masuk ke dalam villa keluarga istrinya. Ia sangat tahu kalau kehadirannya sangat tidak dibutuhkan di sana, tetapi ia butuh bantuan seseorang segera mungkin.

Sakha pun langsung melangkah masuk ke dalam villa, setelah memantapkan dirinya.

Banyak suara anak, cucu, dan saudara yang berlomba-lomba mencari perhatian Nyonya Mahesa dengan cara memberikan hadiah yang sangat fantastis.

“Nenek, kudengar kamu sedang mengincar tas Gucci seperti ini, kan? Harganya memang fantastis, tetapi aku rela mengocek dompetku untuk memberikan hadiah ulang tahunmu dengan menggunakan tas Gucci ini."

Nyonya Mahesa yang terlihat masih muda tertawa bahagia melihat berbagai hadiah di hadapan, membuat seluruh keluarga bahagia.

Suara derap langkah sepatu menantu tertua Nyonya Mahesa, yang tak lain adalah Sakha tiba-tiba berlutut di bawah kaki Nyonya Mahesa.

“Mohon maaf atas kelancangan saya, Nek. Bisakah kamu meminjamkan saya uang enam juta? Bibi Lena dari panti asuhan sedang dirawat di rumah sakit, beliau butuh biaya untuk membayar ruangan dan berobat."

Seluruh keluarga Mahesa terkejut. Semua orang memandang Sakha dengan mata yang terbelalak lebar.

Sakha sudah sangat kelewat batas, karena Sakha adalah menantu yang masih menumpang di rumah Nyonya Mahesa.

Empat tahun lalu, Tuan Mahesa yang masih hidup, tidak tahu dari mana menemukan Sakha dan bersikeras untuk menikahkan cucu tertuanya, yang bernama Laumeera Arindita Mahesa. Saat itu, Sakha tidak punya uang, seperti pengemis, sama seperti sekarang.

Setelah keduanya menikah, Tuan Mahesa meninggal. Sejak saat itu, keluarga Mahesa dengan sengaja berusaha mengusir Sakha 

Hanya saja Sakha memilih cuek dan tidak perduli dengan hinaan orang-orang lain.

Sakha pun terpaksa meminjam uang pada ibu kandung dari ibu mertuanya. Bibi Lena dari panti asuhan tempat dia dirawat dan diselamatkan, menderita demam berdarah.

Sakha merasa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Nyonya Mahesa. Dan berpikir kalau Nyonya Mahesa mungkin sedang baik hati dan bersedia membantu ketika dia bahagia.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Flash Sale   Bab 78: Penghakiman Sang Pewaris

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat. Siska, yang tadi berdiri hendak menampar Meera, kini mematung dengan tangan menggantung di udara. Matanya melotot menatap Sakha, seolah sedang melihat hantu yang mengenakan mahkota. Bibirnya bergetar, mencoba mengeluarkan kata-kata, namun hanya suara desis yang keluar. "S-Sakha? Kamu bilang... Munthe?" Suara Siska akhirnya pecah, melengking dengan nada tidak percaya. "Jangan membual! Kamu hanya menantu sampah yang miskin tidak berguna! Kamu hanya sampah yang numpang hidup di rumahku!" Sakha tidak tergerak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi Direktur Utama, menyilangkan kaki dengan elegan. Gerakannya begitu halus namun penuh intimidasi. Di belakangnya, para pengawal Munthe Group berdiri seperti patung baja, tangan mereka berada di dekat senjata, siap bertindak jika ada satu gerakan mencurigakan. "Tidak berguna?" Sakha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Ibu mertua, alasan aku tetap diam saat kamu menghinaku

  • Suami Flash Sale    Bab 77: Jubah yang Terlepas

    Pagi hari menjelang rapat darurat keluarga Mahesa, Mansion Munthe disibukkan dengan persiapan yang tenang namun mematikan. Sakha berdiri di depan cermin besar, membiarkan seorang pelayan senior merapikan setelan jas tiga lapis berwarna biru gelap yang dijahit khusus di London. Di kerah jasnya, tersemat pin emas kecil berbentuk huruf M yang dikelilingi berlian hitam, simbol tertinggi kekuasaan Munthe Group. Meera berdiri di ambang pintu, terpaku melihat transformasi suaminya. Tidak ada lagi kaos oblong pudar atau sandal jepit yang biasa Sakha gunakan saat disuruh ibunya membeli garam di warung. Pria di depannya kini memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga udara di dalam ruangan terasa lebih berat. "Meera, kemarilah," panggil Sakha, suaranya berat dan penuh wibawa. Meera melangkah mendekat. Sakha mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari sakunya. Di dalamnya terdapat kalung berlian yang berkilau indah. Dengan lembut, Sakha memakaikannya di leher Meera. "Hari ini,

  • Suami Flash Sale   Bab 76: Badai Sebelum Perjamuan

    Pagi harinya, suasana di Mansion Munthe terasa sangat tenang namun fungsional. Sakha sudah bangun lebih awal, duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke laut dengan laptop militer di pangkuannya. Meski kakinya masih dibalut perban, ketajaman matanya menunjukkan bahwa ia sudah siap untuk berperang. Di sampingnya, Meera berdiri dengan tatapan cemas, menggenggam cangkir teh yang sudah mulai dingin. Ia tidak bisa berhenti memikirkan rekaman suara Tante Rosa. Bayangan tentang bagaimana tantenya itu sering memamerkan perhiasan mahal dan meremehkan Sakha di setiap acara makan malam keluarga, menyebut suaminya sebagai pria miskin, kini berubah menjadi kebencian yang mendalam. "Minumlah tehmu, Meera. Kamu butuh energi untuk besok," ujar Sakha tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku masih tidak habis pikir, Sakha," gumam Meera. "Ibu mertuamu, maksudku ibuku, yang selalu memuja Tante Rosa karena kepintarannya mengelola uang perusahaan. Ternyata, uang itu berasal dari penghianatan terhad

  • Suami Flash Sale   Bab 72: Bertaruh dengan Waktu

    Udara di dalam gudang logistik Mahesa semakin menyesakkan. Bau gas metana yang menyengat kini bercampur dengan aroma hangus dari kabel-kabel yang terbakar akibat peretasan sistem oleh wanita misterius itu. Suasana kacau balau; tim taktis Munthe Group berusaha menahan serangan dari penembak runduk di langit-langit, sementara getaran dari bawah tanah semakin hebat, seolah-olah ada monster yang berusaha mendobrak keluar dari perut bumi. Meera ditarik paksa oleh dua anggota tim keamanan elit menuju pintu keluar yang telah hancur. Langkahnya tertatih, matanya terus menoleh ke belakang, menatap sosok Sakha yang kian menjauh dan menghilang di balik kepulan asap tebal. "Sakha! Kembali!" teriak Meera. Suaranya serak, tenggelam di antara dentuman tembakan. Namun, Sakha tidak menoleh. Bagi Sakha, ini bukan sekadar tentang menyelamatkan aset atau menghentikan Armand. Ini adalah tentang menebus tahun-tahun di mana ia harus diam melihat keluarga Mahesa disusupi dari dalam. Jika gudang ini mel

  • Suami Flash Sale    Bab 75: Di Balik Gerbang Emas

    Mansion megah keluarga Munthe berdiri kokoh di atas perbukitan yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Arsitekturnya yang bergaya klasik modern dengan pilar-pilar tinggi dan pencahayaan temaram memberikan kesan misterius sekaligus berkuasa. Meera melangkah turun dari mobil, matanya tak henti memandangi barisan pelayan dan pengawal yang membungkuk hormat saat ia dan Sakha lewat. "Selamat datang kembali, Tuan Muda. Selamat datang, Nona Muda," sapa seorang pria tua dengan setelan kepala pelayan yang sangat rapi. Meera merasa canggung. Panggilan "Nona Muda" terasa begitu asing di telinganya, padahal di keluarga Mahesa, ia sering dipanggil dengan nada merendahkan jika pekerjaannya di kantor dianggap tidak becus oleh saudara-saudaranya. Meera memperhatikan Sakha yang kini duduk di kursi roda elektrik, wajah suaminya masih pucat namun tatapannya tetap tajam, memerintah setiap pergerakan di rumah itu tanpa perlu banyak kata. Setelah tim medis pribadi Sakha selesai menjahit luka di pa

  • Suami Flash Sale   Bab 74: Harga Sebuah Kesetiaan

    Guncangan di area pelabuhan berangsur mereda, menyisakan debu-debu yang menari di bawah sorot lampu taktis. Meera masih berlutut di atas aspal yang kasar, napasnya tersengal seolah separuh paru-parunya baru saja dikembalikan setelah mendengar suara Sakha di radio. Tanpa memedulikan rasa sakit di lututnya yang lecet, ia bangkit dan berlari mengikuti tim taktis yang bergerak cepat menuju arah drainase timur. "Sakha! Sakha!" Meera memanggil berkali-kali, suaranya parau tertiup angin laut yang dingin. Di ujung dermaga tua yang sudah lapuk, sebuah penutup beton drainase raksasa terbuka dengan dentuman keras. Tak lama kemudian, sebuah tangan yang bersimbah darah dan kotoran muncul, mencengkeram tepian semen. Tim taktis segera merapat, menarik tubuh pria yang keluar dari sana. Itu Sakha. Namun, pemandangan di depan mata Meera membuatnya hampir pingsan. Kemeja putih yang tadi dipakai Sakha kini telah berubah menjadi abu-abu kecokelatan, robek di bagian bahu, dan yang paling mengerikan ada

  • Suami Flash Sale   45. Penilaian Ahli Sejarah Seni Rupa

    Ketika mereka mendengar bahwa ayah Lili adalah penilai peninggalan budaya, semua teman sekelasnya memberikan penghinaan dan simpati pada Sakha.Mereka mengira Sakha benar-benar tidak beruntung sekarang juga.Dia ingin berpura-pura, tetapi ketika dia bertemu den

  • Suami Flash Sale   44. Harga Lukisan Kuno

    Sakha duduk bersama Meera dan Elsa, dan Gerald mengikuti dan duduk di samping Elsa.Begitu Gerald duduk, dia tersenyum dan bertanya kepada Elsa. “Elsa, aku dengar kamu datang ke kota B kali ini untuk bekerja di Munthe Group?”Elsa mengangguk membe

  • Suami Flash Sale   42. Harga Diri Gerald

    Ketika Gerald mendengar ini, dia tidak bisa menahan kegembiraannya. Mobilnya sendiri 540, Sakha 52. Kecepatannya lebih unggul, Sakha pasti tidak bisa menang. Gerald berani mempertaruhkan taruhan sebesar itu dengan dirinya sendiri!Petasan tiga puluh ribu cincin dibakar di dalam mobil, dan m

  • Suami Flash Sale   41. Tantangan dari Sakha

    Hotel Stefan yang baru dibuka berada di zona pengembangan kota A.Zona pengembangan jauh dari perkotaan, dan tanahnya luas dan penduduknya jarang. Sakha sedikit bertanya-tanya mengapa Stefan memilih membuka hotel di sini.Namun, Sakha mendengar dari Meera bah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status