LOGINMarsha menatap Ayahnya, Bima, yang tiba-tiba berkunjung tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Kelakuan ii tidak seperti Ayahnya. Bahkan Marsha sampai di buat merasa asing dengan sikapnya ini.
“Apa ini karena Mama yang merajuk?” Marsha langsung menembak dengan pertanyaan faild.Bima yang mendengar itu hanya bisa mengulas senyum masam. “Kamu hebat. Baru saja duduk bersama 5 menit yang lalu. Tapi sekarang kamu sudah mengerti maksud kedatanganku, hahaha ... apakah Ayah harus be“Tolong selamatkan istriku, aku tidak bisa hidup tanpanya.”Marsha terdiam. Samar-samar suara suaminya yang merintih di tengah isak tangisnya, membuat hati Marsha merasa pilu. Namun kasih sayang terhadap buah hatinya lebih besar dari cinta pada suaminya. Kini bukan Derren yang menjadi dunianya, namun bayi mungil yang bahkan belum pernah dia lihat sekali pun.Zahra memasuki ruangan. Menatap Marsha yang merenung dalam lamunan panjang yang terasa berat. “Kamu mendengarnya, Marsha. Suamimu ingin kamu hidup.”Marsha melirik pelan. Suara kelam Zahra membuatnya menangis. Tatapan sendu yang senantiasa pilu itu terasa menyesakkan untuknya. Marsha tahu, banyak orang mengharapkan pilihan untuk melanjutkan hidup dan melepas bayinya. Namun ibu mana yang cukup gila untuk melakukan itu?“Tolong selamatkan anakku saja, Zahra.” Marsha tampak putus asa. Senyum pudar yang dia sanjung dengan Di setiap keputusannya selalu di tentang suaminya. Namun dia akan tetap memohon keselamatan bayinya.Lantas, dia
Anna mendorong kursi roda Lea menuju tempat chek out bandara. Mereka siap pergi meninggalkan negara ini.Marsha hanya diam menatap keduanya berjalan menjauh. Dia mengantar kedua wanita itu ke sini. Mengemudikan mobilnya secara pribadi dan mengucapkan perpisahan dengan benar.“Terima kasih sudah mengantar istri dan anakku.” Seorang lelaki berusia 60 tahun berdiri di sampingnya dengan tatapan dingin—ciri khas orang tersebut.Wajah tampan yang eksotis selalu membuat Marsha merasa lelaki ini tidak akan pernah pantas di panggil “kakek” nantinya.“Senang bisa membantu Anda, Tuan Sean.”Lelaki itu mengukir sedikit senyum, menatap perut Marsha yang terlihat aneh hari ini. “Dan selamat atas kehamilanmu.”Marsha membulatkan mata, menurunkan pandangan dengan cepat sambil mengusap perutnya yang sedikit membesar.“Tidak Tuan.” Marsha menggeleng kuat. “Saya tidak mengandung. Sungguh.”Sean hanya terkekeh, menepuk pund
“Nona, bolehkah saya masuk ke dalam?” Mina berdiri di depan pintu bersama Agam. Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah mereka. Sebentar lagi mereka akan mengabarkan kabar baik walau di sertai kabar buruk.“Masuk saja. Aku sudah ganti pakaian,” ucap Marsha dari dalam kamarnya dengan suara lantang.Mina membuka pintu, melihat Tuannya sedang duduk di depan meja rias dengan membuat wajahnya semakin cantik dengan riasan tipis.“Ada apa dengan raut wajah itu?” Marsha melihat wajah kedua sekretaris itu dari pantulan cermin dengan wajah heran. Wajah sumringah mereka membuat senyumannya ikut terbit, walau sedikit.“Kami mendapatkan informasi jika Tuan Hardy telah kembali di tangkap setelah kemarin berhasil kabur dari penjara.” Mina membuka omongan.Agam yang berdiri di sebelahnya hanya mengangguk-angguk. Namun berita kedua yang akan dia sampaikan bisa membuat senyum senang Marsha hilang.“Namun ada berita buruk yang menyertai itu.” Agam berbicara dengan wajah serius, membuat Marsha menat
Marsha duduk bersandar di belakang kursi penumpang. Sementara Derren yang duduk di sampingnya hanya bisa menghela napas lelah beberapa kali sambil melihat penampilan dirinya yang kacau setelah di jambak istrinya sendiri sebagai ‘korban salah target’.“Rambutku pitak.” Gumam Derren melihat sebagian sisi rambutnya yang sedikit gundul.Sementara Marsha yang mendengarnya hanya memalingkan wajahnya, pura-pura tidak mendengarnya.“Aku harap seseorang bertanggung jawab. Bukannya malah memalingkan wajah dan tidak meminta maaf sama sekali. Bahkan bersikap acuh tak acuh.” Sindir Derren.Marsha masih diam. Dia tidak ingin mendengar dan memilih memejamkan mata.Lelaki itu diam. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan sendu. Suasana canggung dan mencengkram itu membuat Marsha tidak nyaman. Dia segera membuka mata dan melirik apa yang di lakukan suaminya. Dia menemukan wajah sendu Derren dari pantulan kaca jendela mobil di
Gama berdiri di depan kantornya dengan menggenggam papan nama miliknya dengan tatapan sendu.Di belakangnya, Agam, berdiri menunggunya dengan sabar sambil membawa sebuah kotak lumayan besar dalam pelukannya. “Anda tidak ingin pergi?” tanya Agam, membenarkan genggamannya pada kotak besar yang sedikit merosot karena kelebihan muatan. “Saya membawa benda yang cukup berat. Bisakah Anda menepi?” Mendengar itu, dengan wajah memelas Gama menepi dari depan pintu, bahkan membantu Agam membuka bilik pintu lebih lebar agar lelaki itu bisa masuk dengan mudah.“Marsha akan segera pindah ke kantor ini, kan? Kapan??” tanya Gama, lesu. Agam melirik sekilas ke arah Gama yang kembali berdiri menghalangi jalan di ambang pintu. “Entah. Mungkin dia akan segera sampai. Mungkin juga sore hari baru bisa mampir. Kenapa? Anda terlihat gelisah. Bukannya perjanjiannya berjalan lancar kemarin?” Agam menaikkan sebelah alisnya. “Jangan bilang Anda baru menyesalinya
Marsha duduk bersantai di teras samping rumahnya dengan membaca beberapa dokumen sebelum akhirnya Derren datang membawa sebuah amplop dan memberikannya pada Marsha.“Sha, coba lihat apa yang aku dapatkan dari pelelangan yang aku hadiri hari ini.” Derren memberikan benda itu ke tangan istrinya.Marsha menaikkan sebelah alisnya sambil menerima benda itu. “Kamu itu orang sipil tapi terus-menerus datang ke tempat ilegal seperti itu. Apa tidak bahaya? Jika Tuan Bridam tahu, kamu akan mendapatkan masalah.”Derren hanya mengangkat acuh bahunya dan duduk di bangku yang berseberangan dengan Marsha, melihat istrinya membuka dokumen itu dan membulatkan matanya dengan sempurna.“Astaga.” Marsha menatap Derren dengan senyum kaku. “Bagaimana bisa kamu mendapat benda sebagus ini? Apakah ini untukku?”Derren mengangguk mantap. “Aku mendapatkannya dengan susah payah. Mengingat benda itu adalah barang berharga karena perusahaannya masuk ke dalam perusahaan raksasa ke-6 di dunia.”Marsha mengangguk-angg
“Bagaimana keadaan istrimu?” Dena bertanya begitu melihat Derren keluar dari dalam kamar Marsha dengan mata yang sedikit sembab. Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya mengulas senyum masam dan berjala pergi meninggalkan lorong kamar Marsha. “Kamu mau ke mana?” Dean men
Kedua tangan Marsha menggenggam erat. Tatapan kesal yang ia lemparkan pada Derren terlihat meyakinkan. Di tambah sorot mata yang penuh dendam itu, Derren merasakan firasat uruk. “Kamu tidak boleh bertindak gegabah.” Gama menyela. Kedua manik mata Marsha tertuju padanya dengan
Rina menatap Derren lekat. “Siapa yang melakukan hal jahat itu.” Derren menunduk. Rina mendekat dan mengintip wajah putranya. Lelaki itu mengeluarkan air mata tanpa terisak dalam tangisnya. Rina terkejut sampai salah merespons. “Anak sebesar dirimu menangis?” pekikny
02:00 AM .... Gama menguap cukup lebar saat menyadari Derren dan Gibran sudah memakai pakaian serba hitam dan akan bersiap pergi. “Kenapa kalian tidak membangunkan aku?!” Gama berusaha sadar dari tidurnya. Lelaki itu terlihat amat sangat lelah bahkan sebelum mereka menjalankan







