Home / All / Suami Flash Sale / Bab 6. Kegagalan Sadaru

Share

Bab 6. Kegagalan Sadaru

last update publish date: 2021-10-25 19:20:15

Di sisi lain perusahaan Munthe Group, Darren telah mengatur seluruhnya untuk Sakha dan orang yang bertanggung jawab untuk rapat dengannya adalah seorang wanita bernama Anita.

Ani terkenal di kota B dan dia adalah wanita berorientasi karier paling terkenal di Kota B. Tidak hanya wajahnya yang cantik, tapi dia juga sangat mampu bekerja yang handal. Dia telah dipromosikan menjadi wakil ketua Munthe Group di usia muda. Dia telah berkontribusi pada keberadaan Munthe Group sampai hari ini.

Sekarang Munthe Group telah diakuisisi oleh Keluarga Munthe, ketua asli telah turun tahta, dan hanya Anita yang tinggal bersiap untuk membantu ketua baru.

Saat melihat Munthe, Anita kaget. Dia tidak menyangka Sakha akan begitu muda dan tampan!

Setelah itu, dia tidak berani berkata apa-apa lagi dan langsung membungkukkan tubuhnya memberikan hormat. “Tuan muda. Anda silakan datang ke ruangan saya."

Beberapa waktu kemudian.

Sakha juga melihat Anita untuk pertama kalinya. Sakha akui dia harus mengatakan bahwa Anita terlihat sangat cantik!

Pada usia dua puluh tujuh atau terlihat masih dua puluh dua tanun, dia memiliki tubuh yang ramping dan seksi, kecantikan yang memikat dan perilaku yang sopan dan pandai bercakap.

Sakha duduk di hadapan meja Anita dengan gugup. "Saya tidak akan sering datang ke Munthe Group di hari-hari kedepannya, jadi Munthe Group harus Anda yang tangani untuk memimpin keseluruhan situasi dan jangan coba-coba untuk mengungkapkan identitas saya."

Anita tahu bahwa keluarga Sakha di hadapannya luar biasa sekali. Munthe grup adalah keberkahan bagi keluarganya dan wajar jika ia tidak ingin mengelolanya sendiri.

Jadi Anita buru-buru mengedipkan matanya dari rasa terpesonanya. "Tuan muda, jika Anda memiliki masalah di hari-hari ke depannya. Anda bisa memberi tahu saya. Saya akan siap membantu anda."

Suara ketukan pintu mulai terdengar, seorang sekretaris wanita mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Anita.

"Bu Anita, ada seorang pria bernama Sadaru yang telah membawa istrinya untuk mengunjungi Anda."

Anita segera berkata. "Bilang ke mereka kalau saya sedang kedatangan tamu terhormat, biarkan mereka menunggu dulu."

Sakha bertanya pada Anita. "Apakah kamu tahu Sadaru ini?"

Anita menganggukkan kepalanya pelan. “Keluarganya adalah mitra di bawah naungan kami. Dan bisnis utama mereka bergantung pada kami. Keluarga mereka selalu berkata bahwa mereka akan datang berkunjung, dan mereka sudah beberapa kali ke sini.”

Sakha menipiskan bibirnya dan berkata dengan dingin. “Mulai sekarang, Munthe Group tidak lagi berurusan bisnis dengan Keluarga Utomo. Semua kerja sama yang sedang berlangsung dan sedang disiapkan akan ditangguhkan. Jika Keluarga Utomo masih bisa mendapatkan satu persen dari munthe Group.  Anda wakil Ketua, harus mengemas barang-barang Anda!"

Ketika Anita mendengar ini, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi ketakutan. Dia tidak perlu bertanya untuk mengetahui bahwa seseorang dari keluarga Utomo pasti telah menyinggung tuan muda.

Jadi dia segera menganggukkan kepalanya cepat.  "Tuan  muda jangan khawatir, saya akan memerintahkan sekarang untuk menghentikan semua kerja sama dengan keluarga Utomo!"

Sakha tersenyum penuh kemenangan. "Beri tahu mereka bahwa Munthe Group tidak akan bekerja sama dengan sampah berkualitas rendah seperti mereka, lalu biarkan penjaga keamanan mengusir mereka."

Di luar, Sadaru dan Theresa menunggu dengan penuh semangat.

Keluarga Utomo  selalu ingin menjadi mitra strategis Munthe Group, jadi mereka sangat berharap bisa lebih dekat dengan Anita. Tapi tak disangka, sekretaris Anita datang bersama beberapa satpam.

Sadaru sontak berdiri tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada Anita. "Halo, apakah Bu Anita punya waktu untuk berbicara dengan kita?"

Sekretaris itu memandangnya dengan tatapan yang sangat dingin sekali. "Maaf, Wakil Anita kami berkata, Munthe Group tidak akan bekerja sama dengan orang-orang berkualitas rendah seperti Anda. Mulai sekarang, kami membatalkan semua kerja sama dengan keluarga Anda!"

"Apa katamu?!" pekik Sadaru terkejut.

Sadaru tertegun sejenak, dan tercengang. Mengapa kalimat ini begitu familiar? Oh iya! Saat dia di parkiran barusan, Sakha juga mengatakan hal yang persis sama.

"Apa maksud Bu Anita? Mengapa mereka harus berhenti bekerja sama dengan keluarga Utomo?" tanya Sadaru khawatir.

Sadaru merasa otaknya sesak. apa yang terjadi? Hentikan semua kerja sama?

Lebih dari separuh keuntungan Utomo dihasilkan oleh Munthe Group. Jika kerja sama dihentikan, bukankah kekuatan keluarga Utomo akan segera dipotong setengahnya?

Sadaru tidak dapat menerima kenyataan ini dan berteriak. “Saya ingin bertemu dengan Bu Anita! Saya ingin bertanya langsung pada Bu Anita!"

Sekretaris itu berkata dengan dingin "Maaf, Deputi Bu Anita kami tidak akan bertemu dengan Anda. Dan Anda tidak akan diizinkan untuk masuk ke Munthe Group di hari-hari ke depannya!"

Sadaru murka, memarahi serketaris tersebut. “Apakah kamu sengaja bermain denganku? Kami adalah mitra jangka panjang Munthe Group. Bagaimana kalian bisa menghentikan kerja sama sepihak seperti ini!”

Sekretaris itu mengabaikannya dan berkata langsung kepada penjaga keamanan di sekitarnya. "Keluarkan mereka!"

Kepala keamanan itu bergegas maju, meraih pergelangan tangan Sadaru dan kemudian menariknya ke keluar gedung.

Sadaru berteriak kesakitan dan penjaga itu berteriak dengan dingin. “Keluar! Jika Anda berani membuat masalah di Munthe Group, berhati-hatilah karena saya tidak segan-segan mengusir Anda!"

“Anda hanya seorang kepala keamanan, berani sekali berteriak kepada saya. Apakah Anda tidak tahu siapa saya, hah!"

Begitu suara Sadaru yang kencang, kepala keamanan menamparnya tidak tanggung-tanggung. "Di depan munthe Group apa yang kamu lakukan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Flash Sale    Bab 75: Di Balik Gerbang Emas

    Mansion megah keluarga Munthe berdiri kokoh di atas perbukitan yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Arsitekturnya yang bergaya klasik modern dengan pilar-pilar tinggi dan pencahayaan temaram memberikan kesan misterius sekaligus berkuasa. Meera melangkah turun dari mobil, matanya tak henti memandangi barisan pelayan dan pengawal yang membungkuk hormat saat ia dan Sakha lewat. "Selamat datang kembali, Tuan Muda. Selamat datang, Nona Muda," sapa seorang pria tua dengan setelan kepala pelayan yang sangat rapi. Meera merasa canggung. Panggilan "Nona Muda" terasa begitu asing di telinganya, padahal di keluarga Mahesa, ia sering dipanggil dengan nada merendahkan jika pekerjaannya di kantor dianggap tidak becus oleh saudara-saudaranya. Meera memperhatikan Sakha yang kini duduk di kursi roda elektrik, wajah suaminya masih pucat namun tatapannya tetap tajam, memerintah setiap pergerakan di rumah itu tanpa perlu banyak kata. Setelah tim medis pribadi Sakha selesai menjahit luka di pa

  • Suami Flash Sale   Bab 74: Harga Sebuah Kesetiaan

    Guncangan di area pelabuhan berangsur mereda, menyisakan debu-debu yang menari di bawah sorot lampu taktis. Meera masih berlutut di atas aspal yang kasar, napasnya tersengal seolah separuh paru-parunya baru saja dikembalikan setelah mendengar suara Sakha di radio. Tanpa memedulikan rasa sakit di lututnya yang lecet, ia bangkit dan berlari mengikuti tim taktis yang bergerak cepat menuju arah drainase timur. "Sakha! Sakha!" Meera memanggil berkali-kali, suaranya parau tertiup angin laut yang dingin. Di ujung dermaga tua yang sudah lapuk, sebuah penutup beton drainase raksasa terbuka dengan dentuman keras. Tak lama kemudian, sebuah tangan yang bersimbah darah dan kotoran muncul, mencengkeram tepian semen. Tim taktis segera merapat, menarik tubuh pria yang keluar dari sana. Itu Sakha. Namun, pemandangan di depan mata Meera membuatnya hampir pingsan. Kemeja putih yang tadi dipakai Sakha kini telah berubah menjadi abu-abu kecokelatan, robek di bagian bahu, dan yang paling mengerikan ada

  • Suami Flash Sale   Bab 73: Di Ambang Runtuh

    Suara gemuruh dari runtuhnya lift servis menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke permukaan. Debu semen dan serpihan beton menghujani ruang kontrol bawah tanah, menciptakan kabut putih yang menyesakkan. Sakha terlempar dari kursi kontrol, bahunya menghantam sudut meja besi dengan keras hingga ia meringis menahan sakit yang menusuk. "Tuan Muda! Tuan Muda Sakha! Jawab saya!" Suara komandan taktis di earpiece Sakha terdengar pecah dan terganggu oleh interferensi frekuensi. Sakha terbatuk, mencoba menghirup udara yang kini terasa seperti menelan pasir. Ia meraba lantai, mencari senjata dan alat komunikasinya yang sempat terlepas. "Aku... aku masih hidup," jawab Sakha serak. Ia mencoba bangkit, namun kaki kirinya tertindih sebuah panel besi yang jatuh. "Jalur keluar utama runtuh. Armand atau wanita itu... mereka memasang jebakan cadangan." "Kami akan mengirim tim evakuasi masuk kembali!" "Jangan!" perintah Sakha tegas, meski suaranya bergetar menahan nyeri di kakinya. "Strukt

  • Suami Flash Sale   Bab 71: Sisa-Sisa Pengkhianatan

    Debu dari ledakan pintu utama mulai mengendap, namun ketegangan di dalam gudang itu justru semakin memuncak. Tim taktis Munthe Group telah mengamankan area bawah, memaksa anak buah Armand berlutut dengan tangan di atas kepala. Cahaya laser hijau kini terfokus pada sosok Armand yang masih berdiri kaku di atas balkon. Meera menatap punggung tegap Sakha. Meskipun identitas suaminya sebagai pewaris tunggal Munthe Group sudah terungkap, melihat kekuatan nyata yang digerakkan Sakha dalam sekejap mata tetap membuatnya merinding. Pria yang selama ini sabar menghadapi hinaan ibunya di meja makan, kini berdiri sebagai panglima yang siap menghancurkan musuhnya. "Armand," suara Sakha memecah keheningan, bergema dingin di antara dinding beton. "Kesalahan terbesarmu bukan berkhianat pada ayahku. Tapi berpikir bahwa kamu bisa menyentuh milikku." Armand mencengkeram pagar balkon. Wajahnya yang pucat kini mulai memerah karena amarah yang tertahan. "Milikmu? Kamu bicara soal Meera? Dia adalah Ma

  • Suami Flash Sale   BAB 70. Di Tengah Kegelapan

    Kegelapan di gudang tua itu terasa begitu padat, seolah-olah oksigen di sekitar mereka telah digantikan oleh ancaman yang nyata. Meera bisa merasakan otot lengan Sakha yang mengeras di bawah genggamannya. Meski pria ini selama ini dianggap suami sampah yang tidak berguna oleh keluarga Mahesa, di saat seperti ini, aura yang dipancarkan Sakha sama sekali tidak mencerminkan orang miskin. Ia berdiri tegak, setajam pedang yang siap mencabut nyawa, dengan kewaspadaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa hidup di puncak rantai makanan. "Tiga puluh orang," bisik Sakha tiba-tiba. Suaranya sangat rendah, nyaris tak terdengar, namun penuh dengan kepastian matematis. Meera tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan. "Bagaimana kamu tahu?" "Langkah kaki mereka," jawab Sakha dingin. "Tekanan pada lantai beton, ritme pernapasan yang tertahan, dan desis gesekan kain seragam mereka. Armand meremehkanku. Dia pikir aku masih Sakha yang dia kenal sepuluh tahun lalu, seorang pemuda yang hany

  • Suami Flash Sale   BAB 69. Langkah Berbahaya

    Di sebuah gedung tua yang tersembunyi di pinggiran kota, Armand duduk di depan deretan layar monitor resolusi tinggi. Armand menyesap wine merahnya sambil tersenyum lebar melihat drama yang terjadi di layar. Kamera tersembunyi di ruangan Meera masih berfungsi, memberikan sudut pandang sempurna dari kemarahan Sakha. "Lihat itu," Armand menunjuk ke arah layar. "Sakha terlihat sangat gagah saat marah, bukan?" Seorang wanita yang berdiri di kegelapan di sampingnya mendengus. "Dia sudah menutup akses gedung. Rencanamu untuk menariknya keluar dari sana bisa berantakan kalau kamu terlalu lama menonton." Armand tertawa rendah, suara yang terdengar parau dan tidak menyenangkan. "Oh, tidak. Justru ini yang aku inginkan. Aku ingin dia merasa dia memiliki kendali, sebelum aku menarik karpet dari bawah kakinya." Armand mencondongkan tubuh ke depan, matanya yang dingin menatap tajam ke arah sosok Sakha di layar. "Dia pikir dia bisa melindunginya hanya dengan mengunci gedung? Sangat naif."

  • Suami Flash Sale   39. Beli Mobil

    Melihat bahwa Sakha telah menyetujui pertemuan teman sekelasnya, Meera mengingatkan Sakha. “Kita harus menyiapkan beberapa hadiah untuk pembukaan Stefan Hotel. Kita tidak bisa pergi dengan tangan kosong, Sakha.”Sakha mengangguk dan berkata, &ldqu

  • Suami Flash Sale   38. Undangan Reuni

    Ini agak rumit.Sakha harus menyapa Issac sebelumnya dan bersiap sepenuhnya sebelumnya, bagaimanapun, dia tidak dapat mengungkapkan identitasnya sendiri.Saat makan, Elsa berkata kepada mereka berdua. “Kali ini saya datang ke taman ini, saya juga punya janji dengan t

  • Suami Flash Sale   37. Keresahan Sakha

    Pada masuknya waktu malam, Elsa bersama istri Sakha yang tak lain adalah Meera, secara khusus memesan tempat duduk di hotel kelas atas dan akan mentraktirnya makan.Sebagai suami Meera, Sakha tentu saja ingin bersamanya. Ini membuat Sakha agak sedikit tertekan. Hanya akan menja

  • Suami Flash Sale   36. Rencana Elsa

    Tuan Kamal Sadewa ada di ruangan member berlian ini!Tuan Sakha? Siapa Tuan Sakha itu?Detik berikutnya, Kamal Sadewa masuk dengan gemetar, dan menendang saudara Bayu Gatra langsung ke tanah dengan kasar. “Kamu buta, kamu bahkan tidak bisa mengenali Tuan Sakha! Aku rasanya akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status